Warisan Sejarah Penyebaran Islam

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on linkedin
Warisan-Sejarah-Penyebaran-Islam
Warisan Sejarah Penyebaran Islam: Makam Fatimah Gresik (kiri), Kelenteng Sam Poo Kang Semarang (tengah), Masjid saka Tunggal Banyumas (kanan)

santrikertonyonoBukan hal baru apabila banyak peneliti yang begitu tertarik mengkaji sejarah dan proses penyebaran agama Islam, terkhususnya penyebaran agama Islam di tanah Jawa. Banyak hal yang bisa dipelajari, digali dan diambil pelajaran hidup disetiap kisah para pejuang penyebar agama Islam. Para peneliti sepertinya memang tak kehabisan ide untuk terus menggali data-data warisan budaya Islam, dengan memegang informasi dan data yang telah ada, para peneliti ini terus menguak tabir sejarah Islam.

Kurangnya data dan informasi tentang penyebaran Islam di tanah Jawa memang sudah menjadi rahasia umum. Bahkan, banyak yang mengatakan bahwa data-data yang ada saat ini dinilai kurang mampu menjawab pertanyaan sebenarnya kapan Islam mulai masuk dan diperkenalkan atau di sebarkan di Jawa. Hal itu tentunya diperparah dengan data-data yang tidak lengkap serta tumpang tindih dengan cerita-cerita atau bahkan legenda yang berkembang di masyarakat.

Penelusuran terkait waktu masuknya Islam di tanah Jawa bukan hal mudah, alih-alih mengupas lembar demi lembar sejarah, penelusuran ini juga sebagai salah satu upaya untuk ikut merawat warisan sejarah dan peradaban besar Islam di Jawa pada masa itu. Informasi arkeologis mulai dikumpulkan untuk sedikit mencari titik terang akan sejarah Islam mulai tersyiar di tanah Jawa.

1. Makam Kuno

Seperti yang telah ditulis oleh Kamil Hamid Baidawi dalam bukunya yang berjudul Sejarah Islam di Jawa (2020), beberapa hasil temuan para peneliti menunjukkan bahwa terdapat kemungkinan bahwa Islam telah masuk di tanah Jawa jauh sebelum datangnya Wali Sanga. Beberapa peneliti beranggapan bahwa Islam masuk di pulau Jawa sekitar abad ke-7, namun ada juga peneliti yang mengatakan Islam masuk tepat pada abad pertama Hijriah.

Salah satu bukti arkeologis datangnya Islam di pulau Jawa yang kini masih dijadikan sebagai dasar argumentasi pada peneliti adalah penemuan makam Fatimah binti Maimun di Leran, Gresik. Penemuan makam ini tidak hanya menjadi bukti kuat untuk mengetahui kedatangan Islam tetapi juga menunjukkan bahwa Islam telah masuk ke Jawa jauh sebelum kedatangan para Wali Sanga.

makam-kuno
Makam Fatimah binti Maimun di Gresik Jawa Timur /Foto: Historyofcirebon.com

Mungkin bagi sebagian besar masyarakat Nusantara menganggap bahwa keberadaan makam Fatimah binti Maimun masih jauh kalah populer apabila dibandingkan dengan makam-makam para penyebar Islam yakni Wali Songo. Namun, hal itu jelas tidak berlaku bagi warga Gresik Jawa Timur dan sekitarnya. Bagi mereka, nama Fatimah binti Maimun sangat populer bagi seluruh masyarakat Gresik.

Selain itu, beberapa ahli ada yang menyebutkan bahwa dari sekian banyaknya makam-makam muslim yang ada di pulau Jawa, maka makam Fatimah binti Maimun termasuk dalam makam yang paling tua. Hal itu dikarenakan pada nisan makam tertera tahun 475 H atau 1082 M. Seiring berjalannya waktu, akhirnya makam Fatimah binti Maimun lebih dikenal dengan sebutan Batu Nisa Leran.

Menurut sejarah, JP Moquette seorang peneliti asal Belanda merupakan orang pertama yang berhasil menemukan dan membaca inskripsi yang tertera pada makam nisan Fatimah binti Maimun. Makam yang ditemukan JP Moquette sekitar tahun 1911 ini tidak dalam keadaan baik. Pasalnya, beberapa sumber menyebutkan bahwa saat pertama kali makam ini ditemukan, kondisi makam sangat tidak terawat bahkan hampir ambruk.

Mengetahui hal tersebut, Paul Ravaisee seorang peneliti berkebangsaan Perancis tak tinggal diam. Melihat makam yang nyaris ambruk nampaknya meluluhkan hati Paul. Pasalnya, tanpa menunggu lama, Paul langsung memiliki inisiatif untuk melakukan perbaikan pada makam tersebut. Berkat niat baik dan langkah nyata dari Paul, akhirnya makam Fatimah binti Maimun bisa diselamatkan. Hingga kini makam tersebut senantiasa di jaga dan dirawat oleh juru kunci untuk menjaga marwah dan karomah dari Fatimah binti Maimun.

Sebelumnya, areal tempat makam Fatimah binti Maimun merupakan areal pemakaman umum. Lalu, Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) Jawa Timur mulai mengambil alih areal pemakaman tersebut pada tahun 1973. Setelah diambil alih BP3, kini areal makam Fatimah binti Maimun sudah tak lagi dijadikan sebagai pemakaman umum.

Bila ditelisik lebih jauh, pada nisan makam Fatimah binti Maimun terdapat tuju baris kaligrafi Arab. Dimana tulisan kaligrafi tersebut menggunakan gaya kufi yang dipercaya oleh beberapa pengamat sebagai gaya kaligrafi tertua diantara semua gaya kaligrafi. Pada nisan tersebut juga ditemukan kutipan dua ayat dalam surah ar-Rahman disertai dengan beberapa keterangan lain yang ditulis dengan bahasa Arab.

Bismillahirrahmanirrahim, Kullu man ‘alaiha fanin wa yabqa wajhu rabbika dzul Jalali wal ikram. Hadza qabru Syahidah Fatimah binti Maimun bin Hibatallah, tuwuffiyat fi yaumi al-Jumah.. min Rajab wa fi sanati khamsatin wa tis’ina wa arba’ati min ‘atin ila rahmat Allah.. Shadaqallah al-adzim WA rasulihi al-karim

Yang berarti “Atas nama Allah yang maha penyayang dan maha pemurah, tiap-tiap makhluk yang hidup di atas bumi itu adalah bersifat fana; tetapi wajah Tuhan-mu yang bersemarak dan gemilang itu tetap kekal adanya; inilah kuburan wanita yang menjadi Syahidah bernama Fatimah binti Maimun; putra Hibatu’llah yang berpulang bulan Rajab dan pada tahun 495 H. Yang menjadi kemurahan Tuhan Allah yang maha tinggi beserta Rasulnya yang mulia.”

Menurut Riza Multazam Luthfy dalam bukunya yang berjudul Jagoan dan Kekuasaan (2018), menerangkan bahwa ditemukannya makam-makam seperti makam Fatimah binti Maimun dengan ukiran-ukiran Arab indah pada nisannya ini secara langsung mampu menunjukkan bahwa begitu kuatnya gejala akulturasi budaya Nusantara.

Dimana dalam makam tersebut bisa ditemukan adanya unsur-unsur budaya lokal yang terdapat pada komponen arsitektur makam. Secara tidak langsung, hal itu menunjukkan bahwa pada abad-abad awal khususnya di tanah Jawa telah berlangsung arus budaya Islam yang cukup kuat. Hingga mampu melahirkan sejarah baru dalam penentuan kapan sebenarnya Islam masuk ke Jawa.

2. Kelenteng Sam Poo Kang

Bagi warga Semarang, tentunya sudah tidak asing lagi dengan bangunan kelenteng yang diberi nama kelenteng Sam Poo Kang ini. Tak khayal, kelenteng yang sangat familier di kalangan masyarakat Indonesia ini telah menjadi objek wisata yang wajib dikunjungi apabila tengah singgah di Semarang. Konon, kelenteng ini merupakan masjid kuno yang didirikan oleh Zeng He atau Cheng Ho, seorang penjelajah muslim asal Tiongkok.

Dalam bukunya Wonderful Islam: Penemuan dan Fakta-Fakta Mengagumkan Tentang Islam (2018) Muhammad Khalil pernah menyampaikan bahwa Sam Poo Kong merupakan sebuah petilasan bekas pendaratan pertama Cheng Ho ketika berlabuh di tanah Jawa.

Kelenteng-Sam-Poo-Kang
Kelenteng Sam Poo Kang, Bongsari, Semarang /Foto: googlemap-@Rob

Keislaman yang dianut oleh Cheng Ho, disebutkan oleh para ahli sejarah diketahui dari beberapa tulisan yang ditemukan di bekas petilasannya. Dimana tulisan itu berbunyi “Marilah kita mengheningkan cipta dengan mendengarkan bacaan Al-Quran”. Mengetahui hal tersebut, tentunya membuat para ahli sejarah semakin yakin bahwa Cheng Ho merupakan seorang muslim China.

Konon, kelenteng Sam Poo Kang ini kerapkali juga disebut sebagai kelenteng Gedung Batu. Penyebutan kelenteng Gedung Batu bukan tanpa alasan, hal itu karena bentuk kelenteng yang memperlihatkan sebuah gua batu besar yang berada pada sebuah bukit batu.

Menurut cerita sejarah, kala itu Laksamana Cheng Ho tengah mengadakan pelayaran melewati pantai laut Jawa untuk tujuan politik dan tentunya juga berdagang. Namun, ditengah perjalanan sang awak kapal Wang Jinghong yang tak lain adalah orang kedua dalam armada Cheng Ho tiba-tiba mengalami sakit keras.

Mengetahui bahwa ada awak kapalnya yang sedang sakit, akhirnya Cheng Ho memutuskan untuk merapat ke pantai Utara Semarang, tepatnya di Desa Simongan pada tahun 1401 M. Sejak saat itu, Cheng Ho berinisiatif untuk mendirikan masjid di tepi pantai yang sekarang masjid tersebut telah berubah fungsi menjadi kelenteng Sam Poo Kang.

Secara tidak langsung, keberadaan kelenteng Sam Poo Kang dan Laksamana Cheng Ho ini mampu melahirkan teori bahwa ternyata selama proses proses penyebaran Islam tidak hanya melibatkan para penyebar Islam dari Arab, tetap juga terdapat peran muslim China didalamnya.

3. Masjid Kuno

Sebuah masjid yang terletak di Cikakak, Wangon Kabupaten Banyumas Jawa Tengah ini cukup menarik perhatian beberapa peneliti. Pasalnya, masjid kuno ini diduga sudah ada jauh sebelum masa Wali Sanga. Selain usia keberadaan masjid yang tergolong sangat tua, nama dari masjid itupun juga terbilang unik. Masjid tersebut bernama Saka Tunggal Baitussalam, atau kini lebih dikenal dengan sebutan masjid Saka Tunggal.

Disinyalir, penamaan masjid ini tak lepas dari struktur bangunan masjid yang memang hanya memiliki satu tiang penyangga atau dalam bahasa Jawa dikenal dengan Saka Tunggal. Diketahui, masjid Saka Tunggal ini diyakini sebagai satu-satunya masjid di pulau Jawa yang dibangun sekitar abad ke 15-16 M, tentunya sebelum era Wali Songo.

Masjid-saka-Tunggal
Masjid saka Tunggal, Cikakak, Banyumas /Foto: wikimedia.org

Kurang lebih dibangun pada tahun 1288 M, masjid ini dianggap sebagai satu-satunya masjid tertua di pulau Jawa. Namun, masjid yang konon dibangun oleh Kiai Mustolih ini tidak banyak memuat data yang mampu mengungkapkan secara spesifik terkait sejarah masjid dalam proses penyebaran agama Islam di tanah Jawa.

Namun, sebuah karya ilmiah yang ditulis oleh Teguh Trianton dengan judul “Fungsi Antropologis Masjid Saka Tunggal (Studi Etnografi pada Umat Islam di Aboge Banyumas)” (2014) menjelaskan bahwa masjid Saka Tunggal secara antropologis tidak dapat dipisahkan dari kearifan lokal masyarakat muslim Banyumas, khususnya bagi penganut Islam Aboge.

Diketahui, bagi umat Islam Aboge beradaan masjid ini melambangkan kuatnya hubungan manusia dengan sesamanya. Tentunya hal tersebut tercermin dari ritual ganti pagar yang terbuat dari bambu dengan mengelilingi masjid Saka Tunggal. Selama prosesnya itu, masyarakat desa Cikakak bergotong royong dan bahu membahu mengganti pagar masjid Saka Tunggal dengan pagar bambu yang baru.

Hal tersebut dilakukan oleh masyakarat selain sebagai sarana ibadah ritual ganti pagar tetapi juga merupakan bentuk konkret fungsi masjid Saka Tunggal sebagai simbol persatuan umat, khususnya umat Islam di Cikakik dan masyarakat Indonesia.

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on linkedin

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

IKUTI KAMI

%d blogger menyukai ini: