Tentang Jati Diri dan Cinta, Kisah Perjalanan Syekh Amongraga dalam Serat Chentini

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on linkedin
Penampakan Serat Chentini Amongraga /Foto : koransulindo.com

santrikertonyonoSecara umum, Serat Chentini memiliki penyebutan lain yakni sebagai Suluk Tambanglaras atau Suluk Tambangraras-Amongraga. Dimana, memiliki pengertian sebagai salah satu karya terbesar dalam riwayat budaya kesusastraan Jawa yang banyak menghimpun segala macam ilmu pengetahuan dan kebudayaan Jawa agar tetap lestari.

Jika diamati, Serat Chentini ini disampaikan dalam sebuah bentuk tembang atau suluk yang runtutan penulisannya dikelompokkan sesuai dengan jenis lagunya. Sebagai salah satu masterpiece sastar Jawa klasik, Serat ini banyak menceritakan berbagai hal atau keadan kebudayaan masyarakat Jawa serta memuat nuansa sakral kala itu.

Tidak hanya itu, karya klasik ini pada beberapa bagiannya juga menceritakan tentang alam pikiran masyarakat Jawa secara lahir dan batin. Biasanya meliputi persoalan agama, kekebalan, kebatinan, keris, tari-tarian, primbon, serta cerito kuno yang mengangkat kisah tanah Jawa. hal itu, sesuai dengan tulisan “baboning pangawikan Jawi” bermakna induk pengetuhuan Jawa yang berada di bait awal Serat Chentini ini.

Menurut sejarahnya, Serat Chentini tersebut telah digubah sesuai kehendak dari Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Anom di Surakarta seorang putra Sunan Pakubuwana IV yang kelak akan bertakhta sebagai Sunan Pakubuwana V. Dimana, kabar tersebut disampaikan oleh juru tulis resmi Istana Mangkunegaraan R. M. A. Sumahatmaka di masa pemerintahan Mangkunegara VII.

Apabila dilihat dari dari dalam naskah, Sangkala Serat Chentini ini memiliki bunyi paksa suci sabda ji yang berarti tahun 1742 penanggalan kalender Jawa atau 1814 Masehi. Jika dilihat pada tahun itu, maka Serat Chentini ada ketika masih dalam masa pemerintahan Sunan Pakubuwana IV atau secara spesifiknya 6 tahun menjelang penobatan Sunan Pakubuwana V.

Menurut beberapa sejarawan, Serat Chentini ini disusun berdasarkan kisah perjalanan dari putra-putri Sunan Giri setelah menerima kekalahan dari Pangeran Pekik dari Surabaya, tak lain adalah ipar Sultan Agung dari Kerajaan Mataram. Kekalahanan itulah yang membuat ketiga putra-putri Sunan Giri akhirnya memilih untuk bemusafir.

Konon, kisah Serat Chentini ini dimulai setelah tiga putra-putri Sunan Giri yang akhirnya memutuskan untuk berpencar meninggalkan tanah kelahiran mereka guna memulai perkelanaan. Masing-masing dari mereka yakni Jayengresmi, Jayengraga atau Jayengsari dan Ken Rancangkapti yang angkat kaki tak lama setelah kekuasaan Giri dihancurkan oleh Mataram.

Saat berkelana, Jayengraga da Rancangkapti diiringi oleh seorang santri bernama Buras. Mereka berkelana ke berbagai daerah. Mulai dari Sidocerma, Ranu Grati, Pasuruan, Banyubiru, kaki Gunung Tengger, Sanggariti, Gunung Raung, hingga ke kaki Gunung Bisma Banyumas.

Dalam perjalanannya tersebut, mereka berdua banyak mendapatkan berbagai macam pengetahuan. Pengetahuan-pengetahuan itu tentunya tidak terlepas dari kebudayaan Jawa yang meliputi adat-istiadat tanah Jawa, syariat para nabi, kisah Sri Sadana, pengetahuan wudhu, sholat, perhitungan dzat Allah, hadist Markum, hingga perwatakan Pandawa dan Kurawa.

Sementara, Jayengresmi sendiri berkelana dengan diikuti oleh dua santri masing-masing yakni bernama Gathak dan Gathuk. Mereka melakukan perjalanan spiritual ke beberapa wilayah di sekitar Keraton Majapahit, diantaranya seperti Blitar, hutan Londhaya, Tuban, Bojonegoro, Demak, Gunung Muria, bekas Keraton Padjajaran dan kemudian tiba di Karang.

Berkat perjalanan itulah, Jayengresmi menjajaki satu proses kehidupan yang disebut dengan pendewasaan spiritual. Dimana, hal tersebut terjadi karena ia telah banyak bertemu sejumlah guru, tokoh-tokoh ghaib dalam mitos Jawa kuno serta beberapa juru kunci dari makam yang dianggap keramat.

Karena pertemuannya dengan sebagian tokoh masyarakat itulah yang membuat Jayengresmi banyak belajar tentang banyak pengetahuan khazanah kebudayaan Jawa. mulai dari candi, makna suara burung gagak dan prenjak, petunjuk pembuatan kain lurik, perhitungan tanggal hingga kisah Syekh Siti Jenar.

Perjalanan yang ia tempuh dan berbagai pengetahuan yang diserap telah menajamkan insting kebijaksanaannya. Dimana, sejak saat itu Jayengresmi lebih dikenal dengan sebutan Syekh Amongraga. Terlebih, selama perjalanannya, Syekh Amongraga juga menambatkan hati kepada salah satu perempuan bernama Ni Ken Tambangraras.

Setelah melakukan penggembaraan dengan waktu yang sangat lama bahkan bertahun-tahun, akhirnya ketiga putra-putri Sunan Giri ini kembali bertemu dan akhirnya berkumpul bersama dengan para keluarga dan kawulanya. Namun sangat disayangkan, kehangatan saat bertemu saudara tak bisa dirasakan lama, pasalnya setelah itu Syekh Amongraga berpulang.

Pertemuan dengan Sang Panutan Hati

Bagi masyarakat Jawa, secara garis besar Serat Centhini banyak menceritakan tentang syair-syair gambaran romantisme hubungan antara seorang pria dan wanita. Tak lain, kitab Jawa kuno ini mengkisahkan hubungan antara dua anak manusia siapa lagi jika bukan Syekh Amongraga dan istrinya yakni Tembangraras.

Di tengah-tengah perjalanannnya dalam menimba ilmu, Amongraga jatuh hati akan kecantikan paras dari seorang perempuan bernama Tembangraras, putri dari kyai pesantren Ki Panurta di wilayah pondok Wanamarta. Di pondok itulah. Amongraga memutuskan untuk bersemedi dan lebih mendekatkan diri kepada sang pencipta.

Karena semedi dengan intensitas waktu yang cukup lama itu, Amongraga akhirnya membulatkan tekad untuk menikahi sang pujaang hati. Tembangraras yang sehari-hari selalu didampingi pembantu setianya yakni Centhini itu dengan malu-malu menerima itikad baik dari Amongraga, tak selang lama digelarlah acara pernikahan mereka berdua.

Selama hampir 40 malam Amongraga tidak menyentuh sang istri, tetapi menghujaninya dengan kata-kata rohani untuk meningkatkan kualitas diri Tembangraras. Bait demi bait kata yang diucapkan oleh Amongraga memang begitu sangat bijak. Ia juga mengingatkan kepada istrinya perihal pentingnya saling memahami dan mengerti satu sama lain.

Tak hanya itu, Amongraga juga mengajarkan kepada Tembangraras agar menjadi sosok perempuan yang memahami dasar-dasar hukum tempat berpijak dan selalu mencari hakikat ilmu pengetahuan. Tentunya, hal itu adalah prinsip yang cukup mengagumkan, apalagi jika dikaitkan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan falsafah hidup bagi perempuan.

Yang menarik dalam hal ini, Amongara tampil tak jauh berbeda seperti Khalili Gibran. Disamping memberikan kata-kata halus nan romantis kepada istri tercinta, ia juga membagikan pengetahuan terkait ajaran-ajaran Islam baik sholat, nabi Allah, wujud dunia atau penciptaan, hingga filosofi kehidupan serta nafas islami.

Secara tersurat, Amongraga seperti ingin mengingatkan umat manusia tentang cara mengarungi bahtera rumah tangga. Bagaimana sang suami memperlakukan istri dan begitupun sebaliknya, terlebih dalam menjalanakan sunah dan ibadah bagi pasangan suami istri.

Jika ditarik benang merah, pada salah satu bagian di Serat Centhini ini secara tak langsung Amongraga ingin memperkenalkan makna sejati dari arti cinta dan hubungan pernikahan dalam kehidupan manusia. Dimana, manusia hidup dalam satu proses yang sedang berputar, perihal mencintai dan dicintai adalah hal yang silih berganti.

Primbon Sabda Sasmaya dari Ajaran Amongraga

Sejumlah figur sentral yang hingga kini menjadi teladan sebenarnya adalah salah satu bukti kelanggengan mistik Kejawe dari masa ke masa. Dimana, para tokoh ini akan menyatakan beberapa pandangan-pandangannya ke dalam sebuah serat. Isinya pun beragam, tak melulu berisi ramalan, biasanya juga berisi larangan bahkan nasehat-nasehat.

Salah satu figur mistik tersebut tak lain tak bukan adalah Syekh Amongraga itu sendiri. Dengan pemikirannnya yang sangat terkenal, Syekh Amongraga bahkan tampil sebagai pewaris ajaran Syekh Siti Jenar pada masa pemerintahan Sultan Agung Hanyokrokusumo.

Dalam Serat Chentini tersebut, digambarkan sosok Amongraga bersama Tembangraras yang begitu gigih mencari adik-adiknya yang terpisah setelah melakukan pelarian akibat kejaran dari pasukan Pangeran Pekik. Selagi mencari adik-adiknya itu, ia juga melakukan syiar agama Islam kepada masyarakat yang ditemuinya.

Sebagai salah satu anak dari wali Allah yakni Sunan Giri, Amongraga selalu memberikan wejangan, pitutur, hingga larangan yang disampaikan secara halus kepada para warga. Tentunya, wejangan-wejangan itu sesuai dengan syariat agama Islam guna memperbaiki pola pikir dan akhlak masyarakat kala itu.

Dimana, dari syiar-syiar yang dilakukan oleh Syekh Amongraga itu terdapat kurang lebih 20 ajaran yang telah diabadikan dalam bentuk Primbon Sabda Sasmaya. Beberapa kutipan ajaran tersebut seperti “Rahayu ing budhi, mencegah dan berlebihnya makanan, sedikit tidur, sabar tawakal dalam hati, serta Mengasihi fakir miskin,”.

Selain itu, Syekh Amongraga juga menegaskan pentingnya saling memaafkan. Terlebih tidak ada manusia yang sempurna, manusia selalu mempunyai sifat khilaf dan lupa terkadang tak sadar bahwa tutur kata atau perilaku sudah melukai hati saudaranya. Memaafkan pun tak boleh pandang bulu, terutama kepada saudara kandung, dan semua umat manusia.

“Jangan merasa benar, jangan merasa pintar dalam segala hal, dan jangan merasa memiliki. Merasalah bahwa semua itu hanya titipan dari Allah yang membuat bumi dan langit. Manusia hanyalah sudarma dengan memanfaatkan sebaik-baiknya deng tujuan dan cara yang baik pula. Serta pakailah budi, syukur, sabar, menerima, dan rela”

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on linkedin

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

IKUTI KAMI

%d blogger menyukai ini: