Syekh Mutamakkin, Kisah Al-Hallaj Jawa di Era Mataram Islam

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on linkedin
Makam KH. Ahmad Mutamakkin (Mbah Mutamakkin), Kajen, Kec. Margoyoso, Kabupaten Pati, Jawa Tengah Foto: bangkitmedia.com

santrikertonyonoSyekh Ahmad al-Mutamakkin seorang ulama kontroversial yang kisah hidupnya diriwayatkan di dalam dua sumber literasi yang berseberangan. Serat Cebolek menuliskan kisah Mbah Mutamakkin sebagai sosok yang kalah.

Syiarnya dengan mengajarkan ilmu hakekat kepada masyarakat awam, dianggap menyimpang dan harus dihentikan. Desakan itu datang dari sejumlah ulama di Tuban, Jawa Timur yang diprakarsai Katib Anom Kudus. Mereka adalah para ulama yang berada di lingkaran kekuasaan Mataram Islam.

Segala hal yang menguatkan tuduhan Mbah Mutamakkin sesat, dilaporkan kepada Raja Amangkurat IV. Termasuk soal dua ekor anjing yang bernama Abdul Qohhar dan Qomaruddin. Kedua ekor anjing tersebut adalah hewan piaraan Mbah Mutamakkin.

Katib Anom Kudus marah, karena Abdul Qohhar dan Qomaruddin merupakan nama penghulu dan katib di Tuban. “Serat Cebolek mewakili cerita dari pihak penguasa,” tulis M Solahudin dalam Napak Tilas Masyayikh Biografi 25 Pendiri Pesantren Tua di Jawa-Madura.

Serat Cebolek menyebut, desakan ulama untuk mengadili Mbah Mutamakkin tak pernah berhenti. Sepeningal Amangkurat IV (1719-1726) yang wafat dan digantikan Pakubuwono II (1726-1749), desakan menghukum Syekh Mutamakkin kembali bergolak.

Difasilitasi Patih Danureja, para ulama dari pesisir utara dan pedalaman mendatangi ibukota Mataram. Syekh Mutamakkin dianggap melanggar syariat Islam dan karena itu penguasa Mataram harus segera mengadilinya. Ajaran wahdatul wujud atau dalam terminologi Jawa manunggaling kawula lan gusti, dinilai telah meresahkan.

Takaran dosa yang dipikul Mbah Mutamakkin dianggap sama dengan Syekh Siti Jenar (masa Kerajaan Demak), Pangeran Panggung dan Ki Bebeluk (masa Kerajaan Pajang) serta Syekh Amongraga (masa Kerajaan Mataram awal). “Para bupati yang juga ikut berkumpul mengusulkan agar Syekh Ahmad al- Mutamakkin dibakar saja”.

Teks Kajen berbicara sebaliknya. Sosok Syekh Mutamakkin diceritakan sebagai ulama yang hidupnya tak pernah lepas dari riyadhah atau tirakat. Konon ia pernah menjalani laku tak makan dan minum selama 40 hari. Tiba di hari ke-40, Mbah Mutamakkin meminta istrinya memasak makanan lezat.

Sebelum masakan yang menerbitkan air liur itu terhidang, ia mengikat tubuhnya pada tiang rumah kuat-kuat. Mbah Mutamakkin menahan nafsunya, bertahan untuk tidak menyantap hidangan. Ia berhasil menundukkan nafsunya.

“Konon lalu keluar nafsu dari diri Syekh Ahmad al-Mutamakkin yang menjelma menjadi dua binatang”. Kedua hewan itu adalah dua ekor anjing yang kemudian diberi nama Abdul Qohhar dan Qomaruddin. Kebetulan, nama yang sama dengan nama penghulu dan katib di Tuban.

Syekh Mutamakkin juga dikenal sebagai ulama yang gemar menikmati kesenian wayang purwa (kulit). Ia menyukai kisah Dewaruci dan mendedahkan hakekat Serat Dewaruci kepada santri-santrinya sebagai ajaran tasawuf. Hal itu yang membuat sejumlah ulama seperti Katib Anom Kudus, Katib Witana asal Surabaya dan Katib Busu dari Gresik, merasa tidak suka dan menudingnya sesat.

Namun saat diadili untuk menjelaskan isi Serat Dewaruci, Mbah Mutamakkin mampu menjelaskan apa yang tidak mampu dijelaskan oleh Katib Anom Kudus. Teks Kajen menyebut Mbah Mutamakkin lebih alim sekaligus lebih menguasai ilmu tasawuf.

Pertarungan Syariat dan Tasawuf

Serat Cebolek ditulis oleh Raden Ngabehi Yosodipuro I (1729-1803) yang merupakan leluhur sastrawan Jawa Raden Ngabehi Ronggowarsito. Namun Zainul Milal Bizawie dalam Perlawanan Kultural Agama Rakyat: Pemikiran dan Paham Keagamaan Syekh Ahmad al-Mutamakkin dalam Pergumulan Islan dan Tradisi (1645-1740) meragukan hal itu.

Hal itu mengingat saat peristiwa terjadi, Yosodipuro I masih berumur balita. Kalaupun Yosodipuro yang menulis Serat Cebolek, hal itu tentu berdasarkan penuturan Ratu Pakubuwono. “Yosodipuro I tidak menyaksikan langsung peristiwa yang dituliskannya,” tulisnya. Serat Cebolek yang memakai bahasa Jawa baru berbentuk macapat yang terdiri dari 11 pupuh.

Beberapa pupuh diantaranya terang-terangan membuat narasi yang memojokkan Syekh Mutamakkin. Seperti pupuh IV yang isinya secara terbuka mengolok-oloknya. “Sekiranya ia (Syekh Mutamakkin) tidak pernah pergi haji ia pantas menjadi penjual jerami atau berdagang itik”.

Kendati demikian terdapat juga narasi yang mengungkapkan pujian raja Mataram terhadap Syekh Mutamakkin. “Telah menjadi suratan, ia diciptakan dengan tampang dungu tapi diberi hati yang suci untuk menjadi petugas sukma  (ia telah) ditakdirkan memiliki hati suci”.

Peneliti Belanda CC Berg mengatakan, Serat Cebolek merupakan karya susastra yang berisi gambaran penting tentang sinkretisme keagamaan di Jawa. Intisari dari Serat Cebolek adalah ketegangan antara penafsiran ulama pembela syariat di satu kutub, dengan ulama yang menolak kekakuan penerapan ajaran formal Islam dan tetap memegang ajaran mistik Jawa (suluk atau tasawuf), di kutub lain.

Mbah Mutamakkin merupakan tokoh kontroversial yang mewakili kecenderungan religio intelektual. Posisinya mewakili kelompok Islam esoteris, pengembang tasawuf falsafi yang diajarkan Ibnu al-Arabi, Abdul Karim al-Jili, Abu Yazid al-Busthami dan Husain bin Manshur al-Hallaj yang dihukum mati.

Di Nusantara, yang dilakukan Mbah Mutamakkin berkecenderungan sama dengan Hamzah Fansuri dan Syamsuddin al-Sumatrani. Di Jawa, tokoh sebelumnya adalah Syekh Siti Jenar, Sunan Panggung atau Pangeran Panggung dan Syekh Amongraga.

S Soebardi dalam desertasinya Serat Cebolek, Kuasa, Agama dan Pembebasan (1991) menyebut karya Yasadipura I itu sebagai tradisi pemikiran Islam periode pertama.”Jauh sebelum pemikiran para reformis muncul, seperti Jamaluddin Al-Afghani, Muhammad Abduh dan Muhammad Iqbal”.

Dalam Serat Cebolek, posisi Mbah Mutamakkin tertulis kalah telak dan tertunduk malu setelah berdebat dengan Katib Anom Kudus, dan karenanya diolok-olok. Namun raja Mataram mengampuni Syekh Mutamakkin dengan tidak mengabulkan tuntutan hukuman mati.

“Kebijaksanaan dan keadilan sang raja sebagai seorang sufi digambarkan dengan pengampunan yang diberikan kepada Al-Mutamakkin,” demikian tertulis dalam Intelektualisme Pesantren, Potret Tokoh dan Cakrawala Pemikiran di Era Pertumbuhan Pesantren.

Sementara dalam teks Kajen, Mbah Mutamakkin dituliskan terbukti berhasil mengungguli kepandaian ilmu agama Katib Anom Kudus. Mbah Mutamakkin lebih alim sekaligus lebih menguasai ilmu tasawuf. Teks Kajen bersumber dari cerita yang berkembang di masyarakat.

Teks Kajen menyebut Desa Cebolek berada di Pati, Jawa Tengah, bukan di Tuban sebagaimana yang tertulis dalam Serat Cebolek. Dalam perspektif Teks Kajen, bukan pengampunan raja yang terjadi, melainkan kesadaran raja atas pemahamannya yang keliru atas ajaran Syekh Mutamakkin.

Sementara salat Jumat bersama setelah polemik selesai adalah bentuk penyadaran sang Raja atas perlunya menjalankan syariah. Bahwa telah terjadi perbedaan dalam praktik sufisme dan syariah. “Karenanya penuturan atas pemikiran dan paham keagamaan Al-Mutamakkin akan membantu bagaimana ia meletakkan sufisme dan syariah”.

Dalam Intelektualisme Pesantren, Potret Tokoh dan Cakrawala Pemikiran di Era Pertumbuhan Pesantren juga menyinggung tentang Teks Kitab Arsy Muwahhidin karya Syekh Mutamakkin. Di dalamnya ditemukan pemikiran Mbah Mutamakkin bagaimana ia memperjuangkan sufisme dan syariah.

“Bagaimana Al-Mutamakkin memahami dan menafsirkan teks Serat Dewaruci yang ajaran intinya adalah mencapai insan kamil”.

Keturunan Pangeran Benowo

Kelahiran Syekh Ahmad al-Mutamakkin diperkirakan pada tahun 1645. Sejumlah sumber menyebut berasal dari Desa Cebolek, Kabupaten Tuban, Jawa Timur yang saat ini bersalin nama Desa Winong. Hal itu yang membuat sebagian orang memanggilnya Mbah Mbolek atau Ki Cebolek.

Ayah Mbah Mbolek adalah Pangeran Benowo II atau Raden Sumahadinegara yang pada tahun 1617 meminta suaka ke Giri (Gresik) karena terjadi serangan Mataram atas Pajang. “Nama ningrat Syekh Ahmad al-Mutamakkin adalah Sumahadiwijaya,” tulis M Solahudin dalam Napak Tilas Masyayikh Biografi 25 Pendiri Pesantren Tua di Jawa-Madura.

Ibu Syekh Mutamakkin merupakan keturunan dari Sayyid Ali Bejagung, Tuban. Namun Gus Dur pernah menyebut asal-usul Syekh Mutamakkin berasal dari Zabul (Persia), Propinsi Kurasan, Iran Selatan. Sementara gelar al-Mutamakkin diperoleh Ki Cebolek sepulang melakukan rihlah ilmiah di Timur Tengah. Al-Mutamakkin mengandung arti “orang yang meneguhkan hati” atau “orang yang diyakini kesuciannya”.

Dalam perjalanan rihlah ilmiahnya, Mbah Mutamakkin pernah berguru kepada Syekh Yusuf Makassar (wafat 1699), seorang ulama besar asal Makassar, Sulawesi Selatan, yang pernah tinggal di Banten dan bermakam di Afrika Selatan.

Dalam Serat Cebolek, saat di Timur Tengah, Mbah Mutamakkin berguru kepada Seh Jen atau Syekh Zain. Zainul Milal Bizawie dalam Perlawanan Kultural Agama Rakyat: Pemikiran dan Paham Keagamaan Syekh Ahmad al-Mutamakkin dalam Pergumulan Islan dan Tradisi (1645-1740) menyebut Seh Jen adalah Syekh Muhammad Zain al-Mizjaji al-Yamani.

Ia merupakan tokoh Tarekat Naqsyabandiyah. Ayah Syekh Muhammad Zain adalah Syekh Muhammad al-Baqi al-Mizjaji, yang merupakan guru Syekh Yusuf Makassar dan Syekh Abdur Rauf Singkel. Ketika berada di Mekkah dan Madinah, Mbah Mutamakkin juga berguru kepada guru-guru Syekh Yusuf Makassar.

Sepulang dari Timur Tengah, Mbah Mutamakkin tidak kembali ke Tuban, melainkan menetap di Pati bagian utara, karena kapal yang ditumpanginya terdampar sebelum sampai tujuan (Tuban). “Karena kapal yang ditumpanginya mendapat serangan para pembajak dari Jepara”.

Mbah Mutamakkin menikah dengan Nyai Qadimah, putri Haji Syamsuddin atau Surya Alam, seorang tokoh agama di Desa Kajen. Dari pernikahannya Mbah Mutamakkin memiliki tiga orang anak, yakni Nyai Alfiyah Godeg, Kiai Bagus dan Kiai Endro Muhammad.

Kecuali Kiai Bagus yang memilih dakwah ke wilayah Jawa Timur, semua anak Mbah Mutamakkin tinggal di Kajen, Pati Jawa Tengah. Dari keturunan Mbah Mutamakkin lahir para kiai Kajen. Konon yang pertama kali mendirikan pesantren di Kajen, Pati merupakan dzuriyah Mbah Mutamakkin.

Keturunan Mbah Mutamakkin terbagi atas tiga keluarga besar (bani), yakni Siroj, Nawawi dan Salam. Dari mereka lahir banyak pendiri dan pengasuh pesantren di Kajen. Salah satunya adalah almarhum KH Sahal Mahfudz, mantan Rais Aam PBNU. Mbah Mutamakkin diperkirakan wafat pada tahun 1740 dan dimakamkan di Kajen, Pati Jawa Tengah.

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on linkedin

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

IKUTI KAMI

%d blogger menyukai ini: