Syekh Bentong: Ulama Tionghoa Sang Pemula Syiar Islam di Nusantara 

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on linkedin
Makam syekh Bentong, Lemahabang, Karawang, Jawa Barat /Foto: 3.bp.blogspot.com

Sebelum Wali Songo menjalankan syiar Islam di Nusantara, ada tokoh pendahulunya yang berdarah Tionghoa. Ia bernama Tan Go Wat, lalu dikenal sebagai Syekh Bentong Musanuddin (Lebe Musa), Syekh Bantiong, atau Kyai Bah Tong. Syekh Bentong adalah kakek Raden Patah, raja pertama Kesultanan Demak, kerajaan Islam pertama di Jawa.

Dikutip dari buku berjudul Sunan Gunung Jati antara Fiksi dan Fakta: Pembumian Islam dengan Pendekatan Struktural dan Kultural (2003) karya Dadan Wildan, Syekh Bentong diyakini masih keturunan Nabi Muhammad. Nasab Ayahanda Syekh Bentong, yakni Qurotul Ain atau Syekh Quro Hasanuddin, disebut berasal dari garis Husein bin Ali, cucu Rasulullah.

Ketika Laksamana Cheng Ho berlayar dari Cina menuju Nusantara pada 1416 M, Syekh Quro turut dalam armada utusan Dinasti Ming tersebut. Cheng Ho yang merupakan orang kepercayaan Kaisar Yongle (1402-1424 M), penguasa Kekaisaran Cina saat itu, adalah seorang muslim, dan mengizinkan Syekh Quro beserta para pengikutnya menumpang kapal.

Sebastian Atmodjo dalam buku Laksamana Cheng Ho: Jejak Damai Penjelajah Dunia (2017) mengungkapkan, Syekh Quro adalah ulama besar dari Campa (sekarang termasuk wilayah Vietnam dan sekitarnya) berdarah Tionghoa.

Putranya, Tan Go Wat atau yang nantinya dikenal sebagai Syekh Bentong, turut serta dalam rombongan yang menumpang armada Laksamana Cheng Ho ke Nusantara. Tan Go Wat menikah dengan seorang wanita Cina-muslim bernama Siu The Yo dan dikaruniai anak perempuan yang diberi nama Siu Ban Chi.

Kakek Raden Patah Pendiri Kesultanan Demak

Syekh Quro dan para pengikutnya turun dari kapal saat armada Laksamana Cheng Ho berlabuh di pesisir utara Karawang yang kala itu merupakan bagian dari wilayah kekuasaan Kerajaan Sunda Galuh -sempalan Kerajaan Tarumanegara- yang memeluk Hindu.

Buku Penyebaran Islam di Daerah Galuh Sampai dengan Abad ke-17 (2010) terbitan Kementerian Agama RI menyebutkan bahwa Syekh Quro dan Syekh Bentong merupakan pendakwah Islam pertama di tanah Sunda.

Setelah bertahun-tahun di Karawang dan setelah ayahnya wafat, Syekh Bentong ingin meluaskan syiar Islam ke bagian Pulau Jawa yang lain. Maka, ia membawa istri dan anaknya menuju timur Jawa, sedangkan Syekh Quro tetap tinggal di tanah Sunda hingga akhir hayatnya.

Tujuan Syekh Bentong adalah kerajaan Hindu-Buddha lainnya di Jawa, yakni Kerajaan Majapahit yang berpusat di Jawa Timur. Kala itu, Majapahit sudah tidak seadidaya dulu lantaran banyaknya perpecahan internal yang melanda wilayah kerajaan tersebut.

Syekh Bentong dan keluarganya menetap di Jawa Timur, tepatnya di Gresik, dan berhubungan dengan para ulama lainnya dalam misi menyebarkan ajaran Islam. Hingga pada suatu ketika, Bhre Kertabumi atau Prabu Brawijaya V, pemimpin Kerajaan Majapahit kala itu, terpesona dengan Siu Ban Ci, anak perempuan Syekh Bentong.

Dalam Pustaka Pararatwan i Bhumi Jawadwipa (1991) yang disusun oleh Agus Aris Munandar dan ‎Edi Suhardi Ekajati berdasarkan referensi lama yang ditemukan, Brawijaya V kemudian menikahi Siu Ban Ci sebagai salah satu istrinya. Pernikahan ini dikaruniai seorang putra bernama Jin Bun.

Jin Bun, tulis Slamet Muljana dalam Runtuhnya Kerajaan Hindu-Jawa dan Timbulnya Negara-negara Islam di Nusantara (2005) bermakna “kuat”. Nama ini diberikan langsung oleh Syekh Bentong kepada cucunya itu. Jin Bun inilah yang nantinya dikenal sebagai Raden Patah.

Baca juga : Etika Syekh Subakir Mengislamkan Tanah Jawa

Ulama Perintis Majelis Wali Songo

Syekh Bentong dan sejumlah ulama besar lainnya membentuk Wali Songo, semacam majelis tinggi sebagai dewan dakwah dalam misi syiar Islam di tanah Jawa. Wali Songo terdiri dari 9 ulama atau tokoh terkemuka.

Dalam buku berjudul Politik Wali Songo dan Visi Kebangkitan Bangsa (2007) karya Umaruddin Masdar dan kawan-kawan disebutkan, jika ada anggota Wali Songo yang wafat atau mundur, maka akan digantikan oleh tokoh lain yang telah disepakati.

Wali Songo era awal, menurut salah satu versi, terdiri dari Syekh Bentong, Maulana Malik Ibrahim (Sunan Gresik), Raden Rahmat (Sunan Ampel), Raden Santri (kakak Sunan Ampel), Raden Burereh, Maulana Ishak (ayah Sunan Giri), Maulana Abdullah, Khalif Husain, dan Usman Haji atau Pangeran Ngudung (ayah Sunan Kudus).

Ke-9 wali generasi pertama ini ditugaskan untuk berdakwah di 9 wilayah utama Majapahit. Dikutip dari buku Agus Sunyoto berjudul Sejarah Perjuangan Sunan Ampel (1990), Syekh Bentong ditempatkan di Lasem. Jin Bun kemudian mendampingi tugas kakeknya dan menetap di Bintara, masih wilayah Lasem, yang kemudian menjadi lokasi berdirinya Kesultanan Demak.

Kesultanan Demak Bintara dideklarasikan pada 1475 M dengan dukungan para ulama Wali Songo. Jin Bun alias Raden Patah ditunjuk sebagai pemimpin pertamanya. Kerajaan Majapahit yang dipimpin Brawijaya V -yang juga kakek Raden Patah- memang masih berdiri, namun tidak sekuat dulu, hingga nantinya benar-benar runtuh di era pemimpin Kesultanan Demak berikutnya.

Semasa kepemimpinan Raden Patah (1475-1518 M) di Kesultanan Demak, peran Syekh Bentong dan para Wali Songo lainnya sangat besar. Syekh Bentong berperan sebagai salah satu penasihat utama cucunya itu.

Seiring usia yang semakin tua, Syekh Bentong memutuskan kembali ke tanah Sunda untuk mengelola pesantren peninggalan ayahnya, Syekh Quro, yang sudah cukup lama ia tinggalkan. Syekh Bentong terus berdakwah hingga tutup usia dan dimakamkan di Karawang.

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on linkedin

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

IKUTI KAMI

%d blogger menyukai ini: