Suwuk Mbah Manshur Blitar dalam Pertempuran 10 November 1945

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on linkedin
Foto mbah Hisyam Manshur, Putra bungsu Mbah Manshur /Foto: Santrikertonyono

Tiupan angin suwuk Kiai Manshur Desa Kalipucung, Kecamatan Sanankulon, Kabupaten Blitar, Jawa Timur pada bambu runcing mampu melipatkan nyali para pemuda pejuang yang siap terjun dalam pertempuran 10 November 1945 di Surabaya.

Sebelum digunakan berperang melawan Belanda dan Inggris di Surabaya, Mbah Manshur lebih dulu meniup (suwuk) bambu runcing yang menjadi senjata pemuda pejuang. Mereka datang dari berbagai belahan daerah di Jawa Timur.

Banyak pemuda yang berasal dari Kediri, Nganjuk, Tulungagung, Trenggalek dan Blitar sendiri. Kemudian Madiun dan sekitarnya, serta tak sedikit yang berasal dari Jombang, Mojokerto, Pasuruan dan Malang. Mereka bagian dari barisan laskar pejuang.

Terutama laskar Sabilillah dan Hizbullah. Karenanya yang terbanyak adalah golongan santri dari berbagai pesantren. Gerakan mereka semakin massif setelah Mbah Hasyim Asy’ari Ponpes Tebuireng menyerukan resolusi jihad.

“Mbah Manab pernah mengirimkan santri Lirboyo sebanyak 97 dan 74 untuk mengikuti pertempuran di Surabaya,” tulis Solahudin dalam buku Napak Tilas Masyayikh, Biografi 25 Pendiri Pesantren Tua di Jawa-Madura. “Lalu sejumlah 30 santri untuk bertempur di Sidoarjo”.

Saat itu Muhammad Hisyam Manshur (84), putra bungsu Mbah Manshur masih berusia 7 tahun. Ia masih duduk di bangku sekolah rakyat (SR) saat pandangannya menangkap langsung ayahnya menjalankan ritual penyepuhan atau suwuk.

Seingat Mbah Hisyam, seluruh bambu runcing jenis bambu kuning dan jabal ditali menjadi satu dengan posisi tergeletak bertindihan di atas tanah. Mbah Manshur berjalan mengitarinya. Di setiap langkahnya bibir Mbah Manshur tidak berhenti komat-kamit merapal doa.

Setelah memejamkan mata, ritual ditutup dengan menghembuskan tiga kali tiupan ke arah buntalan bambu runcing. Seingat Mbah Hisyam, tidak ada proses penyepuhan dengan merendam bambu runcing ke dalam kolam. Suwuk cukup dengan ditiupkan.

“Yang disuwuk atau diasma’i tidak hanya bambu runcing. Tapi juga golok, parang, pedang dan bedil,” tutur Mbah Hisyam seperti dikutip dari berbagai sumber. Ajaib. Bambu runcing yang sudah menerima tiupan suwuk berubah menjadi senjata yang ampuh.

Bahkan tali yang sebelumnya dipakai menali bambu runcing bisa mencelakai orang yang berniat jahat. Dari cerita tutur yang berkembang. Saat berhadapan dengan penjajah Belanda atau Inggris, bambu runcing para pejuang itu, tiba-tiba bergetar.

Seolah memiliki nyawa, bambu runcing tersebut melesat sendiri menyerang pasukan penjajah yang bersenjatakan bedil dan meriam. Memang terdengar tidak masuk akal. Namun hingga kini banyak yang meyakini cerita itu benar adanya.

Mbah Manshur dan Amalan Dalail Khairat

Mbah Manshur terkenal sebagai ulama yang memiliki ilmu kanuragan. Kemasyhurannya sebagai ulama sakti, khususnya di wilayah eks Karesidenan Kediri membuat banyak santri berdatangan untuk berguru kepadanya.

Dari penuturan Mbah Hisyam, Gus Maksum (Kiai Maksum Jauhari) Lirboyo, pendiri bela diri silat Pagar Nusa merupakan salah satu murid Mbah Manshur. Setiap bulan ramadhan, Gus Maksum rutin nyantri di Kalipucung.

Mbah Manshur merupakan menantu Kiai Sholeh Banjarmlati, Mojoroto, Kediri. Mbah Manshur menikahi Nyai Nafisah, putri Kiai Sholeh yang kelima. Kiai Sholeh Banjarmlati yang juga mertua Mbah Manab, pendiri Ponpes Lirboyo merupakan dzuriyah Syekh Abdullah Mursyad.

Secara genealogi, Mbah Manshur adalah putra Mbah Abu Manshur. Yakni bekas laskar Pangeran Diponegoro yang mengungsi ke wilayah Blitar karena dikejar Belanda. Di Desa Kuningan, Kecamatan Kanigoro, Mbah Abu Manshur mendirikan pondok pesantren.

Mbah Abu Manshur merupakan dzuriyah Kiai Nur Iman atau Raden Mas Sandiyo, trah Raja Mataram Islam yang memilih mengasuh pesantren di Mlangi, Sleman Yogyakarta. Dari berbagai sumber yang dihimpun, Mbah Manshur nyantri sejak tumbuh remaja.

Ia berpindah dari satu pondok pesantren ke pesantren lain. Bersama Kiai Sholeh, kakak sulungnya, Mbah Manshur pernah nyantri kepada Mbah Syaikhona Kholil Bangkalan Madura. Kemudian juga nyantri ke Mbah Hasyim Asy’ari di Ponpes Tebuireng, Jombang, Ponpes Tremas, Pacitan dan Ponpes Mojosari Nganjuk.

Seingat Mbah Hisyam, ayahnya (Mbah Manshur) seorang pengamal kitab Dalail al-Khairat yang tekun. Di mana pun Mbah Manshur berada, kitab dalail seolah tak pernah lepas dari tangannya. “Kemana-mana selalu dalailan,” kata Mbah Hisyam seperti dikutip dari berbagai sumber.

Kitab Dalail al-Khairat ditulis Imam Muhammad bin Sulaiman al Jazuli. Seorang cendikiawan muslim sekaligus sufi asal Maroko. Dalail al-Khairat berisi salawat kepada Nabi Muhammad SAW.

Mengenai kemampuan menyepuh (suwuk) bambu runcing, Mbah Manshur bersanad pada Ponpes Bambu Runcing, Parakan, Temanggung.

Mbah Manshur belajar kepada Kiai Sumagunardo dan putranya, Kiai Muhaiminan Gunardo yang terkenal memiliki suwuk bambu runcing. Dalam peristiwa 10 November 1945, Mbah Manshur sempat tiga kali bertempur langsung di Surabaya.

Pada agresi militer pertama, Belanda sempat memburu Mbah Manshur karena tahu sebagai penyepuh bambu runcing. Pencarian itu sempat memaksa Mbah Manshur dan keluarga mengungsi di lereng Gunung Kelud. Pada tahun 1964, Mbah Manshur yang dikaruniai delapan anak wafat karena sakit. []

 

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on linkedin

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

IKUTI KAMI

%d blogger menyukai ini: