Semeru dan Kisah Syekh Brubuh Peletak Mitigasi Bencana Pulau Jawa

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on linkedin
Letusan semeru tahun 1910. Sumber foto : IG potolawasofficial

 Pada Sabtu Wage 4 Desember 2021, Gunung Semeru tiba-tiba meletus. Erupsi Semeru yang ditahbiskan sebagai gunung tertinggi di Pulau Jawa itu melanda sebagian besar wilayah Lumajang, Jawa Timur. Erupsi Semeru yang berketinggian 3.676 m, menambah daftar bencana alam yang berulang kali mendera Pulau Jawa.

Pada masa silam akibat hantaman bencana alam, wilayah selatan Jawa berubah menjadi hutan belantara. Terutama Pacitan, Jawa Timur, menjelma sebagai kawasan suwung (kosong) yang manusia enggan menempatinya lagi. Berdasarkan cerita tutur, kabar itu terdengar sampai ke telinga para ulama Islam yang berada di tanah Persia. Sejumlah ulama yang terdiri dari ahli rukyah (tolak bala), ekologi, meteorologi dan geofisika mengunjungi tanah Jawa Selatan.

“Ekspedisi berasal dari Burbu Persia. Salah satu orang ulama yang ikut di dalam ekspedisi kemudian dikenal dengan nama Syekh Brubuh,” demikian cerita tutur yang berkembang.

Konon, kedatangan rombongan Syekh Brubuh di Pacitan, Jawa Timur lebih awal dari kedatangan Syekh Subakir. Lebih awal dari Maulana Malik Ibrahim dari Turki yang seorang ahli tata negara. Bahkan konon lebih dulu dari kedatangan Maulana Ishaq dari Samarkand, Rusia Selatan seorang ahli pengobatan, Maulana Ahmad Jumadil Kubro dari Mesir, Maulana Muhammad Al Maghrobi dari Maroko, Maulana Malik Isro’il dari Turki yang seorang ahli Tata Negara, Maulana Muhammad Ali Akbar dari Persia dikenal ahli Pengobatan, Maulana Hasanudin dari Palestina, dan Maulana Aliyudin dari Palestina.

Bahkan kehadiran Syekh Brubuh konon berlangsung 200 tahun sebelum Syekh Subakir menumbali tanah Jawa. Syekh Subakir mengelilingi tanah Jawa mulai dari kawasan pesisir pantai utara, Penataran, Kecamatan Nglegok, Kabupaten Blitar hingga Gunung Tidar Magelang, Jawa Tengah.

Di setiap tempat tertentu yang dianggap wingit Syekh Subakir menanam tumbal, yakni upaya pembersihan yang berkaitan dengan rohani. “Menyucikan suatu tempat dengan cara menanam “tanah” di tempat yang dianggap angker,” tulis Agus Sunyoto dalam Atlas Walisongo menjelaskan makna menanam tumbal.

Sebelum rombongan Syekh Brubuh datang, pralaya akbar (bencana besar) menghajar tanah Jawa. Folklore janturan yang kemudian menjadi semacam mantra kuno menggambarkannya : Tangising gunung jugrug, lemah bengkah, segara sat (Tangisnya bumi gunung meletus, Sesar tanah, lautan mengering yang mengirim gelombang besar atau tsunami). Berdasarkan catatan para penulis China 1178 Masehi dan 1225 Masehi, Pai Hua Yuan atau Pacitan memiliki peradaban yang maju. Secara kewilayahan merupakan andhan atau bawahan Kerajaan Shepo (Jawa) atau Panjalu (Kediri).

Posisi politik Pacitan setara dengan Jenggala, Tanjungpura, Bali dan lainnya. Paska abad 13 Pacitan lenyap. Diperkirakan pada abad 14 terjadi siklus katastopik atau bencana alam kuno. “Peradaban itu hilang ditelan bencana alam gempa bumi dan Sesar”. Pada prasasti Siwagrha terdapat potongan kalimat: Lwah inalih haken apan iya nidi ik palemahan. Dalam bahasa Indonesia mendapat terjemahan, gelombang besar telah beralih dari laut ke daratan (tsunami). Sungai berubah sehingga menyisakan gelombang sepanjang daratan.

Prasasti Siwagrha terpahat pada Candi Prambanan di Jawa Tengah atau yang juga dikenal bernama Siwagrha (Rumah Siwa). Pembangunan Siwaghra berlangsung pada 850 masehi. Keberadaan Siwaghra sebagai penyeimbang atau untuk memecah energi alam yang berpotensi menjadi bencana. Energi Gunung Merapi yang bersifat maskulin dan sekaligus sebagai simbol Dewa Siwa dan Samudera Hindia atau Laut Selatan yang feminis yang ditafsirkan sebagai simbol Dewi Parwati. Namun demikian, kala itu bencana tetap tak terelakkan.

Tidak banyak sumber tertulis dan cerita tutur yang mengungkap perjalanan rombongan Syekh Brubuh. Begitu menginjakkan kaki di Pacitan, rombongan ekspedisi dari tanah Persia (Iran) tersebut kemudian berkeliling. Sebelum menyebarkan Islam, mereka memastikan hal apa yang menyebabkan terjadinya pralaya besar di tanah Jawa.

Salah satu tempat yang mereka kunjungi adalah bukit karang yang berada di atas belahan patahan. Bukit karang itu kelak kemudian bernama Sentono Genthong. Syekh Brubuh atau Syekh Barabah Al Farizi menyimpulkan, penyebab pralaya besar adalah gunung jugrug, lemah bengkah, segara sat.

Dalam ilmu pengetahuan modern, wilayah Pacitan Jawa Timur masuk dalam perlintasan Sesar Grindulu. Sesar lainya berada di Cimandiri Jawa Barat, dan Kali Opak –Prambanan, Jawa Tengah. Sesar terbesar adalah Gunung Krakatau yang memisahkan Jawa dan Sumatera. Penanaman tumbal yang dilakukan Syekh Brubuh di Sentono Genthong merupakan sebagai upaya mitigasi.

Tujuannya, agar manusia kembali menempati kawasan yang sebelumnya suwung dan merasa aman dari bencana alam. Sejumlah sumber lisan menyebut Syekh Brubuh juga melakukan penanaman tumbal di sejumlah wilayah lain di tanah Jawa. Diantaranya Banyuwangi, Blitar, Pangandaran, Cirebon, Jepara, Juwana dan Tidar.

Setelah itu rombongan ekspedisi Syekh Brubuh baru menyebarkan Islam. Sejumlah sumber menyatakan, setelah rombongan Syekh Brubuh, penumbalan tanah Jawa dilanjutkan oleh Syekh Subakir. Syekh Subakir juga melakukan upaya mitigasi agar tanah Jawa terhindar dari pralaya besar. Setelah itu baru diikuti dengan penyebaran agama Islam kepada penduduk Jawa.

Tidak diketahui dengan pasti perjalanan Syekh Brubuh selanjutnya. Sebuah tempat yang berbentuk pusara makam di Jalan WR Supratman Kabupaten Pacitan diyakini sebagian besar peziarah sebagai pesarean Syekh Brubuh. Namun sumber lain menyebut, tempat yang selalu ramai kunjungan peziarah untuk berdoa tersebut merupakan petilasan Syekh Brubuh.

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on linkedin

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

IKUTI KAMI

%d blogger menyukai ini: