Santri Kinasih Ki Ageng Mesir, Tokoh Dibalik Nama Tulungagung 

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on linkedin
Suasana Alun-alun Tulungagung Tempo Dulu Foto : Santrikertonyono

Pemerintah Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur baru saja merayakan hari jadi yang ke-816. Tidak banyak yang tahu, pada masa pemerintahan Bupati Raden Tumenggung Parto Widjojo (1896-1901), nama Tulungagung mulai populer.

Pada masa kekuasaan Parto Widjojo, nama Tulungagung pertama kali menggantikan nama Kadipaten Ngrowo. Parto Widjojo merupakan Bupati yang ke-11.

Mulai Kiai Ngabehi Mangoen Dirono sebagai bupati pertama hingga bupati ke-10, wilayah Tulungagung masih bernama Kadipaten Ngrowo. Ibu kotanya berlokasi di Kalangbret yang saat ini masuk wilayah Kauman. Pemerintahan Mangoen Dirono sezaman dengan Raja Kraton Surakarta Pakubuwono II (1727-1749).

Bupati Parto Widjojo yang awalnya sebagai juru tulis memiliki latar belakang santri. Dari berbagai cerita tutur, ia murid kinasih Ki Ageng Muhammad Mesir. Seorang ulama penyebar Islam yang ketika wafat bermakam di Dusun Ngadirogo, Desa Podorejo, Kecamatan Sumbergempol.

Ki Ageng Muhammad Mesir merupakan dzuriyah (keturunan) ulama asal Ponorogo. Bila melacak genealogisnya hingga ke atas, silsilahnya akan sampai pada Kiai Anom Besari Kuncen, Caruban Madiun dan Syekh Abdullah Mursyad Kediri.

“Ki Ageng Muhammad Mesir bin Mbah Yaman bin Muhammad Anom Tegalsari bin Nyai Rohani Tegalsari binti Mbah Iskak Ceper bin Muhammad Besari,” demikian garis silsilah Mbah Mesir.

Sebagai santri Ki Ageng Mesir, Parto Widjojo dikenal sebagai pembelajar yang tekun. Begitu juga saat masih bertugas sebagai juru tulis Bupati Blitar. Bupati melihat Parto Widjojo sebagai sosok yang rajin sekaligus ulet. Hasil pekerjaanya memuaskan. Ia juga memiliki pemikiran visioner.

Bupati Blitar yang kepincut dengan profil Parto Widjojo, lalu berusaha menarik masuk ke dalam lingkaran keluarganya. “Bupati menjodohkan keponakannya dengan Parto Widjojo,” tutur Agus Nuril Anwar, kerabat juru kunci makam Ki Ageng Mesir seperti dikutip dari berbagai sumber.

Parto Widjojo begitu patuh kepada gurunya. Saat hendak mencalonkan diri sebagai Bupati Tulungagung, ia lebih dulu meminta restu Ki Ageng Mesir. Parto Widjojo menjalani laku riyadhoh (tirakat) puasa tujuh hari tujuh malam tanpa tidur seperti yang diwejangkan Ki Ageng Mesir.

Didampingi sang guru, Parto Widjojo mendaki gunung pasir yang berlokasi di wilayah Kecamatan Sumbergempol. Di perbukitan yang cukup tinggi itu, ia berusaha  menemukan mata air sumber songo. Sebagai syarat melengkapi riyadhoh, Ki Ageng Mesir meminta Parto meminum airnya.

Parto Widjojo benar-benar menjadi bupati menggantikan RMT Pringgo Koesoemo (1882-1895). Di saat itu ia menawari Ki Ageng Mesir kedudukan penghulu, namun ditolak. Dari berbagai cerita tutur, selama hidupnya Ki Ageng Mesir menjadi penasihat spiritual Parto Widjojo.

Baca juga : Mbah Mesir, Peletak Silsilah Kiai-kiai Mataraman

Sebagai rasa terima kasih atas pertolongan yang diulurkan, Parto Widjojo mengubah nama Ngrowo menjadi Tulungagung. Saat meninggal dunia Bupati Parto Widjojo meminta untuk dimakamkan satu komplek dengan gurunya, Ki Ageng Mesir.

Pendopo-Tulung-Agung-Kebanjiran

Hari Jadi Yang Berganti

Cerita tutur yang diyakini sebagian warga Tulungagung, nama Tulungagung merupakan akronim yang merujuk pada sebuah peristiwa pembebasan dari bencana besar. Dulu, sebagian besar wilayah  berupa rawa-rawa.

Setiap musim penghujan, kerap terjadi banjir yang menyengsarakan penduduk Kadipaten Ngrowo. Dari cerita tutur, selama banjir tidak sedikit warga yang mengungsi ke wilayah Kabupaten Blitar yang daerahnya lebih subur.

Hingga suatu ketika datang orang sakti yang berhasil mengeringkan rawa-rawa. Pertolongan itu kemudian diakronimkan dengan nama Tulungagung (Tulung dan Agung), yang berarti pertolongan orang agung (pertolongan orang besar).

Versi lain mengaitkan nama Tulungagung dengan dongeng Joko Baru, seorang pemuda sakti asal lereng Gunung Wilis. Pemuda sakti tersebut berhasil menyumbat sumber air penyebab banjir rawa dengan sebatang lidi. Pemuda itu lantas dikutuk menjadi seekor ular besar.

Si ular bisa kembali menjadi manusia asal mampu melingkari Gunung Wilis. Namun saat melingkari Wilis, si ayah justru memotong lidahnya yang kemudian menjelma sebagai pusaka tombak bernama Baru Klinthing. Pusaka tombak itu hingga kini menjadi pusaka Pemkab Tulungagung yang dikenal bernama Kiai Upas.

Berdasarkan catatan sejarah, penggunaan nama Tulungangung dimulai saat ibukota berpindah dari Kalangbret ke tempat sekarang ini. Perpindahan berlangsung pada tahun 1901. Adapun peringatan hari Jadi Kabupaten Tulungagung mengacu pada prasasti Lawadan penghargaan dari Raja Kediri Kertajaya.

Penghargaan diberikan kepada masyarakat Thani Lawadan yang bermukim di selatan Tulungagung. Kertajaya merasa berterima kasih kepada warga Thani Lawadan yang tetap bersetia saat musuh dari timur Daha menyerang. Prasasti dengan candra sengkala “Sukra Suklapaksa Mangga Siramasa”, diberikan pada 18 November 1205 masehi. Sejak tahun 2003, setiap tanggal 18 November Pemkab Tulungagung merayakan hari jadi.

Menurut sejarawan sekaligus arkeolog Universitas Negeri Malang Dwi Cahyono, Kabupaten Tulungagung memiliki hari jadi mulai tahun 1970. Sebelumnya tidak ada perayaan hari jadi. Awalnya, Pemkab merayakan setiap tanggal 1 April. Penentuan 1 April mengacu tanggal 1 April 1824.

Ketentuan itu sesuai dengan besluit Pemerintah Kolonial Belanda tentang penetapan Kabupaten Tulungagung. Penetapan tersebut mengacu pada pembacaan candra sengkala pada 8 arca dwarapala yang berlokasi di empat penjuru pintu masuk Tulungagung. Hal itu kata Dwi Cahyono, banyak dipertanyakan para ahli sejarah.

Terutama terkait dengan pemerintah Kolonial Belanda dan penentuan peristiwa perpindahan pusat pemerintahan dari Kalangbret ke Kota Tulungagung.

“Untuk tanggal dan bulan berdasarkan penetapan dari pemerintah kolonial,” kata Dwi Cahyono dikutip dari sejumlah sumber.

Berdasarkan kajian ulang, penetapan hari jadi Tulungagung pada 1 April dinilai kurang tepat. Melalui kesepakatan bersama, penetapan hari jadi Tulungagung kemudian menyesuaikan tanggal pemberian prasasti Lawadan pada 18 November 1205. Sesuai prasasti Lawadan, peringatan hari jadi dimulai pada masa pemerintahan Bupati Heru Tjahjono (2003-2013), yakni bupati ke-29.

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on linkedin

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

IKUTI KAMI

%d blogger menyukai ini: