Robohnya Surau Ahmad Dahlan pada 15 Ramadhan

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on linkedin
ahmad-dahlan
K.H Ahmad Dahlan sedang bersama dengan muridnya di langgar /Foto: suaramuhammadiyah.id

santrikertonyonoJumat malam 15 Ramadhan 1316 Hijriah atau tanggal 27 Januari 1899, puluhan lelaki datang ke surau atau langgar kidul milik Ahmad Dahlan. Orang-orang itu akan merobohkan alias membongkar paksa langgar sederhana di Kampung Kauman, tak jauh dari Kraton Yogyakarta, tersebut. Ada apa gerangan?

Dikutip dari buku K.H. Ahmad Dahlan: Si Penyantun (2018) yang ditulis Imron Mustofa, orang-orang itu membawa alat-alat seperti cangkul, linggis, kapak, sabit, dan lain-lain. Kepada para jamaah yang sedang berada di dalam surau, mereka berteriak, “Ayo, cepat bubar! Surau ini akan dirobohkan, akan dihancurkan!”

Keadaan sontak menjadi kacau. Para jamaah yang tidak tahu-menahu duduk persoalannya dengan panik meninggalkan surau yang sudah terkepung. Ahmad Dahlan sendiri tidak berada di langgarnya dan belum mengetahui gonjang-ganjing ini karena sedang mengisi acara di tempat lain pada malam 15 Ramadhan itu.

Setelah surau kosong, orang-orang yang datang itu kemudian beramai-ramai melakukan aksi. Surau milik keluarga Kiai Ahmad Dahlan yang kerap disebut sebagai langgar kidul itu pun roboh, hancur, rata dengan tanah. Para eksekutornya langsung pergi usai tugas mereka ditunaikan.

Ahmad Dahlan tentu saja amat terkejut mendapati surau miliknya tinggal puing-puing tidak berbentuk. Ia sangat kecewa, hatinya terluka. “Astagfirullah.. Astagfirullah..,” demikian ucapnya beristigfar seperti dituliskan Susatyo Budi Wibowo dalam buku Dahlan Asy’ari: Kisah Perjalanan Wisata Hati (2011).

Setelah sahur dan salat Subuh, Ahmad Dahlan bersama istrinya, Siti Walidah, secara diam-diam pergi dari rumah menuju Stasiun Tugu Yogyakarta. Sang pencerah ingin meninggalkan kota kelahirannya untuk selama-lamanya.

ahmad-dahlan
Langgar kidoel K.H. Ahmad Dahlan merupakan bangunan warisan budaya sesuai SK. Walikota /Foto: jalanmembara.wordpress.com

Geger Geden di Masjid Gedhe Kauman

Insiden robohnya langgar kidul milik Ahmad Dahlan tentunya tidak serta-merta terjadi begitu saja. Sepulang dari menunaikan ibadah haji yang pertama pada 1890, Ahmad Dahlan membawa semangat baru dalam upaya dakwah di tanah air.

Selama di Mekkah, Ahmad Dahlan tidak hanya berhaji, tapi juga belajar agama kepada ulama-ulama besar di tanah suci serta memperdalam keilmuan Islam yang belum pernah pelajari sebelumnya. Namanya pun berganti dari Muhammad Darwis menjadi Ahmad Dahlan.

Menurut beberapa catatan seperti yang terangkum dalam buku 1 Abad Muhammadiyah: Gagasan Pembaruan Sosial Keagamaan (2010) suntingan Syarifuddin Jurdi dan kawan-kawan, kemampuan intelektual Muhammad Darwis atau Ahmad Dahlan semakin berkembang setelah menunaikan ibadah haji yang pertama itu.

Cakrawala baru dalam diri Ahmad Dahlan terbentang luas setelah bermukim di Mekkah selama 8 bulan, selain hasil interaksinya dengan para ulama dari Indonesia yang juga sedang berada di tanah suci seperti K.H. Mahfudh (Pacitan), Syekh Akhmad Khatib dan Syekh Jamil Jambek (Sumatera Barat), K.H. Najrowi (Banyumas), K.H. Nawawi (Banten), maupun dengan ulama-ulama Arab.

Ahmad Dahlan membawa semangat pemurnian ajaran Islam setelah tiba di Kauman, tanah kelahirannya. Hal ini dianggap sebagai ancaman terhadap keberlangsungan praktik tradisi keagamaan yang telah turun-temurun dilakukan, terlebih bagi kalangan muslim-kraton yang masih lekat dengan adat.

Peran Ahmad Dahlan di lingkaran keislaman Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat semakin sentral ketika ia ditunjuk sebagai Khatib Amin untuk menggantikan ayahnya yang wafat pada 1896. Pengalaman dan pembelajaran yang diperoleh Ahmad Dahlan di tanah suci pun mulai diterapkan di lingkungan Masjid Gedhe Kauman Kraton Yogyakarta, dan itu tidak sepenuhnya dapat diterima.

Salah satu yang nantinya memantik polemik adalah persoalan arah kiblat. Dalam pengamatan Ahmad Dahlan, arah kiblat sebagian masjid di Yogyakarta kurang tepat lantaran lurus ke barat. Padahal, menurut Ahmad Dahlan sesuai ilmu falak yang dipelajarinya, arah kiblat seharusnya condong ke barat laut kurang lebih 23 derajat agar tepat mengarah ke Masjidil Haram.

Dinukil dari Matahari Pembaruan: Rekam Jejak K.H. Ahmad Dahlan (2010) karya M. Nasruddin Anshoriy Ch., pada 1898 Ahmad Dahlan mengundang 17 orang ulama di Yogyakarta dan sekitarnya untuk bermusyawarah mengenai arah kiblat yang dinilainya kurang tepat itu. Diskusi yang terkadang menjurus perdebatan itu berlangsung hingga Subuh tanpa menghasilkan kesepakatan.

Beberapa hari kemudian, seisi Masjid Besar Kauman geger. Terdapat tiga garis putih setebal 5 cm di depan mimbar imam. Ada orang yang bermaksud mengubah arah kiblat masjid. Tindakan ini sontak membuat semua orang geram dan tuduhan pun mengarah kepada Ahmad Dahlan.

Kanjeng Kiai Penghulu R.M. Haji Muhammad Cholil Kamaludiningrat selaku otoritas utama yang diserahi tanggung jawab oleh istana untuk mengelola Masjid Gedhe Kauman turut murka. Tokoh berpengaruh yang sebenarnya masih berkerabat dengan Ahmad Dahlan inilah yang kemudian menyuruh beberapa anak buahnya untuk merobohkan langgar kidul.

ahmad-dahlan
Langgar kidoel K.H. Ahmad Dahlan kini /Foto: jalanmembara.wordpress.com

Akhir Polemik Ahmad Dahlan dengan Istana

Ahmad Dahlan dan istrinya sudah tiba di Stasiun Tugu usai insiden robohnya langgar kidul yang telah meruntuhkan hatinya itu. Namun, sebelum sempat berangkat, tiba-tiba datang kakak ipar Ahmad Dahlan, yakni Kiai Haji Mohammad Soleh. Sang kakak ipar membujuk Ahmad Dahlan untuk mengurungkan niatnya pergi dari Yogyakarta.

Atas nama seluruh keluarga, aku melarangmu pergi. Engkau mesti pulang, Dahlan!” kata Kiai Soleh tegas, seperti dikisahkan kembali oleh M. Nasruddin Anshoriy Ch. dalam bukunya.

Ahmad Dahlan menjawab, “Surauku sudah tidak ada lagi.”

“Kita dirikan surau baru!” tandas Kiai Soleh sembari menjanjikan bahwa tidak akan ada lagi yang akan mengganggu Ahmad Dahlan.

Wibawa sang kakak ipar membuat Ahmad Dahlan luluh dan akhirnya bersedia pulang ke Kauman. Atas bantuan Kiai Soleh dan rekan-rekannya yang lain, langgar kidul pun dibangun kembali.

Pada akhirnya, polemik dan silang pendapat yang sempat terjadi antara Ahmad Dahlan dengan para ulama kraton dapat diselesaikan dengan baik. Terlebih, setelah ditelisik, orang-orang yang membuat tiga garis putih di Masjid Besar Kauman bukanlah murid-murid Ahmad Dahlan.

Persoalan semakin jernih setelah Ahmad Dahlan menjelaskan langsung kepada Sultan Hamengkubuwana VII (1877-1921), Raja Yogyakarta yang bertakhta saat itu. Sultan HB VII ternyata mendengar kegaduhan yang terjadi dan mengundang Ahmad Dahlan secara pribadi ke kraton untuk menghadapnya.

Muhammad Izzul Muslimin melalui artikelnya bertajuk “Kyai Ahmad Dahlan dan Arah Kiblat” yang terdapat dalam website Pusat Studi Muhammadiyah UMY (Universitas Muhammadiyah Yogyakarta) mengungkapkan, Sultan HB VII berkenan dengan penjelasan yang disampaikan oleh Ahmad Dahlan.

Tahun 1903, Sultan HB VII membiayai Ahmad Dahlan untuk menunaikan ibadah haji yang kedua, kali ini bersama anak lelakinya. Sepulang dari tanah suci pada 1905, Ahmad Dahlan yang sekaligus memperdalam ilmu lagi di Mekkah membawa pemikiran yang lebih bijak dan simpatik.

Hubungan Ahmad Dahlan dengan para ulama kraton bertambah harmonis. Bahkan, berdirinya Muhammadiyah oleh K.H. Ahmad Dahlan pada 1912 mendapat dukungan penuh dari Sultan HB VII yang langsung mengusahakan izin pendirian organisasi itu kepada pemerintah kolonial Hindia Belanda.

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on linkedin

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

IKUTI KAMI

%d blogger menyukai ini: