Riwayat Suwuk Bambu Runcing Pertempuran 10 Nopember yang Bersanad dari Pesantren Parakan Temanggung

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on linkedin
Laskar Bambu Runcing Revolusioner Para Syuhada Parakan Temanggung /Foto: surakartadaily.com

santrikertonyonoKiai Manshur atau Mbah Manshur asal Desa Kalipucung, Kecamatan Sanankulon, Kabupaten Blitar, Jawa Timur terkenal sebagai penyepuh bambu runcing yang ampuh. Sepuh atau nyepuh merupakan kata ganti dari suwuk, yakni ritual memantrai bambu runcing yang hendak dipakai berperang.

Pada peristiwa 10 November 1945, hampir seluruh bambu runcing yang dipakai pejuang laskar Hizbullah disepuh Mbah Manshur. Terutama pejuang yang berasal dari eks Karsidenan Kediri, eks Karsidenan Malang, dan eks Karsidenan Madiun dan sekitarnya. Mereka lebih dulu mendatangi Mbah Manshur di Kalipucung.

Setelah bambu runcing disepuh, para pejuang baru bertolak ke Surabaya untuk bertempur melawan penjajah Inggris dan Belanda. Kiai Hisyam Manshur, putra bungsu Mbah Manshur masih ingat, setelah merapal doa, ayahnya lantas meniup bambu runcing sebanyak tiga kali.

“Prosesnya hanya ditiup. Setahu saya tidak ada bambu yang direndam di kolam,” tutur Mbah Hisyam. Konon, bambu runcing memiliki kekuatan ajaib. Cerita yang bergetok tular, bambu runcing itu bisa tiba-tiba melesat sendiri menyerang lawan, saat para pejuang berhadap-hadapan dengan penjajah.

“Kalau dinalar memang tidak masuk akal. Bambu runcing bisa mengalahkan senapan mesin. Tapi kenyataanya memang demikian,” tambah Mbah Hisyam. Mbah Manshur merupakan putra Kiai Abu Manshur, mantan laskar Pangeran Diponegoro yang hijrah ke wilayah Kanigoro Kabupaten Blitar.

Kiai Abu Manshur adalah dzuriyah (keturunan) Kiai Nur Iman atau Raden Mas Sandiyo, pengasuh pesantren Mlangi, Sleman, Yogyakarta. Menurut Mbah Hisyam, kemampuan ayahnya (Mbah Manshur) menyepuh bambu runcing diperoleh dari Parakan, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah.

Mbah Manshur berguru kepada Kiai Sumogunardo atau Mbah Sumogunardo, ayah Kiai Muhaiminan Gunardo, pendiri Ponpes Bambu Runcing, Parakan, Temanggung. Saat itu bambu runcing menjadi senjata familiar para pejuang kemerdekaan, terutama mereka yang tergabung dalam laskar Hizbullah dan Fi Sabilillah.

Sebelum perang, para pejuang lebih dulu menyepuhkan bambu runcing ke Parakan, Temanggung, termasuk Mbah Manshur yang berasal dari Blitar, Jawa Timur. Dalam perjalanannya Mbah Manshur kemudian mendapat izin untuk melayani penyepuhan bambu runcing para pejuang asal Jawa Timur.

Para pejuang tidak lagi jauh-jauh ke Parakan, Temanggung. Melainkan cukup datang ke Kalipucung, Kabupaten Blitar. “Tidak hanya pejuang santri Blitar dan sekitarnya. Tapi seluruh daerah di Jawa Timur,” ungkap Mbah Hisyam yang seingatnya Bung Tomo juga pernah menemui Mbah Manshur.

Pesantren Bambu Runcing Parakan Temanggung

Sebagian besar masyarakat Parakan, Temanggung, Jawa Tengah mengenal Kiai Sumogunardo atau Mbah Sumogunardo dengan nama Raden Abu Hasan. Konon Mbah Sumogunardo berdarah biru. Bila ditelisik ke atas masih dzuriyah Sultan Hamengkubuwono II Yogyakarta.

Pada masa perang kemerdekaan Mbah Sumogunardo dikenal sebagai kiai yang jadug. Seorang ulama yang mumpuni dalam hal olah kanuragan. “(Mbah Sumogunardo) terkenal sebagai kiai yang ahli ilmu hikmah atau memiliki kesaktian yang tinggi,” tulis M Solahudin dalam “Napak Tilas Masyayikh, Biografi 25 Pendiri Pesantren Tua di Jawa-Madura”.

Foto mbah Hisyam Manshur, Putra bungsu Mbah Manshur /Foto: Santrikertonyono

Yang paling terkenal dari Mbah Sumogunardo adalah kemampuannya menyepuh bambu runcing. Cuma ditiup dengan rapalan doa, sebatang bambu runcing di tangan pejuang menjelma menjadi senjata yang menakutkan.

Mbah Sumogunardo menikah dengan Nyai Mahwiyah, putri Kiai Badrun, seorang ulama yang kesohor di Parakan. Dari pernikahannya lahir Kiai Raden Muhaiminan Gunardo. “Selain dikenal sebagai ahli ilmu agama, tokoh dari Temanggung ini juga sebagai seorang pendekar sekaligus mursyid Tarekat Syadziliyah,” demikian sumber yang berkembang.

Kiai Muhaiminan Gunardo memiliki panggilan akrab Mbah Nan. Pada saat Belanda melancarkan agresi militer yang pertama (1947), Mbah Nan masih duduk di bangku sekolah rakyat (SR). Sekolahnya terganggu dan bahkan sempat berhenti, tapi kemudian dilanjutkan dengan pindah sekolah di wilayah Mojosari, Temanggung.

Mbah Nan muda nyantri pertama kali di pondok pesantren Payaman asuhan Kiai Siradj. Di pesantren Payaman, kegemarannya akan bela diri mendapat ruang. Ki Martho Jotho, seorang pendekar ternama di pesantren Payaman, menggemblengnya.

Dari pesantren Payaman, Muhaiminan muda melanjutkan petualangannya ke pesantren di Jawa Timur. Ia nyantri dari satu pesantren ke pesantren lain. Dari pesantren Bendo Kediri, berpindah ke pesantren Tebuireng Jombang dan pesantren Dresmo Surabaya.

Ia rajin ngaji tabarrukan kepada Kiai Masduqi, Kiai Ma’shum dan Kiai Baidhowi. Ketiag kiai tersebut merupakan ulama Lasem, Rembang. “Sebelum ke Jawa Timur, berguru kepada KH Dalhar di Pesantren Watucongol Magelang,” tulis M Solahudin dalam “Napak Tilas Masyayikh, Biografi 25 Pendiri Pesantren Tua di Jawa-Madura”.

Pada tahun 1965, Kiai Muhaiminan Gunardo mendirikan pondok pesantren di tempat tinggal ayahnya di Parakan, Temanggung. Ia lebih banyak mengajarkan kitab kuning, terutama soal ilmu nahwu dan fiqih. Kendati demikian tidak sedikit para pemuda yang nyantri untuk tujuan belajar bela diri pencak silat serta ilmu kanuragan.

Pesantren yang didirikan Kiai Muhaiminan bernama Manba’ul Falah. Namun warga masyarakat lebih mengenal dengan nama “Pesantren Kiai Parak Bambu Runcing”. Kiai Parak merujuk pada nama Mbah Parak, yakni seorang tokoh yang diyakini sebagai Pangeran Benowo, pendiri Kota Parakan.

Sedangkan “Bambu Runcing” merujuk pada Mbah Sumogunardo (ayah Kiai Muhaiminan Gunardo) yang terkenal sebagai ahli penyepuh bambu runcing. Pada peristiwa 30 September 1965, Pesantren Kiai Parak Bambu Runcing memiliki peran besar dalam penumpasan pengikut PKI di Temanggung.

Setiap malam jumat terakhir di bulan Muharram, Pesantren Kiai Parak Bambu Runcing selalu menggelar mujahadah dan “pengisian” yang terkenal dengan nama “karomahan”. Pada tahun 1969, Kiai Muhaiminan dibaiat sebagai khalifah sughra tarekat Qadiriyah wa Naqsabandiyah.

Pada tahun 1973, Kiai Muhaiminan dibaiat sebagai khalifah kubra atau mursyid tarekat syadziliyah, yakni tarekat yang didirikan oleh Abu al-Hasan al-Syadzili. Di bawah kepemimpinannya, tarekat syadziliyah berkembang pesat.

Pada tahun 1980-an, lebih dari 10.000 orang berbaiat kepada Kiai Muhaiminan Gunardo. Pesantren Kiai Parak Bambu Runcing, berkembang pesat dengan banyaknya santri yang datang dari mana-mana.

Kiai Muhaiminan yang konon saat nyantri di Jawa Timur menyempatkan belajar bela diri di Madiun, juga mendirikan perguruan silat yang bernama Lembaga Ilmu Beladiri Garuda Bambu Runcing. Dari perkawinannya dengan Nyai Jayyidah binti Haji Anwari, Kiai Muhaiminan Gunardo memiliki enam anak.

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on linkedin

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

IKUTI KAMI

%d blogger menyukai ini: