Riwayat 2 Tokoh Pra Wali Songo Penyebar Islam di Jawa

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on linkedin
Makam Syekh Jumadil Kubro di Semarang /Foto: Tribunnews.com

Sejak sekitar abad ke-15, sedikit demi sedikit ajaran Islam mulai menguat dan beradaptasi dengan kultur, budaya, serta kebiasaan sosial penduduk lokal di Jawa. Ajaran Islam yang disyiarkan secara halus dan menjunjung toleransi ini akhirnya menggerus kepercayaan dua agama besar yang telah dianut oleh orang-orang Jawa sebelumnya, yakni Hindu dan Budha.

Keberadaan Islam pun semakin diperkuat dengan kehadiran Wali Songo di tengah-tengah masyarakat. Ajaran Islam yang cenderung humanis, mudah dipahami, serta tidak serta merta menyingkirkan budaya lokal, membuat agama Islam mudah diterima oleh masyarakat Jawa.

Kerapkali Wali Songo juga di sebut-sebut sebagai ujung tombak dari proses penyebaran syiar Islam di tanah Jawa pada saat itu. Tak hanya terbatas pada dakwah Islam, peran Wali Songo juga meluas pada ilmu politik yang sekaligus menjadi pintu pembuka jalan bagi era kerajaan-kerajaan Islam di pulau Jawa.

Namun, sebelum adanya Wali Songo, banyak dari masyarakat Jawa yang telah mengenal lebih dulu beberapa ulama yang juga memiliki andil cukup besar dalam proses penyebaran Islam di Jawa. bahkan, beberapa literatur ada menyebutkan bahwa ulama-ulama tersebut merupakan cikal bakal kelahiran dari beberapa tokoh Wali Songo seperti Sunan Gresik, Sunan Ampel, Sunan Bonang dan Sunan Drajat.

Masyarakat Jawa yang kala itu menganggap posisi Wali Sanga sangat sentral mengakibatkan banyak peran tokoh-tokoh agama lain yang sebenarnya juga berjasa dalam sejarah penyebaran Islam tidak banyak diungkap.

Menurut Sumanto Al-Qurtuby dalam bukunya yang berjudul “Arus Cina-Islam-Jawa: Bongkar Sejarah Atas Peranan Tionghoa dalam Penyebaran Agama Islam di Nusantara Abad XV & XVI (2003)” menyebutkan, meskipun Wali Songo memiliki peran penting dalam proses penyebaran Islam di tanah Jawa, akan tetapi membatasi penyebaran Islam hanya pada mereka merupakan sebuah reduksi terhadap sejarah.

Beberapa fakta sejarah juga menunjukkan bahwa Wali Songo bukan satu-satunya penyebar Islam di Jawa. Pihak-pihak yang berpendapat demikian berdasar pada kontruksi Wali Songo yang baru muncul sekitar abad ke-17, terutama saat kerajaan Mataram membutuhkan legitimasi keagamaan. Bahkan, beberapa pengamat beranggapan bahwa apresiasi terhadap Wali Songo dilakukan oleh rezim Mataram untuk meraih simpati masyarakat pesisir.

Kembali merujuk pada buku Sumanto Al-Qurtuby, banyak ditemukan data dan catatan-catatan sejarah yang ditulis oleh para pengembara yang mengisahkan tentang adanya komunitas muslim China di Jawa beberapa abad jauh sebelum dikenalnya sejarah Wali Sanga.

Terdapat sumber yang menyebutkan bahwa keberadaan tokoh ulama pra-Wali Songo di Jawa sebenarnya sudah ada dan turut mempunyai peran serta berjasa besar dalam proses penyebaran Islam. Bukan hanya dari muslim China, melainkan juga para ulama yang menurut catatan sejarah berasal dari Arab.

1. Syekh Jumadil Kubro
Beberapa sejarawan mengemukakan, bahwa Syekh Jumadil Kubro memiliki nama asli Syekh Sayyid Jamaluddin Akbar dan merupakan keturunan kesepuluh dari Rasulullah SAW melalui jalur Sayyid Husain.

Bahkan, menurut Agus Sunyoto sebagaimana dikutip oleh Tri Wibowo, sosok Syekh Jumadil Kubro banyak diceritakan dalam beberapa kitab babad bahkan disebut-sebut sebagai leluhur Sunan Ampel, Sunan Gunung Jati, Sunan Giri dan Sunan Kalijaga.

Syekh Jumadil Kubro lahir pada tahun 1310 M tepatnya di negeri Malabar termasuk dalam wilayah Kesultanan Delhi. Ayahnya merupakan seorang gubernur Amir negeri Malabar yang tak lain adalah Amir Ahmad Syah Jalaluddin.

Martin van Bruinessen dalam “Kitab Kuning, Pesantren, dan Tarekat” (2015) menyebutkan, Syekh Jumadil Kubro kerapkali diceritakan dalam berbagai legenda yang berkembang dalam kepustakaan berbahasa Jawa. Tak jarang, sosok beliau di kait-kaitkan dengan kisah perjalanan Majapahit.

Menurut Tri Wibowo dalam bukunya “Akulah Debu di Jalan Al-Musthafa: Jejak-Jejak Awliya Allah(2015), Syekh Jumadil Kubro wafat pada tahun 1376 yang dimana juga beredar kabar tentang letak makam Syekh Jumadil Kubro sendiri. Terdapat beberapa lokasi makam yang di klaim sebagai makam beliau, diantaranya seperti di Semarang, Mojokerto dan di lereng Gunung Merapi Yogyakarta.

Terlepas dari simpang syiurnya kabar terkait makam beliau, tetapi satu hal pasti yang secara jelas menunjukkan bahwa keberadaan Syekh Jumadil Kubro telah dikenal baik oleh masyarakat Jawa di masa-masa awal masuknya ajaran Islam. Namun, kuat dugaan Syeikh Jumadil Kubro di makamkan di antara makam pejabat kerajaan Majapahit.

Sementara, Syeikh Jumadil Kubro dikenal luas keberadaannya dalam legenda masyarakat di sekitar lereng gunung Merapi. Beliau disebut-sebut sebagai seorang wali asal Majapahit yang dipercaya memiliki usia sangat panjang bahkan Syekh Jumadil Kubro dikabarkan sempat menjadi penasihat Sultan Agung di Mataram.

Dalam beberapa literatur, Syekh Jumadil Kubro dikenal sebagai salah satu ulama besar kala itu. Terdapat suatu kisah bahwa Syekh Jumadil Kubro menghadap ke Sultan Muhammad I yang saat itu merupakan penguasa kekhalifahan Turki Ustmani.

Setelah berkonsultasi dan berdialog panjang dengan Syekh Jumadil Kubro, Sultan Muhammad I mengundang beberaa tokoh ulama dari wilayah Timur Tengah dan Afrika yang memiliki karamah guna membantu perjuangan Syekh Jumadil Kubro dalam melakukan syiar Islam di Nusantara.

Diketahui, Syekh Jumadil Kubro ini semula melakukan perjalanan beserta rombongan para ulama dari Timur Tengah dan Maroko sampai ke Indonesia, dimana rombongan tersebut bernama Al-Maghribi yang berasal dari nama daerah Maghrib di Maroko. Setelah bertemu di Pasai, Aceh, rombongan tersebut langsung menuju ke pulau Jawa tepatnya di wilayah Semarang.

Syeikh Jumadil Kubro lalu menikah dengan Siti Fatimah Kamar Rukmi dan dikaruniai 5 orang anak. Setelah itu, beliau menikahi Siti Fatimah Binti Muchawi dan memiliki 16 anak. Dari keturunannya itu, lahirlah cikal bakal Wali Songo.

Kedua anaknya Syekh Maulana Ibrahim Asmarakandi dan Maulana Ishaq melahirkan sebagian Wali Songo. Dimana Sunan Ampel, Sunan Gunung Jati dan Sunan Giri adalah cucunya, Sunan Bonang dan Sunan Drajad adalah buyutnya serta Sunan Kudus adalah cicitnya.

2. Syekh Maulana Akbar
Syekh Maulana Akbar atau Syekh Jamaluddin Akbar merupakan salah satu ulama yang namanya kerapkali disebut sebagai salah satu ulama yang turut berjasa dalam proses penyebaran Islam di tanah Jawa. tak lain beliau adalah adik dari Syekh Datuk Kahfi yang melakukan dakwah Islam di wilayah Kuningan, Jawa Barat.

Sosok kelahiran Malaka sekitar abad ke-14 ini datang ke pulau Jawa saat setelah Syekh Datuk Kahfi membangun pusat dakwah di wilayah Amparan Jati, Cirebon. Dalam sebuah kisah yang dituliskan pada sebuah naskah “Pangeran Wangsakerta”, Syekh Maulana Akbar pernah menimba ilmu di Makkah sejak usia remaja.

Secara silsilah, Syekh Maulana Akbar memiliki ikatan dengan Syekh Siti Jenar dan Syekh Syarif Hidayatullah. Dimana garis silsilah tersebut bertemu ada sosok Amir Abdullah Khanuddin yang memiliki anak Ahmad Jalaludin Syah yang tak lain ayah dari Jamaluddin Akbar.

Menurut Bambang Irianto dan Siti Fatimah dalam bukunya yang berjudul “Syekh Nurjati (Syekh Datul Kahfi): Perintis Dakwah dan Pendidikan” (2009), bahwa kedatangan Syekh Maulana Akbar di daerah Kuningan berawal dari kunjungan murid Syekh Datuk Kahfi yakni Walangsungsang dan Rara Santang ke Makkah.

Dari interaksi dan berbagai cerita yang disampaikan Walangsungsang, akhirnya timbulah keinginan Syekh Maulana Akbar untuk berdakwah di tanah Jawa dan mengikuti jejak kakaknya.
Menurut cerita yang berkembang di masyarakat, sebagian besar Wali Sanga masih memiliki hubungan atau bahkan memiliki garis keturunan dengan Syekh Maulana Akbar. Dimana tiga putranya memutuskan untuk meneruskan dakwah di Asia Tenggara.

Ketiga putranya itu masing-masing adalah Ibrahim Akbar (atau Ibrahim as-Samarkandi) ayah Sunan Ampel yang berdakwah di Campa dan Gresik, Ali Nuralam Akbar, kakek Sunan Gunung Jati yang berdakwah di Pasai serta Zainal Alam Barakat.

Sebagaimana yang disampaikan oleh Jamaluddin Assagaf, Kafaah dalam Perkawinan dan Dimensi Masyarakat Sulsel, yang dikutip oleh Tri Wibowo menjelaskan bahwa kedatangan Syekh Jamaluddin Akbar ke tanah Jawa awalnya dalam rangka memenuhi undangan Raja Majapahit yakni Prabu Wijaya. Selama di Majapahit, diketahui Syekh Jamaluddin Akbar bermukim di daerah Cepu. Tak lama setelah mengislamkan beberapa orang, beliau kemudian pergi menuju Sulawesi.

Sementara, dalam Hadiqat al-Azhar (Malaysia) menyebutkan bahwa La Maddusila seorang raja di Bugis yang memerintah pada tahun 1337 M telah memeluk agama Islam. Namun sangat disayangkan tidak ada penjelasan atau literatur sejarah yang menjelaskan di Bugis daerah mana ia memerintah dan siapa tokoh ulama yang berhasil mengislamkannya.

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on linkedin

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

IKUTI KAMI

%d blogger menyukai ini: