Ragam Riwayat Syekh Jumadil Kubro Peletak Dasar Islamisasi Nusantara

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on linkedin
makam syekh kubro
Makam Syeikh Maulana Jumadil Kubro, Jl. Raya Pantura, Tambakrejo, Kec. Gayamsari, Kota Semarang, Jawa Tengah, foto diambil November 2020 /Foto: Ilham ian - googlemap

Riwayat Syekh Jumadil Kubro sejatinya masih diselimuti misteri, termasuk dengan berbagai versi terkait asal-usul dan perannya dalam sejarah syiar Islam di Jawa, atau keberadaan dugaan makamnya yang tersebar di sejumlah daerah di Nusantara. Namun, diyakini bahwa sosok ini adalah peletak dasar Islamisasi di Jawa sebelum Wali Songo, bahkan Asia Tenggara.

Syekh Jumadil Kubro diperkirakan datang ke Jawa pada perjalanan abad ke-4 Masehi dari Samarkand (sekarang Uzbekistan), Asia Tengah. Di tanah Jawa kala itu masih berdiri kerajaan Hindu-Buddha yang pernah amat digdaya yakni Majapahit, berpusat di Jawa bagian timur.

Periode tibanya Syekh Jumadil Kubro di Nusantara merupakan masa-masa setelah era pemerintahan Hayam Wuruk, raja terbesar Majapahit yang dengan dukungan penuh dari Mahapatih Gajah Mada membawa kerajaan Hindu-Buddha tersebut ke puncak kejayaan.

Dikisahkan, Syekh Jumadil Kubro datang ke Jawa bersama putra-putranya. Menjadi tantangan tersendiri bagi Syekh Jumadil Kubro untuk menyebarkan ajaran Islam di tanah Jawa yang kala itu menjadi pusat peradaban Hindu-Buddha di bawah naungan Majapahit.

Asal-Usul Syekh Jumadil Kubro

Dikutip dari buku Peradaban Makam: Kajian Inskripsi, Kuburan, dan Makam (2019) karya Hamidulloh Ibda, nasab Syekh Jumadil Kubro sangat dekat dengan Nabi Muhammad. Ia diyakini keturunan ke-10 dari Husain bin Ali, cucu Rasulullah.

Syekh Jumadil Kubro dikenal pula dengan nama Sayyid Hussein Jumadil Kubro yang bernama asli Syekh Jamaluddin Al Husain Al Akbar. Kakek buyut Syekh Jumadil Kubro bernama Muhammad Shohib Mirbath dari Hadramaut yang bergaris keturunan ke Imam Jafar Shodiq, keturunan generasi ke-6 dari Nabi Muhammad.

Penyebaran agama Islam yang dilakukan Syekh Jumadil Kubro mencakup Asia Tengah, bahkan sampai Maroko di Afrika Utara, sebelum menuju Asia Tenggara meliputi Campa (Vietnam), Kelantan (Malaysia), hingga ke Nusantara termasuk Jawa dan Sulawesi.

Jejak Syekh Jumadil Kubro di Tanah Jawa

Martin van Bruinessen dalam Kitab Kuning, Pesantren, dan Tarekat: Tradisi-tradisi Islam di Indonesia (1995) mengumpulkan jejak riwayat Syekh Jumadil Kubro di tanah Jawa yang memunculkan banyak versi dari berbagai referensi lama.

Babad Cirebon, misalnya, meyakini bahwa Syekh Jumadil Kubro adalah leluhur para Wali Songo sebagai perintis penyebaran ajaran Islam di Jawa, termasuk Sunan Jati, Sunan Bonang, Sunan Ampel, bahkan Sunan Kalijaga.

Bruinessen juga merunut sejarah Syekh Jumadil Kubro melalui naskah kuno dari Gresik. Di situ disebutkan bahwa Syekh Jumadil Kubro merupakan kakek buyut Sunan Giri, ayah dari Sunan Ampel, sekaligus kakek dari Syekh Maulana Ishaq.

Penelitian Wandi yang dibukukan dengan judul Sejarah Peradaban Islam (2020) lain lagi. Dituliskan bahwa Syekh Jumadil Kubro justru adalah ayah dari Syekh Maulana Ishaq dan Syekh Maulana Malik Ibrahim, dua tokoh perintis penyebaran agama Islam di Nusantara.

Syekh Maulana Malik Ibrahim diketahui sebagai salah seorang anggota Wali Songo angkatan awal yang kemudian dikenal dengan nama Sunan Gresik. Sedangkan Syekh Maulana Ishaq merupakan ayah dari Sunan Giri dan mertua dari Sunan Kalijaga.

Sedangkan dari Babad Tanah Jawi seperti yang diejawantahkan oleh Agus Sunyoto dalam Atlas Walisongo (2012), Syekh Jumadil Kubro adalah sepupu dari Sunan Ampel. Syekh Jumadil Kubro bermunajat kepada Tuhan dengan menyepi di hutan dekat Gresik, Jawa Timur.

Agus Sunyoto juga mengungkapkan versi lain mengenai sosok Syekh Jumadil Kubro menurut legenda yang diyakini oleh sebagian masyarakat sekitar Gunung Merapi (terletak Jawa Tengah dan Yogyakarta). Konon, Syekh Jumadil Kubro adalah seorang ulama dari Majapahit (Mojokerto) yang menyingkir ke hutan di lereng Merapi dan menetap di situ hingga wafatnya.

The History of Java yang disusun oleh Thomas Stamford Raffles dan diterbitkan pada 1817 punya versi yang berbeda terkait jejak riwayat Syekh Jumadil Kubro. Raffles menyebutkan bahwa Syekh Jumadil Kubro merupakan pembimbing para Wali Songo generasi pertama.

Menurut Isno, akademisi Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah (STIT) Raden Wijaya Mojokerto, dari hasil Sarasehan Peringatan Haul ke-362 Syekh Jumadil Kubro oleh Dinas Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur, mengungkapkan bahwa arkeolog, sejarawan, maupun kalangan ulama menyepakati Syekh Jumadil Kubro adalah tokoh nyata kendati punya banyak versi dalam riwayatnya.

Melalui tulisan bertajuk “Pendidikan Islam Masa Majapahit dan Dakwah Syekh Jumadil Kubra” dalam Jurnal Pendidikan Agama Islam (2015), Isno menyimpulkan bahwa Syekh Jumadil Kubro merupakan tokoh yang meletakkan dasar dakwah Islam di Nusantara.

Syekh Jumadil Kubro, lanjutnya, adalah peletak model pendidikan Islam sebagai transformasi nilai kepada masyarakat Jawa yang sudah dimulai sejak zaman Majapahit atau sebelum munculnya Kesultanan Demak yang merupakan kerajaan Islam pertama di Jawa.

Makam-makam Syekh Jumadil Kubro

Beragamnya versi terkait Syekh Jumadil Kubro dalam sejarah syiar Islam Nusantara berdampak terhadap cukup banyaknya makam yang terdapat di lokasi berbeda dan diyakini sebagai tempat peristirahatan terakhir sang ulama legendaris dari Samarkand tersebut.

Salah satu tempat yang paling otentik dan dipercaya sebagai makam Syekh Jumadil Kubro adalah di Mojokerto, Jawa Timur, yang pernah menjadi pusat pemerintahan atau ibu kota Kerajaan Majapahit.

Dikutip dari artikel “Syeik Jumadil Kubra: Bapak Para Wali di Nusantara” dalam Gana Islamika: Mozaik Peradaban Islam (2018), ada juga yang meyakini makam Syekh Jumadil Kubro berada di Semarang, tepatnya makam tua yang berlokasi di antara Tambak dan Terboyo.

Makam yang terdapat di Turgo, lereng selatan Gunung Merapi, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, juga diyakini sebagai tempat peristirahatan terakhir Syekh Jumadil Kubro. Bahkan, tidak sedikit pula yang percaya bahwa Syekh Jumadil Kubro dimakamkan di Wajo, Sulawesi Selatan.

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on linkedin

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

IKUTI KAMI

%d blogger menyukai ini: