Pesarean Mbrebesmili Blitar & Penyebaran Islam Laskar Diponegoro

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on linkedin
Pesarean Mbrebes Mili /Foto: Santrikertonyono

Para peziarah menyebutnya pesarean auliya Mbrebesmili Santren. Empat makam tua itu berderet di pinggir sungai Brantas di wilayah Bedali, Desa Purwokerto, Kecamatan Srengat, Kabupaten Blitar. Keempat makam diyakini sebagai pesarean ulama penyebar Islam pada masa Perang Jawa (1825-1830).

Mereka adalah Kiai Raden Syakban Gembrang Serang atau Kiai Syakban Tumbu, Kiai Raden Muhammad Asrori, Kiai Hasan Mujahid dan Sayyid Bukhori Mukmin atau Eyang Ponco Suwiryo. Namun sampai sekarang belum diketahui pasti dari mana riwayat nama Mbrebesmili berasal. Apakah terkait dengan sebuah peristiwa atau hanya penyebutan warga setempat.

Dalam bahasa Jawa Mbrebes mengandung arti merembes yang itu selalu terkait dengan air mata. Sedangkan Mili adalah mengalir yang lebih berkaitan dengan sumber air. Apakah Mbrebesmili merujuk pada peristiwa yang menyedihkan atau terkait dengan posisi makam yang bersebelahan dengan Sungai Brantas? Wallahulam bisawab.

Kiai Dimyati Baran, Selopuro Kabupaten Blitar, saat masih remaja diriwayatkan rutin menziarahi pesarean auliya Mbrebesmili. Mbah Dimyati seorang waliyullah pengamal kitab Dalail al-Khairat yang terkenal dengan ngaji bil hikmahnya.

Mbah Dim merupakan dzuriyah (keturunan) Mbah Ekomedjo yang makamnya di lingkungan Domot, Desa Purwokerto, dan tak jauh dari pesarean auliya Mbrebesmili.

Semasa hidupnya Mbah Ekomedjo merupakan lurah pertama Desa Purwokerto. Bila ditarik garis silsilah lebih jauh ke atas, Mbah Dim masih keturunan Sunan Geseng, murid Sunan Kalijaga.

Dari berbagai sumber tutur, KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) juga pernah menziarahi pesarean auliya Mbrebesmili. Di pesarean yang bersebelahan dekat dengan Sungai Brantas dan sekaligus berada di tengah tegalan itu, Gus Dur berdoa.

Para Laskar Pasukan Diponegoro

Tak sulit menemukan pesarean auliya Mbrebesmili. Seorang warga yang bertempat tinggal di lingkungan Bedali, saat ditanya akan memberikan ancer-ancer yang cukup jelas dimengerti. “Langsung saja jalan terus ke barat. Nanti posisi makam berada di sisi kiri (selatan),” tutur seorang warga menjelaskan. “Jaraknya sekitar dua ratus meteran”.

Jalan yang dimaksud adalah setapak jalan tanah. Sebuah jalan alternatif yang dipakai warga beraktifitas ke tegalan sawah atau sungai. Lebar jalan cukup untuk dilalui kendaraan roda dua, meski salah satu pengendara harus mengalah saat berpapasan. Sesuai petunjuk warga, lokasi makam para auliya berada di bawah jalan alternatif tersebut.

“Kalau sudah berjumpa anak tangga, berarti sudah dekat,“ katanya. Anak tangga yang dikatakan memang terlihat. Tangga cor semen yang setiap hujan sepertinya licin itu menuju ke arah aliran sungai Brantas. Melihat konstruksinya yang masih baru, sepertinya belum lama dibangun. Setiap jarak 10 meter berdiri tiang lampu dengan gaya ukiran klasik.

Bola lampu akan menyala setiap petang datang. Penerangan membantu para peziarah yang berkunjung di malam hari. “Karena banyak juga yang berziarah malam hari,” demikian disampaikan warga setempat. Makam keempat auliya itu berada di bawah terop permanen dengan bertopang tiang besi. Lantainya berkeramik putih.

Sekelilingnya area tegalan dengan berbagai tanaman warga. Jarak makam dengan sungai Brantas hanya sepelemparan batu. Di depan pusara Kiai Raden Syakban Gembrang Serang, Kiai Raden Muhammad Asrori, Kiai Hasan Mujahid dan Sayyid Bukhori Mukmin atau Eyang Ponco Suwiryo, para peziarah menggelar doa tahlil.

Sumber tutur menyebut, Mbah Raden Syakban merupakan cucu menantu Sayyid Hasan Ghozali atau Mbah Raden Witono, pendiri masjid tiban al-Istimrar Kalangbret, Kauman Tulungagung. Mbah Raden Syakban merupakan putra Mbah Kiai Raden Muhammad Qosim atau Eyang Kasiman, seorang penghulu pertama Kadipaten Blitar.

Hairi Mustofa, pengasuh padepokan pusaka Sunan Tembayat Srengat Blitar mengatakan, Mbah Syakban merupakan laskar Pangeran Diponegoro. Ia satu tim dengan Eyang Darso Wari Kusumo yang bermakam di Desa Tingal, Kecamatan Garum Kabupaten Blitar, Mbah Jugo dan Mbah Iman Soedjono yang bermakam di Gunung Kawi, Malang. Mbah Darso atau Raden Putut merupakan ahli strategi perang.

“Setelah perang Jawa, Mbah Syakban menyebarkan Islam di wilayah Srengat Kabupaten Blitar,” tutur Gus Hairi Mustofa. Sementara Mbah Raden Muhammad Asrori merupakan pendiri masjid Al-Asror di wilayah Kedungcangkring, Desa Pakisrejo, Kecamatan Srengat.

Sedangkan Hasan Mujahid adalah menantu Mbah Syakban. Mbah Hasan yang merupakan cikal bakal berdirinya masjid Baitul Hasanah di Mbrebesmili, menikahi Nyai Marfu’atun.

Sementara Mbah Sayyid Bukhori Mukmin atau Eyang Ponco Suwiryo merupakan orang tua angkat Pangeran Papak Natapraja atau RM Djojopermono, pendiri Pirukunan Purwa Ayu Mardi Utama.

Mbah Sayyid Bukhori bersaudara dengan Sayyid Marsuki atau Eyang Suryo Kusumo yang bermakam di Banyakan, Kediri. Sayangnya, tidak banyak tersedia sumber tertulis maupun lisan.

Seperti apa tantangan yang mereka alami, dan bagaimana strategi menaklukan hati masyarakat Blitar untuk memeluk Islam, tidak banyak sumber yang bisa digali.

“Dari cerita tutur, tiga makam yang lain di pesarean Mbrebesmili merupakan murid-murid Mbah Syakban,“ terang Gus Hairi.

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on linkedin

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

IKUTI KAMI

%d blogger menyukai ini: