Pangeran Sambernyowo Padukan Islam dan Jawa Tanpa Sengketa 

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on linkedin
Pangeran Sambernyowo /Foto: img.okezone.com

Menjadi orang Jawa sekaligus seorang muslim, itulah yang diterapkan Pangeran Sambernyowo dalam kehidupannya. Ia pantang menarik batas pemisah antara ajaran Islam dengan tradisi Jawa. Bagi Pangeran Sambernyowo, identitas orang Jawa dan keislaman merupakan satu kesatuan yang tidak perlu dicari-cari kontradiksinya.

Pangeran Sambernyowo dilahirkan di Kraton Kartasuro, kerajaan pewaris Wangsa Mataram, tanggal 7 April 1725 dengan nama Raden Mas Said. Saudara tiri Raden Mas Said yang bernama Pangeran Prabasuyasa adalah pendiri Kasunanan Surakarta Hadiningrat seiring runtuhnya Kraton Kartasuro. Pangeran Prabasuyasa kemudian menyandang gelar Sri Susuhunan Pakubuwana II (1745-1749).

Melalui Perjanjian Salatiga yang diteken tanggal 17 Maret 1757, Raden Mas Said akhirnya mendapatkan sebagian wilayah Mataram milik Kasunanan Surakarta. Dari sinilah lahir kerajaan baru di Surakarta bernama Kadipaten Mangkunegaran. Pangeran Sambernyowo menjadi pemimpin pertama dengan gelar Mangkunegara I (1757-1795).

Sebelumnya, sebagian wilayah kekuasaan Mataram juga telah diberikan kepada Pangeran Mangkubumi lewat Perjanjian Giyanti pada 13 Februari 1755. Pangeran Mangkubumi yang merupakan ayah mertua Pangeran Sambernyowo kemudian mendirikan Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat dan bergelar Sri Sultan Hamengkubuwana I (1755- 1792).

Jihad Pangeran Sambernyowo Melawan Belanda

Julukan Pangeran Sambernyowo diberikan kepada Raden Mas Said oleh Gubernur VOC untuk kawasan pesisir utara Jawa, Nicolaas Hartingh. Raden Mas Said saat itu dikenal sebagai sosok yang amat pemberani dan telah menewaskan banyak prajurit Belanda sehingga tersematlah julukan tersebut.

Sebelum memperoleh sebagian wilayah Mataram dan mendirikan Kadipaten Mangkunegaran, Raden Mas Said sangat gigih melawan Belanda. Dikutip dari Pendidikan Islam: Memajukan Umat dan Memperkuat Kesadaran Bela Negara (2016) suntingan Jejen Musfah dan M. Hamdar Arraiyyah, Pangeran Sambernyowo selalu membawa kitab suci Alquran dalam setiap pertempuran.

Raden Mas Said alias Pangeran Sambernyowo tidak pernah meninggalkan salat dan mengaji Alquran meskipun dalam situasi peperangan. Ia adalah pemimpin pasukan yang taat beragama dan selalu memohon perlindungan kepada Tuhan agar diberikan kemenangan di setiap gelanggang perang yang dihadapinya.

Di saban pertempuran, Pangeran Sambernyowo teramat jarang menuai kekalahan. Dalam peperangan di Ponorogo pada 1752, misalnya, dinukil dari Sambernyawa Menggugat Indonesia (2011) yang disusun Soerjo Soedibjo Mangkoehadiningrat, Raden Mas Said dan para pengikutnya harus menghadapi pasukan gabungan VOC, Surakarta, dan Yogyakarta.

Dalam pertempuran tersebut, Pangeran Sambernyowo hanya kehilangan 3 orang prajuritnya yang gugur dan 29 orang lainnya mengalami luka-luka. Sebaliknya, kubu lawan yang terdiri dari pasukan gabungan mengalami kerugian besar. Lebih dari 600 orang prajurit mereka meregang nyawa di medan laga.

Kepiawaian Pangeran Sambernyowo dalam bertempur juga terlihat dalam perang di Sitakepyak, selatan Rembang, tahun 1756. Pangeran Sambernyowo dengan para pengikutnya yang berjumlah terbatas mampu memukul mundur pasukan VOC.

Kemenangan demi kemenangan dalam setiap perang yang dijalani Raden Mas Said sehingga ia kemudian mendapat julukan Pangeran Sambernyowo tidak terlepas dari keberhasilannya memotivasi para pengikutnya untuk berjihad melawan penjajah.

Pangeran Sambernyowo selalu berusaha menunjukkan keislaman dalam perjuangannya. Tingkat keimanan yang tinggi kepada Tuhan menjadi dasar perjuangan Pangeran Sambernyowo dan para prajuritnya untuk berjihad melawan penjajah.

Sesaat sebelum menggerakkan pasukannya dalam setiap perang, terutama melawan VOC atau Belanda, Pangeran Sambernyowo selalu memekikkan kalimat takbir “Allahuakbar!”. Teriakan pelecut semangat jihad ini dianggap penting karena mampu memantik spirit pasukan pimpinan Pangeran Sambernyawa untuk berjuang tanpa rasa takut.

Selain itu, Pangeran Sambernyowo menyatukan tekad para pengikutnya dengan jargon tiji tibeh atau mati siji mati kabeh mukti siji mukti kabeh. Artinya, seperti yang dikutip dari buku Pangeran Sambernyowo (KGPAA Mangkunagoro I): Ringkasan Sejarah Perjuangannya (1996) terbitan Yayasan Mangadeg Surakarta, “jika satu orang mati, maka semua ikut rela mati”, dan “jika satu orang mulia, maka semua orang pun harus ikut mulia”.

Semboyan ini mencerminkan spirit Islam dalam berperang, menjalin kebersamaan, sekaligus mempererat kedekatan Pangeran Sambernyowo selaku pemimpin dengan para pengikutnya. Orang-orang merasa aman dan nyaman bersama pemimpin mereka sehingga terciptalah loyalitas yang luar biasa. Bahkan, jika harus berkorban nyawa, itu adalah kematian yang terhormat dan sahid.

Alhasil, meskipun dengan jumlah prajurit yang lebih sedikit dan persenjataan yang kalah canggih, namun Pangeran Sambernyowo mampu memenangkan hampir semua pertempuran yang dihadapinya, terutama saat melawan Belanda.

Pangeran Sambernyowo juga mengenalkan konsep nasionalisme yang termaktub dalam konsep melu handarbeni, wajib melu hangrungkepi, mulat sarira hangrasa wani atay “merasa memiliki, merasa ikut bertanggungjawab, berani mawas diri, dan memperjuangkan kebenaran”.

Makna dari semboyan yang dicetuskan oleh Pangeran Sambernyowo ini adalah bahwa pemimpin harus merasa memiliki dan bertanggungjawab kepada yang dipimpin (rakyat) serta selalu mawas diri dan berani menegakkan kebenaran.

Baca juga : Pangeran Benowo: Relakan Takhta Pajang Demi Syiar Islam

Pemimpin Muslim dan Rakyat Jawa

Memadukan Islam dengan identitasnya sebagai orang Jawa selalu diterapkan Pangeran Sambernyowo setelah menjadi pemimpin Kadipaten Mangkunegaran dengan gelar Mangkunegara I. Pangeran Sambernyowo alias Mangkunegara I menjunjung tinggi dan mengamalkan ajaran Islam dalam mengelola pemerintahan.

Sumber kekuatan Mangkunegara I dalam memimpin Mangkunegaran terletak pada paduan dari 3 unsur utama: kraton, masjid, dan pasar. Dengan kata lain, Mangkunegara I menerapkan sinergi antara unsur politik atau pemerintahan, agama, dan ekonomi dalam pemerintahannya.

Mangkunegara I menjaga komitmen yang tinggi sebagai seorang muslim sekaligus pemimpin rakyat Jawa yang bernaung di Kadipaten Mangkunegaran. Ia menerapkan nilai-nilai religius sebagai penyeimbang antara pemenuhan kebutuhan lahir dan batin rakyat.

M.T. Arifin melalui tulisan bertajuk “Kebudayaan dan Perubahan Masyarakat: Perspektif KGPAA Mangkunegara I”, yang disampaikan dalam Simposium Nasional Pangeran Sambernyawa tahun 1989 menyebutkan, Mangkunegara I merupakan seseorang yang teguh mewujudkan cita-cita serta berhubungan dekat dengan rakyat.

Selain itu, lanjut M.T. Arifin, Mangkunegara tidak hanya berhasil membangun kekuasaan, tetapi juga menunjukkan sebagai sosok kepemimpinan Islam sekaligus senapati kang linuwih atau pemimpin yang memiliki keistimewaan.

Mangkunegara I sangat menyadari bahwa VOC alias Belanda akan selalu berusaha mencampuri urusan pemerintahan kerajaan-kerajaan di Jawa, bahkan di seluruh Nusantara. Jika tidak dibentengi, maka ajaran Islam dan tradisi Jawa tidak mustahil bakal tergerus oleh pengaruh bangsa asing itu.

Demi mempertahankan keberadaan Islam dan penyebarannya di tanah Jawa, maka Mangkunegara I senantiasa menjaga kedekatan dengan rakyat yang dipimpinnya. Mangkunegara I membutuhkan dukungan rakyat untuk melawan hegemoni Belanda.

Penguat atau benang merah untuk merawat kedekatan tersebut adalah dengan agama Islam. Maka, setiap keputusan atau tindakan yang dilakukan Mangkunegara I sebagai pemimpin orang Jawa selalu memasukkan nilai-nilai Islam. Tidak hanya dalam urusan militer maupun pemerintahan, hampir seluruh sektor kehidupan masyarakat senantiasa dikaitkan dengan keislaman.

Kombinasi Islam dan Jawa menjadi kekuatan utama Mangkunegara I dalam menjalankan pemerintahan dan memimpin rakyat Kadipaten Mangkunegaran. Banyak yang ia lakukan untuk merebut hati rakyat atau umat.

Dalam mengelola pemerintahan, Mangkunegara I berupaya menyejahterakan rakyat, memberi rasa aman dan nyaman, memberikan keadilan, memuliakan wanita, menghormati keputusan yang diambil secara demokratis untuk mencapai mufakat, juga membangun pendidikan, ekonomi, agama, dan infrastruktur lainnya.

Merekatkan Ajaran Islam dan Tradisi Jawa

Mangkunegara I, seperti yang diuraikan oleh Septi Anggita Kriskartika dan kawan-kawan melalui penelitian berjudul “Javanese Islam During Mangkunegara I Leadership’s” dalam IBDA`: Jurnal Kajian Islam dan Budaya (2019), memasyarakatkan ajaran Islam melalui berbagai jenis karya seni yang disukai masyarakat.

Mengenai hal ini, Mangkunegara I terinspirasi dengan metode syiar Islam di Jawa yang dulu dirintis oleh Walisongo dengan memodifikasi metode dan aplikasi dakwah Islam para wali tersebut. Dalam pertunjukan wayang, misalnya, Mangkunegara I menciptakan beberapa karakter baru dan alur cerita yang menonjolkan syiar Islam dengan memakai bahasa yang mudah dipahami rakyat.

Mangkunegara I membuat beberapa jenis alat musik atau gamelan dengan tujuan menyampaikan ajaran dan nilai-nilai tauhid dan moralitas atau akhlak kepada masyarakat. Masing-masing instrumen dalam satu set gamelan mengandung penafsiran mengenai ketuhanan. Mangkunegara I juga menciptakan tembang, puisi, tarian, atau karya seni lainnya sebagai media syiar Islam.

Dikutip dari makalah Ngemron & Maryadi bertajuk “Ajaran-ajaran, Sikap, dan Perilaku Keagamaan (Islam) KGPAA Mangkunagara I dan Relevansinya dalam Menghadapi Perkembangan Dunia Modern” yang disampaikan pada Simposium Nasional Pangeran Sambernyawa tahun 1989, Mangkunegara I berusaha mengikat erat unsur sosio-kultural dengan unsur religius.

Masjid bagi Mangkunegara I, misalnya, bukan hanya sebagai tempat melaksanakan salat berjamaah atau menjalankan kegiatan peribadatan lainnya, namun bisa juga menjadi tempat untuk latihan perang atau bela diri.

Sebaliknya, pendapa bukan sekadar sebagai tempat untuk menerima tamu dan altar untuk menggelar acara kesenian atau tradisi, melainkan bisa juga dijadikan tempat untuk melaksanakan kegiatan-kegiatan keagamaan, seperti mengaji, berdoa bersama, dan lain sebagainya.

Sebagai pemimpin muslim yang lahir dan hidup di tanah Jawa, Mangkunegara I sangat memperhatikan pendidikan keagamaan untuk segenap rakyatnya. Ia merasa bertanggung jawab terhadap kehidupan beragama rakyat Kadipaten Mangkunegaran.

Oleh karena itulah Mangkunegara I memperbanyak Alquran agar rakyat Mangkunegaran dapat mempelajari dan memperdalam kitab suci umat Islam tersebut. Bahkan, Mangkunegara I menulis sendiri penggandaan kitab suci tersebut di sela-sela kesibukan sebagai kepala pemerintahan.

Mangkunegara I atau yang sebelumnya bernama Raden Mas Said dengan julukan Pangeran Sambernyawa memimpin Kadipaten Mangkunegaran hingga akhir hayatnya. Ia wafat di Surakarta tanggal 23 Desember 1795 dalam usia 70 tahun. Mangkunegara I telah menanamkan fondasi keislaman yang kuat dalam pemerintahan Jawa dan masih bertahan hingga saat ini.

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on linkedin

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

IKUTI KAMI

%d blogger menyukai ini: