Nyi Ageng Serang, Sosok Panglima Perang Andalan Pangeran Diponegoro

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on linkedin
Nyi Ageng Serang
Makam Nyi Ageng Serang bertempat di Kalibawang, Kulon Progo, Yogyakarta /Foto: Santri Kertonyono

santrikertonyonoIndonesia nampaknya patut berbangga karena mempunyai deretan pahlawan nasional yang begitu gigih mempertahankan keutuhan bangsa meski harus bertaruh kehilangan harta bahkan nyawa mereka. Karena kegigihan para pahlawan inilah, tak sedikit para sejarawan yang merasa terinspirasi lalu mengabadikan perjalanan hidup sang pahlawan melalui sebuah karya seperti buku dan lain sebagainya.

Dari ratusan sosok pembela dan pelindung negara, baik yang sudah berhasil di ’expose’ ataupun yang masih belum di publikasikan terdapat satu nama pahlawan perempuan yang berani tampil gagah menantang para penjajah. Sang pahlawan tersebut adalah Nyi Ageng Serang, namun sangat disayangkan karena tidak banyak para peneliti sejarah yang menguak tentang perjalanan hidupnya.

Biasa disapa dengan sebutan Nyi Ageng Serang, sosok perempuan bergelar panglima perang ini juga dikenal sebagai Raden Ayu Serang dan memiliki nama kecil Raden Ajeng Kustiah Wulaningsih. Menurut beberapa literasi sejarah, beliau lahir pada tahun 1752 di sebuah desa bernama Desa Serang yang terletak 40 kilometer di sebelah utara Surakarta, Purwodadi Jawa Tengah.

Pangeran Ronggo Seda Jajar adalah ayah dari Nyi Ageng Serang yang berjuluk Panembahan Senopati Notoprojo. Dimana, Pangeran Notoprojo ini dahulunya pernah menguasai sebuah wilayah terpencil dari Kerajaan Mataram. Wilayah tersebut merupakan wilayah Serang yang kini berada di wilayah perbatasan Grobogan dan Sragen.

Nyi Ageng Serang sebenarnya tumbuh layaknya seorang gadis pada umumnya, namun saat ayahnya berpulang dia maju dengan gagah dan percaya diri untuk menggantikan posisi sang ayah dalam mempertahankan wilayah kekuasaannya di wilayah Serang.

Perempuan yang diketahui masih satu keturunan dengan Sunan Kalijaga ini bahkan pernah menikah sebanyak dua kali, masing-masing dengan Hamengku Buwono II serta dengan Pangeran Mutia Kusumowijoyo atau yang lebih dikenal dengan sebutan Pangeran Serang I.

Saat bersama Pangeran Serang I, Nyi Ageng dikaruniai satu anak laki-laki dan satu anak perempuan. Anak laki-laki itu bernama Pangeran Kusumowijoyo atau Sumowijoyo, yang lahir pada tahun 1794 dan wafat pada tahun 1852. Menurut beberapa artikel sejarah, Pangeran Kusumowijoyo ini dijuluki Pangerang Serang II oleh kaum penjajah Belanda.

Salah satunya yang memberikan julukan itu adalah seorang Jenderal bernama Hendrik Merkus de Kock, ia juga sedikit membeberkan tentang tingkah laku sang pangeran. Menurut Merkus, Pangeran Serang II mempunyai tabiat yang kurang baik seperti jahat, tidak mempunyai prinsip dan kecanduan akan mandat.

Disisi lain, Nyai Ageng juga memiliki seorang anak perempuan yang cantik yang konon akan menikah dengan salah satu putra dari Sultan Hamengku Buwono II yakni bernama Pangerang Mangkudiningrat. Namun, tidak ada sumber sejarah pasti yang menjelaskan siapa sebenarnya nama anak perempuan dari sang Nyai tersebut.

Selama hidup, Nyi Ageng Serang mengabdikan tenaga dan fikirannya untuk membantu Pangeran Diponegoro dalam melawan ketidakadilan yang dibuat oleh para kolonial. Memang tidak mudah menjadi orang kepercayaan Pangerang Diponegoro, namun tanda kehormatan sebaga pahlawan revolusi kemerdekaan yang diberikan oleh pemerintah setidaknya bisa mengganti setetes keringatnya.

Menurut informasi yang beredar, Nyi Ageng Serang meninggal saat beliau berada di Yogyakarta pada tahun 1828 dan lalu dimakamkan di wilayah Kalibawang Kabupaten Kulonprogo. Namun, beberapa orang ada yang meyakini bahwa makam Nyi Ageng Serang terletak di daerah Grobogan yang kini telah menjadi sebuah waduk, yakni Waduk Kedung Ombo.

Karena kepercayaan yang kuat itulah, masyarakat sekitar bergotong-royong untuk membuat sebuah makam terapung di waduk tersebut. Hal itu dilakukan sebagai bentuk penghormatan kepada sang pahlawan yang telah berpulang, serta sebagai pengingat bagi generasi muda Grobogan untuk menekuni keberanian Nyi Ageng Serang dalam melawa penjajah.

Meskipun, dikenal sebagai pahlawan nasional yang hampir terlupakan, Nyi Ageng Serang konon diyakini menurunkan garis keturunannya kepada seseorang yang juga bergelar pahlawan nasional. Tak lain tak bukan, seseorang tersebut adalah Soewardi Soerjaningrat atau lebih dikenal dengan Ki Hajar Dewantara.

Nama Nyi Ageng Serang mungkin tak sepopuler jika dibandingkan dengan pahlawan-pahlawan yang lain seperti halnya Cut Nyak Dien atau bahkan Raden Ajeng Kartini. Namun, bagi warga Kulon Progo nama Nyi Ageng Serang memiliki tempat sendiri di hati mereka.

Untuk mengenang perjuangan Nyi Ageng Serang, pemerintah Kulon Progo membangun sebuah monumen yang berada tepat di tengah kota. Jika dilihat monumen tersebut berupa patung sosok Nyi Ageng Serang yang sedang menaiki kuda dengan membawa sebuah tombak.

Monumen Makam Nyi Ageng Serang /Foto: Santri Kertonyono

Panglima Perang Andalan Pangeran Diponegoro

Meskipun terlahir sebagai putri bangsawan, Nyi Ageng tumbuh menjadi sosok perempuan yang mandiri dan kuat. Semasa hidupnya pun dikenal sebagai seorang putri yang dekat dengan masyarakat. Lalu saat dewasa, dia tampil gagah menjadi salah satu panglima perang melawan penjajah yang mahir dalam krida perang.

Peperangan pertama yang ia ikuti adalah saat perang untuk membantu sang ayah. Kala itu, para penjajah Belanda tiba-tiba melakukan penyerbuan di sebuah pertahanan milik ayahnya, Pangeran Natapraja. Naas, sang ayah dan saudara laki-lakinya gugur dalam peperangan tersebut.

Tak menunggu lama, Nyi Ageng langsung mengambil alih kepemimpinan untuk melanjutkan perang. Namun pasukan Serang terdesak hingga akhirnya Nyi Ageng Serang menjadi tawanan Belanda. Setelah perang, Pangeran Mangkubumi pun mengadakan perdamaian berdasarkan Perjanjian Giyanti pada 13 Februari 1755.

Sesaat setelah dibebaskan, ia dikirim ke Yogyakarta dan saat itulah pertemuan pertama kalinya dengan Pangeran Diponegoro. Hingga akhirnya perang Diponegoro pecah karena menguatnya penagruh Belanda di dalam keraton sehingga menimbulkan kekacauan.

Saat periode sejarah pada tahun 1755 hingga tahun 1830, masyarakat khususnya para kaum perempuan memang belum mengenal istilah emansipasi perempuan. Seperti yang terlihat, bahwa kedudukan wanita saat tahun-tahun itu tidak sama dengan kedudukan wanita seperti sekarang ini.

Pada tahun 1825 tepatnya pada awal perang Diponegoro di mulai, Nyi Ageng Serang yang kala itu sudah berusia 73 tahun mengemban tugas besar dengan memimpin pasukan denga memawa tandu untuk membantu Pangeran Diponegoro melawan para penjajah Belanda selama kurang lebih 3 tahun. Bahkan, di usia yang sudah senja, Nyi Ageng Serang masih memiliki semangat yang membara.

Bersama suaminya, Nyi Ageng mengencarkan perlawanan kepada para kolonial. Gugurnya sang suami di medan perang menjadi titik terendah dalam hidup Nyi Ageng. Namun, ia tak menyerah begitu saja. Ia lalu melatih cucu laki-lakinya keterampilan siasat dan keprajuritan. Meskipun begitu, sosok Nyi Ageng kembali bergabung dan berada di titik tengah prajurit Diponegoro.

Selain itu, yang lebih membanggakan adalah Nyi Ageng Serang tak hanya mengambil peran besar untuk memimpin perang tetapi juga menjadi bagian sebagai penasihat perang bagi Pangeran Dipnegoro. Dimana, Nyi Ageng berjuang di beberapa daerah seperti Purwodadi, Demak, Kudus, dan Rembang.

Ketangguhan Nyi Serang juga terbukti saat ia mengikuti sebuah pelatihan militer dan siasat perang bersama para prajurit pria yang lain. Meskipun menjadi kaum hawa satu-satunya saat mengikuti pelatihan, tak sedikitpun menggentarkan langkah kaki Nyi Ageng untuk menumpas penjajahan.

Baginya, selama di bumi pertiwi ada penjajahan maka ia harus selalu siap tempur untuk melakukan perlawanan kepada kaum kolonial. Bagi sejarawan pasti tidak asing dengan salah satu strategi perang yang digunakan oleh Nyi Ageng Serang yakni penggunaan lumbu atau daun talas hijau untuk penyamaran.

Pasalnya, berbagai pertempuran yang dipimpin oleh Nyi Ageng Serang bersama dengan cucunya Raden Mas Papak pasti meraih kemenangan. Para penjajah Belanda bahkan bisa di kalahkan dan tumbang satu per satu saat Nyi Ageng Serang menggunakan taktiknya untuk berkamuflase tersebut.

Halaman Depan Makam Nyi Ageng Serang /Foto: Santri Kertonyono

Sosok Wanita Berprinsip Kuat

Sebenarnya tidak dengan banyak alasan dan penjelasan, perlawanan-perlawanan yang dilakukan oleh Nyi Ageng semata-mata hanya untuk membela martabat bangsa dan tanah air. Dengan mata kepalanya sendiri, ia melihat begitu banyak penindasan, tanah dan rumah dikuasai bangsa lain, hasil ladang yang dikerjakan dinikmati bangsa lain.

Ia hanya memikirkan rakyatnya, kondisi dan keadaan yang begitu sangat menderita kala itu menjadi prioritas satu-satunya Nyi Ageng Serang. Pusat pemikirannya hanya fokus pada kepentingan nasib rakyat dan sama sekali tidak memikirkan kepentingan pribadi.

Hal tersebut tentunya bisa dibuktikan saat Nyi Ageng Serang ketika memutuskan untuk tinggal di Kraton Yogyakarta. Kala itu, sang putra mahkota R. M. Sundoro secara terang-terangan meminta Nyi Ageng untuk dijadikan sebagai permaisuri.

Namun sayang, kecintaan Nyi Ageng kepada masyarakat nampaknya mengalahkan rasa cintanya kepada sang putra mahkota. Bak gayung yang tak bersambut, cinta Sundoro tak bisa diterima oleh Nyi Ageng Serang. Meskipun begitu, Nyi Ageng menolaknya dengan cara yang halus dan penuh hormat.

“Apa arti hidup kalau hanya memikirkan kepentingan diri sendiri, lebih baik membicarakan nasib rakyat”

Sungguh, sosok Nyi Ageng mempunyai pendirian yang luar biasa teguh dan menggembirakan hati. Berbagai pendapat dan pandangan sang nyai tentang penderitaan masyarakat nampaknya mampu membuka banyak mata untuk kembali membangkitkan semangat serta bersikap lebih tegas terhadap para penjajah dari Belanda.

Kabar duka berhembus, tepat pada tahun 1828, Nyi Ageng Serang menghembuskan nafas terakhirnya dalam usia 76 tahun. Ia dikenal sebagai pahlawan yang berhasil mengibarkan bendera kemerdekaan di tanah Serang. Kini, nama Nyi Ageng Serang dikenal sebagai pahlawan revolusi yang turut memperjuangkan kemerdekaan Indonesia.

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on linkedin

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

IKUTI KAMI

%d blogger menyukai ini: