Misteri Makam Pangeran Benowo di Bedalem Tulungagung

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on linkedin
makam-bedalem
Komplek Pemakaman Bedalem, Gambiran, Desa Besole, Kecamatan Besuki, Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur /Foto: Santrikertonyono

Kapan Pangeran Benowo mangkat?, dan di mana dikebumikan? Sampai kini masih misterius. Namun sebagian orang meyakini akhir hayat putra Raja Pajang Sultan Hadiwijaya tersebut, berada di wilayah Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur. Sebuah makam tua di komplek pemakaman Bedalem Desa Besole, Kecamatan Besuki, dipercaya sebagai pesarean putra Mas Karebet atau Jaka Tingkir.

“Makam putra raja yang berasal dari era Kerajaan Mataram Islam,” tutur Mbah Semo juru kunci Makam Bedalem yang dikutip dari berbagai sumber. Sepeninggal Hadiwijaya (1549-1582), Pajang yang ditahbiskan Sunan Giri Prapen kerajaan terbesar di Pulau Jawa, menjadi setingkat kadipaten. Pajang berada di bawah kendali Panembahan Senopati Raja Mataram Islam. Di masa itu Benowo telah meninggalkan tahta Pajang (1587-1588). Ia memilih menjadi penyebar agama Islam.

Berbagai sumber menyebut, putra raja itu wafat di saat kejayaan Kerajaan Pajang telah surut. Kuburan tua di komplek pemakaman Bedalem yang diyakini sebagai makamnya tersebut, berlokasi di kawasan perbukitan. Warga Tulungagung menamainya bukit Kimpul yang lokasinya berjarak lumayan jauh dari permukiman penduduk. Kebanyakan peziarah makam Pangeran Benowo datang pada malam Jumat Kliwon. Untuk mencapai area makam, mereka harus lebih dulu menapaki deretan anak tangga yang satu sama lain mengikuti kontur tanah yang menanjak.

“Mereka yang berziarah biasanya para ulama atau kiai, banyak yang dari luar daerah. Biasanya melakukan tadarusan Al-Qur’an, membaca tahlil sekaligus kirim doa kepada leluhur,” demikian yang peziarah lakukan selama berada di komplek pemakaman Bedalem.

Makam Pangeran Benowo berada di ruang tersendiri. Kendati demikian di lokasi bukan satu-satunya makam tua. Di komplek pemakaman Bedalem terdapat  9 makam tua lain. Para peziarah mengenalnya sebagai makam Kiai Ahmad Rais, Kiai Ahmad Sari Eko Sari, Kiai Josuro, Kiai Trumejo, Kiai Kaiso Joyo, Pangeran Sidobegagan alias Bajul Putih dan Mbah Juragan Dompu Awan. Dari cerita tutur yang berkembang, mereka semua adalah para prajurit Pajang.

Dalam catatan sejarah, Panembahan Senopati sempat menobatkan Pangeran Benowo sebagai Raja Pajang yang ketiga. Benowo berhasil memperoleh kedudukan puncak itu setelah memaksa Arya Pangiri (atau Arya Kediri), turun tahta. Arya Pangiri, merupakan kemenakan Sunan Prawata atau cucu Trenggono, Sultan Demak. Pangiri juga ipar Benowo karena menikahi putri tertua Hadiwijaya. Upaya Benowo mendongkel tahta Arya Pangiri mendapat sokongan Panembahan Senopati, penguasa Mataram.

Namun baru setahun memerintah Pajang, ia memutuskan lengser keprabon. Serat Kandha menuliskan : Pangeran Benawa secara tiba-tiba tidak lagi mengharapkannya (tahta), tetapi tidak memberi tahu seorang pun. Secara diam-diam ia pergi ke sungai dan membiarkan dirinya terhanyut dan sampai di Sidayu. Dari sana Benowo melanjutkan perjalanan ke arah Barat melalui jalur darat hingga tiba di Parakan (Kendal).

Pangeran Benowo menjalankan riyadloh (tirakat) dengan menahan lapar dan dahaga serta terus berdoa di dalam gua Gunung Kukulan.Setelah tapanya selesai, ia mengangkat diri sebagai wali sekaligus mendirikan ndalem di Parakan. “Dan semenjak itu oleh penduduk disebut Susuhunan Parakan”. Dengan diiringi sembilan orang prajurit Pajang pengikut setianya, Pangeran Benowo memilih menjadi penyebar agama Islam. Sejumlah sumber tutur menyebut, dari Jawa Tengah Pangeran Benowo bergerak ke wilayah Jawa Timur.

Jejak Pengeran Benowo

Jejak Pangeran Benowo ditemukan di Kadipaten Jipang Panolan (sekarang wilayah Cepu Blora, Jawa Tengah). Saat Arya Pangiri meneruskan tahta Pajang, Sunan Kudus menempatkan Pangeran Benowo sebagai penguasa Kadipaten Jipang Panolan. Ada versi yang menyebut Jipang sebagai kerajaan, namun kuasa politiknya di bawah Kerajaan Pajang. Pangiri yang sebelumnya Adipati Demak, memakai gelar Sultan Ngawantipura.

Sementara sebagai putra kandung Hadiwijaya sekaligus pewaris utama, Benowo merasa kecewa. Di saat yang sama, kebijakan politik Pangiri dengan membagikan tanah dan jabatan kepada para koleganya yang berasal dari pesisir Demak, menimbulkan ketidaksenangan publik Pajang. Kebijakan Pangiri melukai hati orang Pajang, terutama mereka yang berada di lingkaran kekuasaan namun terpinggirkan.

Pangeran Benowo diam-diam mengorganisir mereka menjadi kekuatan baru yang mendapat sokongan kekuatan dari Mataram. Pada tahun 1588 meletus perang antara Arya Pangiri dengan Pangeran Benowo yang bersekutu dengan Panembahan Senopati penguasa Mataram. Dalam pertempuran singkat itu, Pangeran Benowo keluar sebagai pemenang.

Sebagai penakluk, ia membiarkan Pangiri tetap hidup karena tak tega melihat istri Arya Pangiri yang memohon belas kasihannya. Benowo mengampuni nyawa Arya Pangiri. Ia hanya mengikat Pangiri dengan cindhe (selendang sutra pengikat pinggang) dan memulangkan iparnya tersebut, ke Demak. Kemenangan itu sekaligus menjadi kemenangan Panembahan Senopati.

“Dengan kata lain, Senapati (Panembahan Senapati) berhasil menduduki Kerajaan Pajang,” tulis H.J. de Graaf  dan Th.G.Th. Pigeaud dalam Kerajaan Islam Pertama di Jawa, Tinjauan Sejarah Politik Abad XV dan XVI.  Babad Mataram mencatat, Pangeran Benawa menyerahkan hak atas warisan ayahnya (Hadiwijaya) kepada Panembahan Senapati yang dianggapnya saudara tua.

Danang Sutawijaya atau Panembahan Senapati merupakan anak angkat Hadiwijaya dengan sebutan Ngabehi Loring Pasar. Mendapat tawaran itu, Panembahan Senapati memilih tetap menjadi penguasa Mataram. Ia hanya meminta perhiasan emas intan serta sejumlah pusaka kraton Pajang. Gong Kiai Sekar Delima, kendali Kiai Macan Guguh, pelana Kiai Jatayu, dan pusaka sejenisnya.

Panembahan Senopati juga mengukuhkan Pangeran Benowo sebagai Raja Pajang di bawah perlindungan Kerajaan Mataram. Ia juga berpesan, ketika menjumpai kesulitan selama memerintah hendaknya meminta nasihat kepada para rohaniawan, para ahli nujum dan para pertapa. Namun Pangeran Benowo memilih meninggalkan tahta yang baru berusia setahun dan memutuskan menjadi ulama penyebar Islam.

Sejarawan asing J. Hageman dalam “Geschiedenis” berasumsi, pilihan menjadi rohaniawan (ulama) yang bertempat di pinggir kekuasaan, terkadang ditertejamahkan semacam hukuman buang. Namun Serat Kandha mencatat, sepeninggal Pangeran Benowo, Panembahan Senopati menangis karena merasa kehilangan adiknya.

Di masa pemerintahan Raja Pajang Pangeran Gagak Bening (1588-1591) dan berlanjut Radin Sida Wini atau juga dikenal dengan nama Pangeran Benowo II (1591-1617), Pangeran Benowo terus menjalani laku rohani sebagai penyiar agama Islam. Tidak banyak cerita yang menuliskan perjalanannya sebagai ulama. Bahkan sampai akhir hayatnya, tidak banyak sumber lisan yang menuturkan.

Kendati demikian banyak versi terkait dengan makam dan petilasannya. Diantaranya di Pemalang Jawa Tengah dan daerah Benowo, Pakal Kota Surabaya Jawa Timur. Cerita tutur yang berkembang di masyarakat Tulungagung, Pangeran Benowo sampai di Tulungagung karena menghindari kejaran Belanda yang telah dilawannya namun kalah. Di bukit Kimpul, Benowo bersama para pengikutnya berhenti dan memutuskan untuk menetap.

Di wilayah selatan Tulungagung yang masih bernama Kadipaten Ngrowo tersebut, Pangeran Benowo menyebarkan Islam hingga tutup usia.

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on linkedin

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

IKUTI KAMI

%d blogger menyukai ini: