Menelusuri Jejak Santri Pangeran Diponegoro

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on linkedin
Babad Dipanegoro adalah buku yang ditulis Pangeran Diponegoro pada tahun 1831-1832 Foto: Santrikertonyono

 Sebelum tampil sebagai sosok pejuang sekaligus ulama yang gigih melawan penjajah Belanda dalam Perang Jawa pada 1825-1830, Pangeran Diponegoro ternyata menjalani kehidupan sebagai santri. Masa belia pangeran dari Kraton Yogyakarta Hadiningrat ini lekat dengan pengajaran agama Islam dengan berguru kepada sejumlah kiai besar di Jawa.

Dilahirkan di Yogyakarta tanggal 11 November 1785, nama lahir Pangeran Diponegoro adalah Bendara Raden Mas Mutahar yang kemudian diubah menjadi Bendara Raden Mas Antawirya. Nama Diponegoro disematkan ketika ia ditetapkan sebagai pangeran di Kesultanan Yogyakarta, yakni Bendara Pangeran Harya Dipanegara (Diponegoro).

Penetapan gelar pangeran itu dilakukan tidak lama setelah ayahanda Diponegoro, Gusti Raden Mas Suraja, naik takhta Kesultanan Yogyakarta. Tanggal 12 Juni 1812, Gusti Raden Mas Suraja dinobatkan dengan gelar Sultan Hamengkubuwana III. Diponegoro adalah putra Sultan Hamengkubuwana III dari istri selir yang bernama R.A. Mangkarawati.

Pangeran Diponegoro juga punya nama Islam, yakni Abdul Hamid. Mohammad Daud Gayo dalam Urgensi dan Relevansi Agama Islam dalam Perjuangan Kemerdekaan dan Pengelolaan Negara Berdasarkan Pancasila dan UUD 45 (2021) menuliskan bahwa Diponegoro mendapat gelar Kanjeng Abdul Hamid Amirul Mukminin Sayidin Panatagama Khalifatullah Tanah Jawi ing Mataram.

Menolak Jadi Raja Demi Agama

Sejak muda, Pangeran Diponegoro tidak terlalu senang dengan gemerlapnya kehidupan di istana. Ia lebih suka menekuni ilmu keagamaan seperti mempelajari ajaran dan hukum-hukum Islam ketimbang mendalami ilmu pemerintahan atau politik. Bahkan, Pangeran Diponegoro menolak melanjutkan takhta dari ayahnya.

Pangeran Diponegoro memilih menetap bersama eyang buyut putrinya, Ratu Ageng Tegalrejo yang merupakan permaisuri Sultan Hamengkubuwana I, di suatu kampung atau desa di luar Kraton Yogyakarta, agar bisa berbaur lebih dekat dengan rakyat. Pangeran Diponegoro amat menyukai kehidupan di Tegalrejo yang agamis dan lekat dengan nilai-nilai keislaman serta sufistik.

Tegalrejo terletak pada tiga titik dari lima pusat utama pengkajian Islam di wilayah kekuasaan Kesultanan Yogyakarta atau yang disebut dengan Pathok Negoro, yakni Masjid Dongkelan, Masjid Babadan, Masjid Wonokromo, Masjid Mlangi, dan Masjid Ploso Kuning.

Dikutip dari Melacak Gerakan Perlawanan dan Laku Spiritualitas Pangeran Diponegoro (2020) karya Peri Mardiono, kultur santri dengan unsur-unsur Islam sufistik di Tegalrejo itulah yang sangat berpengaruh membentuk kepribadian Pangeran Diponegoro menjadi sosok yang rendah hati dan egaliter.

Pangeran Diponegoro tinggal di kediaman eyang buyut putrinya sejak kecil. Ratu Ageng Tegalrejo, yang konon masih bertalian darah dengan Sunan Ampel, memberikan pendidikan keagamaan kepada cicitnya itu sedari dini. Pangeran Diponegoro dididik oleh para ulama besar yang sengaja diundang ke Tegalrejo.

“Guru-guru Pangeran Diponegoro itu adalah para kiai khowas, kiai sepuh yang punya kearifan, ajaran-ajarannya masuk ke dalam hati dan kepribadian sehingga Pangeran Diponegoro pun tumbuh menjadi ulama sekaligus pejuang,” sebut Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siroj, dalam acara Haul Pangeran Diponegoro pada 15 Januari 2021, dikutip dari NU Online.

Para Guru Pangeran Diponegoro

Salah satu guru Pangeran Diponegoro adalah Syekh Taftazani, ulama asal Sumatera Barat yang juga pengajar Pesantren Mlangi, Sleman, Yogyakarta. Melalui Babad Diponegoro, seperti dinukil M. Zidni Nafi` dalam buku Menjadi Islam Menjadi Indonesia (2018), Pangeran Diponegoro meriwayatkan bahwa ia adalah murysid tarekat Syatariyah yang mendapat pewarisan ilmu dari Syekh Taftazani.

Semasa tinggal di Tegalrejo, Pangeran Diponegoro juga belajar ilmu agama kepada Kiai Rahmanuddin. Menurut catatan Abdul Rohim melalui Kronik Perang Jawa 1825-1830 (2019), Kiai Rahmanuddin adalah mantan penghulu Kraton Yogyakarta yang merupakan pemimpin para ulama di lingkungan istana.

Peter Carey dalam Kuasa Ramalan (2011) menyebutkan bahwa pendidikan kesusastraan Islam-Jawa dan pengajaran bergaya pesantren yang lebih formal tentang Islam dari para ulama yang berkunjung ke Tegalrejo sangat berarti bagi Pangeran Diponegoro.

Pangeran Diponegoro menimba ilmu keagamaan kepada banyak ulama di berbagai tempat. Ia pernah dibimbing langsung dalam pendalaman ilmu tasawuf oleh Kiai Ageng Hasan Besari, pendiri Pesantren Tegalsari di Ponorogo, yang dijuluki sebagai mahaguru para raja di Jawa.

Selain itu, seperti yang diungkapkan oleh Wakil Rais Syuriyah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Tengah, KH Achmad Chalwani, Pangeran Diponegoro juga berguru kepada Kiai Haji Baidhowi Bagelen di Purworejo untuk mendalami tafsir kitab-kitab.

KH Achmad Chalwani juga menyebutkan, kiai legendaris lainnya yang pernah menjadi guru Pangeran Diponegoro adalah Kiai Haji Abdurrauf bin Hasan Tuqo. “Ada sosok ulama yang menjadi manggulayu dunya (menggerakkan dunia) bagi Diponegoro, yaitu KH Abdurrauf, kakek dari KH Dalhar Watucongol, Magelang,” bebernya, dilansir NU Online.

Nantinya, dalam Perang Jawa pada 1825 hingga 1830, KH Abdurrauf berjuang bersama Pangeran Diponegoro untuk melawan penjajah Belanda. Selain mengemban posisi selaku salah satu panglima perang, KH Abdurrauf juga bertindak sebagai pembimbing spiritual bagi Pangeran Diponegoro.

Di Magelang, Pangeran Diponegoro juga nyantri kepada Kiai Haji Nur Muhammad yang bermukim di Ngadiwongso, Salaman. Sama seperti KH Abdurrauf, KH Nur Muhammad turut pula mendukung perjuangan Pangeran Diponegoro berjihad menghadapi kompeni.

“Setelah belajar ilmu syariat, beliau (Pangeran Diponegoro) mengaji ilmu hikmah kepada KH Nur Muhammad Ngadiwongso, Salaman, Magelang. Itulah ternyata Pangeran Diponegoro adalah seorang santri dan ulama,” ungkap KH Said Aqil Siroj.

Berkat bimbingan dari para kiai besar di tanah Jawa inilah Pangeran Diponegoro menjelma sebagai sosok pejuang sekaligus ulama yang teguh mempertahankan prinsip. Pangeran Diponegoro dengan gigih melawan kezaliman kompeni dengan mengobarkan perang jihad kendati harus berakhir pada 1930 akibat tipu daya Belanda.

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on linkedin

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

IKUTI KAMI

%d blogger menyukai ini: