Mbah Wasil, Sosok Guru Nujum Raja Jayabaya Kediri 

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on linkedin
Makam Syekh Al-Wasil Syamsudin, Kota Kediri,Jawa Timur /Foto: googlemap - Edy Susetyo

Kefasihan Syekh Syamsuddin al-Wasil dalam menjabarkan isi Kitab Musyarar membuat hati Sri Maharaja Mapanji Jayabaya, Raja Kediri (1135-1159), terpikat. Kitab Musyarar mengulas tentang astronomi atau perbintangan (ilmu falak) serta ilmu nujum atau ramalan.

Pengetahuan yang ada di Kitab Musyarar ditulis ke dalam bentuk kidung. Itu sebabnya tidak semua orang bisa mengerti dengan mudah. Kemampuan Mbah Wasil memahami teks puisi Jawa kuno tersebut, membuat Jayabaya ingin mengenal lebih dekat.

“..dan atas permintaan Raja Kediri Sri Maharaja Mapanji Jayabaya membahas kitab Musyarar yang berisi ilmu pengetahuan khusus seperti perbintangan (ilmu falak) dan nujum (ramal-meramal),” tulis Agus Sunyoto dalam buku Atlas Walisongo.

Mbah Wasil seorang ulama Islam yang datang dari negeri seberang. Historiografi Jawa menyebut : Syekh Syamsuddin al-Wasil berasal dari Negeri Persia atau biasa diucapkan Ngerum atau Rum.

Diperkirakan pada abad ke-12. Tiba di Kediri, Mbah Wasil menjalankan misinya mengenalkan agama Islam. Ia memulai langkah dari wilayah pinggir. Dengan mengedepankan pendekatan merangkul, Mbah Wasil menyusuri kawasan pedalaman.

Di setiap wanua (desa) yang dilalui, ia berinteraksi dengan penduduk setempat. Dengan lisan yang lembut, Mbah Wasil yang dari cerita tutur dikenal sebagai ulama yang alim, menjelaskan apa itu Islam.

“Itu sebabnya, sangat wajar jika setelah meninggal, Syekh Syamsuddin sangat dihormati masyarakat Islam di pedalaman,” kata Habib Mustopo, guru besar Universitas Negeri Malang yang telah melakukan penelitian berbasis data historis dan arkeologis.

Makam Mbah Wasil berada di komplek pemakaman Setana Gedong yang berada di wilayah Kota Kediri. Lokasinya di pusat kota yang bersebelahan dekat dengan aliran Sungai Brantas.

Muslim Madzab Syafii

Tidak banyak data sejarah yang menceritakan aktifitas religi Mbah Wasil di Kediri. Tiga bidang persegi empat dalam inkripsi (prasasti) kuno di komplek Makam Setana Gedong Kota Kediri, lebih menuliskan tentang profil serta asal-usulnya.

Pada inskripsi kuno itu, laporan peneliti asing Louis-Charles Damais menyebutkan adanya makam seorang “al-Imam al-Kamil”. Teks pendek atau epitaf pada inkripsi ditutup dengan keterangan : al-syafii madzhaban al-arabi nisban wa huwa tadj al-qudha(t).

Sayangnya, bagian tanggal yang merujuk waktu inskripsi dibuat, kondisinya berantakan. Ada jejak seperti bekas pukulan martil yang membuat catatan waktu tersebut, terhapus.

Peneliti Claude Gulliot dan Ludvik Kalus menyebut kata al-wasil dan al-mustakmil pada inskripsi Setana Gedong, sebagai kata yang unik. Dua kata yang menyifatkan kata benda tersebut tidak ditemukan dalam Thesaurus d’epigraphie Islamique.

Masyarakat menghubungkan kata al-wasil dan al-mustakmil dengan tokoh suci yang dimakamkan di Setana Gedong. “Jika nama al-Wasil tercantum pada inskripsi Setana Gedong, nama Syamsuddin dicatat dalam historiografi Jawa yang tersimpan di Museum Nasional Jakarta”.

Baca juga : Sosok Mbah Wasil Setono Gedong, Ulama Besar Penasihat Raja Jayabaya 

Peneliti Gulliot dan Kalus juga menafsirkan kata asy-Syafii madzhaban, al-Abarkuhi dan al-Bahrayni sebagai kata benda yang merujuk pada sosok tokoh suci yang dimakamkan di Setana Gedong atau Mbah Wasil.

Dari kata asy-Syafii madzhaban di inkripsi, Mbah Wasil disinyalir kuat seorang ulama Islam bermadzab Syafii. Sesuai historiografi Islam Nusantara. Syekh Ismail asal Mesir yang pertama kali memperkenalkan Islam madzab Syafii (1285) di Indonesia.

Madzab Syafii masuk melalui kesultanan Samudera Pasai Sumatera. Kemudian dilakukan perluasan dengan mengutus Syekh Maulana Ishak ke Jawa. Maulana Ishak memulai dari wilayah Blambangan. Yakni bagian terujung Jawa. Karena gagal, Maulana Ishak kemudian kembali ke Malaka.

“Menurut Serat Kanda Syekh Ishak adalah paman Raden Rachmat alias Sunan Ngampel, sedangkan Sunan Ngampel orang pendatang dari Campa,” tulis Slamet Muljana dalam buku Runtuhnya Hindu-Jawa dan Timbulnya Negara Islam di Nusantara.

Kata al-Barkuhi yang ada pada inkripsi Setana Gedong ditafsirkan berkaitan dengan nama kota Abarquh atau Abarkuh. Sebuah kota kecil di Iran yang terletak antara Shiraz dan Yazd.

Lalu kata al-Bahrayni yang mengarah kuat pada Kepulauan Bahrain yang berhubungan dengan suku Arab al-Bahraniyun. Pada masa lampau suku al-Bahraniyun banyak berkelana di wilayah Irak.

Dari berbagai sumber menyebut, hubungan tokoh Syekh Syamsuddin al-Wasil dengan Raja Jayabaya Kediri dilukiskan begitu dekat. Hubungan erat layaknya antara seorang guru dengan muridnya.

Jayabaya begitu tertarik mempelajari ilmu perbintangan dan nujum yang menjadi isi Kitab Musyarar. Sementara Mbah Wasil merupakan ulama yang mampu mendedah isi kitab secara gamblang.

Dengan pernak-pernik kata kiasan, epilog Kakawin Hariwangsa tulisan Mpu Panuluh menyinggung keeratan hubungan keduanya. Hubungan antara Jayabaya sebagai titisan Wisnu dengan pendeta kepala Brahmin titisan Agastya. Sang bhiksu pandhita adhikara yang disebut Kakawin Hariwangsa mengarah pada Syaikh Syamsuddin al-Wasil.

Mbah Wasil tidak hanya mengajarkan ilmu perbintangan dan nujum. Di depan Raja Jayabaya Kediri, ulama asal Persia itu juga memperlihatkan karomahnya yang oleh Hariwangsa digambarkan seperti kesaktian Resi Agastya.

“Sebutan bhiksu dan kemudian pandhita, lazim digunakan untuk menyebut tokoh-tokoh pemuka Islam pada zaman itu,” tulis Agus Sunyoto dalam buku Atlas Walisongo.

Berkat pengetahuan Kitab Musyarar wejangan Mbah Wasil. Kelak, Raja Jayabaya Kediri menerbitkan ramalan jaman beserta tantangannya yang populer bernama Serat Jayabaya atau Jangka Jayabaya.

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on linkedin

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

IKUTI KAMI

%d blogger menyukai ini: