Mbah Mesir, Peletak Silsilah Kiai-kiai Mataraman

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on linkedin
Peziarah sedang berdoa di Pusara Makam Mbah Mesir di Desa Semarung, Kec. Durenan, Kab. Trenggalek, Februari 2021/foto Zaky Azkary

Sebagian dzuriyah (keturunan) Mbah Mesir adalah pendiri pondok pesantren tua di Kediri. Ibarat sungai silsilah yang mengalir jauh, Mbah Mesir merupakan mata airnya. Dari Nyai Isti’anah, putri Mbah Mesir yang kesembilan. Lahir Kiai Muhammad Dahlan, pendiri Pondok Pesantren Jampes, Kediri (1886).

Kiai Muhammad Dahlan yang kondang sebagai ahli falak (Astronomi) menikahi Artimah, putri Kiai Sholeh Banjarmlati, Mojoroto, Kediri, seorang kiai keturunan Syekh Abdullah Mursyad. Pernikahan Kiai Dahlan dengan Nyai Artimah melahirkan Syekh Ihsan al-Jamfasi al-Kadiri.

Di dunia Islam internasional, Syekh Ihsan dikenal sebagai ulama Indonesia penulis kitab Siraj al-Thalibin, syarah atas Minhaj al-Abidin karya Imam al-Ghazali. Setiap mahasiswa al-Azhar Kairo Mesir yang berminat menelaah pemikiran al-Ghazali, dianjurkan membaca Siraj al-Thalibin.

Putra Kiai Dahlan yang bernama Kiai Marzuqi Dahlan diambil menantu Mbah Manab atau Kiai Abdul Karim, pendiri Ponpes Lirboyo, Kediri (1910). Dari pernikahan Kiai Marzuqi Dahlan dengan Nyai Maryam lahir Kiai Idris Marzuqi.

Jejak dzuriyah Mbah Mesir juga terlacak pada cikal bakal Ponpes Ploso Kediri. Salah satu putra Mbah Mesir yang bernama Kiai Muhyin, merupakan mertua Kiai Djazuli Utsman, pendiri Ponpes Ploso Kediri (1924). Salah satu putra Kiai Djazuli Utsman adalah Kiai Hamim Thohari Djazuli (Gus Miek), mursyid Dzikrul Ghofilin.

Siapa Mbah Mesir?

Abdul Mahsyir yang populer dengan panggilan Kiai Mesir atau Mbah Mesir adalah putra Kiai Yahuda. Dari 16 bersaudara, Mbah Mesir menempati urutan yang ke dua. Kiai Yahuda seorang ulama yang berasal dari Nogosari, Lorok, Kabupaten Pacitan, Jawa Timur.

Tidak hanya pandai ilmu agama. Kiai Yahuda juga terkenal menguasai ilmu kanuragan serta bela diri yang mumpuni. Berbagai sumber mencatat, Kiai Yahuda bekas laskar prajurit Pangeran Diponegoro. Paska perang Jawa (1825-1830) yang berakhir dengan kekalahan. Ia hijrah ke Jawa Timur dan menetap di Pacitan.

Kiai Yahuda memiliki jejak geneologis dari Mangkubuwono III. Bila ditelusuri, silsilah Kiai Yahuda akan sampai pada penguasa Mataram Islam awal.

“Konon, silsilah Kiai Yahuda ini jika ditelusuri ke atas akan sampai kepada Panembahan Senopati,” tulis M Solahudin dalam buku “Napak Tilas Masyayikh, Biografi 25 Pendiri Pesantren Tua di Jawa-Madura”.

Sejak Kiai Mesir masih anak-anak, Kiai Yahuda sengaja tidak mengajarkan ilmu kanuragan serta beladiri. Seperti diriwayatkan buku “Napak Tilas Masyayikh, Biografi 25 Pendiri Pesantren Tua di Jawa-Madura”. Khusus kepada putra keduanya itu, Kiai Yahuda lebih mengajarkan ilmu agama.

“Kiai Yahuda berharap anaknya ini fokus dengan ilmu-ilmu agama”. Kiai Yahuda berharap keturunannya kelak menjadi orang alim yang ahli ilmu agama. Buah jatuh tidak jauh dari pohonnya. Berbekal ilmu agama yang dimiliki, Kiai Mesir melakukan syiar agama. Dari Pacitan menuju wilayah Ponorogo.

Saat itu masa kolonial Belanda. Setiba di Trenggalek, Mbah Mesir menetap di wilayah Kecamatan Durenan dan mendirikan pondok pesantren. Mbah Mesir menikahi dzuriyah Kiai Hasan Besari, pengasuh pondok pesantren Tegalsari, Ponorogo. Kiai Hasan Besari merupakan keturunan Sunan Ampel, salah satu Wali Songo yang makamnya berada di Ampel Denta Surabaya.

Kabar tentang kealiman dan kepandaian Mbah Mesir dengan cepat viral ke mana-mana. Popularitasnya sampai ke telinga Bupati Trenggalek saat itu. Dalam sebuah artikel, Gus Hamam Nashiruddin, salah satu dzuriyah Mbah Mesir menyebut, leluhurnya memiliki kedekatan dengan Bupati Trenggalek.

Bahkan Bupati menganugerahi jabatan sebagai naib atau penghulu. “Sehingga juga menjadi rujukan berbagai permasalahan agama”. Saking eratnya jalinan. Setiap hari raya idul fitri, Bupati Trenggalek selalu mengundang Mbah Mesir ke pendopo Kabupaten. Terutama hari ke dua sampai ke lima lebaran.

Undangan ke pendopo selalu dipenuhi. Namun lantaran Mbah Mesir menjalankan puasa sunah syawal, suguhan makanan dan minuman tidak disentuhnya. Mbah Mesir memiliki tradisi menunaikan puasa syawal selama enam hari yang dimulai paska hari lebaran pertama. Di pondok pesantren Durenan. Begitu puasa syawal selesai, Mbah Mesir selalu menyediakan ketupat beserta sayuran-sayuran sebagai hidangan.

Tidak hanya untuk dirinya sendiri dan santri. Sayur ketupat juga ia suguhkan kepada warga yang bersilaturahmi ke pesantrennya. Bentuknya simakrama atau semacam open house. Sebelum menyantap sayur ketupat, acara didahului ritual slametan, doa bersama. Mbah Mesir memadukan antara kebiasaan puasa syawal yang berpahala besar, dengan tradisi slametan ketupat.

Tidak hanya soal berburu pahala besar. Mbah Mesir yang dimakamkan di Durenan mengajarkan tradisi bersilaturahmi, berbagi, serta memuliakan tamu. Sampai hari ini tradisi lebaran ketupat di Durenan tetap terjaga dengan baik. Tidak hanya berlangsung di lingkungan pesantren. Masyarakat sekitar Durenan, bahkan luar Trenggalek juga ikut melakukan simakrama lebaran ketupat.

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on linkedin

1 Comments

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

IKUTI KAMI

%d blogger menyukai ini: