Mbah Basyaruddin, Waliyullah yang Kehadirannya Dicintai Warga Tulungagung

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on linkedin
Makam Syeckh Basyaruddin (tengah), Bolorejo, Kauman, Tulungagung Jawa Timur /Foto: Mas Mus-google map

Syekh Basyaruddin atau Mbah Basyaruddin mendirikan sebuah surau, atau langgar kecil. Di surau itu, Mbah Basyaruddin mewejang warga Dusun Srigading, Desa Bolorejo, Kecamatan Kauman, Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur. Mereka datang karena tertarik ingin menyelami Islam lebih mendalam.

Mbah Basyaruddin mendaras kitab, dan warga menyimaknya. Mereka duduk bersila, mendengarkan, berusaha memahami Islam. Mereka ingin tahu lebih jauh, seperti apa ajaran agama yang dikatakan sebagai rahmatan lil alamin itu. “Mbah Basyaruddin dikenal sebagai seorang ulama sufi yang penyabar,” demikian cerita tutur yang berkembang.

Saat itu sebagian besar wilayah Tulungagung masih berupa rawa-rawa, terutama di bagian selatan. Setiap musim hujan tiba, banjir masih menjadi ancaman. Kehidupan sosial penduduk Tulungagung masih terpengaruh kuat peninggalan Majapahit. Terutama soal tradisi, kebudayaan, serta keyakinan. Maklum, Tulungagung dengan Kediri dan Blitar berjarak dekat.

Dihimpun dari Babad Tulungagung, dari pemerintahan Tumenggung Ngabehi Mangoendirono sebagai bupati pertama hingga bupati ke-10, wilayah Tulungagung masih bernama Kadipaten Ngrowo atau Kadipaten Bonorowo. Ibu kotanya berlokasi di Kalangbret yang saat ini masuk wilayah Kauman. Pemerintahan Mangoen Dirono sezaman dengan Raja Kraton Surakarta Pakubuwono II (1727-1749).

Mbah Basyaruddin seorang pendatang. Dari sumber lisan, ia seorang ulama yang berkelana dari Ponorogo, sebuah tempat yang kala itu masih bagian dari wilayah Wengker (Madiun). Ia menjejakkan kaki di Tulungagung pada masa pemerintahan Tumenggung Ngabehi Mangoendirono. Di Srigading, Mbah Basyaruddin berhenti. Melihat banyak penduduk yang masih memegang keyakinan lama, hatinya tergerak untuk mengenalkan Islam.

“Syiar dilakukan dari pintu ke pintu,” demikian sumber tutur yang berkembang. Mbah Basyaruddin memiliki kesabaran sekaligus ketekunan. Satu persatu pintu rumah warga ia ketuk. Niatnya bertamu. Mbah Basyaruddin bersilaturahmi, mengenalkan diri sebagai orang baru yang berniat bermukim di Srigading. Caranya berkomunikasi penuh kelembutan. Tutur katanya kalem penuh sopan santun.

Hal itu yang membuat warga Bonorowo tidak berusaha menentangnya. Kehadiran Mbah Basyaruddin bisa diterima. Warga melihat kedatangannnya bukan sebagai ancaman. Di surau kecil yang Mbah Basyaruddin dirikan untuk mengaji, warga secara perlahan memutuskan hijrah memeluk Islam.

Karomah Mbah Basyaruddin

Mbah Basyaruddin memiliki kebiasaan bermujahadah di atas bambu yang di bawahnya mengalir sungai berarus deras. Mujahadah An Nafs. Yakni mensyukuri segala nikmat yang diberikan Allah SWT sekaligus bersabar atas segala ujian yang datang. Di atas lonjoran bambu, Mbah Basyaruddin menenggelamkan diri dalam dzikirnya. Terkadang, saat ketiduran tubuh Mbah Basyaruddin meluncur jatuh ke sungai.

Ia tidak marah. Apalagi mengumpat. Dengan baju yang masih basah kuyub, ia kembali menaiki bambu, melanjutkan dzikirnya. “Beliau akan terbangun dan melanjutkan kembali dzikirnya,” begitu cerita yang bergetok tular dari mulut ke mulut. Sebagian besar warga Tulungagung pernah mendengar.

Setiap Mbah Basyaruddin menginginkan menaruh sesuatu, ia cukup menuding pohon yang berada di dekat bantaran sungai. Ajaib. Pohon yang kena tuding telunjuk Mbah Basyaruddin, batangnya tiba-tiba merunduk patuh. Pada suatu ketika Bupati Ngrowo Tumenggung Ngabei Mangoendirono menggelar pesta pernikahan putrinya.

Mangoendirono mengundang Mbah Basyaruddin. Tidak hanya hadir, Mbah Basyaruddin juga menyulap dekorasi panggung pelaminan yang membuat semua tamu undangan berdecak kagum. Mereka menyaksikan panggung tempat kedua mempelai berhiaskan air mengalir. Bak sebuah sungai kecil, di dalam air berenang-renang berbagai jenis ikan.

Hari –hari Mbah Basyaruddin habis untuk berdakwah. Di setiap waktu luang selalu ia manfaatkan untuk mendaras Alquran. Mbah Basyaruddin tidak pernah melewatkan puasa sunah. Mulai puasa Senin-Kamis, puasa Rajab hingga puasa sunah lainnya, tak pernah ia lewati. Hidupnya juga penuh kezuhudan.

Setiap makan nasi, Mbah Basyaruddin selalu memilih nasi yang banyak kerikilnya. Ia menyuap nasi perlahan-lahan sambil menyisihkan satu persatu kerikil yang ada di piring.

Dzuriyah Mbah Mursyad Kediri

Mbah Basyaruddin merupakan guru Tumenggung Ngabei Mangoendirono, bupati pertama Ngrowo atau Bonorowo yang kelak kemudian bersalin nama Tulungagung. Mangoendirono banyak menimba ilmu tentang keislaman kepada Mbah Basyaruddin. Lalu siapa Mbah Basyaruddin yang berasal dari Ponorogo tersebut? Sumber tutur menyebut, Mbah Basyaruddin dzuriyah (keturunan) dari Syekh Abdurrahman.

Syekh Abdurrahman merupakan putra Syekh Abdullah Mursyad, Setono Landean Kediri. Kiai Muhammad Kasan Besari, Ponorogo juga merupakan cucu Mbah Mursyad. Mbah Kasan Besari adalah putera kedua Kiai Anom Besari, Caruban Madiun yang merupakan putra Mbah Mursyad. Dengan demikian antara Mbah Basyaruddin dan Mbah Kasan Besari Ponorogo masih satu pertalian darah.

Sementara Mbah Mursyad berdzuriyah kepada Sultan Demak, Raden Patah, melalui jalur Sunan Prawoto, putra Sultan Trenggono. Mbah Mursyad putera Pangeran Demang II Ngadiluwih. Pangeran Jalu atau Pengeran Demang I Setonogedong adalah kakeknya. Buyut Mbah Mursyad yang bernama Raden Panembahan Wirasmoro Setonogedong, merupakan putera Sunan Prawoto.

Dalam artikel yang terbit pada tahun 2012, KH Busrol Karim A Mughni menyebut Syekh Mursyad merupakan keturunan dari Panembahan Senopati, pendiri Kerajaan Mataram Islam. Mbah Basyaruddin bermakam di Dusun Srigading, Desa Bolorejo, Tulungagung. Pesarean Mbah Basyaruddin tidak pernah sepi peziarah. Mereka yang seusai berwasilah di pusaranya, banyak yang merasa lebih tentram.

Mbah Burhanuddin, juru kunci makam Syekh Basyaruddin menuturkan, tidak sedikit peziarah yang hajatnya terkabul setelah berwasilah di makam Syekh Basyaruddin. “Tapi yang jelas, selain merasa lebih tenang mereka semakin banyak bersyukur dan selalu ingat kepada Allah SWT,“ tuturnya seperti dikutip dari berbagai sumber.

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on linkedin

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

IKUTI KAMI

%d blogger menyukai ini: