Masjid Keramat Luar Batang, Cagar Budaya Peninggalan Habib Husein bin Abubakar Alaydrus

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on linkedin
masjid luar batang
Masjid Luar Batang berlokasi di Kec. Penjaringan Kota Jakarta Utara /Foto : Santrikertonyono

Masjid Jami Keramat Luar Batang atau juga populer dengan sebutan Masjid Luar Batang, Jakarta Utara merupakan salah satu tempat wisata religi di wilayah Ibu Kota.

Rumah ibadah umat muslim ini tepatnya berlokasi di kawasan permukiman padat penduduk Jalan Luar Batang, Gang V Nomor 1, Kelurahan Penjaringan, Kecamatan Penjaringan, Kota Jakarta Utara.

Berdasarkan cerita masyarakat, masjid tersebut merupakan saksi bisu perkembangan Islam di pesisir utara Jakarta sejak abad ke-18. Bangunan masjid yang juga merupakan salah satu cagar budaya Pemerintah Provinsi DKI Jakarta ini, menghadap ke Pelabuhan Sunda Kelapa.

Masjid memiliki 2 aula besar, aula dalam dan aula luar. Masing-masing aula tersebut memiliki 12 tiang pancang, yang dijumlahkan menjadi 24. Konon, ini menandakan jumlah jam dalam satu hari, 12 jam siang dan 12 jam malam.

Demi menjaga arsitektur bangunannya tetap kokoh, Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan memutuskan untuk merevitalisasi Masjid yang lokasinya juga dekat dengan Pelabuhan Sunda Kelapa tersebut.

Dalam proses pengerjaannya, pihak pengurus masjid juga dilibatkan ihwal konsep revitalisasi.

“Karena kami pengurus masjid diajak ngobrol selama ini. Tektokan tentang apa yang boleh, apa yang tidak boleh, yang tadinya sudah disepakati, mereka bikin ternyata harus negosiasi lagi,” kata Sekretaris masjid Keramat Luar Batang Daeng Mansur seperti dilansir dari Kompas.com.

Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) meminta revitalisasi tersebut tak mengubah keaslian dari wujud bangunan aslinya. Sehingga, masyarakat juga bisa merasakan warisan budaya tersebut.

“Kayak genteng, kami tetap mau model lama, termasuk selasar, itu kan modelnya kuno banget, awalnya mau dibikin agak modern, tetapi setelah kami diskusi panjang antara pihak masjid dan yayasan pembangunan akhirnya disepakati jangan drastis perubahannya,” kata Daeng.

Kini, sistem pelantang suara sudah diganti dengan teknologi terkini serta penambahan jumlah kamera pengawas (CCTV) menjadi 50 unit. Sebuah kanopi luas ikut menutupi sayap kanan masjid sehingga melindungi jemaah dari hujan dan terik panas ketika beribadah.

Masjid Luar Batang berlokasi di Kec. Penjaringan Kota Jakarta Utara (tampak dalam ) /Foto : Santrikertonyono

Asal Muasal Berdirinya Masjid Keramat Luar Batang

Dikutip dari situs indonesia.go.id, masjid ini dibangun oleh Al-Habib Husein bin Abubakar Alaydrus pada abad ke-18.

Habib Husein merupakan seorang Arab Hadramaut yang hijrah ke tanah Jawa melalui Pelabuhan Sunda Kelapa pada 1736. Silsilahnya dikatakan tersambung kepada Nabi Muhammad SAW. Ia tiba di Batavia melalui Pelabuhan Sunda Kelapa pada 1736, bersama asistennya yang keturunan Tionghoa, yaitu Habib Abdul Kadir.

Saat itu, Habib Husein tak hanya mensyiarkan agama Islam, melainkan juga mengajar mengaji penduduk sekitar yang telah memutuskan menjadi mualaf.

Habib Husein pun menjadi salah satu alim ulama yang menentang kedatangan Belanda di Jakarta atau Batavia. Akibatnya, dia harus merasakan dinginnya lantai jeruji besi karena sikapnya tersebut.

Sekitar tahun 1739, dengan dibantu masyarakat Sunda Kelapa, Habib Husein mulai membangun sebuah langgar atau surau memanfaatkan rumah seorang warga di Kampung Baru.

Bangunan langgar atau musala bergaya khas Betawi seluas 6 meter persegi (m2) itu diselesaikan pada 20 Muharram 1152 Hijriah atau 29 April 1739.

Habib Husein menamainya Langgar Annur. Tak lama kemudian, rumah ibadah ini diperbesar menjadi sebuah masjid seperti sekarang setelah mendapat hibah lahan cukup luas dari Gubernur Jenderal Gustaaf Willem Baron van Imhoff.

Lahan masjid berbatasan dengan tembok utara kota lama Batavia serta berdekatan dengan gudang rempah perusahaan dagang Belanda, VOC dan Pasar Ikan.

Bangunan gudang rempah itu sekarang dikenal sebagai Museum Bahari.

Informasi yang tercantum dalam situs Sistem Informasi Masjid Kementerian Agama simas.kemenang.go.id, Masjid Luar Batang telah dibuatkan Akta Ikrar Wakaf oleh Kantor Urusan Agama Penjaringan pada 1995. Masjid berdiri di atas lahan seluas 5.780 m2 dengan bangunan sebesar 3.280 m2.

Kisah Menarik di Balik Nama Masjid Luar Batang

Terkait penamaan Luar Batang yang kemudian disematkan sebagai nama masjid menyimpan kisah menarik dan dipercaya oleh masyarakat sekitar sampai saat ini.

Menurut Sekretaris Pengurus Masjid Luar Batang Mansur Amin, ketika wafat dan akan dikebumikan di daerah Tanah Abang, tiba-tiba saja jasad Habib Husein menghilang dari dalam keranda atau kurung batang tempat tubuhnya diletakkan.

makam Habib Husein
Habib Husein atau Al-Habib Husein Meninggal pada hari Kamis 17 Ramadhan 1169H/ 24 Juni 1756 /Foto: Santrikertonyono

Pada saat bersamaan, jasad tersebut sudah berada di dekat rumah Habib Husein yang bersisian dengan masjid.

Jasad kembali ditandu menuju pemakaman di Tanah Abang, namun ketika jasad akan dikebumikan, lagi-lagi menghilang. Peristiwa itu berulang hingga tiga kali.

Para jemaah dan murid-murid Habib Husein pun bersepakat agar guru mereka itu dimakamkan di tempatnya berdakwah. Sejak saat itu, masjid yang semula bernama Annur pun diganti menjadi Masjid Keramat Luar Batang dan sang ulama digelari Habib Luar Batang atau Habib Keramat.

Saat itu lokasi masjid di dalam peta-peta kolonial abad 18-19 ditandai dengan tulisan heiling graf atau masjid keramat.

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on linkedin

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

IKUTI KAMI

%d blogger menyukai ini: