Majapahit Runtuh, Benarkah Kerajaan Demak diakui Sebagai Penerus?

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on linkedin
Raden Patah dan Kesultanan Demak tempo dulu /Foto: cagarbudaya.kemdikbud.go.id

santrikertonyonoKesultanan Demak atau biasa disebut dengan kerajaan Demak merupakan kerajaan Islam di Jawa yang berdiri sekitar akhir abad ke-15. Tepat berdiri di kota Demak, kerajaan ini sebelumnya merupakan sebuah kadipaten yang pada saat itu tunduk kepada kerajaan Majapahit. Kerajaan Demak dikenal sebagai kerajaan yang memainkan perang penting saat masa keruntuhan Majapahit.

Dikenal karena mempunyai daerah kekuasaan yang cukup luas di pulau Jawa, kerajaan Demak juga berhasil menduduki beberapa wilayah di Indonesia seperti pesisir selatan Kalimantan, Palembang dan Jambi.

Tak hanya itu, kerajaan Demak juga mempunyai peran besar dalam penyebaran agama Islam di tanah Jawa. hal tersebut bisa terlihat pada usaha dan upaya kerajaan Demak dalam menaklukan pelabuhan-pelabuhan utama hingga daerah pedalaman di Jawa yang notabene belum tersentuh dengan ajaran Islam.

Salah satu pelabuhan utama yang berhasil ditaklukan oleh kerajaan Demak adalah pelabuhan Sunda Kelapa yang pada waktu itu masih berada dibawa kekuasaan kerajaan Sunda. Adanya unsur provokasi dan ancaman merupakan alasan utama kerajaan Demak melakukan penaklukan terhadap Sunda Kelapa.

Unsur provokasi dan ancaman yang di sangkakan oleh kerajaan Demak berawal dari sebuah perjanjian persahabatan antara Sunda dan Portugal terkait rempah-rempah di tanah kerajaan Sunda yang bisa dimanfaatkan. Tak berselang lama, Fatahillah yang kala itu mendapat mandat dari kerajaan Demak segera melancarkan aksinya untuk mengusir Portugis serta menguasai daerah Sunda Kelapa.

Tepat pada tanggal 22 Juni 1527, gabungan pasukan Demak-Cirebon yang dipimpin olek Fatahillah berhasil merebut Sunda Kelapa, dan melakukan penggantian nama menjadi Jayakarta. Jika ditelisik, Jayakarta berasal dari bahasa Sansekerta dengan makna kemenangan yang diraih oleh sebuah perbuatan atau usaha. Hingga kini, moment 22 Juni diperingati sebagai hari kota Jakarta.

Meskipun begitu, ternyata kekuasaan kerajaan Demak di Jayakarta tidak bertahan lama. Tepat pada tanggal 30 Mei 1619, Jayakarta berhasil direbut oleh Belanda dibawah kepemimpinan Jan Peterszoon Coen. Perebutan kekuasaan di Jayakarta memang tidak bisa dilepaskan dari ambisi Belanda mencari rempah-rempah di Asia Tenggara.

Meskipun sempat menikmati masa-masa kejayaannya, usia kerajaan Demak relatif pendek apabila dibandingkan dengan kerajaan-kerajaan lainnya. Namun begitu, kerajaan Demak sangat populer dengan peninggalannya berupa masjid Agung Demak yang kala itu didirikan bersama para wali Songo.

Menurut M. Rizal Qosim dalam bukunya yang berjudul “Di Balik Runtuhnya Majapahit dan Berdirinya Kerajaan-Kerajaan Islam di Jawa” (2019), lembaran sejarah baru sejak kehadiran kerajaan Islam Demak ini secara otomatis mengubah corak perpolitikan di Jawa yang awalnya bercorak Hindu kini berganti menjadi corak Islam.

Bahkan, disebut-sebut bahwa kerajaan Islam Demak ini turut mempunyai andil yang besar dalam proses perjalanan syiar Islam di tanah Jawa. Hal itu disebabkan karena kerajaan Demak kemudian menjadi sebuah pusat penyebaran agama Islam di Jawa yang sebelumnya telah dilakukan oleh para ulama dan para wali.

Masa Kepemimpinan Raden Patah

Lembaran sejarah baru bagi pulau Jawa mulai terbuka saat kerajaan Majapahit dinyatakan runtuh pada sekitar abad ke-16, tepatnya pada tahun 1527. Pasca berakhirnya kerajaan Majapahit tak berselang lama lahirlah kerajaan baru yang memberikan warna baru dalam barisan sejarah masa lalu. pasalnya, kerajaan ini merupakan kerajaan Islam pertama di tanah Jawa yakni kerajaan Demak.

Demak yang sebelumnya hanya sebuah kadipaten, lalu tumbuh menjadi sebuah kerajaan Islam yang didirikan oleh Raden Patah. Berdasaran Babad Tanah Jawa, Raden Patah atau Praba atau Raden Bagus Kasan atau Hasan memiliki gelar Jin Bun yang merupakan gelar Tiongkok. Selain itu, kerapkali disebut juga Senopati Jinbun atau Panembahan Jinbun bergelar Sultan Syah Alam Akbar Al-Fatah.

Banyak yang menyebutkan bahwa dibawah kepemimpinan Raden Patah, Demak diakui sebagai penerus dari kerajaan Majapahit. Hal itu merujuk atas latar belakang Raden Patah yang merupakan anak dari Brawijaya V tak lain adalah raja terakhir dari kerajaan Majapahit dengan seorang putri China.

Tak berhenti disitu saja, proses panjang berdirinya kerajaan Demak juga turut ditandai dengan keberadaan Condro Sengkolo. Menurut cerita yang beredar, ketika Raden Patah tengah mengunjungi Glagah Wangi, ia bertemu dengan salah seorang yang dikenal dengan panggilan Nyai Lembah. Mulai dari saat itulah, Raden Patah kemudian disarankan untuk menetap di Glagah Wangi.

Sejak Raden Patah bertempat tinggal di wilayah tersebut, daerah yang awalnya bernama Glagah Wangi itu mulai dikenal dengan julukan Bintoro Demak. Setelah itu, wilayah Bintoro Demak berubah menjadi sebuah pusat ibu kota untuk seluruh kegiatan kerajaan Demak.

Menurut artikel yang ditulis oleh R. Nurcahyo Yogyanto dengan judul “Peran Raden Patah dalam Mengembangkan Agama Islam di Demak Tahun 1478-1518” (2017), dalam masa pemerintahan Raden Patah, kerajaan Demak berhasil dalam berbagai bidang seperti diantaranya perluasan dan pertahanan kerajaan, pengembangan Islam dan pengamalannya serta penerapan musyawarah dan kerja sama antar ulama dan umara.

Selain itu, keberhasilan Raden Patah dalam perluasan dan pertahanan kerajaan dapat dilihat saat Raden Patah berhasil menaklukan Girindra Wardhana yang kala itu merebut takhta kerajaan Majapahit pada tahun 1478.

Lebih dari itu, Raden Patah juga melakukan perlawanan terhadap portugis yang kala itu telah menduduki Malaka dan hendak mengganggu Demak. Pada tahun 1511, Ia lantas mengutus pasukan dibawah pimpinan putranya yakni Pati Unus atau Pangeran Sabrang Lor, meskipun akhirnya menemui kegagalan.

Diketahui, Raden Patah merupakan raja pertama yang menjabat di kerajaan Demak selama kurang lebih 18 tahun mulai dari tahun 1500 hingga tahun 1518.

Letak Geografis Kerajaan Demak

Secara umum, kerajaan Demak merupakan kerajaan Islam pertama sekaligus terbesar di pantai utara Jawa. Lokasi kerajaan Demak sendiri tepatnya berada di kampung Bintara (atau biasa disebut Bintoro dalam penyebutan bahasa Jawa) yang saat ini telah menjadi salah satu bagian dari kota Demak di Provinsi Jawa Tengah.

Pada awal berdirinya, kerajaan Islam Demak mendapat dukungan penuh dari beberapa bupati yang ada di Jawa Timur serta Jawa Tengah yang menganut agama Islam. Hal itulah yang menjadi salah satu faktor kenapa Demak kemudian dengan cepat menjadi kerajaan seiring dengan runtuhnya kerajaan Majapahit.

Pada masa awal-awal berdiri, kerajaan Demak sudah berani melakukan gebrakan dengan merebut beberapa daerah yang sebelumnya telah menjadi daerah kekuasaan kabupaten kerajaan Majapahit. Salah satu diantaranya seperti Jepara, yang awalnya merupakan daerah dibawah kekuasaan kabupaten Tuban dan termasuk dalam wilayah kekuasaan kerajaan Majapahit. Kala itu, kerajaan Demak berhasil merebut Jepara dibawah kepemimpinan Adipati pertamanya yakni Adipati Unus.

Maka dari itu, ketika kerajaan Majapahit benar-benar dinyatakan runtuh, Demak hadir dan semakin eksis dengan membentuk sebuah kerajaan baru. Keberadaan kerajaan Demak semakin lama semakin eksis setelah beberapa daerah di pulau Jawa yang sebelumnya bagian dari kerajaan Majapahit kemudian berhasil ditaklukan oleh Demak.

Jika dilihat, letak dan posisi kerajaan Demak saat itu berada tepat di pesisir, hal tersebut membuat kerajaan Demak berada di posisi yang sangat strategis terutama dalam bidang perdagangan dan pertanian. Meskipun begitu, letak kerajaan Demak terhadap pantai tak sedekat dengan wilayah pantura yang lain seperti Jepara atau Rembang.

Sekitar abad ke-16, Demak diperkirakan menjadi pusat penyimpanan beras yang kala itu dihasilkan oleh daerah-daerah di sepanjang Selat Muria, selat Muria sendiri merupakan selat yang terletak di utara Jawa Tengah pada abad ke 15/16 M). seorang penulis berkebangsaan Portugal bernama Tomé Pires pernah mencatat bahwa komoditas utama kerajaan Demak adalah beras, rempah-rempah serta buah-buahan.

Diketahui, pada masa sebelumnya terdapat daerah bernama Juwana di wilayah Pati yang kala itu juga memainkan peran sebagai tempat penyimpanan beras dan hasil pertanian lainnya. Namun pada tahun 1513, posisi Juwana dihancurkan oleh seorang panglima perang dari kerajaan Majapahit. Akhirnya, Demak-lah yang menggantikan Juwana sebagai wilayah penyimpanan beras.

Sebenarnya di daerah Bintoro Demak sendiri merupakan daerah yang cukup jauh dari laut atau pantai. Dahulu, daerah ini hanya berupa bentangan rawa dengan perairan payau. Cukup mengherankan karena meski berada jauh dari pantai, namun Demak berhasil menguasai kawasan pelayaran di Jawa.

Namun naas, pada abad ke-17 selat Muria tidak lagi bisa digunakan sebagai pelayaran karena terjadi sedimentasi yang semakin tebal. Melihat kondisi itu, bisa diketahui bahwa maju dan mundurnya sebuah peradaban bahkan imperium politik pun juga bisa dipengaruhi oleh perubahan-perubahan alam.

Pasalnya, penyebab kejayaan Demak yang terbilang cukup pendek itu bisa jadi dikarenakan oleh perubahan alam, khususnya sedimentasi selat Muria. Setelah itu, ketahanan perairan kerajaan Demak perlahan tapi pasti mengalami kepunahan. Keberadaan selat Muria menjadi salah satu faktor pendorong kejayaan kerajaan Demak karena menjadi tempat yang paling sering dikunjungi oleh kapal dagang.

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on linkedin

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

IKUTI KAMI

%d blogger menyukai ini: