Kisah Raden Asnawi Kudus yang Meleburkan Tradisi Kiai Pesantren dan Kiai Langgar

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on linkedin
KH. R. Asnawi
KH. R. Asnawi (Raden Syamsi) /Foto: nu.or.id

santrikertonyonoTak hanya berkutat dengan santri-santri di lingkungan pondok pesantren. Kiai Asnawi Kudus juga mendatangi jamaah langgar, surau, musala, atau masjid, dan lalu menjadikannya sebagai ruang syiar Islam. Ia hadir di setiap acara pengajian-pengajian dan ritual Islam yang berkembang di masyarakat Kudus.

Di sana, Mbah Asnawi berinteraksi langsung (dakwah) dengan komunitas-komunitas muslim Kudus Jawa Tengah dan sekitarnya. Ia tengah membangun tradisi lisan (ceramah) dalam pengajaran Islam. Di masyarakat, namanya tersohor sebagai kiai yang sekaligus da’i atau mubaligh.

Walhasil, jamaah santri Mbah Asnawi tak hanya berasal dari kalangan pesantren. Jamaah masyarakat umum yang aktifitas religinya sebatas lingkaran langgar, surau, musala atau masjid, juga menjadi santrinya. Dirjosanjoto dalam Memelihara Umat: Kiyai Pesantren-Kiyai Langgar di Jawa (1999) menyebut, yang dilakukan Kiai Asnawi dalam masyarakat Jawa kontemporer dikenal sebagai kiai langgar.

Hal itu yang membuat karir keulamaan Kiai Asnawi Kudus sedikit berbeda dengan Kiai Syaichona Cholil Madura dan Kiai Saleh Darat Semarang. “Ulama yang menggunakan jemaah berbasis masyarakat, di samping pesantren, sebagai tempat bagi misinya membimbing masyarakat Muslim”.

Abdul Rachman dalam tesisnya yang berjudul Pesantren Architects and their Socio-Religious Teachings (1850-1950) mengatakan, Kiai Asnawi Kudus telah memverbalisasi pesan-pesan Islam yang tertulis dalam kitab-kitab yang telah dia pelajari selama di Mekah.

Sebagai ulama, selain menulis sejumlah kitab dan mendidik santri di pesantren, Mbah Asnawi juga memperkuat dakwah bil lisan. Terutama setiap bulan ramadan, Mbah Asnawi berceramah di Masjid al-Aqsha Kudus. Dalam pengajian kecil itu ia biasa mengaji kitab Hadist Bukhari.

Kemudian juga mendedah kitab Bidayah al-Hidayah karya al-Ghazali. “Sementara di pesantrennya, dia memberi kuliah singkat kepada para santri khusus mengenai Tafsir Jalalain, kitab tafsir paling ternama dalam pengajaran Islam pesantren,” tulis Abdul Rachman.

Lahirnya Pengajian Pitulasan

Entah disadari atau tidak, sebagai ulama, Kiai Asnawi Kudus telah bergerak dalam diskursus lisan pesantren dan ulama. Dalam pengajian di masjid, surau, langgar atau saat menghadiri undangan di rumah warga, ia memberi bimbingan agama kepada masyarakat muslim.

Mbah Asnawi Kudus telah mengkomunikasikan ajaran yang terkandung dalam kitab maupun Al-Quran serta tradisi Nabi, ke masyarakat luas. Pengajian dan acara ritual Islam dijadikannnya forum untuk melisankan apa yang telah ia tulis dalam risalahnya.

“Menegaskan model pengajaran pesantren yang bersifat lisan dengar”. Apa yang dilakukan Mbah Asnawi telah membawa perubahan besar bagi pembentukan kehidupan keberagamaan umat Islam di Kota Kudus. Ia juga memprakarsai tradisi pengajian Islam yang terkenal dengan nama Pengajian Pitulasan.

Sebuah pengajian yang digelar secara khusus, yakni setiap hari ke tujuh setiap bulan kalender Hijriah di Menara Kudus. Dikutip dari portal nu.or.id, pengajian pitulasan diselenggarakan pengurus Yayasan Masjid Menara dan makam Sunan Kudus.

Kegiatan keagamaan itu berlangsung rutin setiap malam bulan ramadan selepas salat tarawih. Kurang lebih 500 umat Islam selalu hadir di setiap malamnya dengan puncaknya pada khataman. “Kegiatan tersebut selalu dijadikan acuan masyarakat dalam melatih kefasihan membaca Al-Qur’an”.

Mbah Asnawi juga mempelopori Pengajian Sanganan yang diselenggarakan rutin setiap bulan pada hari kesembilan. Lokasi Pengajian Sanganan berada di Masjid Agung Kauman, Kota Kudus. Jajat Burhanuddin dalam Ulama & Kekuasaan, Pergumulan Elite Muslim dalam Sejarah Indonesia menyebut Mbah Asnawi memperlihatkan peran penting ulama.

Ia tampil sebagai seorang pendidik sekaligus penerjemah doktrin Islam yang itu berkontribusi bagi pembentukan keberagamaan umat Muslim. “Hasilnya, Kudus pada sekitar akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20 telah menjadi sebuah kota yang terilamisasikan di pesisir Jawa, di mana praktik-praktik keagamaan santri dijalankan”.

Lance Castle dalam Religion, Politics, and Economics Behavior in Java: the Kudus Cigarette Industry (1976) menambahkan, situasi itu terus berkembang hingga tahun 1950-an bersamaan pertumbuhan ekonomi masyarakat, terutama dalam industri rokok.

Silsilah dan Sanad Keilmuan Kiai Asnawi Kudus

Kiai Haji Raden Asnawi lahir di Kampung Damaran Kota Kudus pada tahun 1861. Ayahnya adalah H Abdullah Husnin, salah seorang pedagang konveksi ternama di Kudus. Ibunya bernama R Sarbinah.

Bila silsilahnya ditarik lebih ke atas, Mbah Asnawi merupakan dzuriyah (keturunan) Sunan Kudus (Sayyid Ja’far Sodiq) ke-14. Dari Syekh Mutamakkin, seorang Waliyullah asal Kajen, Pati, Mbah Asnawi keturunan ke-5.

Mbah Asnawi memiliki tiga nama. Sebelum naik haji yang pertama (1889), ia dikenal dengan nama Raden Ahmad Syamsi. Kemudian sepulang dari tanah suci namanya bersalin menjadi Raden Haji Ilyas. Dikutip dari laduni.id, nama Haji Ilyas terkenal di Mekah dan Saudi Arabia.

Setelah naik haji yang ketiga (1894), nama Raden Haji Ilyas berganti menjadi Raden Asnawi, dan terkenal sampai sekarang. Sejak kecil Mbah Asnawi mendapat gemblengan ilmu agama dari orang tuanya, terutama dalam hal mengaji Al-Qur’an.

Ia tumbuh di lingkungan masyarakat santri kawasan pesisir Jawa. Pada usia 15 tahun ia dibawa ayahnya ke Tulungagung Jawa Timur, untuk mendalami ilmu agama di sebuah pondok pesantren. Ia belajar di Pesantren Mangunsari Tulungagung yang diasuh para kiai keturunan Mbah Kasan Besari Ponorogo.

Salah seorang dzuriyah Pesantren Mangunsari Tulungagung yang bernama Kiai Manshur, mendirikan Pesantren Al Masnyuriah atau Al Kamal di Desa Kunir, Kecamatan Wonodadi, Kabupaten Blitar.

Dari Tulungagung, Mbah Asnawi muda melanjutkan nyantri di pesantren Jepara. Ia berguru kepada Kiai Irsyad Naib Mayong. Selama di Mekkah di mana berangkat tahun 1894, Mbah Asnawi menghabiskan waktu sekitar 20 tahun dalam komunitas Jawi.

Ia berguru kepada Syekh Mahfudz Tremas, Kiai Saleh Darat, Syekh Ahmad Khatib Minangkabau. “Dan ulama Mekkah ternama Sayyid Umar Syatta, “tulis Abdul Rachman dalam Pesantren Architects and their Socio-Religious Teachings (1850-1950).

Dalam komunitas Jawi, Mbah Asnawi banyak berkomunikasi intens sekaligus belajar dengan para ulama ternama yang berasal dari tanah Jawa. Ia juga sempat mengajar sejumlah santri muda yang kelak pada awal abad ke-20 menjadi ulama tersohor di Jawa.

“Kiai Bisri Syansuri, Kiai Wahab Chasbullah dari Jombang, Kiai Mufid Kudus, Kiai Dahlan Pekalongan adalah di antara beberapa muridnya”. Dengan modal keilmuan dan pengalaman yang dimiliki, Mbah Asnawi Kudus masuk ke dalam pusat jaringan ulama di Jawa.

Hal itu membuatnya memiliki kedudukan terhormat seperti halnya Mbah Cholil Bangkalan dan Mbah Saleh Darat Semarang. Sepulang ke Jawa, pada tahun 1917 Mbah Asnawi menjadikan pesantren sebagai tempat bagi pengembangan intelektualnya. Ia juga sempat berinteraksi dengan HOS Cokroaminoto, Haji Agus Salim dan sejumlah tokoh Sarikat Islam (SI) lain.

Pada tahun 1927 Mbah Asnawi Kudus mendirikan Pondok Pesantren Raudlatuth Tholibin dan sekaligus menjadi pengasuhnya. Ia memberi bimbingan Islam kepada santri-santrinya, keteladanan sikap hidup, mengajari membaca kitab dan memberi penjelasan lisan dari setiap bagian yang tertulis dalam kitab.

Ulama yang dikenal gemar silaturahmi itu juga menulis beberapa risalah yang ia dedikasikan untuk santri dan masyarakat luas. Risalah itu diantaranya Pasolatan dan Jawab Soalipun Mu’taqad, Syari’ah Islam tentang fiqih dan kitab Ajrumiyyah terjemahan bahasa Jawa.

Pada masa revolusi kemerdekaan, Mbah Asnawi pernah mengadakan gerakan ruhani dengan mengajak rakyat dan pejuang membaca salawat nariyah dan doa surat al-Fiil. Mbah Asnawi Kudus menikah dengan Nyai Hajjah Hamdanah, janda almarhum Syekh Nawawi Banten, dan dikarunia tiga orang anak, yakni H.M Zuhri, Nyai Azizah dan Alawiyah.

Pernikahan itu berlangsung saat masih berada di Mekkah. Saat pulang ke Jawa, Mbah Asnawi kembali menikah dengan Subandiyah, adik Katib Khair Kudus, namun tidak dikaruniai keturunan. Mbah Asnawi wafat pada 26 Desember 1959, dalam usia 98 tahun.

Jajat Burhanuddin dalam Ulama & Kekuasaan, Pergumulan Elite Muslim dalam Sejarah Indonesia menuliskan, bahwa dari pengalaman Kiai Asnawi Kudus disimpulkan pesantren dan kitab berfungsi sebagai pondasi budaya bagi ulama untuk membangun otoritas mereka di tengah umat Muslim.

Ulama dan pesantren berkontribusi pada pembentukan komunitas santri dalam lanskap sosial dan budaya masyarakat Jawa. “Mereka menerjemahkan dan mengkomunikasikan doktrin-doktrin Islam ke dalam terma-terma kultural masyarakat”.

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on linkedin

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

IKUTI KAMI

%d blogger menyukai ini: