Kisah Barisan Kiai Khos dengan Sandi Busur Laut Nusantara

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on linkedin
kolase kiai khos (dari kiri) Hadratussyekh Hasyim Asy’ari, KH. Mahfudz Shiddiq, KH Bisri Syansuri, KH Saifuddin Zuhri /Foto: istimewa

Di balik sepak terjang Laskar Hizbullah dan Laskar Sabilillah terdapat barisan tak terlihat yang menjahit dan menggerakkan laskar tersebut, yakni Barisan Kiai Khos. Barisan ini tidak begitu populer di kalangan kaum pergerakan merebut kemerdekaan karena memang pergerakannya tidak di permukaan.

Berbeda misalnya dengan tentara Pembela Tanah Air (Peta), Laskar Hizbullah pimpinan KH Zainul Arifin atau Laskar Sabilillah pimpinan KH Masykur. Meski begitu, Barisan Kiai Khos tidak kalah gigihnya dan langsung di bawah pimpinan Kiai Wahab Hasbullah sendiri.

Zainul Milal Bizawie dalam bukunya yang berjudul “Masterpiece Islam Nusantara, Sanad dan Jejaring Ulama-Santri (1830-1945)” terbitan tahun 2016, menyebutkan, tidak ada rujukan yang menjelaskan mengenai struktur lengkap Barisan Kiai Khos.

Dan, tidak banyak yang mengetahui keberadaan barisan ini karena Kiai Wahab sendiri menutupi keberadaan kiai-kiai khos ini. Hanya orang-orang tertentu saja yang tahu.

Menurut Osman Raliby (1953:106) dalam Dokumenta Historica, “… para ulama (kiai) dan ahli-ahli sakti senantiasa berada di garis depan dari segala pertempuran-pertempuran kita. Kekuatan batin ahli-ahli sakti itu banjak merintangi kemadjuan-kemadjuan gerakan musuh.”

Markas para kiai ketika perang 10 November 1945 terletak di Blauran Gang V di belakang gedung bioskop Kranggan (Notosusanto, 1985: 233). Ketika berada di Mojokerto, Barisan Kiai bermarkas di Jalan Veteran yang sekarang menjadi markas POM 082, dengan pimpinan KH Thohir Bachri. Gedung ini juga menjadi tempat Markas Pembelaan Hizbullah/Sabilillah Jawa Timur yang dipimpin oleh KH Bisri Syansuri dan KH Wahid Hasyim.

Keberadaan Barisan Kiai Khos ini memang sangat dirahasiakan, karena anggotanya terdiri dari para kiai sepuh, yang memang tidak pernah muncul di permukaan. Bahkan di antaranya sudah tua renta, yang berjalan dan melihat pun sudah tidak mampu. Namun demikian mereka tokoh yang disegani.

Barisan Kiai bergerak dan bekerja secara kultural mengkonsolidasikan simpul-simpul jejaring ulama yang telah lama terjalin sejak Islam masuk ke Nusantara dan menjadi jejaring perlawanan terhadap kolonial.

Barisan ini sejak masuknya Islam ke Nusantara dikenal dengan sandi Busur Laut Nusantara. Akan tetapi, melalui agen-agen intelnya, Belanda dan Jepang mengetahui pergerakan mereka.

Bahkan, Jepang menangkap dan memenjarakan tokoh-tokoh kunci, seperti Hadratussyekh Hasyim Asy’ari, KH Mahfudz Siddiq Jember, KH Mahfudz Salam Kajen Pati, dan para kiai di Wonosobo, Banyumas, Magelang, dan daerah-daerah lainnya.

Akibat penangkapan ini, Kiai Wahab Hasbullah keliling Jawa selama empat bulan untuk membela para koleganya yang dipenjara.

Barisan Kiai Khos ini sudah muncul sejak masa pendudukan Jepang. Pasca-Resolusi Jihad, misinya kemudian lebih mengental untuk tujuan-tujuan khusus perjuangan mempertahankan kemerdekaan bangsa Indonesia.

Dalam buku-buku sejarah resmi, apalagi yang diajarkan kepada anak-anak sekolah, nama Barisan Kiai tidak muncul. Sebutan ini dimunculkan pertama kali oleh seorang santri Kiai Wahab,yang juga aktif dalam pergerakan nasional, KH Saifuddin Zuhri.

KH Saifuddin Zuhri telah memberikan banyak informasi terkait perjuangan para kiai, mulai dari Banten, Parakan, hingga Jember dan Banyuwangi, tetapi diceritakan secara mengalir dan tidak menunjukkan adanya suatu struktur secara rapi.

Dalam buku Hizbullah Surakarta, sekilas disebut struktur pimpinan Barisan Kiai Jawa Tengah pimpinan Kiai Ma’ruf dan Barisan Kiai Surakarta pimpinan Kiai Abdurrahman. Barisan Kiai Sragen dipimpin KH Bolkin, KH Muslim, Kiai Ridwan, Kiai Sujak, dan Kiai Djarkasi. Disebut juga, “Semula Sabilillah merupakan laskarnya Barisan Kiai. Tetapi para kiai menyadari, akhirnya Sabilillah yang ditampilkan.

Mengenai karakter Barisan Kiai ini, Tamsiri Hadi Supriyanto, mantan komandan Hizbullah di wilayah Surakarta, dalam artikelnya Tashadi “Hizbullah-Sabilillah Divisi Sunan Bonang dalam Revolusi Kemerdekaan: Lahir dan Pertumbuhannya” menggambarkannya sebagai barisan yang tidak mendapat gaji, tidak mendapat jabatan tertentu, keikutsertaan mereka dalam perjuangan kemerdekaan didasarkan pada keikhlasan dan semangat mempertahankan negara dan agama.

Penasihat Laskar Hizbullah-Sabilillah adalah para ulama atau kiai yang memiliki peran dalam pembinaan mental dan ideologi, tetapi kadang-kadang mereka juga ikut berjuang di medan perang.

Kelahiran Hizbullah dan Sabilillah merupakan rintisan para ulama yang ada dalam Barisan Kiai. Sebab dalam latihan kemiliteran Hizbullah di Cibarusa, para kiai lah yang menjadi motivator dalam tiap sesi latihan. Bahkan sertifikat kelulusan latihan kemiliteran itu ditandatangani langsung oleh KH Hasyim Asy’ari, Rois Akbar NU dan sekaligus Ketua Umum MIAMI.

Gerakan para kiai sepuh ini berperan sangat penting sebagai penghembus spirit perlawanan. Di bawah komando Kiai Wahab, Kiai Subhi dari Parakan-Temanggung akhirnya turun gelanggang perjuangan. Kiai Subhi memberi kaum muda senjata yang telah diberi doa.

Mereka itu yang kemudian berangkat ke Ambarawa dan Surabaya melawan Belanda dan sekutunya, terutama Inggris. Gerakan serupa juga datang dari Malang pimpinan Kiai Yahya.

Sebagai ketua Barisan Kiai, Kiai Wahab juga turun langsung ke medan perang mendampingi para komandan Hizbullah dan Sabilillah di Malang, Mojokerto, Magelang, dan Ambarawa. Ia tak mengenal lelah menempuh jarak yang jauh dan penuh bahaya.

Pergerakan Barisan Kiai tercium intelijen Belanda, PID maupun NEFIS. Karenanya Van der Plas maupun Van Mook mendekati para kiai dengan tipu muslihatnya. Kaum penjajah mendatangi pesantren, membagikan Alquran, memberikan ucapan selamat hari besar Islam dan sebagainya.

Tapi, karena para kiai menolak kompromi dan tipu muslihat, maka ditangkapi dan disiksa. Kiai Maksum Jember ditembak mati, Kiai Ahmad dari Madura dipaksa lari ke gunung untuk bersembunyi, bahkan Kiai Abdul Ghoni ketua NU Jawa Tengah diculik, tidak ketahuan nasibnya. (Abdul Munim DZ, 2012).

Kerasnya tekanan yang dilakukan Belanda selama agresi pertama dan kedua itu tidak membuat Barisan Kiai ini surut, sebaliknya mereka ini semakin solid. Melihat kegigihan mereka berjuang di medan perang, mereka menolak mentah-mentah terhadap perjanjian yang dibuat oleh para politisi seperti Perjanjian Linggarjati maupun Renville.

Perjanjian-perjanjian itu menurut para kiai akan mengebiri kebebasan Republik. Basis gerakannya jadi jelas, Barisan Kiai menghendaki kemerdekaan Indonesia 100 persen.

Menurut Zainul Milal Bizawie, terbentuknya Barisan Kiai tersebut tidak bisa dilepaskan dari jejaring ulama dan konsolidasi yang dilakukan para ulama Nusantara di Haramayn. Hubungan mereka dilanjutkan dan makin diperluas di Nusantara.

Keberadaan mereka di Haramayn semakin solid dan massif ketika memasuki penghujung abad Ke-19 dan awal abad Ke-20, semakin banyak ulama tanah Jawa yang menuntut ilmu di Tanah Suci.

Informasi tentang biografi mereka lebih banyak tercatat dengan cukup detail di dalam kitab-kitab sanad dan buku-buku biografi Arab. Dan banyak dari mereka yang setelah mendapat ijazah (sertifikasi), mereka mengajar di Masjidil Haram.

Hal tersebut secara tidak langsung, menjadikan peran mereka di Tanah Suci sebagai penerus jejaring ulama tanah Jawa yang telah dirintis oleh para ulama tanah Jawa sebelumnya.

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on linkedin

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

IKUTI KAMI

%d blogger menyukai ini: