Jejak Ulama Pergerakan Tempaan Pesantren & Kemerdekaan Nusantara

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on linkedin
Kiai Abdul Wahab Chasbullah, tokoh perintis, penggerak, dan pendiri NU /Foto: nu.or.id

Tak terbilang para tokoh pergerakan nasional pada zamannya bila ditengok ke belakang memiliki keterkaitan kuat dengan kehidupan di dunia pesantren. Dari pesantren inilah tumbuh semangat patriotisme dan nasionalisme untuk mencapai kemerdekaan Indonesia.

Dr. Setia Budi atau EFE Douwes Dekker, mengatakan, jika tidak karena pengaruh dan didikan agama Islam, maka patriotisme bangsa Indonesia tidak akan sehebat seperti yang diperlihatkan oleh sejarahnya hingga mencapai kemerdekaannya.

Haji Samanhudi dan HOS Tjokroaminoto, misalnya, adalah para santri. Samanhudi merupakan santri di Pesantren Buntet, Cirebon, dan Tjokroaminoto adalah seorang keturunan dari Kiai Hasan Besari, Pesantren Tegalsari, Ponorogo.

Dari generasi ke generasi, spirit perjuangan para ulama berestafet dari satu masa ke masa berikutnya, terus bergelora seakan telah mendapatkan isyarat akan tegaknya suatu negara Indonesia.

Para ulama tidak henti melakukan tirakat dan riyadloh untuk keselamatan rakyat dan kemerdekaan Indonesia. Seperti halnya yang dilakukan oleh Kiai Chasbullah Said yang tiada lain adalah ayah dari Kiai Wahab Hasbullah.

Kiai Chasbullah sesudah melakukan tirakat panjangnya memberikan sebuah pesan yang dituliskan di menara Masjid Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang, Jawa Timur. Pesantren yang diasuhnya.

Pesan itu kemudian ditutupi dengan kain satir, dan kepada para santrinya, Kiai Chasbullah bilang agar tidak ada yang membuka satir tulisan tersebut.

Beberapa tahun kemudian Kiai Chasbullah berpesan kepada para santrinya. “Lek misale aku mati omongna nang Wahab kongkon bukak tulisan nak menara tahun 1948,” ucap Kiai Chasbullah disampaikan menjelang wafatnya seperti dikutip dalam buku ‘Masterpiece Islam Nusantara’ (2016), karya Zainul Milal Bizawie.

Setelah memberikan pesan tersebut, beberapa bulan kemudian Kiai Chasbullah wafat. Selanjutnya pesantren diteruskan oleh Kiai Wahab Hasbullah.

Tahun 1948 telah tiba. Pesan Kiai Chasbullah melalui para santrinya untuk Kiai Wahab Hasbullah disampaikan. Dengan didampingi para santri dengan terus mengumandangkan shalawat burdah, Kiai Wahab lantas membuka satir yang diikat di menara masjid.

Setelah dibuka, ternyata di balik satir terdapat ukiran huruf hijaiyah ح (ha) ر (ra) ت (ta) م (mim) yang menempel. Begitu dilihat dengan seksama, Kiai Wahab mulai mengerti maksudnya. Huruf hijaiyah itu bila disambungkan akan terbaca huruntaaman yang artinya kemerdekaan yang sempurna.

Pada tahun 1948 kemerdekaan Indonesia mulai diakui dunia, agresi militer Belanda juga telah berhasil dipukul mundur. Karenanya, tahun-tahun sebelumnya, ketika kemerdekaan hampir saja diraih, Kiai Wahab menyuruh para santrinya untuk itikaf di masjid selama sehari penuh dengan membaca amalan shalawat burdah yang merupakan ijazah dari Kiai Chasbullah.

Kiai Wahab memilih menyendiri di dalam sebuah kamar. Begitupun para ulama santri di pesantren-pesantren lainnya, juga melakukan hal yang sama.

Isyarat tersebut juga datang dari teman seperjuangan Syekh Hasyim Asy’ari, yaitu Kiai Abdus Syukur, Senori, Tuban, yang meramalkan akan kedatangan Jepang dan kemerdekaan RI tanggal 17 Agustus 1945 (1365 H). Isyarat tersebut dalam syair Arab.

Arti dari syair Arab tersebut, “ Tarikkanlah bahwa Jepang akan menjinakkan Nusantara pada tahun ghisy-syisa (berdasarkan Hisabul Jummal adalah 1361 H / 1942 M). Ia sebagai kolonial yang menyengsarakan bangsa Indonesia. Silih berganti, peperangan, adu senjata, dan perihnya mengarungi samudera.”

“Ketika bulan Rajab (1365 H / Juni 1945 M) telah terjadi sebuah keajaiban, kemudian semakin lumpuh pada bulan Syaban (Juli 1945). Kemudian pada bulan Ramadan (17 Agustus 1945), datanglah masa gembira itu (proklamasi) bagi bangsa Indonesia.”

“Dan pada bulan Syawal (September 1945), penderitaan Nusantara semakin membaik (karena sudah merdeka). Posisi Indonesia semakin tenang dengan kemerdekaannya pada Dzulqaidah (Oktober 1945). Di bulan inilah Allah menampilkan sosok pemimpin yang dapat mengayomi masyarakatnya (Soekarno), seorang pemimpin sejati yang tidak ada duanya.”

Penglihatan tajam Kiai Chasbullah dan Kiai Abdus Syukur ini juga diisyarakatkan oleh ulama Aceh, Syekh Ibrahim ibn Husain Buengcala, Kuta Baro, Aceh, pada tahun 1288 H /1871 M, yang menyatakan bahwa negeri bawah angin (Nusantara) istimewanya akan lepas daripada tangan Holanda (Belanda), sesudah Cina bangsa lukid (mata sipit, maksudnya bangsa Jepang) masuk. Maka insyaAllah Ta’ala pada tahun Hijriyah 1365 (yakni tahun 1945 Masehi) lahir satu kerajaan yang adil bijaksana dinamakan al-Jumhuriyah ak-Indunisiyah yang sah.

Pada saat semua kerajaan di Nusantara tidak lagi berdaulat karena dalam cengkeraman kolonial, sehingga perlawanan pun dilakukan oleh kalangan santri dan tarekat. Bahkan Pangeran Diponegoro adalah seorang santri penganut tarekat Qadarriyah dan Syattariyah, bernama Abdul Hamid.

Ia lahir di Dusun Tegalrejo, Kecamatan Tegalrejo, Yogyakarta. Ia pernah nyantri kepada KH Hasan Besari di Pesantren Tegalsari, Jetis, Ponorogo, Kiai Taftazani Kertosuro, KH Baidlowi Bagelen Glodegan Bantul, Yogyakarta, dan KH Nur Muhammad Ngadiwongso Salaman Magelang. Kamar Diponegoro di Magelang, ada tiga peninggalan, yaitu Alquran, tasbih, dan kitab Taqrib (kitab Fath al-Qarib).

Bahkan Ki Hajar Dewantara atau Suwardi Suryaningrat juga seorang santri. Ia adalah santri KH Sulaiman Zainudin Kalasan Prambanan. Ada juga sayyid warga Kauman Semarang yang mengajak bangsa kita untuk bersyukur, dengan menyusun lagu Syukur. Dalam pelajaran sekolah dasar disebutkan H. Mutahar, padahal aslinya Habib Husein Muthahar, yang menciptakan lagu Syukur. Jadi, yang menciptakan lagu Syukur yang kita semua hafal adalah seorang keturunan Rasulullah SAW.

Habib Husein Muthahar juga pernah menyusun lagu saat mendengar adzan salat dzuhur. Sampai pada kalimat hayya ‘alasshalah terngiang suara adzan. Sehabis salat masih terngiang, akhirnya hatinya terdorong untuk membuat lagu yang cengkoknya mirip adzan. Kemudian pena berjalan, tertulislah lagu Hari Merdeka.

Menjelang tegaknya negara Indonesia, ulama mengalami proses konsolidasi menjadi komunitas komunitas berbeda.

Tampil sebagai inti dari komunitas santri, ulama memiliki pondasi kuat, baik secara kultural maupun sosial, yang mampu membuat mereka merespons berbagai perubahan di Hindia Belanda pada awal abad Ke-20.

Lalu terbentuklah asosiasi ulama pada 1926, Nahdlatul Ulama (NU). Dengan NU, pendefisian Islam oleh ulama bagi kaum Muslim Indonesia menjadi semakin intensif dan pembentukan otoritas mereka semakin meningkat.

Proses yang terus berlangsung di Indonesia kontemporer ini menunjukkan bahwa modal kultural dan sosial tersebut membuat ulama mampu mempertahankan posisi penting mereka dalam masyarakat dan politik Indonesia.

Dan tentunya juga mampu secara terus menerus membentuk otoritas untuk menjaga peranan mereka dalam masyarakat Indonesia modern. Dan berdirinya Indonesia sebagai Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) adalah salah satu masterpiece mereka

 

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on linkedin

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

IKUTI KAMI

%d blogger menyukai ini: