Jejak Spiritual Mbah Dalhar: Dari Makkah untuk Tanah Jawa

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on linkedin
KH Dalhar Watucongol /Foto: nu.or.id

Mengulas sosok ulama Mbah Dalhar Watucongol memang tidak pernah ada habisnya. Perjalanan spiritualnya sarat keteladanan, keberanian. Kegigihannya dalam mencapai setiap cita-citanya juga sangat patut diamalkan oleh siapapun dan kapanpun. Bukan saja dalam hal mendalami ilmu pengetahuan, tetapi konsistensinya dalam melawan penjajah sangat patut diteladani oleh generasi saat ini.

Tinggal di Gunungpring, Muntilan, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, Mbah Dalhar menjalankan aktivitas kesehariannya di pondok pesantren Ad Dalhariyah Watucongol yang sudah bertahan selama ratusan tahun. Sosok ulama besar yang lekat dengan riwayat pesantren ini, bernama Kiai Haji Nahrowi Dalhar. Dalam tulisan sebelumnya juga dijelaskan bahwa lebih sohor dengan sebutan Mbah Dalhar Watucongol.

Dalam tulisan tentang Mbah Dalhar sebelumnya, sudah diulas siapa dan bagaimana Mbah Dalhar. Termasuk metode syiar Islam dengan Tarikat Syadziliyah. Tulisan lanjutan ini akan lebih dalam mengulas hikmah kebaikan yang telah diamalkan Mbah Dalhar.

Pesantren Ad Dalhariyah Watucongol sudah berdiri sejak meletusnya Perang Jawa (1825-1830), salah satu perang terbesar yang pernah dihadapi penjajah Belanda di Nusantara, yang dipimpin oleh Pangeran Diponegoro. Kebetulan, ada keterkaitan antara Pangeran Diponegoro dengan kakek Mbah Dalhar Watucongol yakni Abdurrauf bin Hasan Tuqo.

Artikel NU Online (2013) bertajuk “Mbah Dalhar Watucongol: Kiai Pedakwah dan Pejuang Kemerdekaan” menyebutkan, Abdurrauf bin Hasan Tuqo adalah salah satu orang kepercayaan Pangeran Diponegoro. Kiai Abdurrauf diberi mandat untuk menjaga kawasan Magelang dan sekitarnya agar tidak dikuasai oleh Belanda.

Pada masa-masa genting inilah Abdurrauf bin Hasan Tuqo mendirikan Pesantren Darussalam Watucongol di Gunungpring sebagai tempat pendidikan agama Islam sekaligus markas santri-pejuang untuk menyusun taktik gerilya dalam Perang Jawa melawan penjajah.

Setelah Kiai Abdurrauf mangkat, Pesantren Darussalam Watucongol dikelola secara turun-temurun hingga diwariskan kepada K.H. Nahrowi Dalhar. Sebagai bentuk penghormatan sepeninggal Mbah Dalhar yang wafat pada 1959, nama pesantren tersebut diubah menjadi Ad Dalhariyah, terletak di Watucongol.

Kiai Keturunan Raja Mataram

Dalam buku Para Penjaga Al-Qur’an (2011) terbitan Kementerian Agama RI diungkapkan, Nahrowi dilahirkan pada 12 Januari 1870 atau tanggal 10 Syawal 1286 Hijriah. Nahrowi lahir di lingkungan Pesantren Darussalam Watucongol, Gunungpring, Muntilan. Ayah Nahrowi, yakni Abdurrahman bin Abdurrauf bin Hasan Tuqo, saat itu menjadi pengasuh di pondok pesantren tersebut.

Dari garis ayahnya, Nahrowi bin Abdurrahman bin Abdurrauf bin Hasan Tuqo masih memiliki garis darah raja-raja Jawa. Hasan Tuqo atau Raden Bagus Kemuning, kakek buyutnya, mewarisi trah Mataram dari Amangkurat III (1703-1705 M) alias Sunan Mas yang bertakhta di Kraton Kartasura sebagai kerajaan penerus Kesultanan Mataram Islam.

Raden Bagus Kemuning yang merupakan seorang pangeran rupanya tidak suka hidup dalam kemewahan di lingkungan kraton. Maka, ia kemudian keluar dari istana untuk berkelana menimba ilmu agama, belajar kepada banyak guru, kiai, atau ulama dari satu tempat ke tempat yang lain.

Hingga akhirnya, putra Hasan Tuqo, yakni Abdurrauf, mewujudkan keinginan ayahnya dengan mendirikan Pesantren Darussalam saat berkecamuknya Perang Jawa.

Setelah Kiai Abdurrauf wafat, pengelolaan pondok pesantren itu dilanjutkan secara berturut-turut ke dua generasi berikutnya, yaitu Abdurrahman lalu ke anaknya, Nahrowi.

Berguru Hingga ke Tanah Suci

Hasrat menimba ilmu sebanyak mungkin yang pernah dilakoni oleh Hasan Tuqo ternyata menurun kepada cicitnya, Nahrowi. Sejak kecil, Nahrowi muda sudah belajar ilmu agama dari ayahnya sebelum berguru kepada ulama-ulama lainnya.

Ketika menginjak usia 13 tahun, Nahrowi belajar kepada Kiai Mad Ushul di Salaman, Magelang, untuk mendalami tauhid selama 2 tahun. Setelah itu, Nahrowi oleh ayahnya dititipkan kepada Syekh  as-Sayyid Ibrahim bin Muhammad al-Jilani al-Hasani atau yang lebih dikenal sebagai Syekh Abdul Kahfi ats-Tsani, di Pesantren Al-Kahfi Somalangu, Kebumen, selama 8 tahun.

Dari kediaman Syekh Abdul Kahfi ats-Tsani inilah perjalanan spiritual Nahrowi berlanjut dan semakin meluas. Ia mendapatkan kesempatan ke Makkah pada 1896 untuk menemani putra dari Syekh Abdul Kahfi ats-Tsani, yakni Sayyid Muhammad al-Jilani al-Hasani.

Maka, berangkatlah mereka ke tanah suci dengan menumpang kapal dari pelabuhan Semarang. Nahrowi saat itu berusia 26 tahun. Ada kisah menarik mengenai perjalanan dua pemuda ini dari Kebumen menuju Semarang.

Sepanjang perjalanan, Nahrowi memilih berjalan kaki dan menuntun kuda yang dinaiki Sayyid Muhammad al-Jilani al-Hasani. Ia menolak dengan halus ajakan untuk menunggang kuda bersama. Hal tersebut Nahrowi lakukan sebagai bentuk pengabdian dan penghormatan kepada gurunya.

Berbulan-bulan lamanya berlayar, akhirnya mereka tiba di tanah suci dan diterima oleh kerabat Syekh Abdul Kahfi ats-Tsani yang juga seorang mufti syafi’iyah bernama Syekh Sayyid Muhammad Babashol al-Hasani.

Belum genap setahun dua pemuda tersebut belajar di Makkah, terjadi konflik di Hijaz yang membuat Sayyid Muhammad al-Jilani al-Hasani turut bertempur. Jalan hidup Nahrowi ternyata berbeda dengan putra gurunya, ia tak ikut angkat senjata. Nahrowi muda tetap menetap di Makkah untuk belajar ilmu agama, bahkan hingga 25 tahun lamanya.

Semasa belajar di tanah Arab, Nahrowi kerap melakukan riyadhah, mencari tempat-tempat sunyi untuk berdoa, zikir, atau melaksanakan ibadah lainnya dengan tujuan mendekatkan diri kepada Allah. Nahrowi juga sangat menjaga kesucian Makkah. Setiap kali ia ingin buang hajat, ia tidak pernah melakukannya di tanah suci, melainkan ke luar dulu dari Makkah.

Setelah 25 tahun masa belajar di Timur Tengah, Nahrowi kembali ke tanah kelahirannya, membawa ilmu dan segala kebaikan. Sejak itulah nama Dalhar mulai santer terdengar. Nahrowi mendapatkan nama Dalhar dari Syekh Sayyid Muhammad Babashol al-Hasani. Maka, ia kemudian lebih dikenal dengan nama Nahrowi Dalhar.

Nahrowi Dalhar pulang ke tanah air dengan membawa dua ijazah dari Makkah. Masing-masing adalah ijazah mursyid Thariqah Syadziliyyah dari Syekh Muhtarom al-Makki dan ijazah aurad Dalailul Khairat dari Sayyid Muhammad Amin al-Madani. Dua ijazah ini nantinya menjadi amaliah rutin yang semakin membuat nama Mbah Dalhar masyhur di Nusantara.

Lulusan Arab yang Tidak Melupakan Jawa

Seolah melanjutkan perjuangan kakek buyutnya yang bersama Pangeran Diponegoro menghadapi Belanda dalam Perang Jawa, Kiai Dalhar juga punya sisi kepahlawanan pada zaman yang berbeda. Pesantren Darussalam Watucongol pernah menjadi markas sekaligus tempat singgah para pejuang republik yang berjuang mempertahankan kemerdekaan.

Seperti diketahui, setelah Indonesia merdeka tanggal 17 Agustus 1945, pasukan Belanda datang lagi dengan membonceng Sekutu untuk kembali menjajah. Pecahlah banyak front peperangan di berbagai daerah, termasuk di Magelang.

Kiai Dalhar menyediakan pondok pesantrennya sebagai markas para pejuang republik. Para pejuang itu meminta restu kepada Mbah Dalhar agar diberikan keselamatan dan kemenangan dalam berjuang melawan kezaliman orang-orang Belanda.

Nurul Hidayat melalui artikel “K.H. Nahrowi Dalhar Watucongol Magelang, Biografi Singkat” yang dimuat di Surau.co (2020) menuliskan, Kiai Dalhar dikenal sebagai guru para ulama. Kharisma dan ketinggian ilmunya menjadikan rujukan umat Islam untuk menimba ilmu. Mbah Dalhar adalah sosok yang disegani sekaligus panutan umat Islam, terutama di Jawa Tengah, dan mendidik banyak ulama yang mumpuni.

Beberapa kiai dengan nama besar terhitung sebagai murid Mbah Dalhar, termasuk K.H. Ma’shum (Lasem), K.H. Mahrus Aly (Lirboyo), K.H. Abuya Dimyati (Banten), K.H. Ahmad Marzuqi (Giriloyo), K.H. Hamim Tohari Djazuli atau Gus Miek, dan masih banyak lagi.

Meskipun Kiai Dalhar menghabiskan seperempat abad hidupnya di tanah Arab untuk memperdalam ajaran Islam, ia tidak lantas melupakan asal-usulnya, yakni Jawa. Baginya, budaya Islam tidak sama dengan budaya Arab.

Menurut Kiai Dalhar, hal yang paling penting disampaikan dari Arab ketika pulang ke Jawa adalah ajaran Islamnya, bukan sekadar adat dan tradisi Arabnya. “Hebatnya Mbah Dalhar itu, beliau bisa membedakan mana yang ajaran mana yang adat dan tradisi,” kata menantu Kiai Dalhar, K.H. Achmad Chalwani Nawawi.

Ada beberapa amalan kebaikan yang diajarkan oleh Mbah Dalhar dengan memadukan Islam dan falsafah hidup orang Jawa, seperti doa Allaahumma ubat ubet biso nyandang biso ngliwet untuk meminta rezeki, atau Allaahumma ubat ubet mugo-mugo pinaringan slamet untuk memohon keselamatan.

Tanggal 8 April 1959, Mbah Dalhar kembali ke tempat segala sesuatu berasal, ia meninggalkan dunia untuk selama-lamanya. Jenazah sang mursyid dikebumikan di pemakaman Gunungpring, Watucongol, Muntilan, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah.

Salah satu warisan Mbah Dalhar adalah kitab berjudul Tanwirul Ma’ani. Kitab berbahasa Arab ini berisi biografi (manaqib) Syekh As-Sayid Abil Hasan ‘Ali bin Abdillah bin Abdil Jabbar As-Syadzili Al-Hasani, imam thariqah As-Syadziliyyah.

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on linkedin

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

IKUTI KAMI

%d blogger menyukai ini: