Etika Syekh Subakir Mengislamkan Tanah Jawa

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on linkedin
syekh-subakir
Makam Syekh Subakir, Magersari, Kec. Magelang Sel., Kota Magelang, Jawa Tengah /Foto: Googlemap-Nararya Rida

SYEKH Subakir yang datang jauh-jauh dari negeri Persia berhasil mendekati orang -orang Jawa. Waliyullah itu juga berhasil mengenalkan Islam. Umar (60), pengelola situs sejarah Syekh Subakir di Desa Penataran, Kecamatan Nglegok, Kabupaten Blitar, Provinsi Jawa Timur, mendapat cerita itu (folk tale) secara turun-temurun.

Kisah yang ia peroleh, penduduk Jawa menerima kehadiran Syekh Subakir dengan tangan terbuka. “Kehadiran Syekh Subakir bisa diterima orang-orang Jawa,” tutur Umar saat ditemui di petilasan Syekh Subakir. Umar tidak tahu kapan pastinya peristiwa itu terjadi. Tak ada catatan ilmiah yang menuliskan.

Ia juga sulit melukiskan sosok Syekh Subakir. Setinggi apa postur tubuhnya. Seperti apa penampilannya. Apakah berbaju gamis, berjubah, seperti halnya budaya masyarakat Timur Tengah atau ikut melebur dengan cara berpakaian orang Jawa? Umar hanya menggelengkan kepala.

Yang bisa ia yakini, kedatangan Syekh Subakir di tanah Jawa, berlangsung jauh sebelum Wali Songo ada. Penyebaran Islam era Wali Songo dimulai pada masa akhir Kerajaan Majapahit. Puncaknya di awal berdirinya Kerajaan Demak. Sepengetahuan Umar, Syekh Subakir menjadi milestone jejak penyebaran Islam di tanah Jawa. Sebagai tonggak awal.

“Diyakini Syekh Subakir adalah yang mula-mula menyebarkan Islam di Jawa utusan khalifah Baghdad,” terang Umar yang sebisa mungkin menuturkan yang diketahui. Sebagian besar juga meyakini, keberhasilan Syekh Subakir masuk ke Jawa terkait erat dengan cerita “tumbal” yang ia pasang di tanah Jawa.

Sebelum syiar Islam. Di atas Gunung Tidar Magelang, Jawa Tengah yang dipercaya sebagai pusernya (Pusat) tanah Jawa. Syekh Subakir menanam tumbal keselamatan. “Bagi yang mampu melihat, tumbal itu katanya berwujud pusaka,” kata Umar yang mulai aktif mengelola petilasan Syekh Subakir sejak tahun 2000.

Baca juga : Kiai Ageng Muhammad Hasan Besari, Ulama Tegalsari Simpul Nusantara 

Dalam catatan buku Atlas Walisongo, Agus Sunyoto menulis, istilah menanam “tumbal” berkaitan erat dengan usaha rohani. Upaya membersihkan tempat dari hal-hal yang dianggap tidak bersih. “Menyucikan suatu tempat dengan cara menanam “tanah” di tempat yang dianggap angker,” tulis Agus Sunyoto.

Sebelum Syekh Subakir tiba dan menanam tumbal. Tanah Jawa seisinya terkenal sebagai tanah angker sekaligus galak. Dari kejauhan, konon pulau terlihat seperti kobaran api yang tak pernah padam. Keangkeran Jawa, kata Umar disebabkan banyaknya makhluk halus, lelembut jahat yang menghuni.

Mereka mencelakai orang-orang asing yang tidak mengerti dan sekaligus kurang hati-hati dengan Jawa. Umar cerita, sebelum Syekh Subakir dating, Khalifah Baghdad pernah mengirim utusan untuk mengislamkan Jawa. Namun misi itu gagal. Ada yang kembali dengan selamat dan ada yang tumpas oleh keganasan penghuni Jawa.

Kemudian diutuslah Syekh Subakir. “Dengan tumbal yang dipasang Syekh Subakir, semua gangguan itu berhasil  diredam,” demikian Umar mengisahkan. Dalam Babad Walisana (Babad Para Wali disandarkan pada Karya Sunan Giri II), R Tanoyo menuliskan usaha pengislaman Jawa oleh Sultan al-Gabah dari negeri Rum (Turki Usmani).

Sultan mengirim 20.000 keluarga muslim ke Pulau Jawa. Sebagian besar dari mereka tewas terbunuh. Tinggal sekitar 200 keluarga yang selamat. Sultan al-Gabah marah. “Kemudian mengirim ulama, syuhada dan orang sakti ke Jawa untuk membinasakan para “jin, siluman dan brekasan” penghuni Jawa,” tulis R Tanoyo.

Salah satu di antara ulama sakti yang datang ke Jawa itu adalah Syekh Subakir. Situs Syekh Subakir di Desa Penataran, berada di sebelah utara masjid. Bentuknya makam berukuran panjang, lengkap dengan batu nisan yang berselubung kain mori. Umar membuka selubung. Pada permukaan nisan yang entah terbuat dari batu pualam kuno atau jenis lain, ia memperlihatkan guratan.

Goresan yang sekilas seperti rangkaian kata itu menurut Umar aksara Arab, yang sampai hari ini belum diketahui artinya. Umar meyakini situs yang ada adalah makam. Sebagian lain meyakini situs tersebut hanya petilasan atau persinggahan Syekh Subakir sebagaimana di tempat lain. “Tapi apakah itu makam Syekh Subakir wallahulam,” tutur Umar.

Agus Sunyoto dalam Atlas Wali Songo mencatat, di sejumlah tempat di pantai utara Jawa yang dikenal sebagai Makam Panjang. Sebuah tempat di Gresik, Lamongan, Tuban, Rembang dan Jepara, diyakini sebagai kuburan atau bekas petilasan. Di lokasi makam situs sejarah Syekh Subakir di Penataran Blitar, juga terdapat lempengan batu candi.

Batu yang di permukaannya terdapat cekungan halus itu, diyakini sebagai tempat Syekh Subakir bersujud. “Karenanya dinamai batu Pasujudan. Tempat Syekh Subakir bersujud, sembahyang,” kata Umar. Tepat di sebelah kanan kiri makam Syekh Subakir juga terdapat makam lain. Posisinya sedikit di bawah. Dua makam tersebut, menurut Umar adalah pusara Syekh Bela Belu.

Diyakini juga sebagai penyebar agama Islam yang riwayatnya belum banyak diketahui. Dulu posisi kedua makam berada di depan masjid. Kemudian pada tahun 2019, pengurus memindahkan di tempat sekarang ini.

“Saat proses pemindahan dilakukan ritual tujuh kali khatam Alquran dalam semalam. Yang melakukan 35 orang penghafal Quran,” ungkap Umar.

Lokasi situs sejarah Syekh Subakir yang tidak pernah sepi peziarah untuk bertahlil, berjarak dekat dengan kawasan Candi Penataran. Sekitar 500 meter. Candi Penataran merupakan candi Budha Syiwa terbesar di Jawa Timur yang sudah berdiri sejak era Kerajaan Kediri. Pada masa Kerajaan Majapahit, Penataran dikenal sebagai candi pemujaan dewa gunung. Lantaran setiap Gunung Kelud meletus, selalu menelan korban jiwa jumlah besar.

Umar semakin yakin, keberhasilan Syekh Subakir mengenalkan Islam di tanah Jawa tidak lepas dari etika yang dijunjung tinggi. Sebagai tamu, Syekh Subakir lebih dulu berkomunikasi baik-baik dengan penguasa Jawa saat itu. Ada etika sopan santun, unggah-ungguh yang dikedepankan. Ketika menjejakkan kaki di tanah Jawa, ia mengetuk pintu lazimnya tamu yang datang ke rumah orang.

Tanpa mengusik nilai-nilai keyakinan serta budaya penduduk yang sudah mapan, Syekh Subakir memperkenalkan Islam. Ia mampu menyelami situasi kebatinan masyarakat Jawa.

“Syekh Subakir datang dengan cara merangkul. Menata tempatnya dulu, yakni dengan memasang tumbal, lalu menata manusianya dengan cara yang tidak memaksa,” pungkas Umar.

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on linkedin

2 Comments

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

IKUTI KAMI

%d blogger menyukai ini: