Cerita Ponpes PETA Tulungagung, Orang Kaya Bersyukur Lebih Baik Dari Orang Miskin yang Sabar

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on linkedin
peta
KH. Abdul Jalil Mustaqim (mbah Jalil) /Foto: generasisalaf.wordpress.com

santrikertonyonoGus Dur (KH Abdurrahman Wahid) bersilaturahmi ke pondok pesantren Pesulukan Thoriqoh Agung (PETA) Tulungagung, Jawa Timur. Gus Dur datang bersama keluarganya. KH Abdul Jalil Mustaqim atau Mbah Jalil, selaku tuan rumah sekaligus pengasuh ponpes PETA, menyambut tamunya dengan ramah. Mbah Jalil merupakan mursyid tarekat Syadziliyah. Mbah Jalil juga dikenal sebagai ulama yang mengakrabi seni dan budaya. Melukis dan bermain alat musik, menjadi salah satu kegemarannya.

Konon, tiap ke Tulungagung Gus Dur selalu menyempatkan diri sowan ke Mbah Djalil. Begitu juga saat itu. Usai ngobrol gayeng, Gus Dur pamitan. Mereka berencana langsung bertolak ke Jakarta. Entah apa yang terjadi. Mbah Jalil tiba-tiba meminta Gus Dur untuk tetap tinggal.

Kalaupun tak menginap di Tulungagung, Gus Dur disarankan lebih baik pulang ke Tebuireng Jombang.  “Asal tak ke Jakarta dulu,” demikian cerita tutur yang berkembang.

Mbah Jalil seolah “menghalangi” Gus Dur yang bersiap kembali ke Jakarta. Kiai Djamaluddin Ahmad, santri Ponpes PETA menuturkan dalam Tebuireng.co (19/3/2022). Saat mengantar di depan pintu rumah, Mbah Jalil menyentuh pundak Gus Dur dan berkata,” Gus,yang sabar ya..”.

Mbah Jalil tak menjelaskan maksud ucapannya, kenapa harus bersabar. Namun Gus Dur patuh dan mengurungkan  ikut kembali ke Jakarta. Gus Dur memilih melakukan perjalanan ke Jombang.

Saat itu tanggal 14 Maret 1993. Di jalan raya Tol Cikampek, petaka terjadi. Mobil yang ditumpangi keluarga Gus Dur tiba-tiba mengalami pecah ban. Sopir kendaraan meninggal dunia. Ibunda Gus Dur mengalami luka-luka yang tak lama kemudian juga meninggal dunia. Sementara kaki Hj Sinta Nuriyah, istri Gus Dur cedera serius yang membuatnya tidak bisa berjalan seumur hidup.

Entah kebetulan atau tidak, larangan Mbah Jalil telah menyelamatkan Gus Dur. Dalam lingkungan pesantren, apa yang diungkapkan Mbah Jalil akrab dinamai isyaroh. Kemampuan membaca peristiwa yang bakal terjadi itu lazim disebut mukasyafah, yang secara luas ditafsirkan mengetahui sesuatu yang tersembunyi atau gaib. Dalam tradisi Jawa disebut weruh sakdurunge winarah. “Mengetahui sesuatu yang akan terjadi”.

Nama Mbah Jalil dan Ponpes PETA Tulungagung populer, terutama di lingkungan sejumlah elit nasional. Pada jelang pemilu legislatif dan Pilpres 2004, banyak tokoh yang sowan ke Ponpes PETA. Nama-nama diantaranya adalah  Amien Rais, Nurcholis Madjid (Cak Nur), Jusuf Kalla, dan Try Soetrisno. Bahkan Try Soetrisno pernah merayakan ulang tahun di kediaman Mbah Jalil. Gus Dur sendiri sudah tak terhitung kali bersilaturahmi ke Ponpes PETA.

Mbah Jalil selalu menyambut setiap tamu-tamunyanya dengan ramah. Tutur katanya senantiasa halus. Senyum tak pernah lepas menghiasi wajah Mbah Jalil. “Jadi sufi itu harus banyak senyum. Dan jangan merasa terbebani persoalan-persoalan berat,” tutur Mbah Jalil berdasarkan cerita tutur yang berkembang.

Ponpes PETA Tulungagung dan Perjuangan Kemerdekaan

Berada di Jalan KH. A Wahid Hasyim, Kelurahan Kauman, Kabupaten Tulungagung, Ponpes PETA berdiri pada tahun 1930. KH Mustaqim bin Muhammad Husain mendirikan Ponpes PETA sebagai tempat yang khusus untuk  mendalami ilmu tasawuf atau tarekat Syadziliyah.

Nama tarekat Syadziliyah merupakan penisbahan pada Abu al-Hasan al-Syadzili,  ulama asal Gumara Tunisia, Afrika Utara yang mendirikan tarekat Syadziliyah. Mbah Mustaqim lahir 1901 di  Desa Cangkring, Kecamatan Kras, Kabupaten Kediri.

Ayahnya diketahui bernama Husain bin Abdul Jalil. Mbah Mustaqim merupakan dzuriyah ke-19 Mbah Panjalu. “Seorang penyebar Islam yang makamnya ada di Ciamis, Jawa Barat,” tulis M Solahudin dalam buku Napak Tilas Masyayikh Biografi 25 Pendiri Pesantren Tua di Jawa- Madura.

Dalam cerita tutur yang berkembang, Mbah Mustaqim sejak berumur 12 tahun, menimba ilmu kepada Kiai Zarkasyi Tulungagung. Ia dikenal tekun berdizikir sehingga mengalami mukasyafah (terbukanya mata batin). Tak heran Mbah Mustaqim mampu melihat hal-hal yang tak terlihat penglihatan orang lain.

Dalam menjalani hidup, Mbah Mustaqim dikenal sebagai pekerja keras. Asalkan halal, pekerjaan apa saja ia lakukan. Mbah Mustaqim pernah menjadi tukang linting rokok. Kemudian tukang potong rambut, tukang jahit sepatu, dan berdagang.

Mbah Mustaqim juga pernah memiliki toko bernama Bintang Sembilan. Meski hidupnya pas-pasan, ia tak pernah meninggalkan kegiatan amar ma’ruf. “Yang dilakukannya adalah mengajarkan dzikir kepada masyarakat,” tulis M Solahudin.

Mbah Mustaqim menerima baiat tarekat Syadziliyah secara mutlak dari KH Abdur Razzaq bin KH Abdullah dari Ponpes Tremas Pacitan. Artinya Mbah Mustaqim dibolehkan mengijazahi atau membaiat orang lain ke dalam tarekat Syadziliyah.

Kiai Abdur Razzaq merupakan saudara Syekh Mahfudz al-Turmusi.  Kiai Abdur Razzaq juga mengijazahi Mbah Mustaqim hizib Baladiyah atau hizib Burhatiyah. Dalam cerita tutur yang berkembang, Mbah Mustaqim sebaliknya mengijazahi Kiai Abdur Razzaq hizib Kafi dan tarekat Qadiriyah.

Sebelum berbaiat ke dalam tarekat Syadziliyah, Mbah Mustaqim merupakan pengamal tarekat Qadiriyah wa Naqsabandiyah. Ia dibaiat langsung oleh Kiai Hudlari bin Hasan Malangbong, Garut Jawa Barat.

Pada masa penjajahan Jepang (1942-1945), Mbah Mustaqim pernah ditangkap Jepang lantaran menolak melakukan saikeirei, yakni membungkuk 90 derajat untuk menghormat kepada Kaisar Jepang, Tenno Heika. Mbah Mustaqim dijebloskan ke dalam penjara bersama Mbah Hasyim Asya’ari, kakek Gus Dur.

Jepang menyiksa Mbah Mustaqim dengan cara menjepitkan balok es ke tubuhnya. Kemudian menjatuhkannya dari ketinggian 10 meter. Konon karena karomah yang dimiliki, mursyid tarekat Syadziliyah yang menguasai banyak bahasa asing itu selamat.

Mbah Mustaqim menikah dengan Nyai Halimah Sa’diyah, putri Haji Rois, dari  Kauman, Tulungagung.  Dari pernikahannya, Mbah Mustaqim dikaruniai 11 orang anak. Saat wafat pada tahun 1970, Abdul Jalil Mustaqim atau Mbah Jalil, putranya kesembilan yang melanjutkan perjuangannya.

Mbah Jalil menggantikan posisi Mbah Mustaqim sebagai mursyid tarekat Syadziliyah. Sejak muda, Mbah Djalil menimba ilmu dari satu pesantren ke pesantren lain. Di pesantren Mojosari, Loceret, Nganjuk, Mbah Jalil nyantri selama 11 tahun.

Kemudian melanjutkan belajar di Pesantren Ploso Kediri dan sejumlah pesantren di Jawa lainnya. “Kiai Jalil baru boyong ke Tulungagung setelah sang ayah wafat,” demikian riwayat yang berkembang. Mbah Jalil terkenal dengan pemikirannya yang moderat sekaligus egaliter. Menurut Mbah Jalil, menjadi pengamal tarekat tidak cukup hanya membaca berbagai aurad tanpa peduli dengan urusan duniawi. Seorang pengamal tarekat harus peka terhadap persoalan di sekitarnya.

“Orang yang rajin melaksanakan salat lima waktu, tekun bekerja, terus mencari ilmu, itu juga termasuk bagian dari menjalankan tarekat,” kata Mbah Jalil seperti dikutip M Solahudin dalam buku Napak Tilas Masyayikh Biografi 25 Pendiri Pesantren Tua di Jawa- Madura.

Mbah Jalil juga memiliki penafsiran yang beda soal uzlah atau mengasingkan diri. Uzlah yang hakiki, kata Mbah Jalil adalah kemampuan beruzlah di tengah keramaian. Uzlah yang sebenarnya adalah kemampuan senantiasa berdzikir dan ingat kepada Allah dalam kondisi apapun, baik sendiri maupun di tengah keramaian.

Menurut Mbah Jalil mengamalkan tarekat bukan berarti menjauhkan diri dari kehidupan duniawi secara lahiriyah. Zuhud yang sebenarnya adalah mengosongkan hati dari selain Allah. “Katanya, orang kaya yang bersyukur lebih baik daripada orang miskin yang bersabar”.

Mbah Jalil memiliki kharisma besar seperti ayahnya. Tak heran, banyak tokoh nasional yang sowan ke Ponpes PETA Tulungagung untuk bersilaturahmi kepadanya. Mbah Jalil wafat pada tahun 2005. Putranya, KH Charir Mohammad Sholahuddin al-Ayyubi atau akrab dipanggil Gus Saladin, melanjutkan perjuangannya hingga sekarang. Gus Saladin ditunjuk sebagai mursyid tarekat Syadziliyah saat Mbah Jalil masih hidup.

Para santri Ponpes PETA berasal dari berbagai latar belakang, dan berjumlah ribuan. Hal itu terlihat saat berlangsungnya peringatan haul Mbah Mustaqim dan Mbah Jalil. “Bahkan ada (santri) yang berasal dari Malaysia dan Brunei Darussalam,” pungkas M Solahudin.

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on linkedin

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

IKUTI KAMI

%d blogger menyukai ini: