Berdirinya NKRI & Gelora Nasionalisme Ulama-Santri

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on linkedin
Para Pengajar Madrasah Darul Ulum Makah /Foto: nu.or.id

Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) akhirnya dapat berdiri. Resolusi Jihad telah membentangkan darah para syuhada sebagai saksi sejarah atas ditegakkannya NKRI.

Zainul Milal Bizawie dalam buku Masterpiece Islam Nusantara, Sanad dan Jejaring Ulama-Santri (1830-1945), menyebutkan Resolusi Jihad menjadi momentum bersejarah, puncak perlawanan dan sejarah panjang jihad yang tidak pernah berhenti dinyalakan para ulama dan santri.

Pesantren menjadi tempat persemaian semangat antikolonialisme, cinta Tanah Air, dan jihad fisabilillah menjadi bentuk rasa kebangsaan yang khas bagi Indonesia. Selama berabad-abad pesantren telah menanamkan nasionalisme bagi tegaknya negara dan bangsa Indonesia.

Dijelaskan melalui buku itu, banyak ulama-santri yang tidak pernah padam melakukan perlawanan terhadap kolonial sehingga meledakkan perang besar sepanjang sejarah, yaitu Perang Jawa. Dalam pasukan Pangeran Diponegoro selain terdapat para bangsawan juga dipenuhi para ulama-santri dari berbagai penjuru tanah Jawa.

Para ulama-santri itulah yang kemudian hari meneruskan perjuangan ketika Pangeran Diponegoro ditangkap. Di antara sisa-sisa pasukan Diponegoro yang di kemudian hari menjadi pionir-pionir terbentuknya kembali jejaring ulama Nusantara baik di lokal maupun internasinal, ada Kiai Abdus Salam Jombang, Kiai Umar Semarang, Kiai Abdurrauf Magelang, Kiai Muntaha Wonosobo, Kia Yusuf Purwakarta, Kiai Musta’ad Cirebon, Kiai Hasan Besari Tegalsari Ponorogo dengan muridnya Kiai Abdul Manan Pacitan dan lainnya.

Setelah Pangeran Diponegoro tertangkap, perlawanan terhadap Belanda tidak pernah surut datang dari para ulama-santri dan justru lebih strategis dan efektif. Bahkan lebih dari 130 pertempuran dilakukan kalangan pesantren sejak Diponegoro ditangkap.

Selain melalui pertempuran, pembinaan kader-kader penerus juga dilakukan. Pada akhir abad ke-19, muncullah Syekh Nawawi Banten yang meneruskan perjuangan Syekh Yusuf al Makassari. Kiai Sholeh Darat yang meneruskan perjuangan ayahnya Kiai Umar Semarang, Syekh Mahfudz Tremas cucu Kiai Abdul Manan yang meneruskan perjuangan Kiai Hasan Besari, Kiai Abdul Djamil dan Kiai Abbas Buntet yang meneruskan perjuangan Kiai Muta’ad, dan Syekh Hasyim Asy’ari serta Kiai Wahab Hasbullah keturunan Kiai Abdus Salam Jombang dan masih banyak lagi ulama lainnya.

Ulama-ulama tersebut telah berhasil membangun jejaring ulama Nusantara yang menjalin keterikatan hubungan antara guru-murid yang di kemudian hari membangun jam’iyah Nahdlatul Ulama yang memiliki kontribusi penting bagi terbangunnya pergerakan nasional menegakkan bangsa dan negara Indonesia.

Lebih lanjut diuraikan Zainul Milal Bizawie, begitu strategisnya jejaring ulama-santri, sehingga sebelum menemui Marsekal Terauchi ke Dalat, Soekarno telah mengadakan konsultasi dengan beberapa pemuka agama Islam di antaranya Hadlaratussyekh Hasyim Asy’ari mengenai kemungkinan hari atau tanggal diumumkannya kemerdekaan serta jaminan dari umat Islam jika proklamasi jadi diumumkan.

Hadlaratussyekh Hasyim Asy’ari memberikan jaminan bahwa pihaknya telah menghubungi Angkatan Laut Jepang di Surabaya dan mereka setuju jika Soekarno nantinya yang akan dijadikan sebagai pimpinan negara begitu kemerdakaan diumumkan. Jaminan tersebut merupakan penegasan bahwa Nahdlatul Ulama akan berdiri di belakang proklamasi dan membelanya dari pihak-pihak yang mencoba menggagalkan dan menentangnya.

Pergerakan ulama-santri melawan kolonial bermuara pada terbentuknya Laskar Hizbullah. Tradisi perlawanan terhadap kolonial terus dijaga oleh ulama dan melalui NU serta MIAMI atau Masyumi bahkan perjuangan dan pergerakan melawan kolonial tersebut lebih efektif karena mempunyai struktur NU dan basis massanya tersebar di pedesaan.

Di saat Perang Dunia II meletus, dan Jepang menguasai Hindia Belanda, para ulama terus berijtihad agar kemerdekaan RI segera terwujud. Memanfaatkan kelemahan Jepang yang terjepit oleh sekutu meski penindasan Jepang begitu kejam terhadap rakyat, para ulama mencoba membangun persiapan-persiapan menyongsong kemerdekaan. Jepang memahami kalangan Islam sangat penting dan memiliki posisi strategis, karenanya Jepang berupaya merangkul Islam khususnya dunia pesantren. Dalam konteks inilah Laskar Hizbullah dibentuk untuk mempersiapkan kemerdekaan RI dan mempertahankannya.

Saat kemerdekaan RI diproklamirkan, Laskar Hizbullah, baik secara moral maupun organisasional dalam keadaan utuh dan penuh semangat juang tinggi. Secara organisasional, Hizbullah dalam keadaan solid hingga masa-masa setelah Proklamasi Kemerdekaan. Bahkan, Laskar Hizbullah menjadi salah satu kesatuan bersenjata yang paling siap dalam dalam menyongsong satu era baru yakni era Revolusi Kemerdekaan. Untuk membela Tanah Air, pada 17 September 1945, Fatwa Jihad telah ditandatangani Hadlaratussyekh Hasyim Asy’ari yang kemudian dikokohkan dengan oleh sebuah rapat para kiai pada tanggal 21-22 Oktober 1945 yang dikenal Resolusi Jihad.

Resolusi Jihad tidak hanya sebagai pengobar semangat ulama-santri, tetapi juga bertujuan mendesak pemerintah agar segera menentukan sikap melawan kekuatan asing yang ingin menggagalkan kemerdekaan.

Banyak terjadi pertempuran-pertempuran yang melibatkan para kiai dan santri yang tergabung dalam Laskar Hizbullah dan Sabilillah. Di saat tentara negara belum efektif terutama jalur komandonya, laskar ulama santri telah sigap menghadapi berbagai ancaman yang akan terjadi. Bahkan konsolidasi dan jalur komando Laskar Hizbullah dengan dukungan struktur NU dan Masyumi begitu massif hingga ke pedesaan.

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on linkedin

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

IKUTI KAMI

%d blogger menyukai ini: