Asal-Usul Santri & Pesantren di Nusantara: Sudah Ada Sejak Zaman Pra-Islam?

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on linkedin
Makam Syekh Subakir, Magersari, Kec. Magelang Sel., Kota Magelang, Jawa Tengah /Foto: Googlemap-Nararya Rida

Istilah “santri” disematkan kepada orang yang sedang atau pernah memperdalam ajaran Islam di pondok pesantren. Namun, asal-usul “santri” dan “pesantren” diperkirakan sudah bermula sejak masa Hindu-Buddha di Jawa atau sebelum masuknya agama Islam ke Nusantara. Benarkah?

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), ada dua arti untuk memaknai kata “santri”. Pertama adalah “orang yang mendalami agama Islam”, dan kedua adalah “orang yang beribadah dengan sungguh-sungguh atau orang yang saleh”.

Sedangkan arti kata “pesantren”, masih menurut KBBI, dapat dimaknai sebagai “asrama tempat santri atau tempat murid-murid belajar mengaji dan sebagainya; pondok” atau “madrasah”.

Kendati terlanjur lekat dengan Islam, terutama Islam di Indonesia yang bersinergi dengan budaya atau tradisi lokal, ada pendapat yang meyakini bahwa “santri” atau tradisi “nyantri” sudah ada sejak masa Hindu-Buddha atau sebelum masuknya Islam di Jawa maupun Nusantara.

Menelisik Asal-Usul Istilah Santri

Habib Mustopo dalam Kebudayaan Islam di Jawa Timur: Kajian Beberapa Unsur Budaya Masa Peralihan (2001) berpendapat, kata “santri” berasal dari bahasa Sanskerta. Sanskerta adalah bahasa liturgis dalam Hindu dan Buddha, juga pernah dipakai di Nusantara sejak abad 2 Masehi hingga menjelang runtuhnya Kerajaan Majapahit pada abad ke-16 seiring kuatnya pengaruh Islam di Jawa.

Akar kata “santri” diambil dari istilah dalam bahasa Sanskerta yaitu sastri yang artinya “melek huruf” atau “bisa membaca”. Pendapat ini selaras dengan rumusan C.C. Berg yang menyebut “santri” berasal dari kata shastri yang dalam bahasa India berarti “orang yang mempelajari kitab-kitab suci agama Hindu”.

Menurut Sa’id Aqil Siroj, seperti tertulis dalam buku Pendidikan Karakter Berbasis Tradisi Pesantren (2014) suntingan Ibi Syatibi, peralihan kata shastri menjadi santri diadopsi oleh Wali Songo, sebagaimana misalnya syahadatain dari bahasa Arab menjadi sekaten dalam bahasa Jawa.

Zamakhsyari Dhofir lewat buku Tradisi Pesantren (1985) mengutip pendapat Karel A. Steenbrink yang mendukung kajian C.C. Berg menyebutkan bahwa, dilihat dari segi bentuk dan sistemnya, pendidikan di pesantren mirip dengan pola pendidikan ala Hindu yang pernah berlaku di India.

Baca Juga: Lemah lembut, Cara Mbah Manab Santrikan Penduduk Lirboyo Kediri 

Selain versi yang mengaitkan kata “santri” dengan istilah dalam bahasa Sanskerta dan tradisi pendidikan agama di India serta Nusantara masa lampau, ada pula pendapat yang mempertautkannya dengan bahasa Jawa.

Nurcholis Madjid, misalnya, melalui buku bertajuk Bilik-bilik Pesantren: Sebuah Potret Perjalanan (1999), mengatakan, kata “santri” berakar dari bahasa Jawa, yakni cantrik atau nyantrik yang berarti “orang atau murid yang selalu mengikuti gurunya”.

Sinergi Pendidikan Hindu-Buddha dan Islam di Jawa

Penelitian Jamil Abdul Aziz bertajuk “Pesantren: Genealogi, Dinamika, dan Nasionalisme” yang terhimpun dalam IQ: Jurnal Pendidikan Islam (2018) merumuskan bahwa setidaknya ada tiga pandangan mengenai genealogi atau asal-usul pesantren.

Versi pertama, tulisnya, pesantren berasal dari tradisi Islam sendiri, yaitu tradisi tarekat. Kedua, pesantren di Indonesia terinspirasi dari lembaga pendidikan pada masa Kekhalifahan Umayyah (661-750 M) yang dikenal dengan nama kuttab. Sedangkan pandangan ketiga menyebutkan bahwa pesantren di Nusantara bermula sejak periode pra-Islam, yakni pada masa Hindu-Buddha.

Sistem pendidikan agama di Jawa sebelum masa Islam menerapkan konsep mandala (lembaga keagamaan) yang menyediakan asrama sebagai tempat mengajarkan ajaran agama sekaligus membina para calon penyebar agama tersebut. Konsep ini mirip dengan pesantren yang mulai bermunculan di Jawa sejak era Kesultanan Demak yang dipelopori oleh Wali Songo.

Pandangan ketiga ini selaras dengan pendapat Agus Sunyoto dalam buku berjudul Atlas Wali Songo (2012). Agus Sunyoto berpendapat, pesantren yang kini lekat sebagai sistem pendidikan Islam merupakan hasil upaya asimilasi dengan tradisi pendidikan Hindu-Buddha. Inilah salah satu terobosan yang dilakukan Wali Songo dalam syiar Islam di tanah Jawa.

Dalam bukunya, Agus Sunyoto memaparkan dengan cukup detail temuan-temuannya bahwa banyak kemiripan antara tradisi Hindu-Buddha dan tradisi Islam di Nusantara, termasuk dalam konsep pendidikan dan etika atau tata krama siswa terhadap gurunya. Tata krama tersebut dikenal dengan istilah gurubakti dalam tradisi pendidikan zaman pra-Islam di Nusantara.

Melalui artikel “Pesantren Hasil Asimilasi Pendidikan Hindu-Buddha” dalam kutukata.id (5 November 2019), Agus Sunyoto mencontohkan: Siswa tidak boleh duduk berhadapan dengan guru, tidak boleh memotong kata guru, menuruti ucapan guru, jika guru berjalan mengikuti dari belakang, dan sebagainya. Singkat kata, ketundukan siswa kepada guru adalah mutlak, seperti yang diterapkan santri kepada kiainya di pesantren.

Samsul Nizar lewat buku berjudul Sejarah Sosial & Dinamika Intelektual Pendidikan Islam di Nusantara (2013) menambahkan fakta lain yang menunjukkan bahwa pesantren bukan berakar dari tradisi Islam, yakni tidak ditemukannya lembaga pesantren di negara-negara Islam selain di Indonesia.

Sebaliknya, lanjut Samsul Nizar, lembaga yang serupa dengan pesantren justru banyak ditemukan dalam peradaban atau sistem pendidikan masyarakat Hindu dan Buddha, seperti di India, Myanmar, dan Thailand.

Berdasarkan temuan-temuan tersebut, pendapat yang meyakini bahwa tradisi santri dan pesantren sudah ada sejak zaman Hindu-Buddha di Nusantara tidak dapat diabaikan begitu saja. Dinukil dari Pendidikan Islam di Indonesia: Historis dan Eksistensinya (2019) karya Haidar Putra Daulay, pesantren pada mulanya adalah tempat pendidikan yang digunakan oleh orang-orang Hindu.

Setelah Islam datang ke Indonesia, khususnya di Jawa, maka terjadilah islamisasi pesantren, atau sinergi, dari tradisi Hindu menjadi Islam. Dengan kata lain, tradisi pendidikan yang sudah ada sebelumnya diadopsi sebagai perangkat dakwah untuk memperdalam agama Islam sekaligus mencetak para penyebar ajaran Islam di tanah Jawa.

Nurcholish Madjid dalam buku Islam Agama Peradaban (2008) sepakat bahwa pesantren memiliki makna keaslian Indonesia (indegenous) karena berasal dari tradisi Hindu-Buddha. Namun, Cak Nur juga tidak menafikan bahwa pesantren erat dengan tradisi Islam yaitu tarekat.

Terlepas dari beragam pandangan serta pro maupun kontra yang menyertainya, santri dan pesantren kini telah lekat sebagai ciri khas pendidikan Islam di Indonesia serta merupakan dasar dari Islam Nusantara yang toleran dan menjadi rahmat bagi semesta alam.

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on linkedin

1 Comments

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

IKUTI KAMI

%d blogger menyukai ini: