Mengintip Tradisi Bada Perlon, Perayaan Idul Adha Khas Bonokeling Banyumas

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on linkedin
Trah Bonokeling: Masyarakat Adat Islam Kejawen Sedang Melakukan Ritual Bada Perlon /Foto: beritagar.id

santrikertonyonoPeringatan Hari Raya Idul Adha sejatinya mempunyai makna dan tujuan yang sama, meskipun tak jarang diselenggarakan dengan tradisi dan adat yang berbeda-beda. Setiap daerah akan memunculkan ciri khasnya masing-masing yang telah diturunkan dari leluhur atau pemuka agama yang pertama kali mendiami wilayah tersebut.

Kesakralan Hari Raya Idul Adha juga diselenggarakan oleh sebagian besar masyarakat Banyumas Jawa Tengah, yang konon mereka adalah keturunan dari Kiai Bonokeling. Bonokeling sendiri merupakan salah satu pemuka agama desa setempat yang namanya masih dikenang dan dihormati hingga sekarang.

Penganut Kejawen yang diyakini berjumlah ratusan orang tersebut biasanya menyebut peringatan Hari Raya Idul Adha dengan Bada Perlon atau Perlon Besar. Bagi keturunan Wangsa Bonokeling, peringatan seperti ini merupakan hari besar yang harus dan wajib diikuti oleh segala lapisan umur dan golongan.

Tak jarang, anak cucu Bonokeling yang tengah merantau jauh rela pulang ke kampung halaman untuk memperingati hari besar tersebut. Namun, peringatan Idul Adha warga Kejawen Bonokeling ini jatuh di tanggal yang berbeda dari biasanya, yakni digelar lebih lambat beberapa hari dari tanggal peringatan Idul Adha yang diumumkan oleh Pemerintah.

Sebelumnya, tetua adat komunitas Bonokeling akan melihat sistem penanggalan Jawa untuk menentukan waktu dan tanggal Bada Perlon akan dilaksanakan. Sang tetua adat juga akan memimpin segala macam prosesi peringgalan bada perlon dari awal hingga akhir acara.

Beberapa sejarawan menyebut bahwa keyakinan yang dianut oleh komunitas Bonokeling ini merupakan salah satu praktik sinkretisme antara agama dan budaya lokal yang telah berbaur. Hal ini dianggap unik dan penting, sebagai wujud kekayaan budaya Indonesia yang nyata.

Peringatan Bada Perlon yang dilihat dari penanggalan Jawa ini sudah menjad kebiasaan turun temurun. Sistem kalender ini biasanya disebut dengan Aboge, kepanjangan dari Alif Rebo Wage. Karena berpatokan dengan sistem inilah, peringatan Bada Perlon jatuh di tanggal yang berbeda di setiap tahunnya.

Ilmu astronomi yang terbatas bukan menjadi alasan komunitas Bonokeling untuk tetap menggunakan sistem penanggalan Jawa dalam setiap hari-hari besarnya. Lebih dari itu, bagi mereka dengan tetap berpegang pada tradisi merupakan sebuah keyakinan yang mampu mendatangkan ketentraman jiwa.

Kental Akan Ajaran Kejawen dan Bernafas Islam

Komunitas adat yang terletak di Desa Pekuncen Kecamatan Jatilawang Kabupaten Banyumas ini bak menyajikan hubungan harmonis nan romantis antara adat Kejawen dan ajaran Islam. Perayaan Bada Perlon sendiri terbilang unik, sebagai tradisi hasil akulturasi Jawa dan Islam, kesan budaya Arab hampir sama sekali tak terlihat. Justru aroma Jawa terlihat sangat menonjol.

Tak berbeda jauh berbeda dengan hari raya Idul Adha pada umumnya, komunitas adat Bonokeling juga melakukan penyembelihan dan pemotongan hewan kurban pada pagi hari. Dimana, binatang-binatang kurban ini biasanya milik akan cucuk Bonokeling yang sebelumnya telah mendaftar kurban.

Saat pemotongan hewan kurban pun tak boleh dilakukan sembarangan, kaum laki-laki akan bergegas berkumpul di pelataran yang terletak di pasemuan, atau rumah ibadah Kejawen yang terletak di kompleks Panembahan Bonokeling. Dimana, pemotongan hewan kurban akan dilakukan di tempat tersebut.

Sesuai adat yang berlaku, hewan kurban yang telah selesai di sembelih dan di potong-potong akan langsung dibersihkan di aliran sungai yang mengalir. Sungai ini terletak tepat di area sekitar Panembahan. Kaum laki-laki pun akan membagi tugas, ada yang membersihkan daging, mencari kayu bakar hingga menyiapkan tungku.

Disisi lain, para perempuan atau biasa disebut pawestri akan sibuk di bagian dapur untuk memasak dan menyiapkan beberapa makanan untuk melengkapi prosesi Bada Perlon. Uniknya, mereka tak lupa menyiapkan puluhan tumpeng serta ratusan ambengan untuk nantinya didoakan dan dimakan bersama-sama, sebagai salah satu syarat tradisi.

Tumpeng dan ambengan yang telah disiapkan cukup menarik, makanan beserta lauk-lauk di masak dan di tata sedemikian rupa, bak menyiratkan nilai-nilai Jawa yang kental. Lauk-lauk yang telah tersedia akan dibentuk dan dibungkus secara khusus.

Bagi masyarakat penganut ajaran Kejawen tentu tak lengkap rasanya jika tidak berziarah ke makam leluhur. Hal yang sama pun dilakukan oleh anak cucu Bonokeling. Prosesi yang dilakukan selanjutnya adalah melakukan bekten atau bersih makam dan berdoa bersama.

Komunitas Bonokeling akan beramai-ramai mendatangi makam Kiai Gunung yang terletak di satu komplek yang sama dengan makam Panembahan Bonokeling. Lantas, mereka menggelar selametan, berdoa, dan menikmati masakan yang telah dimasak di pagi hari bersama-sama.

Namun, masakan yang telah di masak ini tak semata-mata dinikmati oleh anak cucu Bonokeling. Mereka juga membagikan makanan yang telah mereka masak kepada warga sekitar yang bukan termasuk dalam komunitas Bonokeling.

Pakaian yang dikenakan juga kental akan adat Kejawen, mulai dari blangkon yang di kepala hingga kain jarik yang membelit bagian pinggang hingga kaki. Sekilas tak berbeda jauh dengan pakaian adat yang dikenakan oleh penganut Kejawen di wilayah lain.

Ritual Bada Perlon ini hakikatnya dilakukan secara tertutup, yakni hanya dilakukan oleh keturunan Panembahan Kiai Bonokeling yang biasanya disebut dengan istilah anak cucu atau anak putu. Garis besarnya, ritual ini tak diikuti oleh masyarakat umum.

 Bonokeling-idul-adha
Anak Putu Bonokeling Sedang Bergotong Royong Mengolah Hewan Kurban /Foto: mongabay.co.id

Kiai Bonokeling, Leluhur Masyarakat Adat Banyumas

Belum banyak literatur sejarah yang menceritakan tentang kiprah dan perjalanan hidup dari Kiai Bonokeling yang dipercaya sebagai leluhur warga Banyumas ini. Asal usul Kiai Bonokeling pun masih dianggap misterius bagi sebagian orang.

Namun, bagi keturunan dari Kiai Bonokeling atau Wangsa Bonokeling, ia merupakan sosok pemuka agama sekaligus seorang patih dari Kerajaan Pasirluhur yang terkenal menurunkan seluruh ajaran kepada anak cucunya. Sebagai seorang pemuka agama, Kiai Bonokeling diyakini memiliki ilmu kebatinan tingkat tinggi yang dapat digunakan sebagai jalan menggapai keselamatan dunia dan akhirat bagi anak cucunya.

Tak pelak, hingga saat ini, anak cucu Bonokeling masih konsisten mempertahankan tradisi turun temurun tanpa mengurangi atau menghilangkan salah satunya yang telah mendarah daging. Hal itu menjadi cerminan bahwa mereka sangat menghormati sang Kiai yang dianggap sebagai pemimpin adat pada masa lampau.

Kiai Bonokeling sendiri bahkan dikenal sebagai sosok ulama Islam yang datang jauh sebelum kehadiran Wali Songo. Terlihat memang minim informasi, hal itu dikarenakan adanya larangan untuk menuliskan kisah jati diri Bonokeling secara luas. Terlepas dari hal itu, kisah Kiai Bonokeling dituliskan dengan berbaga versi yang berbeda.

Menurut cerita yang beredar di masyarakat, sosok Kiai Bonokeling kerap memberikan bekal ilmu ajaran kepada pengikutnya. Lima ajaran yang disimbolkan dengan jumlah jari di telapak tangan ini masing-masing memberikan pelajaran untuk menjalani kehidupan selama di dunia.

Seperti jari kelingking yang mengajarkan tentang pentingnya sebuah doa, jari manis perwujudan dari rasa syukur, jari tengah sebagai panduan dalam memilih hal yang baik dan buruk, jari telunjuk simbol kearifan untuk bersikap adil, serta ibu jari yang menggambarkan manusia harus pandai mengendalikan hawa nafsu.

Dikutip dari buku “Islam Kejawen : Sistem Keyakinan dan Ritual Anak-Cucu Ki Bonokeling” (2008), Ridwan membuka fakta bahwa Kiai Bonokeling merupakan seorang bangsawan dari Kadipaten Pasirluhur yang saat itu menjadi wilayah kekuasaan dari Kerajaan Padjajaran.

Dikisahkan bahwa Kiai Bonokeling memutuskan untuk membuka lahan di wilayah Desa Pekuncen Banyumas. Disana, ia mengajarkan ilmu dan cara bercocok tanam kepada masyarakat lokal sekitar. Tak hanya itu, Kiai Bonokeling juga menyebarkan ajaran Islam dengan mengakulturasi bersama adat budaya setempat.

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on linkedin

SERING DIBACA

IKUTI KAMI

%d blogger menyukai ini: