Legenda Ki Ageng Kembang Sore, Sosok Pemimpin Prajurit Kerajaan Mataram

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on linkedin
Ki Ageng - Masjid Al Furqon
Masjid Al Furqon yang konon didirikan oleh Ki Ageng Kembang Sore /Foto: Kominfo Magetan

Santrikertonyono – Di tengah hiruk pikuk keramaian dan kemajuannya, nyatanya Kabupaten Magetan menyimpan kisah sejarah yang istimewa di setiap jengkal kotanya. Salah satunya, kisah sejarah yang cukup populer bagi masyarakat Magetan di Desa Pacalan, Kecamatan Plaosan.

Pada zaman dulu, desa tersebut merupakan salah satu diantara tiga desa di Kabupaten Magetan yang merupakan tanah perdikan. Tanah perdikan ini biasanya disebut sebagai kawasan yang terbebas dari pajak dari Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat.

Tak hanya Desa Pacalan, ada desa lain yang ternyata juga kawasan bebas pajak di masa Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat masing-masing Desa Giripuro dan Desa Bayemtaman. Karena termasuk dalam tanah perdikan, ketiga desa itu tidak dikenai pajak oleh Pemerintah Belanda. Atau dalam sebutan lain, tanah perdikan merupakan sebutan untuk kawasan yang tidak termasuk dalam tanah jajahan Belanda.

Sementara, di Desa Pacalan terdapat salah satu tempat yang hingga kini sangat dihormati oleh masyarakat Magetan. Tempat tersebut adalah makam Kembang Sore yang bersemayam Kiai Nolodipo dengan gelarnya Ki Ageng Kembang Sore.

Tak sedikit yang meyakini bahwa Ki Ageng Kembang Sore juga merupakan guru dari Bupati Magetan kedua dan ketiga. Makam kedua bupati tersebut juga masih satu area dengan makam Ki Ageng Kembang Sore. Beliau adalah Kanjeng Kiai Adipati (K Ky. Adp) Purwodiningrat sebagai Bupati Magetan kedua dan Tumenggung Sosrodipuro sebagai Bupati Magetan ketiga.

Sementara itu, Bupati Magetan kedua yakni (K. Ky. Adp) Purwodiningrat merupakan mertua dari Hamengkubuwuno II. Istrinya yakni Eyang Putri Purwodiningratan yang dahulunya juga pernah menjabat sebagai Bupati di Kertosono Nganjuk, yang kini jenazahnya di makamkan di pemakaman Pakuncen Kabupaten Nganjuk.

Dari istri selir itulah, (K. Ky. Adp) Purwodiningrat telah menurunkan bupati-bupati sepuh di wilayah eks-Karesidenan Madiun. Seperti Bupati Ngawi, Bupati Madiun, Bupati Ponorogo, Bupati Nganjuk, dan Bupati Trenggalek. Seperti yang telah banyak beredar, bahwa Pangeran Diponegoro merupakan cucu buyut dari Bupati Magetan kedua.

Bagi masyarakat Magetan, nama Ki Ageng Kembang Sore tentu sudah tidak asing lagi. Sosok yang lebih dikenal dengan sebutan Kiai Nala Dipa ini tak lain merupakan pemimpin prajurit Kerajaan Mataram yang kala itu terlibat perang dengan pasukan Belanda ada pada tahun 1628.

Namun, Ki Ageng Kembang Sore tak hanya seorang pemimpin perang, ia juga seorang ulama penyebar agama Islam di wilayah brang wetan. Brang wetan sendiri merupakan sebuah sebutan untuk daerah yang terletak di timur Kasultanan Ngayogyakarta Hadinigrat.

Pamor Ki Ageng Kembang Sore di Kaki Gunung Lawu

Jejak peradaban serta penyebaran agama Islam di Kabupaten Magetan tak terlepas dari keberadaan tokoh-tokoh penting seperti Ki Ageng Kembang Sore serta para pengikutnya. Terlebih, Ki Ageng Kembang Sore juga memiliki peran besar terhadap berdirinya Kabupaten Magetan bersama Raden Ki Mageti.

Ki Ageng Kembang Sore atau Kiai Ageng Nala Dipa merupakan sosok ulama yang cukup terkenal pada masanya. Beberapa orang rela datang untuk menuntut ilmu pada Ki Ageng Kembang Sore ini, tak hanya dari Desa Pacalan tetapi juga datang dari daerah lain.

Tak sedikit murid-muridnya hingga masyarakat yang menaruh hormat hingga segan pada sang kiai. Apapun perintahnya tidak ada yang tidak dilakukan, para murid dan pengikutnya ini sangat setia dan taat dalam menjalankan apa yang diminta dan apa yang dilarang.

Singkatnya, selama hidup di Desa Pacalan, Ki Ageng Kembang Sore mempunyai tiga sahabat yang sangat baik. Mereka menghabiskan waktu dengan saling berdiskusi perihal agama dan membahas tentang kemakmuran masyarakat. Ketiga orang ini adalah Kiai Ambar Sari, Kiai Nagawangsa, dan Kiai Sari Wangsa.

Nama besar Ki Ageng Kembang Sore yang begitu mashyur akhirnya terdengar oleh Sultan Hamengkubuwana II atau Sultan Sepuh yang merupakan raja dari Kerajaan Yogyakarta Adiningrat. Di Yogyakarta sendiri, agama Islam cukup berkembang di bawah kepemimpinan Sultan Sepuh.

Karena Sultan Sepuh mengetahui bahwa ilmu agama Islam yang miliki oleh Ki Ageng Kembang Sore sangat mendalam, lantas Sultan Sepuh memutuskan untuk mengabdi dan menjadi murid dari Ki Ageng Kembang Sore.

Menurut cerita yang beredar, Ki Ageng Kembang sore merupakan julukan atau gelar yang di berikan oleh masyarakat. Pasalnya, julukan itu merujuk pada kesaktiannya dalam hal menanam tumbuhan. Setiap kali Ki Ageng Kembang Sore menanam benih pada pagi hari, pasti aku muncul bunga pada sore harinya.

Karena kesaktiannya inilah, berbagai tanaman yang ditanam di Desa Pacalan tumbuh subur dengan menghasilkan panen yang berlimpah. Masyarakat Desa Pacalan bahkan diketahui hidup tentram, berkecukupan dan damai berkat hasil panennya.

Makam Ki Ageng Kembang Sore dan Masjid Tiban

Kompleks pemakaman Ki Ageng Kembang Sore yang terletak di Magetan nyatanya dibangun oleh Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat. Maka tak mengherankan, jika denah makamnya tersebut terlihat cukup mirip dengan pemakaman-pemakaman raja Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat di Imogiri Kabupaten Bantul.

Area pemakaman Kembang Sore yang kini telah ditata kembali oleh Pemkab Magetan melalui Dinas Pariwisata dan Kebudayaan, bahkan dipasang pintu dan pagar juga turut disemayamkan jenazah tokoh pendiri tanah perdikan Pacalan, beliau adalah R. T Cokrodirono.

Selain pemakaman Kembang Sore, di kompleks tersebut juga terdapat masjid yang sudah cukup tua. Masjid Al-Furqon merupakan tempat ibadah yang biasanya digunakan oleh masyarakat Pacalan. Namun, masjid ini juga dikenal dengan nama Masjid Tiban.

Saat masuk ke dalam bangunan masjid, pengunjung akan disuguhi dengan keindahan arsitekturJawa pada bangunannya yang nampak seperti sebuah Joglo dengan tiga buah pintu utama. Selain itu, juga bisa dilihat dari empat soko guru atau tiang utama di dalam masjid yang terbuat dari kayu.

Konon, empat tiang kayu tersebut adalah milik Ki Ageng Kembang Sore yang ditemukannya saat berlari ke kawasan hutan lereng Gunung Lawu demi menghindari pasukan perang Belanda. Ia menemukan empat tiang itu berdiri kokoh diatas sebuah bukit.

Tak bisa dipungkiri bahwa bangunan masjid yang telah berdiri sejak zaman dahulu cepat atau lambat akan mengalami kerusakan, begitu pula dengan Masjid Tiban ini. Meskipun begitu pemerintah daerah telah melakukan renovasi tanpa menghilangkan ciri khas dari masjid tersebut.

Desa Pacalan tak hanya desa yang memiliki sejarah panjang tentang kebudayaan Islam di tanah Magetan. Lebih dari itu, Desa Pacalan juga mempunyai tradisi khas bernama tradisi Dawuhan Sumber Mudal. Tradisi ini merupakan tradisi masyarakat Desa Pacalan yang rutin dilaksanakan setiap hari Jumat Legi pada bulan Muharram.

Selama tradisi Dawuhan Sumber Mudal ini, masyarakat akan beramai-ramai membawa nasi ambeng dan menyembelih kambing sebanyak dua ekor di area sumber mudal. Konon, tradisi ini telah ada sejak lama dan dipercaya sebagai tradisi turun-temurun dari leluhur.

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on linkedin

SERING DIBACA

IKUTI KAMI

%d blogger menyukai ini: