Kiai Imam Zarkasyi, Ulama di Balik Kelahiran Pondok Modern Gontor Ponorogo

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on linkedin
Pondok Pesantren Gontor /Foto : facebook.com/Pondok.Modern.Darussalam.Gontor/

Pondok Modern Darussalam Gontor.  Ketika mengingat pesantren yang berlokasi di Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur itu, pasti selalu terngiang nama salah satu pendirinya, yaitu Kiai Imam Zarkasyi.  Pondok Pesantren Gontor merupakan symbol lembaga pendidikan Islam yang modern dan santri-santrinya  mengalami karakter keilmuan agama dan pengetahuan umum yang mendalam.

Ulama kharismatik itu lahir di Desa Gontor, Kecamatan Mlarak pada 21 Maret 1910. Anak bungsu dari tujuh bersaudara ini memiliki hubungan langsung dengan Sultan kesepuluh Cirebon. Raden Santoso Anom Besari adalah ayahnya yang juga keturunan keenam dari kesepuhan Cirebon. Sedangkan ibunya yang bernama Rara Sudarmi adalah keturunan Bupati Madiun, Surodiningrat.

Pada tahun 1923, Kiai Imam Zarkasyi menempuh pendidikan setingkat Sekolah Dasar di Hollandisch Inlansche School (HIS) Ongko Loro, di Jetis Ponorogo. Ia juga belajar di Pondok Josari.

Selain itu, dia juga pernah mondok di sebuah pesantren yang memakai sistem pendidikan salaf yang fokus pada pendalaman nahwu dan sharaf yaitu Pondok Pesantren Darul Hikmah, Jeresan, Ponorogo.

Setelah lulus dari HIS Ongko Loro, ia melanjutkan pendidikannya di Pondok Pesantren Jamsaren, Solo pada tahun 1927. Di pesantren ini Kiai Imam Zarkasyi belajar al-Qur’an dan hadits.

Selain di Jamsaren, ia juga belajar di Madrasah Mamba’ul Ulum. Dalam buku yang berjudul 99 Kiai Kharismatik Indonesia jilid II (tahun2020) karya KH Abdul Aziz Masyhuri, disebutkan bahwa Madrasah Mamba’ul Ulum menginspirasi Kiai Imam Zarkasyi untuk mengadopsi sistem klasik di pesantren yang kelak dirintisnya. Madrasah Mamba’ul Ulum yang menjadi inspirasi itu didirikan oleh Raden Hadipati Sostrodiningrat dan Raden Panghulu Tafsirul Anam pada tahun 1906.  Kala itu, di madrasah tersebut pada tahun 1916 menggunakan sistem klasik yang kemudian diterapkan sebelas jenjang.

Kiai Imam Zarkasyi belajar Bahasa Arab di Madrasah Islamiyah ketika duduk di kelas VIII. Madrasah ini dipimpin oleh seorang guru dari Tunisia yang bernama Ustadz Sayid al-Hasyimi. Selain belajar di Madrasah ini, ia juga menuntut ilmu di HAS (Holland Arabische School). Sekolah Arabiyah Al-Islam di Solo juga menjadi tempat Kiai Imam Zarkasyi menuntut ilmu.

Pengalaman yang didapat dari beberapa lembaga pendidikan inilah yang kemudian menjadi referensi bagi Pondok Pesantren Modern Gontor yang didirikan oleh Kiai Imam Zarkasyi dan dua saudaranya yaitu Kiai Ahmad Sahal dan Kiai Zainuddin Fanani.

Asal Muasal Berdirinya Pondok Pesantren Gontor

Ide pendirian Pondok ini berawal dari Kongres umat

Islam di Surabaya pada tahun 1926. Kongres ini menghasilkan keputusan untuk mengirimkan delegasi dalam Kongres Islam di Mekkah.

Pada waktu itu sangat sulit mencari orang yang mahir dalam menggunakan bahasa Arab. Hal itulah yang melatarbelakangi keinginan Ahmad Sahal untuk mendirikan pesantren yang kelak mampu mencetak santri-santri yang lihai berbahasa Arab.

Dengan menghidupkan kembali pondok pesantren ayahnya yang sudah lama vakum, lahirlah Pondok Pesantren Darussalam. Penguasaan bahasa Arab dan Inggris menjadi tujuan dari sistem pendidikan pondok.

Sepuluh tahun berselang, Kiai Imam Zarkasyi diminta untuk membantu memperbaiki sistem pendidikan Gontor. Ia membuat program pendidikan yang diberi nama Kuliyyatul Mu’allimin al-Islamiyah (KMI).

Karena program inilah Pondok Gontor dilabeli sebagai “Pondok Modern”. Sebutan ini disematkan masyarakat karena melihat bentuk institusi, pola pendidikan dan metode pengajaran yang dijalankan menunjukkan perbedaan dengan pesantren salaf.

KMI adalah metode pendidikan Islam yang nyaris sama dengan sekolah Islam lainnya saat zaman penjajahan. Namun, dalam sistem ini para santri tinggal di asrama, kiai sebagai figur spritual, masjid sebagai pusat kegiatan dan komunikasi menggunakan bahasa Arab dan Inggris menjadi bahasa sehari-hari para santri di sana.

Pelajaran agama dan pengetahuan umum diberikan secara seimbang. Demikian pula, latihan keterampilan, kesenian, olahraga dan berorganisasi merupakan bagian dari kehidupan para santri.

Selalu Melawan Arus

Pada saat pondok pesantren lain hanya mengenal sorogan, bandongan, wetonan, halaqah, serta santrinya diwajibkan memakai sarung dengan teklek dan mengharamkan penggunaan jas, dasi, dan pentolan, tetapi Pondok Pesantren Gontor malah mewajibkan santri untuk memakai jas, dasi dan pentolan.

Metode pendidikan yang diterapkan ini menimbulkan kritikan dari sejumlah lapisan masyarakat karena dinilai meniru busana kebarat-baratan dan seperti pakaian yang sering digunakan para kaum penjajah.

Namun, di pihak lain, sikap atau penilaian seperti itu pada pondok ini disebut berlebihan dan mengada-ada. Dalam pandangan para pendiri pondok pesantren modern, sistem dan metode belajar di pesantren salaf dinilai kurang tepat dalam mencetak seorang santri sekaligus sebagai cendekiawan.

Tak hanya itu, mewajibkan para santri untuk berbicara bahasa Arab dan Inggris secara berbarengan juga menuai protes. Sebab, sejumlah masyarakat menilai bahasa asing selain Arab dianggap seperti meniru kebiasaan orang kafir.

Kritikan dan protes itu pun berdampak pada jumlah santri pada tahun-tahun pertama penerapan metode KMI. Saat itu, dari ratusan orang jumlah santri yang memtuskan tetap mengenyam pendidikan di sana menjadi hanya enam belas orang.

Akan tetapi, para pendiri Pondok Pesantren Gontor tak lantas putus asa. Pada tahun kedua sistem KMI dijalankan, santri-santri pun mulai berdatangan seperti dari Kalimantan, Sumatera dan dari seluruh pelosok Jawa.

Pesantren Gontor Membolehkan Santri Berpikir Bebas

Yang tak membedakan Gontor dengan pesantren lainnya adalah tetap menganut aliran Ahlussunnah wal Jamaah. Namun, sebagaimana yang diulas Cak Nurcholis Madjid adalah pola disiplin regimenter dan kebebasan.

Bebas untuk segala perilaku dengan didasarkan pada pemikiran. Prinsip ini membuahkan Pesantren Gontor menjadi unik karena dua hal yang kontras dapat berjalan secara bersama-sama.

Pola pendidikan ini menekankan kebebasan dalam madzhab, pendidikan atau non sektarian ditambah lewat pengajaran dan materi yang diajarkan.

Kiai Imam Zarkasyi selalu menekankan dan menggarisbawahi akan perlunya berdiri di atas dan untuk semua golongan. Gontor mengembankan pola berpikir ontologis di samping sikap religius.

Cirinya adalah memikirkan suatu objek yang diarahkan kepada pencarian hakikatnya. Pendidikan dalam pola pikir demikian bersifat intelektualitas dan berlogika berdasarkan objek murni.

Para santri juga diajari kitab “Biddyatul Mujtahid” karya Ibnu Rusyd yang menyosialisasikan gagasan Aristotelia di dunia Islam. Kitab ini mendidik mental ilmiah, karena memaparkan pendekatan komparatif, perbandingan madzhab.

Pola yang dianut ini juga berpijak kepada kaidah Al-Muhafadzatu ‘ala al-Qadimi as-Shalih wa Akhdu bi al-Jalidi al-Ashlah, yaitu menjaga hal yang baik dan mengambil sesuatu yang baru dan lebih baik.

Di samping bergiat diri dalam perubahan dan pembaharuan, pemantapan aspek ritual juga digalakkan. Ini terlihat dengan adanya kewajiban untuk para santri shalat berjamaah dan melakukan wiridan secara masal.

Detik-detik terakhir kehidupan Kiai Imam Zarkasyi ialah setelah ia menerima beberapa tamu di rumahnya. Awalnya, ia merasakan sakit di kepala dan akhirnya tak sadarkan diri hingga ajal menjemputnya.

Kiai kharismatik itu meninggal setelah 25 jam koma, karena terkena stroke di rumah sakit di daerah Madiun, Jawa Timur, pada 30 April 1985.

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on linkedin

SERING DIBACA

IKUTI KAMI

%d blogger menyukai ini: