Pengalaman Spiritual Sabrang Diajak Cak Nun Cium Hajar Aswad

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on linkedin
Foto : telisik.id

Setiap umat Islam yang melaksanakan ibadah haji dan umrah di Mekkah, pasti memiliki keinginan untuk mencium Hajar Aswad. Seluruh orang dari berbagai penjuru dunia berduyun-duyun untuk menempelkan bibirnya ke sebuah batu yang diyakini berasal dari surga tersebut.

Alhasil, sudah menjadi sesuatu yang lumrah saat pemandangan berdesakan, dorong-dorongan, hingga sikut-sikutan antar jemaah demi bisa mencium Hajar Aswad.

Sebab, aktivitas itu semata-mata untuk mengikuti apa yang pernah dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW. Sehingga, umat muslim berlomba-lomba bisa menunaikan sunnah nabi tersebut.

Bagi orang yang beruntung mencium aroma batu dari surga itu tentu memiliki pengalaman spiritual yang menarik untuk diceritakan. Salah satunya seperti kisah dari Sabrang Mowo Damar Panuluh yang lebih dikenal sebagai Noe Letto.

Anak pertama dari seorang budayawan Emha Ainun Nadjib atau yang karib disapa Cak Nun itu mengisahkan, dirinya saat menjalani ibadah umrah meneguhkan tekat untuk bisa mencium Hajar Aswad.

Setibanya di sana. ia pun langsung mengikuti cara seperti yang banyak orang lakukan, yaitu diawali dengan tawaf atau memutari Kakbah, hingga mendekati lokasi Hajar Aswad.

Namun, dirinya tak menyangka bila seseorang ingin mengikuti sunnah Nabi Muhammad SAW itu harus menyakiti orang lain. Karena, dirinya melihat sendiri pemandangan sikut-sikutan tersebut.

Akhirnya, ia memutuskan untuk tidak memaksakan diri bias mencium hajar aswad.

“Aku enggak setuju konsep begini. Semua orang pengen nyium Hajar Aswad, tapi kalau harus nyikut orang lain, ora apik. Enggak gini harusnya konsepnya. Wis, ora. Aku ikhlas. Aku ora gelem. Aku pasti merasa lebih merasa berdosa daripada senang,” cerita Sabrang seperti dikutip dari Channel Youtube Suluk Kerinduan.

Satu hari berselang, sang ayah, Cak Nun menghampiri dirinya untuk mengajaknya mencium hajar aswad.

“Brang, arep ke Hajar Aswad, ora?,” kata Sabrang meniru ucapan Cak Nun.

“Aku ora sikut-sikutan, masa kudu bahagia dengan menyikut orang lain, untuk kebahagiaan yang sama-sama kita cita-citakan,” timpal Sabran.

“Ora (sikut-sikutan), melu aku wae,” ucap Cak Nun meyakinkan Sabrang.

Setelah mendapatkan keyakinan kalau Cak Nun tak akan menggunakan metode sikut-sikutan, keduanya pun bergegas menuju masjid paling suci dalam Islam, yakni Masjidil Haram.

Tak butuh waktu lama, Sabrang dan ayahnya pun menginjakkan kaki di Masjidil Haram. Mereka lantas duduk menghadap Hajar Aswad dan dilanjutkan dengan ritual shalat.

Kemudian, Cak Nun berdiri dan mengajak Sabrang berjalan menuju Hajar Aswad.

Saat itu, Cak Nun dan Sabrang berjalan lurus menuju Hajar Aswad tanpa harus melakukan tawaf terlebih dahulu. Peristiwa tersebut membuat Sabrang seakan tak percaya dan takjub.

Sebab, ketika ia dan ayahnya melangkahkan kaki menuju hajar aswad seperti bisa membelah lautan manusia di depannya.

“Enggak pakai tawaf, ini jalan lurus menuju hajar aswad dan orang yang berkumpul itu kebelah semua. Ora sikut-sikutan sama sekali. Sampai bapak saya pegang atasnya Hajar Aswad, terus nengok aku,” lanjut Sabrang.

Ketika titik berdiri Sabrang sudah dekat dengan Hajar Aswad, ia pun ditabrak oleh seseorang. Tak sampai jatuh, badannya langsung dipeluk oleh seorang pria yang busanannya tidak seperti jemaah lainnya.

“Terus saya tiba-tiba ditabrak sama orang. Batinku, ya sudah. Tiba-tiba ada orang meluk saya. Enggak pakai baju ihram, (baju) batik kotak-kotak gitu,” kenang Sabrang.

“Sampun, neng Hajar Aswad?” ucap Sabrang meniru pertanyaan lelaki yang memeluknya tersebut.

“Dereng,” jawab Sabrang.

Pria itu memeluk erat badan Sabrang agar bisa terlindungi dari sikut orang lain yang memang itu sebuah cara yang lazim digunakan setiap jemaah untuk bisa mencium hajar aswad.

“Aku dipeluk, yang nyikut-nyikut dia. Wis, yang penting aku ora nyikut-nyikut. Alhamdulillah iki. Wis rampung,” kata Sabrang.

Usai Sabrang dan Cak Nun berhasil mencium Hajar Aswad, muncul kembali sebuah pengalaman spritual yang di luar nalar. Karena, badan mereka bisa berpindah tempat secara kilat tanpa harus berdesakan di antara para jemaah.

“Ini rada aneh ini. Kita ditarik ke lingkaran luar lagi, kayak dicangking, (seperti) kucing dijengkiwing gitu. Terus di luar, kita mutar, tawaf,” ujar Sabrang.

Dari kisah ajaib itu, kata Sabrang, ia mengambil sebuah pelajaran, bahwa sebagai ciptaan Allah SWT yang paling sempurna, maka seorang manusia harus percaya bahwa banyak cara untuk seseorang mencapai kebahagiaan dalam hidupnya.

“Cara untuk mencapai sesuatu bisa sangat bermacam-macam. Banyak yang tidak kita ketahui untuk menuju sesuatu. Banyak jalan menuju Tuhan. Ono jalan alternatif, jalan tol, banyak macam.”

“Tidak hanya satu macam, jangan sampai kita terjebak dalam hegemoni dunia bahwa dalam mencapai sebuah kebagahagiaan dengan hanya satu cara,” pesan Sabrang.

Sejarah Hajar Aswad

Menurut riwayat, Hajar Aswad dahulunya adalah sebongkah batu besar berwarna putih. Ibnu Abbas RA mengatakan bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Hajar Aswad adalah batu dari surga. Batu tersebut lebih putih dari salju. Dosa orang-orang musyriklah yang membuatnya menjadi hitam,” (HR Ahmad).

Awalnya, Allah memerintahkan Nabi Ibrahim AS untuk membangun Kakbah (QS Al-Baqarah [2]: 125-128). Kakbah adalah tempat ibadah pertama yang dibangun di dunia QS Ali Imran [3]: 96-97).

Sebagaimana disebutkan dalam kitabnya Qishash al-Anbiyaa’ (kisah para Nabi dan Rasul), Ibnu Katsir menjelaskan, saat pembangunan Kakbah hampir selesai, dan masih terdapat satu ruang kosong untuk menutupi temboknya, Ibrahim berkata kepada anaknya, Ismail AS, untuk mencari batu, agar ruang kosong itu bisa segera tertutupi.

“Pergilah engkau mencari sebuah batu yang bagus untuk aku letakkan di salah satu sudut Kakbah sebagai penanda bagi manusia.”

Ismail pergi dari satu bukit ke bukit lain untuk mencari batu yang paling baik. Ketika sedang mencari, malaikat Jibril datang pada Ismail AS dan memberinya sebuah batu hitam (Hajar Aswad) yang paling bagus.

Dengan senang hati ia menerima batu itu dan segera membawa batu itu untuk diberikan pada ayahnya. Nabi Ibrahim AS pun gembira dan mencium batu itu beberapa kali.

Kemudian Ibrahim AS bertanya pada putranya, “Dari mana kamu peroleh batu ini?” Ismail AS menjawab, “Batu ini aku dapat dari yang tidak memberatkan cucuku dan cucumu.”

Ibrahim AS mencium batu itu lagi dan diikuti juga oleh Ismail AS. Begitulah, sampai saat ini banyak yang berharap bisa mencium batu yang dinamai Hajar Aswad itu.

Dalam buku Ibnu Katsir disebutkan, ketika Ibrahim memerintahkan Ismail untuk mencari batu tersebut, Ismail merasa sangat letih.

“Wahai ayah, aku merasa malas dan capek. “Ibrahim berkata, “Biar aku saja yang mencari.” Lalu ia pergi dan bertemu dengan Jibril yang membawakan batu hitam dari India.

Sebelumnya, batu itu putih bak permata. Adam membawanya ketika ia turun dari surga. Batu tersebut berubah menjadi hitam karena dosa-dosa manusia.

Lalu, Ismail datang dengan membawa sebuah batu, namun ia telah melihat batu di salah satu sisi Kakbah.

Ismail berkata, “Wahai ayahku, siapakah yang membawa batu ini.” Ibrahim menjawab, “Yang membawa adalah yang lebih giat darimu.” Lalu keduanya melanjutkan pembangunan Kakbah sambil berdoa, “Ya Tuhan kami, terimalah dari kami (amalan kami), sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS Al-Baqarah [2]: 127).

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on linkedin

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

IKUTI KAMI

%d blogger menyukai ini: