Ngopeni Wong Tuwo, Pengalaman Kesuksesan Cak Percil 

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on linkedin
Cak Percil foto selfie dengan Artis Nunung /Foto: Instagram-@cakpercil

Saat mendirikan grup lawak Guyon Maton bersama Cak Hengky (2013), usia Cak Percil belum genap 30 tahun. Namun dengan cepat namanya melenting tinggi di dunia hiburan. Bahkan melampaui Guyon Maton sendiri. Di setiap penampilannya, sentilan-sentilan Cak Percil selalu kocak. Spontanitasnya yang ceplas-ceplos menjadi frasa baru yang segar, mudah diingat, sekaligus ditiru.

“Masuk Deek” dan “Masuk Pak Eko”, viral di mana-mana. Setidaknya kondang di perhelatan Pemilihan Kepala Daerah di Kabupaten Tulungagung tahun 2018. Salah satu pasangan calon memakai “Masuk Pak Eko” sebagai tagline pemenangan. Sejak namanya tersohor di media sosial, job tanggapan Cak Percil nyaris tak pernah sepi.

Tawaran manggung mengalir dari sana-sini, baik datang dari instansi pemerintah maupun swasta. Rute tanggapannya bak trayek bus AKDP (Antar Kota Dalam Propinsi), berpindah dari satu kota ke kota lain. Tulungagung, Trenggalek, Kediri dan banyak lainnya. Belum lagi undangan penggemar dari luar Jawa. Termasuk para fansnya di luar negeri, berkali-kali ia datangi.

Di chanel youtubenya, Denny Caknan beberapa kali menyentil kehidupan tajir Cak Percil. Apa-apa ada. Ibaratnya kalau mau, saat ini Cak Percil bisa meraih apa saja. Pelantun tembang Kartonyono Medot Janji yang sama-sama menapaki karir dari nol itu, meyakini kunci sukses mereka karena mampu melewati getirnya hidup.

Cak Percil mengiyakan ucapan itu. “Wong sing ngerti Percil ape mangan opo ae iso. Biyen padahal piye (Orang yang tahu Percil bisa makan apa saja. Padahal dulu ada prosesnya),” kata Cak Percil dalam YouTube Denny Caknan “Ngobrol Bareng Cak Percil”. Cak Percil menggauli seni sejak kecil. Terlahir 6 Juni 1985 di Banyuwangi, Jawa Timur, dengan nama Deni Afriandi.

Cak Percil tumbuh dari seorang ibu yang juga seniman sinden kesenian tradisional Janger (Kesenian Banyuwangi). Dari Puji Astutik ibunya, ia banyak menyadap ketrampilan seni, khususnya tari dan nembang. “Aku TK wes nari tradisional (Aku TK sudah menari tradisional),” katanya kepada Denny Caknan. Seiring bertambahnya usia, bakat seninya mengembang. Menginjak kelas 5 SD Cak Percil merambah dunia lawak.

Bersama teman-temannya di Banyuwangi, ia pentas dari kampung ke kampung. Seni membuat orang tertawa ia nikmati. Namun saat kelas dua SMA, tiba-tiba semuanya berhenti. Cak Percil enggan melawak lagi. Ogah melucu. Menolak semua tanggapan seni, juga berhenti sekolah. Usut punya usut, Cak Percil patah hati. Ia merasa kehilangan muka setelah gadis yang ia puja, mengoloknya “badut”.

Ia ungkapkan hal itu di chanel youtube Denny Caknan. “Kelas dua SMA berhenti melawak karena diece, kowe badut. Aku isin (Aku malu),” kenang Cak Percil. Kosongnya waktu, ia isi dengan mengamen di atas bus. Menyanyi dengan beberapa lagu hasil ciptaannya sendiri. Cak Percil juga sempat merantau ke Pulau Bali.

Berbagai pergaulan sosial ia masuki. Selain ngamen juga menjajal ketrampilan sebagai guide turis. Kemudian mencoba membuat lagu berbahasa Inggris, tapi gagal yang menurutnya karena pendidikan yang kurang memadai. “Aku wong goblok,” selorohnya. Begitu pulang ke Banyuwangi, Cak Percil memutuskan kembali terjun ke dunia lawak.

Ayahnya yang memintanya kembali melawak bilang : kamu tidak bakal jadi orang sukses kalau terus menjalani kehidupan seperti itu.

Cak Percil yang banyak mengasah diri di kesenian Janger gabung ke dalam Glenter, grup komedian Banyuwangi. Suatu hari saat pentas ia tak sengaja bertemu dengan pelawak H Syakirun atau Kirun. Nasibnya beruntung. Pelawak senior asal Madiun itu berminat mendidiknya. “Dua hari ngelawak lalu ketemu abah Kirun,” kenangnya.

Kirun melihat Cak Percil sebagai anak muda yang kaya talenta. Melawak oke, menari bias, dan menyanyi menembang langgam Jawa serta campursarian, mampu. Kirun lantas memberi Cak Percil uang Rp 350 ribu untuk dibelikan ponsel bekas. Tujuannya agar mereka bisa berkomunikasi.

“Ini anak banyak talenta. Aku menemukan saat saudara di Banyuwangi ada hajatan,” kata Kirun saat bersama Cak Percil menghadiri acara talk show di sebuah stasiun televisi nasional. Cak Percil nyantrik di tempat Kirun di Madiun selama 10 tahun. Lepas dari Depot Seni Kirun Cs, Cak Percil langsung berkiprah total.

Ia ajak Cak Hengky, rekannya di padepokan seni mendirikan grup lawak Guyon Maton. Seniman lawak Cak Yudho Bakiak lantas ia ajak bergabung. Namanya mulai menghiasi layar kaca stasiun televisi lokal di Jawa Timur. Di luar Guyon Maton, Cak Percil membentuk grup Duo Peye sebagai akronim Percil-Yudho.

Untuk mewadahi fansnya, ia mendeklarasikan Peye Mania Nusantara. Pada tahun 2013. Setelah menikahi Deni Kristiani, sinden yang cukup tenar di Jawa Timur, Cak Percil merintis kelompok seni campursari. Job-job dan kesuksesan terus mengalir. Di luar seni hiburan, Cak Percil juga membuka usaha bakso yang ia beri nama Bakso Cak Percil.

Bakso yang cukup laris itu berada di wilayah Kanigoro, Kabupaten Blitar. Di tengah gaya bicaranya yang ceplas-ceplos, Cak Percil tiba-tiba merendahkan suara saat bercerita tentang ayahnya. Ia mengaku sedih setiap mengingat momen kegagalannya membawa kaset rekaman yang diminta bapaknya.

Cak Percil sebenarnya sudah merekam suaranya. Seingatnya ia menyanyikan lagu berjudul manten-mantenan. Namun saat pulang ke Banyuwangi, kaset rekaman tersebut justru tertinggal di tempat kosnya di Tulungagung. Yang membuat Cak Percil kembali mengusap air mata. Seminggu setelah itu, bapaknya meninggal dunia tanpa pernah mendengar kaset rekaman suaranya.

Baca juga: Asal-Usul Santri & Pesantren di Nusantara: Sudah Ada Sejak Zaman Pra-Islam?

“Aku sedih kalau ngomongke kui (Aku sedih kalau membicarakan itu). Kaset itu sampai sekarang masih saya simpan,” tutur Cak Percil kepada Denny Caknan. Cak Percil yang blak-blakan memiliki sifat jahil dan gemar ngeprank, mendadak serius saat berbicara mengenai orang tua. Baginya, doa orang tua yang mengantarkan jalan hidupnya lancar dan selalu dimudahkan. Ia sangat yakin dengan ngopeni wong tuwo (orang tua) jalan kesuksesan seseorang akan diraih dengan mudah.

Setiap merasa kangen ibunya, Cak Percil mengaku langsung meluncur pulang ke Banyuwangi. Sudah menjadi tradisinya. Setiap hendak balik ke Blitar, ia selalu meminta ibunya melangkahi dirinya, sekaligus mendoakan pekerjaanya lancar. Cak Percil meyakini sosok yang paling luar biasa dalam hidup adalah orang tua.

“Dadi anak, mumpung onok bapak ibuk, openono sing tenanan (Jadi anak, kalau masih ada bapak ibuk perhatiankanlah hidupnya dengan sungguh-sungguh),” pesan Cak Percil.

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on linkedin

1 Comments

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

IKUTI KAMI

%d blogger menyukai ini: