Mendaras Gus Kautsar, Ulama Muda Kediri Good Looking yang Memikat Muhibbinnya

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on linkedin
KH Abdurahman Al-Kausar /Foto: instagram@muhibbin.guskautsar

 Gus Kautsar nyaris selalu memikat muhibbin (pecintanya). Muncul di mana pun, selalu menyedot minat. Terutama di platform media sosial. Facebook, Instagram, Youtube, Reels. Setiap ngaji, viewer ulama muda yang bernama lengkap Muhammad Abdurrahman Al Kautsar tersebut, selalu tinggi.

Salah satunya mungkin karena penampilannya yang oke. “Ganteng sih,” tutur seorang pengagum yang katanya selalu mengikuti ceramahnya di youtube.

Penampilan Gus Kautsar tak berbeda dengan santri pada umumnya. Terutama setiap menghadiri undangan majelis taklim. Bersarung dan bersongkok, dan yang biasa ia kenakan, peci hitam. Ia beberapa kali terlihat mengenakan celana bahan, tapi jarang-jarang. Walau kemana-mana melekat sarung, penampilan Gus Kautsar tetap terlihat cool, good looking, gaul, ngenomi (muda). Apalagi ditambah gaya komunikasinya yang smart, hangat, ramah, dan friendly.

Gus Kautsar selalu tampak rileks, luwes, terutama dalam mengemukakan tausiyahnya. Tapi tetap berbobot. Istilah kekinian : apa yang disampaikan daging semua. “Serius, bernas, tapi juga lucu, khas ulama NU,” tutur salah seorang penggemar Gus Kautsar. “Cara penyampaiannya tidak kaku, sehingga yang ngaji kerasan,” tambahnya.

Gus Kautsar mampu mengurai persoalan serius dengan bahasa sederhana dan mudah dimengerti. Misalnya saat mengaji tentang ciri-ciri orang mukmin.

Terhadap sebuah kesalahan yang dilakukan umat, ia dengan rileks mengatakan, umat Nabi Muhammad SAW memang mudah khilaf. “Umate kanjeng nabi (Muhammad SAW), gawan bayine gampang keliru, gampang salah. Tapi duwe naluri gampang tobat. Punya naluri untuk mudah tobat, punya naluri untuk menyesali,” tuturnya dalam Reels yang diunggah akun @santri.revolusi pada 7 September 2021.

Jenengan biasa ngoten mboten (Anda biasa begitu tidak)? Kalau iya berarti jek umate kanjeng nabi (Kalau iya berarti masih umatnya kanjeng nabi),” seloroh Gus Kautsar. Komunikasi dua arah di majelis taklim itu menjadi hidup. Jamaah menjadi ger..geran, tertawa. Tapi masalahnya, sambung Gus Kautsar, sekarang bertaubat, besok pagi sudah berbuat salah lagi. Menanggapi itu, tawa jamaah seketika meledak.

Dengan didahului sederet dalil, Gus Kautsar mengatakan, yang membedakan umat Islam dengan umat lain adalah kesiapan hati. Yang membedakan santri atau tidak, mukmin atau tidak, adalah kesiapan hati. Setiap mukmin adalah insan yang paling siap diingatkan saat berbuat salah. “Ketika dielingke menerima dengan lapang dada. Bisa dipertanggungjawabkan kulo (Ketika diingatkan menerima dengan lapang dada. Bisa dipertanggungjawabkan saya),” tandas Gus Kautsar.

Ngaji soal ciri-ciri orang mukmin ini menyambung dengan tema ngaji cara terbaik menasehati orang. Mengingatkan atau menasehati orang, kata Gus Kautsar tidak sembarangan, tapi ada tata caranya. Ada adabnya.

Dengan mengutip dalil Imam Syafii, ia mengatakan, menasehati orang di depan orang banyak, jatuhnya malah bukan nasehat, tapi celaan atau hinaan yang itu sama halnya dengan mempermalukan.

Artine kowe nasihati sopo ae nang ngarepe wong pirang-pirang, kui murni ngelokke, dudu nasihat (Artinya kamu menasihati siapa saja di depan orang banyak, itu murni menghina, bukan nasihat),” terang Gus Kautsar. Menasihati orang, harus memperhatikan waktu dan situasi. Sebaiknya dilakukan saat yang bersangkutan sendirian. Gus Kautsar mencontohkan Imam Syaffi. Imam Syafii seorang ulama besar, seorang manusia yang hatinya tulus.

Namun saat terjadi khilaf, tetap tidak bersedia bila diingatkan di depan umum, “Sekelas Imam Syafii dielingke nang ngarep wong akeh ra gelem. Imam Syafii jelas-jelas wong sing atine tulus (Sekelas Imam Syafii diingatkan di depan orang banyak tidak mau. Imam Syafii jelas manusia yang berhati tulus),” kata Gus Kautsar.

Saat ngaji bab hubungan ulama, umaro dan umat, Gus Kautsar juga menjabarkan secara lugas dan gamblang. Dalam video yang diunggah akun instagram @santri.revolusi, terlihat juga Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa. Kemudian juga sejumlah alim ulama Jawa Timur. Dengan melandaskan pada dawuh kanjeng nabi (Nabi Muhammad SAW), Gus Kautsar bertausiyah : rusaknya umat, rusaknya masyarakat murni karena rusaknya pejabat.

Pokok onok masyarakat rusak, mesti pejabate rusak,” tegas Gus Kautsar. Tapi harus diingat, lanjutnya. Rusaknya pejabat pasti karena rusaknya ulama. Gus Kautsar mengingatkan siapa saja yang mendapat gelar kiai atau ulama, sebaiknya berhati-hati. “Sebab umat di tangan panjenengan. Baik buruke umat di tangan panjenengan,” katanya mengingatkan. “Sampek ada pejabat gak apik, pasti panjenengan sing gak pati beres (Sampai ada pejabat berbuat tidak baik, pasti karena anda yang tidak beres)”.

Menurut Gus Kautsar, pada masa sekarang ini mendapatkan seorang guru yang tepat, menjadi kebutuhan yang semakin penting. Mereka yang tidak pernah memiliki guru, tidak pernah bertemu guru, tidak pernah musyafahah. Kata Gus Kautsar pada dasarnya apa yang diyakini hanya perkiraan-perkiraan semata, bukan sebuah keyakinan.

“Sesuai dawuh Ibnu Khaldun, man lam yusyaafi aaliman bi ushulihi fayaqinuhu fil musyikilati dzununu,” tuturnya.

Tidak Pernah Mengenyam Pendidikan Formal

Tak sedikit yang kaget sekaligus tidak percaya begitu tahu Gus Kautsar sejak kecil tidak pernah mencicipi pendidikan formal. Tidak pernah duduk di bangku sekolah formal. Sebab hal ini bertolak belakang dengan pengetahuannya yang luas, terutama mengenai seluk beluk dunia Islam. “Gus Kautsar hanya belajar kitab sejak kecil yang langsung dibimbing ayahnya,” demikian menurut berbagai sumber.

Ayah Gus Kautsar adalah KH Nurul Huda Djazuli, pengasuh Pondok Pesantren Al Falah Ploso, Mojo Kabupaten Kediri. Kakek Gus Kautsar atau ayah Kiai Nurul Huda Djazuli adalah KH Ahmad Djazuli Utsman, Pendiri Ponpes Al Falah Ploso (1924). Bila merunut ke atas, Kiai Djazuli Utsman merupakan putra RM Muhammad Utsman, seorang penghulu di Ploso, Kediri.

Mertua Kiai Djazuli Utsman adalah Kiai Muhyin, yakni salah satu putra Mbah Mesir, ulama Durenan Trenggalek. Artinya Gus Kautsar merupakan dzuriah Mbah Mesir yang bila ditarik silsilahnya akan sampai pada Mbah Muhammad Kasan Besari, Ponorogo.

Gus Kautsar lahir pada 22 November 1977, di Ploso Kediri. Pernikahannya dengan Nyai Jazil binti KH Abdul Hamid Baidowi dikaruniai seorang anak laki-laki bernama Nayef Sambudigdo Putra atau Gus Nayef.

Sejak lahir Gus Kautsar tumbuh di lingkungan pesantren yang didirikan kakeknya, dan kemudian dilanjutkan orang tua dan saudaranya. Almarhum Gus Miek (Kiai Hamim Thohari), mursyid Dzikrul Ghafilin merupakan pamannya. Karena tidak mengenyam sekolah formal, sejak kecil Gus Kautsar mendapat gemblengan langsung dari Kiai Nurul Huda, ayahnya.

Ia juga belajar berbagai kitab dari para kiai dan guru yang menjadi sanad keilmuan keluarganya. “Dalam menuntut ilmu Gus Kautsar senantiasa tawadu’ kepada gurunya. Bahkan ia rela melakukan apa pun yang menjadi perintah sang guru, asal mendapat ridho dan barokahnya,” demikian tradisi keilmuan Gus Kautsar.

Gus Kautsar merupakan salah satu salah satu pengasuh Ponpes Ploso Kediri. Namanya tengah naik daun, terutama di kalangan nahdliyin. Hari ini Gus Kautsar merupakan salah satu aset berharga Nahdlatul Ulama selain Gus Reza Ahmad Zahid, putra KH Imam Yahya Mahrus Lirboyo Kediri dan KH Ahmad Bahauddin Nursalim atau Gus Baha, Rembang, Jawa Tengah.

 

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on linkedin

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

IKUTI KAMI

%d blogger menyukai ini: