Cak Lontong : Berbagi Tidak Harus Menunggu Kaya 

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on linkedin
Cak Lontong Berpose Ketika Santai /Foto: Instagram-@caklontong

Komedian Cak Lontong menjunjung prinsip, berbagi tak mengenal waktu. Bagi Cak Lontong memberi kepada sesama tidak harus menunggu kaya dulu. Asal ada, berbagi bisa dilakukan kapan saja.

“Dalam hal memberi materi ke orang lain, tidak perlu menunggu kita punya (kaya),” tutur Cak Lontong dalam channel youtube budayawan Sudjiwo Tejo.

Cak Lontong lahir dengan nama Lies Hartono 7 Oktober 1970 di Maospati, Kabupaten Magetan, Jawa Timur. Ayahnya seorang tentara yang bertugas di Angkatan Udara. Sedangkan ibunya seorang perawat rumah sakit. Lies kecil tumbuh di lingkungan keluarga menengah. Saat jaringan listrik pertama kali merambah desanya, keluarga Lies termasuk yang masih bertahan dengan penerangan lampu petromaks.

“Dulu kalau spiritus ditumpahkan di lantai dan disulut warna apinya biru,” kenang Cak Lontong kepada Sudjiwo Tejo. Cairan spiritus adalah bahan bakar kaus lampu petromaks. Lies juga masih ingat, saat ia kecil satu-satunya pesawat televisi di desanya ada di rumah kepala desa. Termasuk dirinya, setiap mencari hiburan dan informasi, warga berbondong-bondong datang ke rumah kepala desa.

Cak Lontong memandang hal itu sebagai fenomena kebudayaan. Ketika setiap keluarga memiliki televisi sendiri, termasuk keluarganya, ia melihat budaya bersama tersebut berangsur-angsur luntur.

“Saat itu ayah saya membeli televisi hitam putih. Dan orang-orang yang sebelumnya menonton di tempat kepala desa, ada yang menonton di rumah kami,” kenang Cak Lontong.

Soal berbagi kepada sesama, Cak Lontong berpendapat : sekecil apapun yang kita miliki sebenarnya tetap bisa dibagi. Kepada Sudjiwo Tejo, ia menganalogikan dengan sebungkus permen. Asal mau saja, walau ukurannya kecil, kata Cak Lontong sebungkus permen tetap bisa dibagi. Untuk berbagi tidak harus menunggu memiliki dua permen. Ia juga mengambil pelajaran berbagi dari kebiasaan orang tuanya memasak telur. Supaya anggota keluarga bisa merasakan telur yang sama, ibunya tidak mengolah dengan cara ceplok mata sapi, tapi mendadarnya.

“Walaupun membagi tidak harus rata. Setidaknya kita mau memberi buat orang lain. Dan artinya berbagi itu bisa dicari cara, bentuknya,” kata Cak Lontong.

Begitu juga soal adab anak kepada orang tua. Cak Lontong membiasakan anak-anaknya mengucap salam. Terutama saat mereka baru datang atau meninggalkan rumah. Setiap anak-anaknya hendak pergi, ia juga mentradisikan pamit dan cium tangan.

Cak Lontong percaya, membiasakan ketiga buah hatinya mencium tangan orang tua setiap baru datang dan pergi, akan memupuk karakter yang kuat.

“Kebiasaan pamit. Cium tangan orang tua akan membentuk karakter,” kata Cak Lontong yang sudah empat tahun terakhir ini berhenti merokok.

Untuk menegaskan pentingnya sebuah karakter dibanding skill, Cak Lontong mengatakan: Skill adalah kunci membuka pintu. Tapi mempertahankan pintu tetap terbuka adalah sebuah karakter.

Rezeki Itu Bukan Hanya Materi

Lies Hartono mendapat titel Insinyur dari kampus ITS Surabaya. Tinggi badan Lies yang 184 cm dengan dipadu perawakan yang kerempeng, memancing teman-temannya menjuluki lontong. Yakni nasi yang ditanak dalam daun pisang. Sanak keluarganya juga ikut memanggil demikian. Panggilan lontong keterusan sampai sekarang.

Pada tahun 1992. Cak Lontong yang di lingkaran pergaulannya kondang jenaka, memulai karir sebagai pelawak. Ia menceburkan diri ke dalam kesenian tradisional ludruk Cap Toegoe di Surabaya. Kekuatan Cak Lontong terletak pada celetukannya. Kepiawaianya membolak-balik logika, menjadi warna baru di dunia dagelan.

Sebagai pendatang baru, Cak Lontong  tergolong komedian serba bisa. Situasi apapun mampu ia taklukkan. Baik solo maupun tampil berkelompok, celotehan Cak Lontong selalu mengocok perut penggemarnya. Di setiap membuka dialog, ia selalu mengucapkan Salam Lemper yang secara cepat melekat sebagai ciri khasnya.

Kemudian juga memakai jargon “mikir”. Hal itu yang kata Cak Lontong menghindarkan dirinya dari masalah yang sewaktu-waktu bisa menimpa pelawak akibat slip lidah.

Baca juga : Ngopeni Wong Tuwo, Pengalaman Kesuksesan Cak Percil 

“Kalau sebelum ngomong, sebelum bertindak, sebelum melakukan apapun diawali dengan mikir, syukur-syukur tidak akan ada masalah setelah itu,” kata Cak Lontong dalam chanel podcast Deddy Corbuzier.

Nama Cak Lontong mulai populer setelah menghadiri undangan sebagai bintang tamu acara komedi Republik BBM asuhan Effendi Ghazali. Penampilan rutinnya di sejumlah acara stand up komedi televisi swasta nasional membuat namanya makin meroket.

Saat ini Cak Lontong termasuk pelawak sukses yang bergelimang materi. Kekayaanya melimpah. Ia tidak membantah saat Corbuzier menyebut koleksi sepeda Bromptonnya mencapai 40 unit. Sepeda-sepeda mahal. Dengan nada datar Cak Lontong mengatakan semua yang ia miliki hanyalah titipan.

“Kita punya apapun intinya hanya titipan Ded. Walau kita mendapatkan semua dengan jerih payah apapun, intinya titipan. Bisa diambil dengan cara apapun di luar sepengetahuan kita sekalipun. Waktunya bukan kita yang menentukan,” kata Cak Lontong kepada Deddy Corbuzier.

Yang tidak banyak orang tahu. Ketika mulai terjun di dunia komedi hingga sekarang, Cak Lontong tetap menjaga doa yang sama. Doanya : saya tidak terkenal tidak apa-apa. Yang terpenting rezeki saya lancar mengalir terus dari dunia yang saya tekuni.

“Karena rezeki itu bukan hanya kaya. Materi, kaya gampang diukur. Kalau rezeki tidak dapat diukur. Walaupun dua-duanya nikmat, anugerah,” terang Cak Lontong..

Menurut Cak Lontong, cakupan rezeki lebih luas dari kekayaan materi. Orang yang materinya melimpah belum tentu rezekinya banyak. Cak Lontong mencontohkan, orang kaya tapi sakit-sakitan.

“Berarti rezeki kesehatannya sedikit. Makanya disyukuri apapun bentuknya. Setiap makhluk hidup membawa rezekinya masing-masing. Semua ada jatahnya masing-masing,” tambahnya.

Di dalam kehidupan, Cak Lontong juga memegang prinsip : setiap manusia hidup harus menuju level yang lebih baik. Kata Cak Lontong, kalau hal yang lebih baik tidak terjadi, maka ada proses perjalanan yang salah. Menurut Cak Lontong, manusia bukan bagaimana ia dilahirkan. Tapi bagaimana proses menuju hingga tiba di tujuan yang lebih baik.

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on linkedin

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

IKUTI KAMI

%d blogger menyukai ini: