Ajak Generasi Muda Mengenal Sejarah, Edukator Museum DIY Gelar Lomba Cosplay Tokoh Mataram

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on linkedin
Flyer lomba cosplay tokoh Mataram /Foto: instagram_@museumpleret

Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayaan) Daerah Istimewa Yogyakarta melalui Edukator Museum kini tengah menggelar kegiatan lomba cosplay tokoh Mataram dengan mengangkat tema “Gelora Muda Mataram”.

Bukan tanpa alasan, kegiatan yang menyasar generasi muda tingkat SMA/SMK se-Daerah Istimewa Yogyakarta ini digelar dalam rangka mangayubagya pengusulan dan penetapan 1 Maret menjadi Hari Penegakan Kedaulatan Negara sebagai Hari Besar Nasional.

Untuk semakin memikat minat pelajar dalam kegiatan ini, panitia telah menyiapkan beberapa macam hadiah mulai dari serifikat, plakat, uang tunai jutaan rupiah hingga berkesempatan mengunjungi museum di Yogyakarta secara gratis.

Menurut Melania Devita selaku narahubung, kegiatan yang berlangsung mulai dari tanggal 3 Februari 2022 hingga 5 Maret 2022 ini didukung penuh oleh Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa Yogyakarta melalui Dana Keistimewaan 2022.

Sebagai informasi, timeline dari kegiatan ini dimulai dari tanggal 1-24 Februari 2022 yakni pendaftaran dan pengumpulan karya, 25-27 Februari 2022 penjurian karya, 1 Maret 2022 pengumuman 5 peserta terbaik serta pada puncak acara akan digelar 5 Maret 2022 dengan rundown acara penjurian, coswalk serta awarding yang akan digelar secara luring.

Disisi lain, Melania mengaku, kegiatan yang sudah berjalan sejak 3 tahun terakhir ini sempat mengalami kendala. Sulitnya merangkul generasi muda untuk ikut berpartisipasi menjadi kendala utama selama proses pelaksanaan kegiatan tersebut. Padahal, secara tidak langsung kegiatan ini penuh akan pengetahuan sejarah yang wajib untuk dilestarikan.

“Diharapkan dengan adanya kegiatan yang akan di gelar di Museum Pleret ini, masyarakat secara umum bisa mengetahui sejarah dan budaya Yogyakarta lebih dalam serta terutama mengenal para tokoh Mataram Islam pada khususnya. Para generasi muda juga semakin tahu dan paham tentang tohoh-tokoh pahlawan Islam yang telah memberikan sumbangsih ilmu dan peninggalan budaya yang bisa dinikmati hingga sekarang,” Lebih dari itu, Melania juga berharap masyarakat umum khususnya masyarakat Daerah Istimewa Yogyakarta bisa mangayubagyo pengusulan dan penetapan Hari Penegakan Kedaulatan Negara sebagai Hari Besar Nasional yang jatuh pada tanggal 1 Maret.

*Menelisik Sejarah di Balik Tanggal 1 Maret

Hari penting nan bersejarah untuk mengenang Serangan Umum 1 Maret 1949 sebagai wujud perjuangan kemerdekaan Indonesia itu merupakan momentum yang membuktikan bahwa Yogyakarta mempunyai peran yang sangat besar bagi Kemerdekaan Indonesia. Kisah heroik dari para pejuang terdahulu sangat diharapkan menjadi inspirasi bagi generasi penerus serta membangkitkan rasa nasionalis pada masyarakat.

Sementara, sejarah panjang perjuangan Bangsa Indonesia dalam mencapai kemerdekaan tentunya tidak bisa dilepaskan dari perjuangan kerajaan Mataram Islam serta tokoh-tokoh yang ada didalamnya beserta dengan garis keturunannya.

Bahkan, sejarah pernah mencatat bahwa kerajaan Islam terhitung sudah dua kali melakukan serangan untuk mengusir penjajah di Batavia. Serangan yang di pimpin langsung oleh Sultan Agung Hanyokrokusumo ini sangat menginspirasi dan semangat perjuangannya masih berlanjut hingga Indonesia berhasil meraih kemerdekaannya.

Tokoh-tokoh keturunan Mataram baik laki-laki maupun perempuan sama-sama memiliki kegigihan dan kegagahan dalam memimpin perjuangan untuk melawan penjajah yang telah menorehkan penderitaan panjang bagi rakyat Indonesia. Tokoh Mataram itu diantaranya seperti Sultan Agung, Nyi Ageng Serang, Pangeran Diponegoro, Pangeran Mangkubumi serta masih banyak lagi lainnya.

Menurut sejarah, Serangan Umum 1 Maret ini adalah sebuah peristiwa yang banyak mengandung unsur sejarah dan budaya, mulai dari nilai kebangsaan, semangat gotong royong, tenggang rasa serta kerjasama. Bukan hanya semata-mata menampilkan penokohan tertentu, tetapi lebih kepada penyampaian peran yang luar biasa hasil kolaborasi bersama pemerintah, TNI dan masyarakat.

Secara umum, Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada, Sri Margana mengatakan bahwa peristiwa Serangan Umum 1 Maret pada dasarnya adalah rangkaian yang dimulai dari Proklamasi Kemerdekaan Indonesia tahun 17 Agustus 1945. Dimana saat itu Yogyakarta menyatakan diri untuk bergabung dengan Republik Indonesia hingga adanya peristiwa Agresi Militer Belanda II yang terjadi di bulan Desember 1948.

Sri Margana menambahkan, pada saat itu Belanda kemudian melakukan propaganda bahwa Republik Indonesia telah habis, dalam artian pemerintah Indonesia maupun militernya sudah tiada. Mengetahui hal tersebut, Sri Sultan Hamengku Buwono IX khawatir jika propaganda ini dipercaya oelh masyarakat dunia. Jika itu terjadi, maka perjuangan bangsa Indonesia akan sia-sia.

Maka dari itu, Sri Sultan Hamengku Buwono IX berinisiatif untuk menghubungi Jenderal Sudirman sebagai pemimpin militer tertinggi yang kala itu sedang bergerilya untuk melakukan semacam serangan umum ke arah Kota Yogyakarta. Dimana, serangan tersebut bertujuan untuk membuktikan kepada dunia bahwa Indonesia masih utuh dan masih ada.

Tak butuh waktu lama, Jenderal Sudirman menerima usulan Sri Sultan Hamengku Buwono IX dan memintanya untuk menghubungi perwira TNI Letkol Soeharto yang saat itu bertanggungjawab di Kota Yogyakarta. Pada akhirnya, disepakatilah serangan umum dilakukan pada tanggal 1 Maret 1949 di pagi hari, lebih tepatnya saat sirine pukul 6 berbunyi.

Meskipun kala itu TNI hanya bisa menduduki Yogyakarta, hal tersebrbut cukup memberikan pengaruh besar kepada moral para pejuang serta mampu memberikan tekanan kepada dunia internasional untuk membawa Belanda ke meja perundingan.

Secara garis besar, tanggal 1 Maret 1949 merupakan tonggak awal dimulainya kembali sebuah bentuk perjuangan mempertahankan kemerdekaan dari Agresi Militer Belanda II atas pendudukan Ibukota Republik Indonesia di Yogyakarta. Peristiwa tersebut dinilai tak hanya berari bagi rakayat dan pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta tetapi juga kepentingan seluruh bangsa Indonesia.

*Museum Pleret

Museum Sejarah Purbakala Pleret merupakan museum yang terletak di Jalan Raya Pleret, Kecamatan Pleret, Bantul. Resmi dibuka pada 10 Maret 2014, museum ini didirikan diatas bekas kompleks Keraton Mataram Islam pada masa kekuasan Raja Amangkurat I kurang lebih dengan luas bangunan 2000 meter.

Sebenarnya, luas keraton Pleret membentang hingga 34 hektare yang didalamnya meliputi beberapa desa hingga perbatasan Piyungan Banguntapan. Dimana, pada bagian barat perbatasannya terdapat sungai Gajahwong. Namun, sebagian besar kini sudah menjadi bangunan rumah warga. Selain itu, beberapa lahan yang masih kosong telah menjadi tanah kas desa.

Dikelola langsung oleh Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayaan) Daerah Istimewa Yogyakarta, selain sebagai tempat menyimpan koleksi-koleksi peninggalan masa lampau, museum ini juga berada tepat di Kawasan Cagar Budaya (KCB) Kerta-Plered. Hal tersebut bisa dilihat berdasarkan Keputusan Gubernur No. 211/KEP/2019, secara tidak langsung bisa menjadi nilai tambah sebagai kawasan yang perlu dikembangkan potensi budayanya.

Museum ini tidak hanya menyimpan koleksi dari masa Mataram Islam saja, tetapi juga memiliki koleksi dari berbagai zaman yang ditemukan di Kabupaten Bantul. Koleksi-koleksi itu diantaranya seperti peralatan batu peninggalan masa prasejarah, arca-arca Dewa masa Hindu-Budha, serta tak ketinggalan berbagai jenis umpak dan bata berukuran besar yang konon merupakan bagian dari komponen bangunan keraton pada masa Mataram Islam.

Beberapa koleksi tersebut diantaranya seperti arca Jambhala dan Ganesha. Arca Jambhala sendiri ditemukan oleh tim peneliti dari Balai Pelestarian Cagar Budaya DIY saat ekskavasi di situs Gampingan pada tahun 1997. Saat ditemukan, arca tersebut masih dalam kondisi utuh dan memakai atribut yang cukup lengkap, dimana tangan kiri dari arca itu membawa nakula atau kalung mutiara.

Dalam agama Hindu, Jambhala seringkali disebut sebagai Kuvera yang merupakan perwujudan dari dewa kekayaan atau kemakmuran. Sedangkan, arca Ganesha yang digambarkan berkepala gajah dan berbadan manusia ini juga ditemukan dengan atribut lengkap diantaranya memiliki 4 tangan, ekadanta atau bergading satu serta memegang akhsamala semacam tasbih.

Salah satu koleksi yang cukup menarik perhatian masyarakat adalah keberadaan sebuah sumur berwarna merah muda, masyarakat sekitar menyebutnya sumur Gumuling. Konon, siapapun yang menggunakan air di sumur ini, kelak yang belum mempunyai pasangan bisa cepat bertemu jodohnya. Kepercayaan seperti itu santer terdengar di masyarakat yang bermukim di sekitar kawasan museum.

Menurut beberapa cerita yang beredar, sumur ini juga terhubung secara spiritual dengan pantai selatan dan bahkan air dari sumur tersebut digunakan untuk jamasan pusaka di keraton. Diketahui, area dinding sumur memiliki ketebalan sekitar 1,25 meter dan terbuat dari batu bata yang direkatkan dengan bahan ilmiah.

Berbagai peninggalan yang lain juga masih dapat dijumpai di KCB Kerta-Plered berupa sisa-sisa komponen bangunan masa Kraton Kerta (masa Pemerintahan Sultan Agung Hanyakrakusuma) dan Kraton Plered (masa Pemerintahan Susuhunan Amangkurat I).

Konon, Sultan Agung Hanyakrakusuma merupakan raja yang bertakhta di Kraton Kerta, beliau juga merupakan seorang Pahlawan Nasional Indonesia yang telah ditetapkan oleh Presiden Republik Indonesia pada tahun 1975. Sebagai salah satu Pahlawan Nasional, Sultan Agung Hanyakrakusuma memiliki jasa besar salah satunya ikut serta dalam penyerangan terhadap VOC di Batavia.

 

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on linkedin

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

IKUTI KAMI

%d blogger menyukai ini: