Jumat Kliwon, Patih Gandamana Gelar Sayembara di Magetan

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on linkedin
Gandamana, santrikertonyono.com
Wayang Gandamana gaya Surakarta /Foto: wikipedia.com

SANTRI KERTONYONO  –  Gandamana atau Gondomono menggelar sayembara yang menggegerkan jagat pewayangan. Patih negara Pancala itu tiba-tiba membuat pasanggiri (turnamen) perang tanding. Isi siarannya: barang siapa yang mampu mengalahkannya, maka berhak mempersunting Dewi Drupadi.

Gandamana merupakan putra mahkota Prabu Gandabayu, penguasa negara Pancala yang menolak melanjutkan tahta. Gandamana ikhlas mahkota Pancala diberikan kepada Arya Sucitra atau Prabu Drupada, kakak iparnya, suami Dewi Gandarwati.

Fisik Gandamana serupa Gatotkaca: tampan, gagah, tegap, pendiam, kuat dan sakti mandraguna. Wataknya kstaria. Karenanya ia pantang berdusta, bila berjanji selalu ditepati, pendek kata Gandamana tak pernah menjilat ludah sendiri.

Dewi Drupadi yang kejelitaanya tersohor di seantero negeri, adalah kemenakannya. Drupadi merupakan anak Prabu Drupada dengan Dewi Gandarwati.

Tapi siapa yang tak kenal dengan Gandamana yang berwatak keras itu?. Di masa mudanya, Resi Dorna atau Drona atau Durna yang sakti saja, pernah dihajar Gandamana hingga nyaris mati.

Gandamana terkenal memiliki aji bandung bandawasa, yakni ilmu sakti yang sifat merusaknya begitu nggegirisi. Namun kecantikan Drupadi telah menyingkirkan semua rasa takut.

Terlanjur terpikat hati dengan Drupadi, para raja dan pangeran pun berbondong-bondong mendaftarkan diri sebagai peserta sayembara. Mereka nekat mengadu jiwa dengan Gandamana.

Dan mudah ditebak. Dalam sekejap, satu persatu berguguran. Tak ada yang sanggup menghadapi keganasan ajian bandung bandawasa. Sampai akhirnya tinggal satu peserta, yakni Arya Wijasena alias Bima alias Bratasena.

Putra Pandu Dewanata itu juga terkenal pilih tanding. Bima memiliki senjata Kuku Pancanaka yang juga tersohor keganasannya. Di atas gelanggang, Bima dan Gandamana berhadap-hadapan, siap berduel.

Akankah tubuh Bima yang gagah hancur binasa oleh ajian bandung bandawasa? atau sebaliknya, Gandamana yang tumpas tercabik-cabik kuku Pancanaka?.

Akhir dari pertempuran dahsyat itu akan terungkap dalam lakon Gondomono Sayemboro yang dimainkan dalang Ki Agung Wasratmojo. Pagelaran wayang kulit semalam suntuk itu berlangsung Jumat Kliwon 21 Oktober 2022 di Desa Randu Gede Kecamatan Plaosan, Kabupaten Magetan, Jawa Timur.

Pagelaran wayang kulit disertai door prize ini merupakan yang kesebelas kalinya. Pentas wayang kulit tersebut merupakan persembahan dari Komunitas Pelestari Seni Budaya Nusantara (KPSBN), di mana Anies Baswedan menjadi pembinanya.

Pagelaran yang selalu melibatkan dalang lokal dan sekaligus menggandeng Pepadi (Persatuan Pedalangan Indonesia) itu, dimulai sejak tahun 2015. Apa yang dilakukan KPSBN adalah bentuk komitmen nguri-nguri (melestarikan) kebudayaan nusantara.

Khususnya untuk warga Magetan, monggo mirsani wayang sareng Bopo Anies Baswedan (Mari menonton wayang bersama bapak Anies Baswedan),” kata Ketua Pepadi Magetan Ki Muslimin Ari Wibowo.

 

 

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on linkedin

SERING DIBACA

IKUTI KAMI

%d blogger menyukai ini: