Jejak Keindahan Akulturasi Islam-Tionghoa dalam Tradisi Budaya Warga Lasem

 Jejak Keindahan Akulturasi Islam-Tionghoa dalam Tradisi Budaya Warga Lasem

Masjid Jami’ Lasem Setelah Pemugaran /Foto: lh3.googleusercontent.com

Suka cita perayaan Imlek tak bisa dilepaskan dengan tradisi budaya warga Tionghoa yang telah diyakini selama beratus-ratus tahun yang lalu. Sama seperti dengan hari besar perayaan bagi umat Islam atau hari besar perayaan bagi umat berkeyakinan lain, umat Tionghoa menyambut perayaan Imlek dengan cara makan bersama dan berkumpul dengan keluarga.

Tahun baru Imlek sendiri merupakan perayaan yang sangat penting bagi warga Tionghoa. Jika dilihat pada penanggalan Tionghoa, perayaan tahun baru Imlek dimulai pada hari pertama bulan pertama dan berakhir dengan tradisi Cap Gomeh pada tanggal ke-15 yang biasanya jatuh tepat pada saat bulan purnama. Namun, beberapa kelompok bahasa dan budaya Tionghoa mempunyai praktik yang berbeda-beda dalam menggelar perayaan Imlek.

Khususnya bagi warga Indonesia, warga keturunan Tionghoa biasanya menggelar beberapa acara saat perayaan Imlek berlangsung. Masing-masing acaranya seperti melakukan pemujaan kepada leluhur, seperti halnya dalam upacara kematian, memelihara meja abu (lingwei) atau biasa disebut dengan lembar papan kayu bertuliskan nama almarhum leluhur, bersembahyang leluhur seperti halnya yang dilakukan pada hari Ceng Beng atau hari khusus untuk berziarah dan membersihkan kuburan leluhur.

Terhitung sudah sangat lama sejak warga Tionghoa masuk ke Indonesia, yakni beberapa literatur sejarah mengungkapkan bahwa masuknya warga Tionghoa ke Indonesia tidak lepas dari peran bangsa China di Indonesia kurang lebih sejak abad ke-4 hingga abad ke-7. Aktivitas kerajaan Islam di Nusantara yang sudah mulai bergeliat tidak mengherankan apabila masyarakat Tionghoa juga mengalami akulturasi dan mulai melakukan perkembangan.

Secara definisi, akulturasi merupakan proses sosial yang muncul bila suatu kelompok manusia yang memiliki suatu kebudayaan tertentu berhubungan dengan unsur-unsur dan suatu kebudayaan asing. Kemudian, unsur-unsur dari masing-masing kebudayaan yang berbeda itu saling bercampur satu sama lain dikarenakan adanya interaksi dan dalam waktu yang cukup lama.

Garis besar dari proses akulturasi ini merupakan dua kebudayaan yang berbeda membentuk sebuah kebudayaan baru namun tidak menghilangkan ciri masing-masing kebudayaan. Dimana, unsur masing-masing kebudayaan asing tersebut lambat laun diterima dan diolah ke dalam kebudayaan sendiri tanpa menyebabkan hilangnya kebudayaan awal.

Di era sekarang, akulturasi budaya Islam dan budaya Tionghoa tersebut juga nampak terlihat di salah satu daerah di Provinsi Jawa Tengah. Tepatnya di kecamatan Lasem kabupaten Rembang Jawa Tengah, kota kecamatan yang terletak di wilayah pesisir pantai Laut Utara Jawa ini memiliki luas wilayah 45 km2 dengan jumlah kepala keluarga sebanyak 14.549 KK sesuai dengan data BPS 2013.

Masjid Lasem Sebelum Dipugar, Kabupaten Rembang Jawa Tengah /Foto: kebudayaan.kemendikbud.go.id

Diketahui, Kecamatan Lasem dialiri oleh Sungai Babagan yang dulunya merupakan jalur transportasi utama perdagangan internasional pada zaman pemerintahan Majapahit. Menurut sejarah, kecamatan Lasem sendiri berhasil ditaklukan oleh Majapahit pada akhir abad ke-13 dan berubah nama menjadi kerajaan Lasem, dimana kerajaan Lasem merupakan salah satu pendukung kejayaan kerajaan Majapahit karena letak daerah Lasem yang strategis yakni berada di wilayah pesisir.

Jika ditelisik lebih dalam, Kota Lasem ini sangat menonjolkan akulturasi budaya Jawa pribumi, China dan Islam dengan harmonisasi yang menawan. Toleransi yang kuat antar umat beragama berlangsung dengan damai dan teratur. Bukti terciptanya akulturasi budaya dengan toleransi tinggi yakni dengan adanya kawasan pesantren yang berdiri secara berdampingan dengan kawasan pecinan.

Akulturasi budaya tersebut tak lain merupakan representasi dan pencampuran dari budaya pendatang dengan budaya lokal yang terbentuk akibat dari perjalanan yang cukup panjang dari sejarah budaya pesisir Jawa terhitung sejak abad ke-14. Kini, hal itu divisualisasikan dengan beberapa bentuk arsitektur bangunan dengan berbagai ragam bentuk hasil perpaduan budaya Jawa, Tiongkok serta Islam. Ditambah lagi dengan kebudayaan membatik yang sudah mengalami masa kejayaan.

Menurut jurnal ilmiah yang ditulis oleh Diah Ayuningrum dengan judul “Akulturasi Budaya Cina dan Islam dalam Arsitektur Tempat Ibadah di Kota Lasem Jawa Tengah” menjelaskan bahwa kehadiran etnis Tionghoa di Lasem terhitung sudah lebih dari empat ratus tahun yang lalu dan berhasil membawa banyak perubahan. Budaya cina telah berbaur dengan budaya pribumi, bukti pembauran budaya China dan pribumi yang sangat terkenal adalah batik tulis Lasem.

Diketahui, motif batik tersebut bergaya khas China seperti Liong, burung Phoenix dan Naga mendominasi batik tulis Lasem. Warna batiknya pun khas dengan warna merah darah ayam yang juga dianggap memiliki banyak keberuntungan di negeri China, hal itu secara tidak langsung telah terjadi akulturasi budaya tionghoa dengan masyarakat setempat.

Sementara itu, akulturasi batik tidak hanya antara dengan budaya Jawa tetapi juga dengan budaya Islam. Batik dengan warna khas merah darah ayam bermotif kalimat “Allahuakbar” dan “Muhammad” bahkan juga pernah dibuat. Proses pelunturan malam saat pembuatan batik pun juga tidak diinjak melainkan menggunakan tangan.

Akulturasi budaya China-Islam pada bidang arsitektur juga terlihat pada bentuk atap masjid Jami’ Lasem. Bila dlihat, bentuk atap yang bertingkat dua memiliki ujung melengkung mirip dengan arsitektur bangunan China yang bernama Tsuan Tsien. Dimana, teori China yang menyatakan masuknya Islam ke Jawa abad ke-15 dan abad ke-16 didukung oleh Sumanto Al Qurtuby dimana beliau menyebutkan bahwa abad-abad tersebut biasa dikenal dengan jaman Sino-Javanese Muslim Culture.

Hal tersebut tentunya terbukti dengan konstruksi soko tatal pada penyangga Masjid Demak, ukiran batu padas di Masjid Mantingan, hiasan piring dan elemen tertentu di masjid Menara Kudus dan Jepara, konstruksi pintu makam Sunan Giri di Gresik, elemen-elemen yang terdapat pada keraton Cirebon termasuk taman Sunyaragi. Detail arsitektur itu menunjukkan adanya pengaruh pertukangan China yang cukup kuat.

Untuk masjid Jami’ Lasem sendiri, akulturasi budaya China atau Tionghoa dengan Islam setidaknya ditemukan pada lima bagian masjid masing-masing yakni atap masjid, bentuk ujung atap, kubah masjid, menara dan ukir-ukiran. Terlihat pada gambaran masjid Jawa kuno yang dibangun pada abad ke-15 dan abad ke-16 mempunyai ciri-ciri seperti atap yang bersusun lima, berbentuk segi empat dan simetris penuh dan denahnya dikelilingi oleh kolam yang dipergunakan untuk berwudhu ketika akan bersembahyang.

Namun cukup disayangkan, ciri-ciri pengaruh arsitektur China memang terlihat sangat sedikit, hal itu disebabkan karena masjid Jami’ Lasem sudah mengalami beberapa kali pemugaran sehingga beberapa bentuk dan denah aslinya sudah banyak yang berubah bahkan hampir tidak ditemukan dokumentasi saat masjid ini pertama kali didirikan.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related post

%d blogger menyukai ini: