Tradisi Rampogan Macan, Bentuk Upacara Kurban Masyarakat Jawa di Abad 17

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on linkedin
rampogan-macan
Rampogan Macan oleh masyarakat /Foto : detiknews.com

santrikertonyonoGelaran upacara tradisi rampogan macan mungkin kini sudah cukup asing terdengar di telingan masyarakat, khususnya masyarakat Jawa. bagaimana tidak? Tradisi yang biasa disebut dengan rampok macan atau rampog macan tersebut sempat populer selama beberapa abad, namun kini tradisi rampogan macan telah menghilang dan sudah tidak bisa ditemui lagi pertunjukannya.

Pada abad ke-17 hingga awal abad ke-20, tradisi rampogan macan ini merupakan tradisi yang sangat di tunggu-tunggu oleh masyarakat. Biasanya kegiatan ini digelar di tempat-tempat luas dan terbuka seperti alun-alun Kerajaan Jawa atau lapangan, sehingga bisa menarik perhatian warga datang berbondong-bondong untuk melihat.

Jika di telisik lebih jauh, rampogan macan sendiri memiliki 2 bagian dalam pertunjukkannya. Yang pertama yakni sima-Maesa atau pertarungan antara kerbau dan harimau yang biasanya diletakkan didalam kandang dan kedua yakni rampogan sima yang berarti terdapat beberapa harimau didalam para barisan laki-laki yang membawa tombak. Dengan aturan, apabila mereka berlari mereka akan mati.

Beberapa pengamat sejarah mengatakan bahwa tradisi rampogan macan bisa dikatakan sebagai sebuah upacara dengan banyak interpretasi yang kaya akan budaya. Namun, bagi beberapa pengamat Eropa, tradisi ini melambangkan kekuatan untuk menghapuskan sebuah ilmu atau tindakan kejahatan.

Umumnya, rampogan macan yang dulu sering digelar di hari-hari tertentu merupakan bentuk perjuangan meraih kemenangan yang berdaulat. Diman, kekacauan-kekacauan yang terjadi diibaratkan seperti seekor harimau serta bertujuan untuk memurnikan atau membersihkan seluruh bagian dari kerajaan.

Namun sangat disayangkan, simbolisasi tradisi rampogan macan semakin lama semakin melemah selama abad ke-18 hingga abad ke-19. Bahkan tradisi tersebut secara bertahap mulai berubah menjadi sebuah acara atau dibungkus menjadi festival biasa.

Beberapa atribut royalti khas Jawa yang biasanya menjadi salah satu bagian dari upacara rampogan macan, saat itu hanya digunakan oleh beberapa kaum bangsawan dan priyayi hanya untuk memamerkan kekayaan dan kekuasaan kaum pangeran bangsawan.

Terdapat satu hal penting yang sebenarnya tidak bisa dipisahkan dari tradisi rampogan macan. Pasalnya, rampogan macan juga dipandang sebagai salah satu bentuk perjuangan politik simbolis antara Perusahaan Hindia Timur Belanda (VOC) dengan Pemerintah Jawa kala itu.

Pagelaran Rambogan Macan

Pada zaman dahulu, populasi harimau Jawa sangatlah banyak bahkan diyakini sebagai karnivora terbesar yang pernah menghuni pulau Jawa. Jika dilihat dari peta persebarannya, hewan buas ini pernah di temukan di beberapa titik lokasi seperti Jampang Kulon, Taman Nasional Ujung Kulon, Gunung Pangrango, Yogyakarta, Probolinggo, Blitar, Banyuwangi, Tulungagung, hingga di Taman Nasional Meru Betiri.

Anggitanipoen R. Kartawibawa dalam bukunya yang berjudul “Bakda Mawi Rampog” (1923) pernah mengatakan bahwa ritual rampogan macan di Blitar mulai digelar pada tahun 1880. Dimana, ritual ini kala itu digelar pemerintah berawal dari keresahan serta keluhan masyarakat Blitar Selatan yang khawatir akan serangan harimau yang memangsa ternak-ternak milik mereka.

Untuk mengatasi kegelisahan masyarakat tersebut, akhirnya pemerintah menggelar sebuah sayembara untuk melakukan penangkapan terhadap harimau-harimau tersebut. Pada aturan sayembara itu disebutkan bahwa siapapun yang bisa menangkap atau bahkan membunuh harimau akan mendapat bayaran sebesar 10-50 gulden.

Sejak saat itu, upacara rampogan macan menjadi tradisi di wilayah kekuasaan Mataram sejak abad ke-17 yakni tepatnya pada masa pemerintahan Raja Amangkurat II. Lalu, pada tahun 1783 terbitlah buku berjudul “History of Java” (1817) oleh Thomas Stamford Raffles yang menjelaskan tentang agungnya sebuah pertunjukan rampog yang digelar oleh masyarakat Jawa.

Sebuah naskah artikel yang diunggah oleh Detik.com dengan judul “Rampogan Macan, Tradisi Menombak Harimau Beramai-Ramai di Blitar Tempo Dulu” (tayang pada 14 Maret 2021), Pemerhati Sejarah dan Situs Purbakali Asli Blitar Ferry Riyandika menjelaskan pada hakikatnya istilah rampog atau rampak dalam bahasa Jawa berarti menyerang dalam jumlah besar. Saat tradisi rampogan macan berlangsung, akan banyak harimau yang berhadapat dengan banyak orang yang memegang tombak atau senjata lain.

Diketahui, Kabupaten Blitar merupakan salah daerah yang dahulu sering kali menggelar tradisi rambogan macan. Namun bukan untuk ajang menunjukkan kekuasaan bangsawan, upacara rambogan macan ini juga digelar sebagai tradisi tolak bala agar Kabupaten Blitar bisa terhindar dari ancaman wabah serta erupsi gunung Kelud.

Sementara, tradisi rampogan macan kerapkali juga digelar oleh Kesultanan Surakarta serta Kasunanan Surakarta dan menjadi tradisi rutin di kalangan para ningrat. Salah satu diantaranya adalah Pakubuwono X yang cukup gemar mengadakan tradisi tersebut.

Rampogan macan yang digelar di Kasunanan Surakarta sendiri biasanya menggunakan macan dan beberapa hewan-hewan liar yang memang sengaja dipelihara didalam sebuah kandang yang berada di sudut alun-alun.

Dimana, hewan-hewan tersebut merupakan hewan-hewan yang didapat melaui buruan atau tangkapan yang nantinya akan disiapkan dan ditunjukkan selama prosesi rampogan macan itu berlangsung. Diketahui, tradisi ini biasanya dilangsungkan pada pagi hari dan berakhir pada siang hari.

Tujuan digelarnya tradisi rampogan macan di Kabupaten Blitar dan Kasunanan Surakarta tentu berbeda. Tradisi rampogan macan yang digelar di Kasunanan Surakarta biasanya bertujuan untuk menyambut tamu-tamu agung yang tengah berkunjung. Tamu-tamu tersebut biasanya merupakan para penjajah Belanda atau Gubernur Jenderal.

Diketahui, orang-orang atau prajurit yang diutus mengikuti tradisi rampogan macan adalah prajurit yang baru yang kurang terlatih. Tentunya saat berhadapan dengan harimau-harimau buas itu, mereka akan merasa ketakutan bahkan lari karena merasa tidak bisa berbuat apa-apa.

Bukan tanpa kosong, sebelumnya mereka juga telah dibekali sebuah tombak yang bisa digunakan untuk menyerang sang harimau. Namun kembali lagi, mereka hanya prajurit lemah yang lebih sering mengedepankan alasan logis. Bagi mereka, jika tombak yang mereka bawa kalah melawan harimau tersebut, maka tombak mereka akan kalah secara pamor.

Lantas, tombak yang digunakan dalam tradisi rampogan macan itu dijual atau bahkan digadaikan. Karena tombak yang juga diyakini sebagai senjata pusaka setelah keris ini dianggap memalukan selama tradisi tersebut berlangsung.

Namun tak jarang, para harimau itu pun harus menyerah kalah setelah badan kekarnya banyak tersayat ujung tombak. Itu merupakan kesempatan emas bagi para prajurit untuk membantainya bersama-sama. Tanah lapang yang tadinya hanya ada tanah dan debu, berubah menjadi lautan darah dari sang harimau.

Bagi Kasunanan Surakarta, rampogan macan ini adalah tradisi untuk mengusir roh jahat. Dimana, masyarakat percaya bahwa harimau merupakan lambang dari roh jahat yang perlu di bunuh dan diusir dengan cara pembataian beramai-ramai.

Karena banyaknya harimau yang mati akibat tradisi ini, akhirnya Pemerintah Belanda mengeluarkan peraturan dengan melarang acara ini pada tahun 1905. Karena mengedepankan alasan etika, banyak dari orang Belanda mengganggap bahwa tradisi tersebut bukan melambangkan sikap ksatria yang terhormat. Bahkan tradisi rampogan kerapkali dibandingkan dengan matador di Spanyol.

Rampogan dan Segala Perubahannya

Pada zaman dahulu, mayoritas orang Jawa menaruh kepercayaan cukup tinggi terhadap harimau. Bahkan, beberapa dari mereka meyakini bahwa harimau tak lain merupakan jelmaan roh leluhur yang bertugas untuk menjaga dan memantau perilaku seluruh penduduk desa.

Namun, hal itu sangat kontras bagi orang-orang di Kasunanan Surakarta dan Kesultanan Yogyakarta yang memandang harimau sebagai simbol sifat liar, tidak bisa diatur dan tentunya sangat bertentangan dengan budaya adiluhung.

Selain itu, banyak mitos yang tersebar di masyarakat bahwa hutan dan harimau merupakan satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan. Mereka percaya apabila ada seseorang yang hendak mencari kayu di hutan, maka akan dihalangi oleh harimau. Begitupun sebaliknya, apabila ada orang yang berburu harimau, maka harimau itu juga akan disembunyikan oleh hutan. Seiring berjalannya waktu, harimau-harimau itu berjalan menemui kepunahannya karena tradisi rampogan.

Sementara itu, salah satu Gubernur Jenderal Hindia Belanda Rijklof van Goens bahkan pernah mendatangi tradisi itu di Mataram sebanyak 5 kali. Tercatat setelah tahun 1686, di setiap titik di keraton dibangun sebuah kandang harimau yang bersifat permanen yakni di Kartasura, Surakarta dan Yogyakarta.

Menurut esai berjudul “Rampongan Sima, Pelarangan, dan Psikologi Kerumunan” (2020) yang ditulis oleh A. Harimurti, menyebutkan bahwa terdapat beberapa perbedaan prosesi saat pagelaran rampogan macan dari masa ke masa.

Apabila sebelumnya, tradisi rampogan ini hanya digelar sebagai prosesi ritual dan hanya dilakukan di keraton-keraton, maka menjelang terpecahnya Mataram menjadi Yogyakarta dan Surakarta, ritual rampogan sima ini dilakukan oleh para bupati dan semata-mata hanya digunakan untuk kesenangan.

Dalam peraturan yang berlaku saat itu, para bupati memang dilarang untuk memiliki harimau. Alhasil, bupati hanya mempunyai hak untuk menangkap harimau untuk kemudian digunakan sebagai ritual atau bisa dikirimkan kepada para penguasa Jawa.

Namun, punahnya harimau Jawa ini tidak hanya diakibatkan dari tradisi rampogan, namun disinyalir juga disebabkan karena banyaknya pembukaan lahan-lahan baru, seperti pada masa pembangunan Jalan Raya Pos (De Groote Postweg) pada tahun 1809-1810 di bawah kekuasaan Gubernur Jenderal Herman Willem Daendels.

Pembukaan lahan yang lain juga diikuti dengan kegiatan Tanam Paksa pada tahun 1830-1870 yang saat itu bertujuan untuk meningkatkan jumlah ekspor sektor agrikultural sebagai imbas dari biaya Perang Jawa pada tahun 1825 sampai 1830.

Lebih dari itu, banyak masyarakat Jawa yang secara bebas membuka lahan baru sebagai tempat hunian karena meningkatnya jumlah penduduk pada masa Tanam Paksa. Meskipun belum ada sumber literasi yang menyebutkan secara signifikan berapa kenaikan jumalh penduduk pada mas itu, tetapi Gertz (1963) pernah mencatat bahwa antara tahun 1830-1900 terjadi peningkatan jumlah penduduk sekitar 2 persen setiap tahunnya.

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on linkedin

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

IKUTI KAMI

%d blogger menyukai ini: