Tembang Pangkur dan Gamelan Singo Mengkok, Media Sunan Drajat Mensyiarkan Islam

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on linkedin
sunan drajat
Sketsa Sunan Drajat /Foto: mistikus-sufi.blogspot.com

Sunan Drajat yang merupakan salah satu dari lima wali di Jawa Timur ini dikenal dengan beberapa nama lain seperti Radem Qosim bin Muhammad Ali Rahmatullah bin Ibrahim Assamaraqandi. Salah satu wali yang berkedudukan di Drajat Kabupaten Lamongan ini juga memiliki nama yang cukup banyak yakni Sunan Mahmud, Sunan Mayang Madu, Sunan Muryapada, Raden Imam, dan Maulana Hasyim.

Beliau lahir pada tahun 1470 yang tak lain adalah putra dari Sunan Ampel dari seorang ibu yang bernama Nyai Ageng Manila. Dengan memiliki ajaran-ajaran yang mudah dipahami masyarakat saat itu, Sunan Drajat mulai menyebarkan agama Islam di beberapa wilayah masing-masing Desa Banjaranyar, Paciran dan Lamongan. Tidak behenti disitu, Sunan Drajat mulai meluaskan wilayah syiar Islam ke wilayah selatan yang notabene masyarakatnya beragama Hindu dan Budha, tepatnya di sebuah perkampungan di Desa Jelak.

Kedatangan Sunan Drajat disambut baik oleh warga Desa Jelak, tepatnya ada tahun 1481 M Sunan Drajat membangun sebuah musholla sebagai tempat ibadah berjamaah serta sebagai tempat untuk mengajarkan agama Islam kepada santri-santrinya. Meskipun tergolong bangsawan, Sunan Drajat dikenal amat dekat sengan rakyat, beliau selalu mengutamakan kesejahteraan penduduk dan memiliki jiwa sosial yang tinggi.

Tak jauh dari Desa Jelak, Sunan Drajat membuka daerah baru yang awalnya masih berupa hutan berantara menjadi sebuah desa dan diberi nama Desa Drajat. Dalam menyebarkan agama Islam, Sunan Drajat menekankan beberapa poin penting yakni etos kerja keras, kedermawanan, saling peduli, solidaritas sosial, gotong royong dan pengentasan kemiskinan.

Salah satu ajaran Sunan Drajat yang masyhur dikenal dengan nama Catur Piwulang yakni “Paring teken marang kang kalunyon lan wuto, paring pangan marang kang keliren, paring sandang marang kang kawudan, paring payung marang kang kodanan” yang artinya “berikan tongkat kepada orang yang berjalan dijalan licin dan buta, berikanlah makan kepada orang yang kelaparan, berikanlah busana kepada orang yang telanjang, berikanlah payung kepada orang yang kehujanan”.

Dalam menyebarkan agama Islam, Sunan Drajat menggunakan media kesenian sebagai metode pendekatan kepada masyarakat. Dimana Sunan Drajat menciptakan tembang macapat Pangkur dan menggunakan alat musik berupa gamelan yang diberi nama Singo Mengkok. Di dalam tembang macapat Pangkur tersebut, Sunan Drajat menyampakan ajaran-ajaran falsafah kehidupan kepada masyarakat dan santri-santrinya.

Tak jarang pula Sunan Drajat menggunakan media wayang sebagai sarana mensyiarkan agama Islam. Keahliannya dalam mendalang, menjadikan Sunan Drajat sesekali membuat pentas pertunjukan wayang sebagai sarana dakwahnya. Hal tersebut tentunya tidak berbeda jauh dengan wali Allah lainnya yang menggunakan kesenian sebagai media berdakwah.

Menurut beberpa literatur, tembang macapat Pangkur merupakan singkatan dari Pangudi isine Qur’an atau berusaha mengerti isinya al Qur’an. Secara garis besar, beberapa tembang yang diciptakan oleh Sunan Drajat memang diisi dengan ajaran-ajaran sesuai dengan syariat Islam. Sedangkan menurut bahasa Jawa, Pangkur memepunyai arti yakni pejabat kerajaan yang memiliki sebagai pengawas agar perintah raja ditaati serta mengawasi pejabat yang dilarang memasuki daerah perdikan.

Biasanya tembang macapat Pangkur dinyanyikan bersama alunan musik dari suara gamelan Singo Mengkok. Banyak sumber yang menyebutkan bahwa gamelan Singo Mengkok tersebut memiliki kekuatan magis apalagi jika ditambah dengan tembang macapat Pangkur. Kekuatan magis tersebut pernah dikisahkan dalam suatu cerita yang hingga kini dipercaya oleh masyarakat.

Dikisahkan ada penjahat bernama Duratmoko yang tingkah lakunya sangat meresahkan masyarakat. Selain selalu berbuat onar dan membuat keributan, penjahat sakti tersebut tidak pernah mau mengakui perbuatan buruk yang telah ia lakukan kepada masyarakat. Perilaku buruk Duratmoko akhirnya terdengar sampai ke telinga Sunan Drajat.

Akhirnya Sunan Drajat mengutus pengawalnya untuk menangkap Duratmoko, meskipun dengan susah payah akhirnya Duratmoko berhasil tertangkap dan dibawa ke hadapan Sunan Drajat. Sunan Drajat tidak sedikitpun mengeluarkan kata-kata amarah kepada Duratmoko, justru beliau menyanyikan tembang Pangkur dengan diiringi lantunan suara dari gamelan Singo Mengkok-nya.

Mendengar tembang macapat Pangkur dan lantunan suara dari gamelan, Duratmoko masih diam dan membisu. Bahkan ia tetap tidak mau mengakui kesalahannya. Melihat sikap Duratmoko, akhirnya Sunan Drajat menyanyikan tembang macapat Pangkur dengan suara yang lebih keras dan dengan tempo yang lebih cepat.

Mendengar tembang dan alunan suara dari gamelan yang begitu cepat, akhirnya membuat Duratmoko menyerah. Akhirnya ia mau mengakui semua kesalahannya dihadapan Sunan Drajat. Tak butuh waktu lama, Duratmoko juga langsung meminta maaf kepada Sunan Drajat dan masyarakat yang selama ini terganggu dengan keonaran yang telah ia buat.

Duratmoko takhluk, ia terus meminta diangkat menjadi murid Sunan Drajat dan memutuskan menjadi pemeluk Islam. Sunan Drajat menyetujui, beliau memberi nama Duratmoko dengan menjadi Ki Sulaiman. Hal tersebut membuktikan bahwa sekuat apapun seorang manusia, pasti ia akan takhluk dengan kekuatan Islam.

Diketahui, isi tembang kurang lebih berisi saran dan nasehat untuk menjadi penolong sesama manusia. Sebagai makhluk ciptaan Allah tidak diperbolehkan memeras apalagi menyakiti orang lain. Hidup harus saling berdampingan dan saling tolong-menolong apabila ada yang membutuhkan.

Setelah Sunan Drajat wafat, kedudukannya digantikan oleh putranya yang bernama Raden Ngarip. Dimana, Sultan Demak II yang mengukuhkan kedudukan Raden Ngarip dengan gelar Panembahan Agung pada tahun 1520 M. Selain itu, adik-adik beliau seperti Raden Ishaq dan Raden Sidik turut diberikan gelar masking-masing yakni sebagai Panembahan Galomantung dan Panembahan Sepetmadu. Namun, Raden Ishaq dan Raden Sidik tidak mempunyai hak atas jabatan keprajaan.

Kini, Pemerintah Daerah Kabupaten Daerah Tingkat II Lamongan mendirikan sebuah Museum Daerah Sunan Drajat di sekitar makam beliau. Museum ini didirikan guna mengenang dan menghormati jasa-jasa Sunan Drajat sebagai seorang Wali Allah yang menyebarkan agama Islam khususnya di wilayah Lamongan bagian utara dan untuk melestarikan serta menjaga benda-benda bersejarah yang lain.

Museum yang diresmikan langsung oleh Gubernur Kepala Daerah Tingkat I Jawa Timur pada tanggal 31 Maret 1992 tersebut kini ramai akan peziarah yang ingin medo’akan beliau atau sekedar melihat-lihat benda-benda bersejarah peninggalan Sunan Drajat.

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on linkedin

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

IKUTI KAMI

%d blogger menyukai ini: