Tak Hanya Tolak Bala, Tradisi Perang Obor Kisahkan Perseteruan 2 Jagoan di Jepara

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on linkedin
perang-obor
Perang obor merupakan tradisi tolak bala dan diselenggarakan bersama-sama dengan ritual sedekah bumi oleh masyarakat Jepara /Foto: alif.id

santrikertonyonoMasyarakat Jepara tentunya sudah tidak asing lagi dengan salah satu tradisi yang telah diwariskan nenek moyang dengan menggunakan obor serta api menyala. Tradisi ini tergolong unik, karena dipercaya sebagai tolak bala dan diselenggarakan bersama-sama dengan ritual sedekah bumi.

Tradisi yang biasanya dikenal dengan istilah perang obor ini biasanya digelar secara rutin setiap hari Senin Pahing malam Selasa Pon pada waktu bulan Dzulhijjah. Sebelum tradisi ini dimulai masyarakat setempat akan menyiapkan pelepah kelapa dan daun pisang kering dan diletakkan di masing-masing perempatan desa, lalu daun-daun itu dibakar oleh tokoh adat atau pemuka agama.

Prosesi penyulutan api pun tak hanya dilakukan oleh pemuka adat setempat, tradisi yang turut mengundang beberapa pejabat daerah ini juga mempersilahkan tamu untuk bersama-sama menyulut api. Namun, bukan di perempatan jalan, tamu undangan ini menyulut api di panggung yang telah disediakan. Lokasinya pun tak jauh dari penyulutan api di perempatan jalan desa.

Saat api obor telah menyala, beberapa peserta yang sebelumnya telah mendaftarkan diri pun secara langsung melakukan serangan kepada lawan. Tanpa memilih siapa yang akan menjadi lawannya dalam tradisi ini, para peserta begitu bergelora dengan saling memukulkan obor dengan api menyala kepada peserta lainnya.

Hal itu tentunya sangat berbahaya bagi para penonton yang menonton terlalu dekat, mereka lantas mundur atau pergi ke tempat aman untuk menghindari percikan api yang menyebar ke segala penjuru arah. Meskipun cukup menegangkan, penonton begitu riuh bersorak sorai bak ingin memberikan semangat kepada peserta yang mengikuti perang obor.

Tak pelak banyak yang beranggapan bahwa tradisi ini sangat berbahaya, namun nyatanya minat dan semangat warga untuk mengikuti tradisi ini bak selalu membara dan tak pernah surut. Padahal tak sedikit warga peserta maupun penonton yang terkena percikan api selama acara berlangsung.

Luka bakar yang diderita warga seperti sudah menjadi hal biasa. Untuk mengantisipasi hal-hal seperti itu, panitia biasanya telah menyiapkan ramuan khusus untu meredakan rasa panas dan pedih akibat percikan api dari obor. Ramuan khusus tersebut diketahi terbuat dari minyak kelapa, berbagai macam daun, dan bunga.

Pagelaran perang obor ini pun uniknya tak terpatok pada ketentuan waktu. Para peserta ini akan terus memukul lawannya hingga pelepah kelapa dan daun pisangnya habis terbakar. Dalam satu kali pagelaran saja, peserta bisa menghabiskan kurang lebih 200 obor.

Tradisi yang masih terjaga kesakralannya hingga saat ini tentunya menjadi tugas besar bagi para masyarakat setempat untuk selalu menjaga dan mewariskan kepada anak cucu. Hal itu sekaligus membuktikan bahwa masyarakat Jawa pada umum begitu giat dama melestarikan budaya serta kearifan lokal Jepara khususnya.

kemeriahan-perang-obor
Warga Jepara terlihat antusias melestarikan tradisi Perang Obor /Foto: id.theasianparent.com

Perseteruam Kiai Babadan dan Ki Gemblong

Asal mula tradisi perang obor ini mempunyai beberapa versi, namun yang paling santer terdengar di telinga masyarakat adalah kisah saat beberapa warga tengah berusaha menjauhkan diri dari masa pagebluk yang membawa dampak buruk bagi hewan ternak mereka.

Pada saat itu, masyarakat akan bergotong royong dengan saling pukul memukul, tak lupa mereka juga menggunakan pelepah kelapa dan daun pisan kering yang sebelumnya telah dibakar. Sekilas memang tak masuk akal, tapi setelah tradisi saling memukul itu tiba-tiba seluruh hewan ternak sembuh dari penyakitnya.

Disisi lain, ada kisah yang beredar bahwa tradisi perang obor ini berawal dari dua warga desa yang tengah berseteru karena sedikit ada kesalahpahaman. Kisah ini akhirnya diwariskan turun temurun secara lisan yakni dari mulut ke mulut, dan akhirnya berkembang di masyarakat.

Dimana, asal mula kisah ini konon terjadi pada abad ke 16 Masehi, tinggalah seorang petani yang sangat kaya raya di Desa Tegal Sambi bernama Mbah Kiai Babadan. Ia dikenal sebagai sosok kaya karena memiliki banyak binatang ternak seperti salah satunya sapi dan kerbau.

Untuk merawat dan menggembalakan hewan ternak sebanyak itu sendirian, tentulah tidak mungkin. Ia lantas mencari seseorang yang mau membantu mengurus seluruh hewan ternaknya. Tak perlu menunggu lama, akhirnya Kiai Babadan berhasil menemukan pekerja yang terkenal tekun dan giat dalam menggembalakan hewan ternak.

Penggembala itu bernama Ki Gemblong, dengan rajinnya Ki Gemblong memelihara dan merawat hewan-hewan milik Kiai Babadan. Nampak, setiap pagi dan sore Ki Gemblong memandikan hewan-hewan itu di pinggir sungai. Sehingga tak mengejutkan apabila seluruh hewan ternak itu begitu gemuk dan sehat.

Tak pelak, Kiai Babadan yang konon merupakan pendatang asal Madura ini begitu senang dan berkali-kali memuji kinerja Ki Gemblong. Tentunya pujian itu berkat kepatuhan dan ketekunannya dalam merawat hewan-hewan ternak milik Kiai Babadan.

Di lain hari, saat Ki Gemblong tengah asyik menggembala di tepi sungai, ia menyadari bahwa sungai yang berada di depan matanya menyuguhkan kawanan ikan dan udang yang cukup banyak. Tentunya, kesempatan ini tak disia-siakan oleh Ki Gemblong. Ia lantas mengambil pancing untuk menangkap ikan dan udang lalu dibakar dan disantap di kandang.

Kejadian ini pun akhirnya terus berulang selama berhari-hari. Ki Gemblong hanya sibuk memancing dan makan dari hasil tangkapannya di sungai, hingga tanpa disadari hewan-hewan ternak milik Kiai Babadan menjadi tak terurus. Ki Gemblong seperti lupa dengan tugasnya, hewan ternak mulai banyak yang sakit bahkan mati.

Kiai Babadan yang tak tahu menahu dengan penyebab kematian hewan ternaknya iniun hanya bisa memberikan jamu atau ramuan untuk sekedar menyelamatkan hewan ternak yang tersisia. Ia mulai bingung, segala macam ramuan seperti telah diusahakan namun hewan miliknya tetap tidak ada yang sembuh.

Karena rasa curiganya semakin tinggi, akhirnya Kiai Babadan memergoki ulah Ki Gemblong yang tengah makan ikan dari hasil tangkapannya di sungai. Kiai Babadan marah besar, Ki Gemblong dianggap lalai dan sudah tak mau mengurus hewan-hewan ternaknya.

Amarah yang terlanjur memuncak, Kiai Babadan langsung memukul Ki Gemblong dengan menggunakan pelepah kelapa yang telah terbakar api. Melihat sikap Kiai Babadan yang tidak menyenangkan, Ki Gemblong pun tak tinggal diam. Ia lantas mengambil obor dengan api membara dan membalas perlawanan dari Kiai Babadan.

Dua jagoan inipun berkelahi di dalam kandang, percikan api dari obor dan pelepah kelapa tak terhindarkan. Memercik ke segala penjuru arah hingga membakar tumpukan jerami yang berada tepat di sebelah kandang sapi. Selain itu, percikan-percikan api itu juga mengenai hewan ternak yang mengakibatkan mereka lari keluar kandang.

Tak disangka, hewan-hewan yang sebelumnya sakit ini tiba-tiba sembuh, beberapa dari mereka yang tidak bisa berdiri pun akhirnya bisa berdiri tegak bahkan bisa berjalan. Mereka nampak berbondong-bondong keluar dari kandang dan memakan rumput di ladang.

Kejadian di luar nalar inilah yang akhirnya di beri nama perang obor oleh masyarakat Jepara, khususnya warga Desa Tegal Sambi. Perang obor dipercaya bisa menghindarkan dari hal-hal buruk, penyakit, serta resmi dijadikan upacara tradisional sebagai sarana sedekah bumi.

selametan-perang-obor
Selametan di Punden Makam Leluhur Sebelum Perang Obor dilaksanakan /Foto: id.theasianparent.com

Ritual Ganti Sarung Pusaka dan Sesaji

Salah satu rangkaian acara yang memikat perhatian warga dan wisatawan sekitar adalah ritual penggantian sarung pusaka desa. Ritual ini biasanya dilakukan saat menjelang petang hari, dipimpin oleh kepala desa yang sekaligus menjadi pemimpin adat.

Dikutip dari jurnal “Perang Obor : Upacara Tradisi di Tegal Sambi, Tahunan, Jepara” (2011) Zaenal Aristanto mengungkapkan bahwa pusaka desa itu adalah potongan kayu yang dipercaya peninggalan dari Sunan Kalijaga. Benda pusaka ini bahkan diyakini memiliki kekuatan ghaib yang mampu melindungi seluruh warga desa dari musibah.

Kepala desa akan memimpin upacara adat, lantunan doa mengalir kepada Tuhan Yang Maha Esa. Permohonan untuk keselamatan dan kesehatan terpanjat dari bait-bait kalimat yang diucapkan. Setelah berdoa, ia memulai ritual dengan menyiapkan kembang setaman untuk mengganti sarung pusaka tersebut.

Setelah dicuci pun, benda pusaka itu dimasukkan ke sarung yang baru. Air bekas cucian tak semata-mata langsung dibuang. Warga meyakini air bekas cucian bisa digunakan untuk campuran obat. Untuk menjaga kesakralannya, tak banyak orang yang bisa melihat pusaka ini secara langsung.

Konon, pusaka ini berasal dari kayu reng Masjid Demak yang diambil langsung oleh Ki Dawuk, leluhur Tegal Sambi. Tak lain pusaka tersebut berfungsi sebagai senjata yang digunakan selama peperangan antara Kerajaan Demak masa pemerintahan Raden Patah dan Kerajaan Blambangan.

Sementara, nama Dawuk sendiri berasal dari bahasa Jawa yang berarti abu-abu, tak lain merupakan warna kuda tunggangan milik Ki Dawuk. Disisi lain, ritual sesajen dengan menyuguhkan kepala kerbau masih menjadi poin penting selama tradisi perang obr berlangsung.

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on linkedin

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

IKUTI KAMI

%d blogger menyukai ini: