Seni Jemblung, Strategi Mbah Mursyad Sebarkan Islam di Kediri

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on linkedin
Pertunjukan Jemblung /Foto: metrum.co.id

 – Syekh Abdullah Mursyad merupakan ulama di masa Kerajaan Demak yang memakai kesenian Jemblung untuk menyebarkan Islam di Kediri, Jawa Timur. Jemblung adalah seni mendongengkan (storytelling) kisah lama dengan bermonolog. Di setiap dongengnya Mbah Mursyad selalu menyelipkan ajaran Islam.

“Syekh Abdul Mursyad diyakini sebagai pelopor tumbuhnya kesenian Jemblung yang zaman dulu sangat lekat dengan kebudayaan lokal Kediri dan sekitarnya,” tulis Sigit Widiatmoko dan Alfian Fahmi dalam artikel Islamisasi di Kediri, Tokoh dan Strategi Islamisasi.

Di pentas Jemblung, seorang dalang melakukan aktivitas seninya seorang diri. Dalang menuturkan cerita dengan iringan musik gamelan yang bersumber dari mulut sendiri. Karena kepiawaiannya bercerita, seringkali dongeng yang dibawakan dalang membuat penonton larut dalam suasana.

Setiap cerita jenaka, penonton tertawa. Setiap cerita pilu, mereka meneteskan air mata. Begitu juga halnya Mbah Mursyad. Saat mendalang Jemblung, gubahan lakon dan jalan cerita yang ia bawakan, mampu memikat hati warga Kediri. Mbah Mursyad menyuntikkan nafas Islami.

Apa itu Islam. Bagaimana seorang muslim bertuhan sekaligus menjalani hidup dengan sesama. Mbah Mursyad mampu mendedahkan dengan bahasa paling mudah dimengerti. Warga Kediri merasa terhibur sekaligus gembira. Tanpa ada paksaan, mereka dengan senang hati memeluk Islam.

Di Kediri, Mbah Mursyad melanjutkan jejak Sunan Kalijaga yang menyebarkan Islam dengan jalan kebudayaan. Sunan Kalijaga populer dengan kesenian wayangnya. Kemudian Sunan Bonang dengan kesenian Bonangnya. “Strategi Syekh Mursyad dalam memanfaatkan kesenian Jemblung adalah strategi yang umum dipakai, terutama Wali Songo”.

Mbah Mursyad tidak hanya dikenal sebagai ulama yang sekaligus seniman. Ia juga tersohor sebagai ulama yang mumpuni dalam hal ilmu kanuragan. Dari cerita tutur yang berkembang, kesaktian Mbah Mursyad mampu melampaui kehebatan Ki Ageng Tukum yang diyakini sebagian besar  peziarah makam aulia di Kediri sebagai Gajah Mada.

Mbah Mursyad memenangkan sayembara menggeser aliran Sungai Brantas yang digelar Ki Ageng Tukum. Hal itu membuatnya terkagum-kagum. Dengan kemantapan hati, Ki Ageng Tukum kemudian menjadikan Mbah Mursyad sebagai menantu.

Mbah Mursyad dan Silsilahnya

Syekh Abdullah Mursyad menurunkan kiai-kiai kunci dalam penyebaran Islam, khususnya di Kediri, Jawa Timur. Salah satu dzuriyah (keturunan) yang terlacak dekat adalah Kiai Sholeh Banjarmlati, Mojoroto, Kediri.

Kiai Sholeh merupakan Udhek-udhek atau keturunan ke-6 Mbah Mursyad melalui garis genealogis Kiai Anom Besari yang bermakam di Kuncen, Caruban, Madiun. Kiai Anom Besari merupakan salah satu putera Mbah Mursyad.

Pernikahannya dengan Nyai Anom Caruban dikaruniai tiga anak laki-laki yang salah satunya adalah Kiai Ketib Anom atau Kiai Abdul Rahman. Melalui garis nasab Kiai Ketib Anom lahirlah Kiai Ali Maklum pendiri Ponpes Banjarmlati, Kediri.

Kiai Ali Maklum tak lain kakek Kiai Sholeh Banjarmlati. Dimulai dari Kiai Sholeh, keturunan Mbah Mursyad meluas di wilayah eks Karsidenan Kediri. Putri Kiai Sholeh yang bernama Artimah diperistri Kiai Muhammad Dahlan, dzuriyah Mbah Mesir, Durenan Trenggalek.

Kiai Dahlan merupakan pendiri Pondok Pesantren Jampes, Kediri. Dari pernikahan tersebut lahir Syekh Ihsan al-Jamfasi al-Kadiri. Di dunia Islam, nama Syekh Ihsan populer sebagai penulis Kitab Siraj al-Thalibin, syarah atas Minhaj al-Abidin karya Imam al-Ghazali.

Nyai Dlomroh atau Khadijah, putri Kiai Sholeh Banjarmlati yang lain menikah dengan Mbah Manab atau Kiai Abdul Karim. Mbah Manab yang berasal dari Magelang merupakan pendiri Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri.

Nyai Hasanah, putri sulung Kiai Sholeh menikah dengan Kiai Makruf pendiri Pondok Pesantren Kedunglo, Kediri. Secara genealogis, seluruh pesantren tua di Kediri, terutama Lirboyo, Jampes dan Kedunglo merupakan trah Mbah Mursyad.

Kiai Muhammad Besari, Ponorogo merupakan cucu Mbah Mursyad yang menyebarkan Islam di luar wilayah Kediri. Kiai Mohammad Besari adalah putra kedua Kiai Anom Besari, Caruban Madiun. Kiai Zaenal Abidin, salah satu putera Kiai Muhammad Besari, Ponorogo menjadi Raja di Selangor Malaysia.

Lalu siapa Mbah Mursyad?. Ada sejumlah versi yang menjelaskan garis genealogis Mbah Mursyad. Ada yang menyebut Mbah Mursyad berdzuriyah kepada Sultan Demak, Raden Patah, melalui jalur Sunan Prawoto, putra Sultan Trenggono.

Cerita tutur mengatakan, Mbah Mursyad putera Pangeran Demang II Ngadiluwih. Pangeran Jalu atau Pengeran Demang I Setonogedong adalah kakeknya. Buyut Mbah Mursyad yang bernama Raden Panembahan Wirasmoro Setonogedong, merupakan putera Sunan Prawoto.

Dalam artikelnya yang terbit pada tahun 2012, KH Busrol Karim A Mughni menyebut Syekh Mursyad merupakan keturunan dari Panembahan Senopati, pendiri Kerajaan Mataram Islam. Berbagai sumber menyebut, Mbah Mursyad meninggal dunia dan dimakamkan di wilayah Mrican, Kediri.

Sekitar tahun 1900-an, Pemerintah kolonial Belanda mengerjakan proyek pabrik gula di Mrican, Kediri. Pembangunan pabrik menggusur semua yang dianggap berada di kawasan proyek. Makam Mbah Mursyad ikut tergusur dan berpindah di wilayah Setono Landeyan Kota Kediri.

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on linkedin

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

IKUTI KAMI

%d blogger menyukai ini: