Seni Gamelan, Media Dakwah Sunan Bonang Kenalkan Islam pada Masyarakat

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on linkedin
Alat Musik Tradisional, Bonang /Foto : www.wajibbaca.com

Nama lahirnya adalah Raden Maulana Makdum Ibrahim. Namun, anggota Wali Songo yang satu ini lebih dikenal dengan nama Sunan Bonang. Bukan tanpa alasan julukan itu disematkan. Ya, Sunan Bonang adalah salah seorang wali yang dikenal inovatif dengan menggunakan gamelan sebagai media dakwah Islam di Jawa.

Dilahirkan di Ampeldenta (Surabaya) pada 1465 Masehi, Raden Maulana Makdum Ibrahim adalah putra dari Sunan Ampel, salah satu Wali Songo generasi awal sebagai perintis syiar Islam di tanah Jawa. Jika dirunut, nasab Sunan Ampel dan anaknya berakar dari Husain bin Ali, putra Ali bin Abi Thalib dan Fathimah Az-Zahra, alias cucu Rasulullah.

Dikutip dari buku Atlas Wali Songo (2016) karya Agus Sunyoto Raden Maulana Makdum Ibrahim merupakan putra ke-4 Sunan Ampel dari pernikahannya dengan putri Adipati Tuban era Majapahit, Arya Teja, yang bernama Dewi Candrawati atau Nyai Ageng Manila.

Raden Maulana Makdum Ibrahim atau yang kemudian dikenal sebagai Sunan Bonang melanjutkan misi ayahnya untuk menyebarluaskan Islam seiring kian eksisnya Kesultanan Demak dan runtuhnya Kerajaan Majapahit di pengujung abad ke-15 M. Media dakwah yang digunakan Sunan Bonang adalah melalui karya sastra dan kesenian, termasuk inovasi gamelan.

Pesona Bonang yang Menarik Hati

Sunan Bonang dianggap sebagai salah seorang penemu alat musik gamelan Jawa yang disebut Bonang. Asti Musman dalam buku Sunan Bonang Wali Keramat Karomah: Kesaktian dan Ajaran-ajaran Hidup Sang Waliullah (2020) menuliskan, Bonang sendiri diambil dari nama tempat yang pernah menjadi kediaman Sunan Bonang, yakni Desa Bonang di Lasem, Rembang, Jawa Tengah.

Bonang merupakan bagian dari gamelan yang dikenal sekarang ini. Dibuat dari bahan kuningan, bonang berbentuk bulat dengan tonjolan di bagian tengah. Bentuknya mirip dengan gong tapi dengan ukuran yang lebih kecil.

Di masa lalu, selain menjadi perangkat gamelan dalam pertunjukan seni, seperti wayang kulit, Bonang juga digunakan sebagai alat komunikasi. Aparat pemerintahan membunyikan bonang untuk mengumpulkan warga apabila akan ada pengumuman dari pemerintah.

Diungkapkan Nur Rindlowati dalam penelitiannya bertajuk “Motivasi Masyarakat Desa Bonang Rembang dalam Mengikuti Upacara Penjamasan Bende Becak” (2008), Sunan Bonang menggubah gamelan Jawa yang saat itu kental dengan estetika Hindu dengan memberikan nuansa baru, yakni dengan menambahkan instrumen seperangkat bonang.

Bonang akan menghasilkan bunyi yang merdu dan menarik hati. Bebunyian dari perangkat yang masih terasa asing ini membuat warga sekitar penasaran sehingga mereka berbondong-bondong mendatangi arah asal suara. Dari sinilah kemudian Sunan Bonang memperkenalkan ajaran Islam dengan perantaraan gamelan.

Setelah orang-orang sudah berkumpul, Sunan Bonang mulai melantunkan tembang-tembang Jawa dengan iringan instrumen bonang. Sunan Bonang menyisipkan ajaran Islam dalam lirik atau syair tembang-tembang Jawa yang dinyanyikannya. Setelah itu, ia menerjemahkan makna tembang tersebut sekaligus memperkenalkan Islam kepada masyarakat yang terkesima oleh merdunya bunyi bonang.

Salah satu tembang yang paling menarik hati adalah Tombo Ati. Lantunan syair Tombo Ati yang liriknya penuh makna Islami, dengan diiringi bebunyian bonang yang menyentuh kalbu, membuat orang-orang yang mendengarnya turut larut dalam kesakralan zikir yang terbangun dalam suasana tersebut.

Ulama dan Seniman Syiar Islam

Selain melalui gamelan dan tembang, Sunan Bonang juga menggunakan karya-karya seni lainnya untuk berdakwah di tengah-tengah masyarakat Jawa yang kala itu masih didominasi oleh penganut kepercayaan leluhur. Media syiar Islam dari kesenian itu di antaranya adalah pertunjukan wayang, karya sastra seperti suluk, prosa, dan lain sebagainya.

Hery Nugroho dalam buku Sejarah Kebudayaan Islam (2013) menyebutkan bahwa salah satu karya sastra Sunan Bonang yang paling terkenal adalah Suluk Wujil. Nama suluk ini diambil dari nama salah satu muridnya, yakni Wujil Kinasih, yang ingin memperdalam ajaran agama Islam hingga ke rahasia yang paling dalam.

Syair Suluk Wujil memiliki dua kandungan makna. Makna pertama, Suluk Wujil menggambarkan suasana peralihan dari ajaran Hindu ke Islam, yakni dengan runtuhnya Majapahit seiring semakin menguatnya pengaruh Kesultanan Demak. Makna kedua, Suluk Wujil bernuansa perenungan ilmu sufi yang meresapi konsep ketuhanan dalam Islam.

Sunan Bonang juga merupakan ulama yang ahli dalam ilmu kebatinan. Ia mengembangkan ilmu zikir yang dipadukan dengan keseimbangan pernafasan untuk diterapkan dalam meditasi demi mendekatkan diri kepada Sang Ilahi.

Tak hanya itu. Sunan Bonang juga mahir dalam seni bela diri dan olah fisik. Kepiawaiannya inilah yang membuat Sunan Bonang mampu mengalahkan seorang perampok. Bromocorah ini bahkan menyatakan insyaf dan memohon berguru kepada Sunan Bonang. Perampok inilah yang nantinya dikenal dengan nama Sunan Kalijaga.

Sunan Bonang, yang tidak pernah menikah sepanjang hayatnya, wafat pada 1525 M atau dalam usia 60 tahun. Jasad sang ulama anggota Wali Songo sekaligus sosok seniman besar ini dimakamkan di Kutorejo, Tuban, Jawa Timur.

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on linkedin

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

IKUTI KAMI

%d blogger menyukai ini: