Refleksi Gagasan dan Konsep “Dadi Wong” dalam Masyarakat Jawa

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on linkedin
keluarga-jawa
Bupati Kudus, Pandji Tomenggoeng Hafinoto, Bersama Istri dan Anak-Anaknya, 1924, memiliki keluarga dan mampu menghidupi keluarga bagian dari refleksi konsep "dadi wong" dalam masyarakat jawa /Foto: kitlv leiden

santrikertonyonoPerjalanan setiap manusia nyatanya menjelajahi jalan dan masa yang berbeda-beda. Tak bisa di pukul rata tingkat kebahagiaan dan kesuksesan yang bisa di raih, bak setiap manusia mempunyai garis start dan finish nya masing-masing. Perjuangannya pun juga tak bisa diukur menggunakan standart kehidupan secara umum.

Garis laju yang berbeda setiap orang inilah yang nantinya akan mengukur kesuksesan orang itu sendiri. Setiap jengkal kaki yang telah menapak tak akan menjadi sia-sia, sekalipun usaha dan keringat yang menetes belum sesuai dengan harapan dan hasil yang idamkan.

Bagi orang Jawa sendiri tentunya tak asing makna kerja keras, kerja sama, gotong royong. Bagi sebagian dari mereka, tak ada kesuksesan yang manis didapat apabila tak dikerjakan secara bersama-sama, entah bersama keluarga, saudara atau bahkan teman sejawat.

Perjuangan yang tak mudah selalu ikhlas dan rela ditempuh semata-mata hanya untuk meraih kesuksesan dan kemapanan yang hakiki. Setelah sukses pun tak lupa untuk membantu orang lain, karena pada hakikatnya di setiap kesuksesan ada doa-doa orang sekitar yang mengudara.

Terlebih era modern seperti, tuntutan semakin banyak, bahu harus dilatih agar semakin kokoh serta otak yang harus terbiasa dengan siasat cerdas agar tak ketinggalan dengan pesaing-pesaing yang selalu siap merebut posisi sekarang. Kelihatannya tidak mudah memang, tapi bisa.

Gagasan konsep dadi wong yang selalu terdengar, khususnya di tengah-tengah masyarakat nampaknya memang menjadi konteks modern yang selama ini telah dicita-citakan sejak lama oleh semesta, terutama simbolik orang-orang Jawa.

Alhasil beberapa kriteria muncul yang biasanya digunakan untuk mengukur gagasan dadi wong ini, diantaranya seperti penampilan yang menarik dan tidak ketinggalan zaman, mempunyai fikiran yang terbuka atau tidak fanatik dengan satu hal serta mempunyai jenjang pendidikan yang tinggi.

Dari apa yang ditulis oleh Irfan Afifi dalam bukunya “Saya, Jawa, dan Islam” (2019), gagasan dadi wong dalam semesta simbolik sendiri lebih banyak mengacu kepada sebuah keadaan yang memperlihatkan kecukupan material manusia Jawa.

Biasanya, orang Jawa lebih identik dengan istilah mentas, mulya, dan sudah mandiri. Lebih-lebih jika seseorang tersebut mempunyai posisi atau jabatan terpandang dan mampu membangun rumahnya sendiri sehingga tidak lagi bergantung kepada orang tua.

Tak bisa dipungkiri, penyebutan istilah dadi wong kerapakali diasosiasikan sebagai kondisi dimana seseorang berlimpah materi. Namun nyatanya, konsep dadi wong mengacu kepada aspek di luar hal-hal tersebut, yang secara tak terlihat mengendap begitu saja dalam benak kesadaran masyarakat Jawa.

Dadi wong tak lain adalah gagasan atau sebuah tujuan ideal yang ingin diraih dari pendidikan tradisi atau moral manusia Jawa pada umumnya. Idealnya, seseorang yang masih sering berperilaku kekanak-kanakan, dalam konteks moral-sosial dianggap durung jawa atau ora njawani oleh masyarakat Jawa. Karena belum mencapai ideal moral dan sosial Jawa yang ingin dicapai.

Beberapa Konsep sebagai Semesta Simbolik Jawa

Beberapa definisi yang lebih lugas dalam mengartikan istilah ora njawani ini sebenarnya luas. karena tentu masyarakat Jawa punya persepsinya masing-masing. Namun, yang paling santer terdengar adalah seseorang belum bisa mengindahkan kesusahan orang lain atau tidak paham unggah ungguh saat bersama orang yang lebih tua bisa dianggap sebagai ora njawani atau durung jawa.

Hal tersebut mengimplikasikan bahwa gagasan dadi wong sebagai lawan dari gagasan durung jawa secara tak langsung merupakan kriteria kedewasaan atau moral peran sosial yang banyak dituntut oleh masyarakat Jawa. oleh karena itu, tolok ukur mentas dan mulya, mempunyai kedudukan, derajad yang tinggi, terpandang serta kecukupan materi menjadi poin penting dalam ihwal peran sosialnya.

Penilaian masyarakat pada umumnya, seseorang yang sudah mentas dianggap sudah tidak merepotkan kedua orang tuanya dan mampu memberikan kontribusi sosial agar ia bisa membantu keluarga atau saudaranya yang lain. Dalam istilah Jawa disebut dengan bisa disambati.

Dimana, semakin tinggi status sosialnya maka akan semakin besar pula kontribusinya bagi orang-orang di sekitar. Alhasil, penilaian secara tidak langsung terhadap orang tersebut yang dinilai sudah matang dan dewasa baik secara moral ataupun sosial.

Selain itu, ada juga gagasan tentang “keluarga harmonis” dan “bisa menyekolahkan anak” yang sering berjangkar dalam konsep rumah tangga masyarakat Jawa. Istilah “kesuksesan” dalam masyarakat ini selalu dikait-kaitkan dengan keberhasilan dalam perjalanan membangun rumah tangga.

Seberapa besar kesuksesan yang ia capai, uang yang ia punya dan materi yang ia miliki tidak akan bermakna apapun jika ia tidak berumah tangga. Hingga tak bisa dipungkiri bahwa kesuksesan di mata masyarakat Jawa selalu tidak terkait dengan pencapaian individualnya. Bahkan, seseroang yang tidak berumah tangga selalu dipandang kekurangan dan cela.

selametan-jawa
Selametan masyarakat di surabaya, 1900 ; Selametan sebagai unit sosial masyarakat jawa guna menjaga kerukunan/ harmoni /Foto: pinterest.com

Konsep rumah tangga yang seperti ini tak pelak sering diungkap dalam beberapa penelitian sebagai unit sosial masyarakat Jawa guna menjaga konsep rukun atau harmoni sebagai nilai yang ideal puncak Jawa. Dimana, konsep rukun tersebut selalu dijaga dengan beberapa simbolisasi ritual seperti slametan dan beberapa ritual lainnya.

Momen perayaan peralihan hidup masyarakat Jawa pun juga menjadi bagian dari slametan itu sendiri, seperti mitoni atau tingkeban untuk memperingati tujuh bulan bayi didalam kandungan, sepasaran peringatan kelahiran bayi, brokohan, sunatan, kenduren, serta kondangan, maupun slametan-slametan yang lainnya.

Perayaan ini akhirnya dianggap sebagai salah satu upaya atau usaha untuk mencapai keadaan slamet atau keadaan baik. Tatkala, sebuah basis rumah tangga saling memainkan peran utama saat perempuan mampu menduduki peran dan tempat yang penting dalam konsep keselarasan masyarakat yang ingin dicapai.

Selain itu, ada konsep “menjadi modern” yang juga selalu diselaraskan dengan konsep dadi wong oleh masyarakat Jawa. Bagi sebagian orang Jawa, konsep ini lebih mengacu pada seseorang yang kaya raya atau memiliki harta melimpah. Entah mempunyai rumah mewah atau kendaraan mahal.

Gagasan “nggak ketinggalan zaman” dengan mengikuti barang-barang modern masa kini pun justru terlihat makin melengkapi konsep dadi wong sama seperti yang diidealkan oleh masyarakat Jawa. Orang yang memiliki penampilan bagus dianggap sebagai simbol pendewasaan yang bersifat sosial maupun spiritual.

Modernitas Simbol Kedewasaan Pikiran

Simbolisasi keterbukaan wawasan dalam hal ini masih dipresentasikan dengan seseorang yang memiliki pendidikan tinggi dan tidak bersifat kekanak-kanakan. Ungkapan ini biasa dikenal dengan istilah “tidak kolot” dan “tidak fanatik”, serta bisa menerima beberapa perspektif dari sudut pandang yang berbeda dan tidak egois.

Hal ini sekaligus menjelaskan fakta bahwa sebuah kedewasaan dengan bertindak sebagai orang Jawa bisa dicapai dengan cara menghargai perspektif orang lain atau lebih dikenal dengan istilah tepa slira. Oleh karenanya, gagasan “nggak ketinggalan zaman”, “tidak kolot”, dan “nggak fanatik” dijabarkan sebagai kedewasaan untuk bertindak sebagai orang Jawa dan bukan sebagai orang modern.

Menjadi modern sendiri bukan berarti beralih dari masyarakat Jawa ke masyarakat ke barat-baratan, meskipun banyak dari gagasan tersebut yang menunjukkan bahwa ternyata orang Jawa ada yang menggunakan barang-barang ataupun berpenampilan seperti orang barat.

Namun, disisi lain hal itu seperti ingin menegaskan jika bagi orang Jawa, penampilan merupakan salah satu tempat untuk memperlihatkan dan menunjukkan kedewasaan mereka. Sehingga, representasi sosial dengan gagasan “menjadi modern” tetap berakar dalam budaya Jawa.

Lalu, ada beberapa poin yang harus digarisbawahi yang bisa saja dianggap melanggar batas norma Jawa, diantaranya seperti memakai pakaian mini, perempuan yang merokok di ruang publik, minum minuman keras atau alkohol, serta pergaulan bebas yang biasanya dilakukan di usia remaja.

Selain itu, konsumsi yang tak terkendali atas barang-barang mewah juga dianggap sebagai tindakan “hura-hura” dan “sok-sokan”. Sikap ini notabene bukan dilandasi karena ada penolakan konsumsi atas barang-barang asing, namun sikap tersebut dianggap merusak tradisi Jawa yang identik dengan kesederhanaan.

Karena orang Jawa sendiri tidak memperlihatkan identitasnya hanya dengan kekayaan material. Terdapat konsep sederhana yang mengatakan bahwa semakin tinggi tinglat sosialnya, maka semakin besar pula usahanya untuk menyembunyikan tanda-tanda fisik kekayaannya.

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on linkedin

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

IKUTI KAMI

%d blogger menyukai ini: