Polemik Kesaktian Pawang Hujan, Antara Warisan Budaya dengan Aqidah Agama?

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on linkedin
pawang-hujan
Ilustrasi seorang Pawang hujan melakukan ritual /Foto: idxchannel.com

santrikertonyonoBelum lama ini, bangsa Indonesia baru selesai menyelenggarakan hajat yang selama puluhan tahun telah tertunda. Apalagi kalau bukan perhelatan MotoGP di sirkuit Mandalika Nusa Tenggara Barat. Tak hanya berhasil mencuri atensi dunia dengan keindahan panorama alamnya di sekitar sirkuit, bahkan beberapa rider MotoGP pun mengakuinya, dengan hamparan bukit hijau ditambah deburan ombak laut yang begitu indah.

Meskipun begitu, aksi para pembalap dunia ini sempat tertunda karena hujan yang begitu deras mengguyur arena balap. Mata dunia bak mendadak terhipnotis dengan aksi perempuan yang tiba-tiba turun ke arena sirkuit dengan membawa sesuatu menyerupai mangkok, nampak bibirnya pun tengah mengucapkan mantra dan doa-doa.

Sosok perempuan yang dikenal sebagai pawang hujan ini sesaat memang terlihat sepele. Namun apa yang terjadi? Berselang saat ia mengucapkan mantra dan doa, seketika hujan yang awalnya sangat deras dengan petir yang menyambar tiba-tiba reda dan cuaca menjadi cukup cerah.

Semenjak itu, para golongan masyarakat menuaikan pendapatnya tentang apa yang dilakukan oleh sang pawang hujan. Bak bisa mengontrol apa yang ada diatas langit, pro dan kontra membanjiri ranah media sosial karena dianggap apa yang dilakukan perempuan itu tidak bisa diterima oleh akal.

Masyarakat Indonesia seperti sedang terpecah dalam dua kubu, beberapa ada yang menerima tentang usaha yang dilakukan sang pawang untuk menghentikan hujan, mereka menganggap itu adalah sebagian dari budaya leluhur yang harus dihormati. Namun, tak sedikit pula yng menganggap itu perbuatan musyrik bahkan dianggap bekerjasama dengan bangsa ghaib.

Meskipun banyak memunculkan perdebatan, nyatanya hingga zaman kemajuan teknologi yang serba canggih ini, eksistensi pawang hujan masih saja meroket. Memang bukan hal yang mengejutkan lagi, bagi mayoritas masyarakat Indonesia yang masih memegang erat budaya leluhur, keberadaan pawang hujan bukanlah baru.

Umumnya, pawang hujan ini adalah seseorang yang dipercaya memiliki ilmu ghaib hingga dapat mengendalikan hujan bahkan cuaca. Di Indonesia sendiri, istilah pawang hujan sudah sangat menjamur, mereka bahkan bisa diajak bekerjama untuk melancarkan suatu kegiatan besar seperti pernikahan bahkan konser musik.

Sang pawang hujan pun tak serta merta mudah memindahkan hujan begitu saja, ada proses cukup panjang yang harus dilewati sebelum ia mengerahkan semua ilmunya untuk mengatur cuaca. Beda lokasi beda pula ritualnya, beberapa pawang hujan ada yang harus menjalankan puasa mutih atau juga melakukan prosesi mandi dari 7 sumber mata air keramat.

Selain itu, juga terdapat beberapa prosesi lain seperti berdoa atau bermeditasi di tempat lokasi acara, memanjatkan doa-doa di dekat sumber mata air yang dianggap suci atau keramat serta tak lupa untuk menyiapkan sesajen. Pada dasarnya, sesajen yang digunakan kurang lebih sama, hanya berisi nasi tumpeng lengkap dengan lauk pauk serta berbagai macam bunga.

Selain itu, ada beberapa mitos tentang pawang hujan yang hingga kini masih berkembang di tengah-tengah masyarakat. Diantaranya seperti sang pawang tidak boleh berteduh apabila hujan masih mengguyur, ia harus tetap berada dibawah guyuran hujan tanpa penghalang apapun. Serta, pawang hujan juga harus lihai melihat pergerakan awan, jika gerakan awan melambat maka awan bisa dipindah.

Tradisi dan Budaya yang Mendarah Daging

Jika ditarik mundur, sebenarnya keberadaan pawang hujan sudah ada sejak ribuan tahun yang lalu. namun, tugas dari pawang hujan tidak hanya terbatas menghentikan hujan, tetapi juga mengontrol kondisi cuaca hingga menjadi salah satu sarana untuk berhubungan atau berkomunikasi dengan alam lain.

Ritual yang biasanya dilakukan oleh pemimpin suku, pemuka agama atau tokoh spiritual masyarakat ini nyatanya tak hanya ada di Indonesia saja. Beberapa negara di belahan dunia pun masih meyakini kehebatan dari sang pawang hujan, tentunya dengan fungsi dan hajat yang kurang lebih sama yakni meminta hujan.

Bukan dengan tangan kosong, para nenek moyang zaman dahulu yang dipercaya bisa berkomunikasi dengan makhluk ghaib ini akan menggunakan beberapa jenis tanaman untuk melakukak kegiatan ritual. Dimana, barang bawaan selain tanaman itu digunakan sebagai media berkomunikasi dengan para leluhur agar mewujudkan apa yang mereka inginkan.

Sementara di Indonesia, istilah pawang hujan sangat eksis di telinga masyarakat Jawa. bagi mereka, pekerjaan sebagai pawang hujan bukanlah hal yang tabu, dengan dalih merawat warisan budaya para leluhur. Terlebih, masyarakat Jawa masih sangat kental akan cerita dan mitos yang meyakini tentang keberadaan penghuni alam ghaib.

Dikutip dari Facts of Indonesia, dalam tradisi Jawa, sang pawang hujan akan membacakan mantra-mantra khusus yang biasanya telah tertulis di buku Primbon. Dimana, mantra yang terdapat di buku tersebut hingga saat ini masih dipercaya mengandung perjanjian yang kuat antara leluhur suku Jawa dan makhluk spiritual.

Beberapa mantra ada yang menggunakan adat Jawa, namun beberapa yang lain ada juga yang menggunakan adat Betawi. Penyebutan istilah pawang hujan di setiap daerah pun berbeda-beda, tergantung dari sejarah dan tradisi di sekitarnya. Di Bali sendiri pawang hujan memiliki istilah Nerang Hujan, sedang di Riau dikenal dengan Bomoh.

Dalam sebuah jurnal yang berjudul “Drawings of Balinese Sorcery” (1980) karya Hooykaas mengklasifikasikan panerangan tolak hujan dan penghujanan atau memanggil hujan masuk dalam beberapa kategori yakni keeping watch, change, and defence. Atau biasa disebut dengan penjaga, pengubah dan pembela diri.

Sementara, tolak hujan sendiri kerapkali dipadankan dengan the art of clearing the sky atau ilmu yang digunakan untuk membersihkan langit. Sedangkan ritual mendatangkan hujan disebut dengan the art making wind and rain atau ilmu yang diritualkan untuk kepentingan membuat angin dan hujan.

Tak lengkap rasanya apabila mendatangkan atau menolak hujan tanpa adanya mantra-mantra, mantra yang digunakan ini secara umum merupakan gabungan antara mantra dan beberapa sarana teks. Dalam artian, sarana teks ini sama halnya dengan sesajen dan rerajahan gambar yang terdiri atas huruf atau sebuah figur.

pawang-hujan
Mbak Rara Pawang hujan MotoGP /Foto: instagram.com/rara_cahayatarotindigo

Pada zaman dahulu, masyarakat menggunakan figur gambar Bhatara Yama atau biasa dikenal sebagai dewa penguasa surga untuk sebagai sarana teks dalam melakukan ritual menolak hujan. Mereka meyakini bahwa sosok figur Bhatara Yama ini adalah dewa yang bertugas untuk mengadili roh setelah melewati batas akhir hidup.

Tak hanya figur Bhatara Yama, mereka kerapkali juga menggunakan figur gambar Singambara atau singa terbang. Secara umum, reranjahan gambar yang digunakan berbentuk lingkaran, namun adapula yang mempunyai bentuk persegi yang juga biasa dipakai saat melakukan ritual tersebut.

Selain itu, mantra yang digunakan pun bukan mantra teks sembarangan. Mereka bisa menggunakan rerajahan dari sosok Bhatara Guru, Bhatara Wisnu, Hanoman, atau bahkan tokh sakti dari Pandawa Lima. Figur lain yang juga biasanya diikutsertakan dalam ritual seperti Demung Dodokan, Kalarau, Dewa Langit Arsa Telu serta Naga Nguyup Matanai.

Sebelum prosesi ritual berlangsung, sang pawang hujan akan memasang sepasang janur kuning di lokasi hajatan. Dimana, dua janur kuning ini akan diikaat ke tiang atau pintu nantinya akan digunakan sebagai pusat acara. Peletakan janur kuning pun ada aturannya, janur kuning akan diikat di sebuah titik yang sering dilalui orang-orang.

Selanjutnya, ada praktik pawang hujan yang hanya menggunakan beberapa benda untuk menangkal hujan. Sebagian besar mereka hanya menggunakan benda-benda rumah tangga yang tentunya sangat mudah ditemui. Benda itu seperti sapu lidi yang ditusuk dengan bawang merah, bawah putih dan cabai. Praktik seperti ini bisa ditemui saat ada hajatan pernikahan.

Pandangan Islam Menyikapi Keberadaan Sang Pawang

Para tokoh agama bak tampil dan saling memberikan pendapatnya tentang eksistensi pawang hujan di Indonesia. Meskipun dianggap sebagai warisan budaya leluhur, tetap secara tegas tidak diperbolehkan memercayai apalagi menggunakan jasa pawang hujang untuk melancarkan suatu acara atau kegiatan.

Terlebih, masyarakat dibuat dilema akan keberadaan pawang hujan yang akhir-akhir ini begitu sangat berani tampil di muka umum untuk menunjukkan kinerjanya dalam menghentikan atau mendatangkan hujan. Tak dipungkiri, sebagian besar masyarakat pasti merasa banyak yang terbantu.

Namun, lagi-lagi, masyarakat Indonesia akan dihadapkan dua pilihan antara menghormati sang pawang hujan sebagai salah bentu tradisi atau menindak tegas bahwa apa yang dilakukan dan diyakini sang pawang adalah haram karena bekerjasama dengan jin atau makhluk ghaib untuk kepentingan semata.

Secara garis besar, para tokoh agama juga mengharamkan penggunaan jasa pawang hujan untuk melancarkan suatu hajat atau acara. Karena secara jelas, selama ritual, sang pawang akan meminta kepada jin atau makhluk supranatural untuk membantunya menghentikan hujan atau bahkan memindahkan hujan itu sendiri.

Seperti halnya, meminta kepada selain Allah SWT bisa dikatakan sebagai bentuk pelarangan terhadap syariat-syariat Islam. Serta menganggap pemberian dari Allah sebagai sesuatu hal yang menganggu dinilai menentang, menolak rizki, dan tidak memercayai akan kuasa Allah SWT. Maka, dalam hal ini dakwah Islam sangat diperlukan agar meningkatkan pengetahuan agama para masyarakat.

Maka dari itu, menjalankan sebuah tradisi nenek moyang secara turun temurun memang tidak masalah. Namun, kembali lagi bahwa konteks tradisi yang dilestarikan itu masih sesuai dengan konteks ajaran agama Islam.

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on linkedin

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

IKUTI KAMI

%d blogger menyukai ini: