Pemberontakan di Madiun Pecah, Benarkah Wayang ‘Penerang’ Jadi Solusi?

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on linkedin
wayang-suluh
Lakon Wayang Suluh; Pejuang, Tokoh Masyarakat /Foto: http://encyclopedia.jakarta-tourism.go.id

santrikertonyonoMedia informasi yang begitu cepat seperti sekarang ini tentunya mempunyai sejarah dan asal usul yang menyimpan banyak kisah sejarah. Sebelum mengalami perkembangan yang sangat pesat dan serba dilengkapi dengan teknologi yang canggih, media informasi dahulu hanya menggunakan bahan dan material seadanya yang diperoleh dari alam.

Meskipun menemui banyak keterbatasan dalam membuat barang atau sesuatu yang berfungsi untuk menyebarkan informasi pada zaman dahulu, namun barang-barang yang kental akan kearifan lokal itu mampu digunakan dengan baik dalam penyebaran informasi kepada masyarakat.

Secara umum, masyarakat Indonesia tentunya memiliki jenis dan penyebutan masing-masing terhadap media yang digunakan tersebut. Pasti, Indonesia kaya akan budaya dan suku yang beragam, banyak barang yang digunakan pada zaman lampau telah tersimpan rapi untuk mengenang perjuangan dan nilai-nilai yang terkandung.

Salah satu barang yang dipercaya sebagai media penyebar informasi era lampau adalah wayang. Istilah wayang tentu sudah tidak asing lagi bagi masyarakat Jawa, tradisi dan budaya turun temurun yang sudah dilestarikan ini bahkan masih eksis pada era gempuran teknologi seperti saat ini.

Bahkan, di tengah-tengah masyarakat yang mempunyai keterbatasan dalam membaca, menulis dan berlangganan surat kabar membuat banyak orang hidup sengsara dan minim akan pengetahuan. Hingga akhirnya, wayang tampil sebagai salah satu media penyebar informasi yang mampu menjangkau seluruh lapisan masyarakat.

Dari beberapa jenis wayang yang ada, terdapat wayang penerang atau biasa yang disebut dengan wayang Suluh yang konon memiliki makna tersendiri bagi Departemen Penerangan pada zaman dahulu. Usut punya usut, wayang ini mempunyai peran untuk menyampaikan informasi-informasi penting kepada masyarakat.

Penyebutan wayang penerang sebenarnya tidak luput dari makna istilah dari Suluh itu sendiri. Banyak yang mengartikan bahwa Suluh sendiri bermakna secercah sinar yang bersinar terang. Lebih tepatnya berasal dari kata “sesuluh” yang berarti memberikan penjelasan dan pencerahan dari yang belum tahu menjadi tahu.

Sebenarnya tak banyak perbedaan yang dimiliki wayang Suluh ini dengan wayang pada umumnya. Wayang ini terbuat dari kulit dan memiliki bentuk menyerupai manusia biasa yang bisa ditemui sehari-hari dalam kehidupan nyata. Lakon dari wayang ini seperti guru, petani, murid, saudagar, pak haji hingga pak lurah.

Secara umum, wayang Suluh ini dipergunakan untuk kepentingan Departemen Penerangan saat melakukan penyuluhan pembangunan kepada masyarakat pada zaman setelah kemerdekaan, lebih tepatnya pada tahun 1945-1949 dimana bisnis seni pertunjukan telah masuk dalam departemen tersebut.

Cerita Dibalik Lahirnya Wayang Suluh

Banyak dari penelitian yang menyebutkan bahwa keberadaan wayang Suluh disangkut-pautkan kan ketika Pemerintah Indonesia tengah berusaha untuk menanamkan kesadaran masyarakat agar senantiasa bersatu dalam berbangsa dan bertanah air. Hal tersebut sebenarnya tidak terlepas dari peristiwa Agresi Militer Belanda I dan II.

Kala itu, Belanda tengah mempersoalkan status kemerdekaan Indonesia, dengan segala upaya dan usaha Belanda ingin kembali menguasai wilayah Indonesia dengan cara melakukan diplomasi. Diplomasi ini secara langsung ditolak oleh Indonesia karena dianggap lebih banyak menguntungkan pihak Belanda.

Lalu, lahirlah sebuah perjanjian bernama perjanjian Linggarjati yang disinyalir sebagai puncak kegagalan diplomasi yang dilakukan oleh Belanda dan bangsa Indonesia. Kegagalan tersebut semakin nampak saat kedua belah pihak sama sekali tidak melaksanakan perjanjian tersebut. Indonesia kala itu dianggap tidak mentaati peraturan, akhirnya perjanjian tersebut dibatalkan sepihak oleh Belanda.

Peserta Perundingan Perundingan Linggarjati, dari kiri ke kanan: Soekarno, Wim Schermerhorn, Lord Killearn, dan Mohammad Hatta /Foto: wikipedia.org

Tidak hanya merujuk pada peristiwa Agresi Militer Belanda yang kala itu ingin kembali menguasai Indonesia, keberadaan wayang Suluh juga dipengaruhi beberapa peristiwa salah satunya yakni peristiwa Madiun yang terjadi pada tahun 1948, dimana karena peristiwa tersebut banyak masyarakat menjadi sangat sengsara.

Kala itu di Madiun tengah terjadi peristiwa perebutan kekuasaan negara oleh salah satu oknum yang dilakukan dengan menggunakan metode Brigade 19 TNI dan FDR (Front Demokrasi Rakyat). Peristiwa pemberontakan tersebut bersangkutan dengan adanya peristiwa sejarah masa revolusi Indonesia.

Bak kaya akan taktik dan strategi, mereka begitu gencar menarik simpati dan meminta bantuan masyarakat kecil untuk menjatuhkan pemerintahan Indonesia. Pencarian dukungan yang dilakukandengan menyakinkan para masyarakat kecil bahwa oknum keji ini berada dipihak mereka.

Sebagai langkah awal dengan merebut sektor-sektor pemerintahan daerah Madiun lalu dilanjutkan dengan melakukan pembunuhan-pembunuhan kepada tokoh-tokoh yang dianggap mempunyai peran penting di Madiun guna melancarkan aksinya untuk menguasai kepemerintahan Madiun.

Melihat berbagai permasalahan yang muncul, akhirnya salah satu karyawan dari Departemen Penerangan Madiun bernama Sukemi kemudian merancang dan memperkenalkan wayang Suluh kepada khalayak, khususnya masyarakat di Madiun. Dimana, wayang Suluh untuk pertama kalinya dipertunjukkan di Gedung Balai Rakyat Madiun Jawa Timur pada 10 Maret 1947.

Ditengah upaya mengerahkan dukungan masyarakat, Kementerian Penerangan menggunakan media seni pertunjukkan untuk menyebarluaskan informasi terkait program-program pemerintah. Hal itu dikarenakan beberapa mass media konvensional seperti radio, surat kabar dan bioskop jatuh ditangan Belanda.

Secara fungsi, selain sebagai media informasi untuk menyampaikan program-program pemerintah, wayang Suluh ini juga digunakan sebagai corong dalam menyebarluaskan berbagai informasi, menambah wawasan serta sebagai sarana meningkatkan rasa dan jiwa nasionalisme masyarakat Indonesia pada umumnya.

Menurut jurnal yang berjudul “Wayang Suluh Madiun Tahun 1947-1965” (2018) karya Aprilia Siskawati, wayang Suluh mengalami 2 masa periodisasi yakni masing-masing pada tahun 1947-1949 dan tahun 1950 hingga tahun 1965. Beda masa periodisasi, tentu beda pembawaan atau lakon yang dibawakannya. Masing-masing dari lakon tersebut, tergantung dari situasi yang tengah terjadi kala itu.

Seperti contoh pada periodisasi tahun 1947 hingga 1949, pada tahun-tahun tersebut wayang Suluh Madiun banyak digambarkan dengan wajah asli para tokoh-tokoh pahlawan perjuangan Indonesia serta tokoh Belanda yang kala itu sedang melakukan penjajahan terhadap rakyat kecil. Dimana, lakon wayang Suluh ini lebih menonjolkan ceritanya saat peristiwa-peristiwa masa revolusi berlansung.

Menurut informasi, wayang Suluh ini memiliki jam tayang atau durasi pentas selama kurang lebih tiga atau empat jam, namun wayang Suluh juga pernah digelar selama 6 jam yang kala itu dilaksanakan pada sore atau malam hari. Suasana syahdu saat wayang Suluh dipertontonkan turut dilengkapi dengan lampu sorot sederhana atau blencong yang masih menggunakan lampu minyak.

Sedangkan pada periodisasi berikutnya yakni pada tahun 1950 hingga 1965, tokoh-tokoh yang digunakan untuk memerankan lakon wayang Suluh Madiun lebih menggambarkan kepada tokoh atau pelaku-pelaku yang hidup dalam masyarakat biasa. Lakon pemerintah juga tak lupa disuguhkan dengan mengangkat berbagai permasalahan pembangunan yang terjadi di Indonesia.

Tak berbeda jauh dengan wayang Suluh pada periodisasi sebelumnya, waktu pentas wayang ini dilaksanakan kurang lebih selama 2 hingga 3 jam dan dimulai pada kisaran pukul delapan malam sampai pukul sebelas malam. Sorot lampu atau biasa yang dikenal dengan sebutan blencong tetap setia menemani selama pagelaran wayang berlangsung.

Dhalang di Pagelaran Wayang Suluh

Kesuksesan pagelaran wayang tentu tak bisa dilepaskan dari orang-orang di balik panggung yang sudah bekerja keras. Orang-orang yang tergabung dalam anggota Departemen Penerangan dan pelaku seni tak lain merupakan orang yang berperan penting dalam upaya memberikan penyuluhan dan informasi kepada masyarakat.

Potret Seorang Dhalang yang Sedang Memainkan Wayang Suluh Tempo Dulu /Foto: metrum.co.id

Selain dari Departemen Penerangan, dhalang yang ditunjuk untuk memainkan wayang Suluh juga ditunjuk dari dhalang wayang kulit yang sebelumnya telah dididik dan didaftarkan kursus menjadi dhalang wayang Suluh, tentunya agar dhalang-dhalang tersebut mampu memberikan informasi atau penyuluhan kepada masyarakat.

Tak hanya pagelaran wayang yang mengalami periodisasi, dhalang pun juga mengalami hal yang sama. Dimana, dhalang wayang Suluh pada tahun 1947-1949 terdapat beberapa persyaratan khusus karena dhalang dianggap sebagai seseorang yang memiliki kemampuan untuk memberikan ajaran-ajaran yang positif.

Sementara, tokoh-tokoh yang sering dimainkan perannya adalah tokoh revolusi dan tokoh penjajah seperti Ir. Soekarno, Moh. Hatta, Amir Syarifuddin, Bung Tomo, Van Mook dan tokoh yang lainnya.

Beberapa kriteria yang harus dimiliki dhalang wayang Suluh ini diantaranya seperti memiliki pengetahuan luas tentang kebudayaan baik tentang gamelan, tembang ataupun tari-tarian, pawai berbicara, pandai menyusun kata-kata yang indah, serta memiliki selera humor yang tinggi.

Sedangkan pada periode tahun 1950 hingga 1965 yang notebene hanya mengangkat lakon tentang kehidupan sehari-hari dan umum, seorang dhalang wayang Suluh harus memenuhi berbagai persyaratan menurut Pakem Pedhalangan Wayang Suluh yang diterbitkan oleh Jawatan Penerangan Republik Indonesia Provinsi Jawa Timur.

Diketahui, pada periode ini para dhalang wayang Suluh banyak memainkan peran sebagai seorang pejabat, perangkat desa, masyarakat kecil, pamong praja, polisi, hingga seorang pelajar yang masih duduk di bangku sekolah.

Berbagai persyaratan tersebut diantaranya, seorang dhalang harus mampu membawa wayang Suluh kearah yang digemari dan disukai seluruh golongan masyarakat, mampu memasukkan unsur ideologi negara, menanamkan kepada masyarakat bahwa ideologi negara berada diatas segala aliran, mengikuti arus perubahan politik serta mampu menciptakan figur baru dalam pewayangan.

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on linkedin

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

IKUTI KAMI

%d blogger menyukai ini: