Pandangan Islam terhadap Akulturasi Tradisi Jawa-Hindu-Budha untuk Berdakwah

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on linkedin
Pertunjukan wayang kulit (1870-1892) /Foto: luk.staff.ugm.ac.id

Sebelum Islam masuk ke Jawa, selama berabad-abad sebelumnya masyarakat sudah mengenal agama Hindu dan Budha. Dimana, dua agama inilah yang menggantikan keyakinan dan kepercayaan masyarakat Jawa terhadap animisme dan dinamisme. Pada masa tersebut kebudayaan masyarakat inilah yang biasanya disebut dengan budaya Kejawen.

Secara garis besar, budaya Kejawen saat itu sangat mewarnai kehidupan masyarakat Jawa yang masih dikuasai oleh perasaan dan kepercayaan kepada roh atau makhluk halus serta cerita mistis yang bisa saja meliputi seluruh aktivitas kehidupan mereka.

Oleh sebab itu, pikiran dan perilaku keseharian masyarakat Jawa pada masa itu masih selalu tertuju pada suatu tujuan tertentu agar bagaimana bisa mendapatkan bantuan dari para roh atau leluhur dan tentunya juga terhindar dari pengaruh roh-roh jahat yang membawa keburukan.

Setelah agama Hindu-Budha masuk, ternyata dua agama itu telah menunjukkan kehebatannya, hal itu terbukti dengan berdirinya kerajaan Hindu-Budha yang cukup banyak di Jawa hingga turut mengambil andil dalam membuat kedua agama tersebut menjadi inspirasi dalam berpolitik dan bernegara kala itu. Cukup wajar apabila agama Hindu-Budha begitu mengakar kuat di tengah-tengah masyarakat.

Lebih dari itu, secara tidak langsung agama Hindu-Budha juga telah menciptakan dan memberikan pedoman hidup untuk masyarakat. Dua agama itu juga telah mewariskan sistem politik dan pemerintahan, karya sastra, seni bangunan serta menjadi sumber inspirasi bagi pewayangan di Indonesia.

Kuatnya keyakinan agama Hindu-Budha yang dianut masyarakat Jawa menjadi tantangan yang cukup besar bagi penyebar agama Islam pada waktu itu. Lebih tepatnya saat Islam pertama kali masuk, telah didapati bahwa masyarakat Jawa sudah menjadi masyarakat yang beragama, mayoritas beragama Hindu dan sebagian lainnya menganut agama Budha.

Meskipun banyak masyarakat yang telah menganut agama Hindu-Budha, namun ternyata ada sebagian masyarakat Jawa yang tetap berpegang teguh pada keyakinan mereka sebelumnya, yakni animisme dan dinamisme. Sehingga kepercayaan-kepercayaan tersebut akhirnya bercampur dengan agama ini yang selanjutnya lebih dikenal dengan Kejawen.

Hingga Islam sudah berkembang di Jawa pun, masih banyak masyarakat yang begitu teguh mempertahankan tradisi mereka yang kini dikenal dengan Islam Kejawen. Jika dikaitkan dengan sejarah penyebarannya, penyebaran Islam di pulau Jawa ini khusus menggunakan media wayang, gamelan, dan lain-lain.

Bahkan, Mr Omar Edabait, PhD. menyebut bahwa Islam Kejawen bisa menjadi contoh dunia bagaimana menyempurnakan implementasi nilai-nilai Islam yang merupakan wahyu dari Allah SWT dengan mengakomodasi tradisi dan kearifan lokal dimana penganut agama Islam bisa lebih mudah mendekatkan diri kepada sang Maha Kuasa.

Omar Edabait yang saat itu menjadi pemenang dalam “International Writing Contest II” yang diselenggarakan oleh UIN Sunan Kalijaga menegaskan, praktik keagamaan di tanah Jawa cukup sangat beragam dan tentunya tidak bisa disebut sebagai kepercayaan Kejawen (sinkretis).

Dalam praktiknya, kepercayaan Kejawen yang merupakan bagian dari keagamaan di Jawa adalah bentuk Islam sebagai pembelajaran kontekstual. Dalam artian, praktek Kejawen ini tak lain ada proses untuk mendekatkan kesempurnaan dalam menganut agama Islam.

Itulah sebabnya, kenapa agama Islam perlu untuk terus menghormati tradisi komunitas Jawa yang telah banyak dipraktekkan oleh para leluhur mereka. Tentunya hal tersebut tidak lepas dari faktor pengaruh budaya dimana masyarakat Jawa pun juga tidak serta merta bisa melupakan budaya Jawa dalam ritual ibadahnya.

Diluar daripada itu, gerakan dakwah yang dilakukan untuk mengajarkan nilai-nilai Islam kurang lebih dapat dilihat dalam perkembangan Islam di Jawa. Gerakan dalam menyebarkan nilai-nilai Islam ini lebih bersifat kompromi dan mengalami proses yang panjang dan terbilang unik.

Hal tersebut dikarenakan, proses dakwah Islam yang saat itu sangat menyesuaikan dengan tradisi budaya Hindu Budha. Bahkan, tradisi dan budaya Hindu-Budha itu telah mengakar kuat tidak hanya pada kalangan masyarakat biasa tetapi juga pada kalangan priyayi yang berpusat di istana maupun di kalangan rakyat. Namun, ajaran animisme dan dinamisme juga masih dipegang teguh oleh beberapa orang.

Dengan pengaruh agama dan budaya Hindu-Budha yang sangat kuat, maka tak ada pilihan lain bagi para penyebar Islam yang tak lain adalah Wali Songo atau para ulama untuk mengajak dan memperkenalkan Islam dengan melakukan pendekatan secara kompromi dan penuh toleransi kepada masyarakat Jawa.

Para ulama tersebut tidak mengambil sikap yang konfrontatif, frontal, dan radikal. Malah sebaliknya, mereka menggunakan cara-cara yang santun untuk mendekati dan mengambil hati masyarakat. Cara yang ditempuh seperti halnya dengan berbagai tradisi pra-Islam tidak dihapus apalagi dihilangkan, namun para ulama memilih mempertahankan beberapa tradisi namun isinya sudah diganti dengan nilai-nilai Islam.

Akhirnya, para penyiar Islam mulai memperkenalkan ajaran Islam dengan menggunakan metode atau media yang telah ada kala itu. Tentunya, tak lain dengan menggabungkan ajaran Islam dengan tradisi yang telah mendarah daging di kalangan masyarakat seperti kesenian, musik, wayang, dan sebagainya.

Dengan demikian, akan banyak masyarakat yang menaruh simpati kepada Islam. Dampak baiknya, mereka tidak akan memandang agama Islam sebagai agama yang terkesan memaksakan dan menyudutkan agama yang lain seperti agama Hindu-Budha dan kepercayaan animisme serta dinamisme.

Perlu digarisbawahi pula, bahwa aspek tasawuf sangat ditekankan saat proses penyebaran ajaran Islam kala itu. Maka tak heran apabila corak tasawuf sangat mencolok dan begitu dominan saat pertama kali Islam masuk ke tanah Jawa. Cara tersebut dipandang selaras dengan kultur masyarakat Jawa yang memiliki perhatian lebih terhadap aspek kebatinan.

Lebih dari itu, melalui peran ulama yang sebagian besar adalah para sufi ini telah membuat masyarakat Jawa tidak memandang Islam sebagai agama yang bertentangan dengan pandangan hidup orang Jawa. Sangat terlihat sikap toleransi dan santun para penyebar Islam saat akan melakukan dakwah Islam di tengah-tengah masyarakat kala itu.

Menurut pengamatan Alm. Abdurrahman Wahid dalam bukunya yang berjudul “Membangun Demokrasi (1999)”, ketika Islam datang ke tanah Jawa, Islam begitu cepat beradaptasi dengan apa yang ada pada saat itu. Dimana, proses akulturasi budaya Islam dengan budaya setempat berlangsung secara damai dan penuh kekeluargaan.

Jika dilihat dari sudut pandang Antropologi Kultural, proses akulturasi dan adaptasi antara budaya yang satu dengan budaya lainnya itu lebih dikenal dengan sebutan konsep integrasi kultural. Tentu, hal tersebut tidak dapat dihindari karena adanya pluralitas agama, budaya, dan adat-istiadat yang telah ada dan tidak bisa jika tidak saling bergesekan.

Dalam proses akulturasi, Alm. Abdurrahman Wahid melihat adanya proses akulturasi timbal-balik antara Islam dan budaya lokal terakomodasi dengan suatu kaidah atau ketentuan dasar dalam ilmu ushul fikih. Kemampuan menggabungkan kearifan lokal dengan nilai-nilai Islam ini semakin mempertegas bahwa antara agama dan budaya lokal tidak dapat dipisahan satu dengan yang lain namun masih bisa dibedakan antara keduanya.

Hal itulah yang menjadikan Islam sebagai agama rahmatan lil ‘alamin mampu beradaptasi dan cukup mudah membangun dialog dengan budaya lokal, kebiasaan, serta memahami cara berfikir masyarakat Jawa yang kala itu masih kental dipengaruhi oleh kebudayaan Hindu-Budha.

Lebih lanjut, seorang cendekiawan muslim Nurcholish Madjid mengatakan, Islam diharapkan bisa tampil dengan menawarkan kultural yang produktif, konstruktif, serta bisa menyatakan diri sebagai pembawa kebaikan untuk seluruh umat manusia tanpa adanya unsur eksklusivisme komunal agar nampak terlihat bentuk penegasan betapa pentingnya eksistensi Islam kultural.

Selain itu, Nurcholish juga memaparkan bahwa budaya dan agama yang berkembang di masyarakat tak jarang mengalami peleburan dan akulturasi. Bahkan, beberapa akulturasi agama dengan budaya kerapkali menimbulkan kebingungan masyarakat yang pada akhirnya mereka tidak bisa membedakan mana produk agama dan mana produk kebudayaan.

Sebagai hasil dari akulturasi, peleburan antara agama dan budaya memang tidak bisa dipisahkan namun jelas tidak bisa dibenarkan apabila mencampuradukkan diantara keduanya. Adanya perangkat budaya yang merupakan bentuk investasi bagi umat Islam di Indonesia dalam menghadapi dinamika keberagaman tentunya menjadi sumber etik moral dan pijakan kultural bagi kehidupan berbangsa dan bernegara di masa mendatang.

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on linkedin

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

IKUTI KAMI

%d blogger menyukai ini: