Mengenal Upacara Adat Mahesa Lawung, Kegiatan Rutin di Kasunanan Surakarta

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on linkedin
Para sentana dalem yang berdoa didepan pepunden /Foto: wartajoglo.com

santrikertonyonoUpacara Adat Mahesa Lawung merupakan kegiatan yang rutin digelar oleh Kasunanan Surakarta hingga saat ini. Upacara yang dikenal cukup kuno ini biasanya selaluu dilaksanakan pada hari-hari tertentu seperti pada hari Senin atau Kamis menurut perhitungan Jawa. Namun, upacara adat yang dipercaya ada sebelum terbentuknya Mataram Islam tersebut juga digelar setiap bulan ba’da Mulud.

Lalu setelah terbentuknya Mataram Islam, upacara adat ini tetap dipertahankan dan dilakukan namun dengan penambahan unsur doa-doa berbahasa Arab serta bacaan shalawat Nabi. Sejak saat itu, tetua adat yang mempimpin ritual merapal doa-doa tersebut dengan beberapa pujian-pujian berbahasa Jawa.

Merujuk materi yang dipaparkan oleh Ike Nova Prasetiani dengan judul “Upacara Mahesa Lawung” (2019), perjalanan ritual Mahesa Lawung ini sebenarnya berasal dari Demak, Pajang, Mataram, Pleret, Kartosuro, barulah kemudian tiba di Surakarta

Upacara adat tersebut dilaksanakan berdasarkan prosedur resmi dari Keraton berupa surat perintah atau dhawuh dhalem sinuwun untuk menyelenggarakan ritual itu. Lalu kemudian, jika sudah mendapat persetujuan akan diproses oleh pangageng parentah Keraton dan pangageng parentah Keraton Keputren.

Proses ritual Mahesa Lawung dilakukan dengan cara memendam kepala kerbau yang sebelumnya telah didoakan di Sitinggil Keraton Surakarta. Selama ritual berlangsung, seluruh kerabat dari abdi dalem hingga sentana dalem atau biasa disebut dengan kerabat raja juga turut mengikuti doa-doa yang dipimpin oleh seorang tetua adat setempat.

Setelah prosesi doa bersama, selanjutnya puluhan abdi serta sentana dalem bersama-sama berangkat ke alas atau hutan Krendowahono yang berada di kecamatan Godangrejo kabupaten Karanganyar. Hutan ini dipercaya sebagai tempat bersemayamnya Batari Kalayuwati yang tak lain adalah sosok pelindung gaib Keraton Surakarta.

Menurut cerita yang beredar di masyarakat, hutan Krendowahono ini merupakan pintu masuk Keraton dari sisi utara dalam sistem macapat kebudayaan Jawa. Maka dari itu, ritual Mahesa Lawung digelar salah satunya bertujuan untuk mengantisipasi adanya kekuatan jahat yang bisa saja masuk ke Keraton melalui pintu sisi utara.

Dahulu, dikisahkan bahwa hutan Krendowahono adalah sebuah tempat yang sering digunakan oleh raja-raja Mataram untuk menyepi atau melakukan semedi dengan tujuan mendapatkan wangsit atau petunjuk. Itulah mengapa hutan ini dikenal memiliki hawa magis yang sangat kental.

Tidak hanya bersejarah, hutan Krendowahono juga dipercaya oleh masyarakat Jawa sebagai salah satu dari 4 penjuru penting. Masing-masing diantaranya pada sisi timur terdapat gunung Lawu, dan sisi selatan terdapat pantai selatan sebagai tempat bersemayamnya Kanjeng Ratu Kencono Sari atau Kencono Wungu.

Lalu, di sisi barat terdapat gunung Merapi sebagai tempat persemayaman Kanjeng Ratu Kedathon dan tepat di sisi utara terdapat hutan atau punden Krendowahono yang dikenal sebagai tempat bersemayamnya Betari Durga.

Prosesi Mahesa Lawung

Jarak yang ditempuh dari Solo untuk dapat sampai ke hutan Krendowahono itu sekitar 15 KM. Sesampainya disana, akan ada ritual lanjutan yakni mengubur atau memendam kepala kerbau yang sebelumnya sudah didoakan. Namun, ritual tidak serta merta dilakukan. Pasalnya, akan ada prosesi doa-doa bersama sebelum kepala kerbau itu dipendam.

Para sentana dalem yang merupakan kerbata kerajaan ini secara bergantian naik ke sebuah pepunden batu yang dipercaya sebagai tempat persemayaman Bathara Durga untuk memanjatkan beberapa doa dan beberapa bacaan-bacaan berbahasa Jawa.

Bagi para masyarakat penganut Kejawen, pepunden yang berada tepat dibawah sebuah pohon grasak berusia ratusan tahun ini juga dipercaya sebagai sebuah tempat yang ampuh dan mujarab untuk memohon perlindungan dan keselamatan.

Dimana, sebelumnya para abdi dalem akan berkumpul di pendapa untuk kembali memanjatkan doa-doa serta mantra-mantra berbahasa Jawa. Setelah itu, juga ada prosesi mendengarkan cerita singkat tentang ritual Mahesa Lawung lalu dilanjutkan dengan penguburan kepala kerbau serta ritual diakhiri dengan makan bersama.

 

mahesa-lawung
Abdi Dhalem Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat mengubur ‘ndas kebo’ atau kepala kerbau pada Upacara Adat Mahesa Lawung di Alas Krendhowahono, Gondangrejo, Karanganyar, Jawa Tengah. /Foto: Reza Fitriyanto

Seperti halnya dengan ritual adat Jawa yang lainnya, ritual Mahesa Lawung juga penuh akan sarat makna yang kental. Menurut kepercayaan masyarakat Jawa, hewan kerbau kerapkali digunakan untuk melambangkan sifat kebodohan. Dimana, saat prosesi mengubur kepala kerbau itu diibaratkan masyarakat Jawa sedang mengubur atau memendam kebodohannya.

Tidak hanya kepala kerbau, bahkan jerohan atau biasa dikenal dengan organ tubuh dalam kerbau juga ikut dipendam. Penguburan kepala dan jerohan kerbau ini merujuk pada sebuah peribahasa Jawa yang berbunyi “bodho longa-longo koyo kebo”. Bagi tetua adat setempat, kepala kerbau melambangkan kebodohan sedangkan jerohan melambangkan nafsu.

Upacara adat yang dipercaya bisa membuang sial dan sifat buruk ini juga dilengkapi dengan adanya sesajian seperti halnya nasi, lauk pauk, jajanan pasar hingga buah-buahan. Bersama-sama kepala dan jerohan kerbau, sesajian itu turut di kirab dan dibawa ke hutan Krendowahono untuk dikuburkan.

Namun, kerbau yang digunakan selama prosesi pun juga bukan sembarang kerbau. Pasalnya, kerbau yang digunakan memiliki beberapa ketentuan-ketentuan khusus, diantaranya seperti kerbau tersebut harus berjenis kelamin jantan, masih perjaka, memiliki tanduk yang sudah terbentuk dan belum pernah dipekerjakan.

Kerbau perjaka atau kerbau yang belum pernah kawin ini dalam bahasa Jawa biasanya disebut dengan Joko Umbaran. Tentu sesuai dengan makna harfiahnya yakni Mahesa berarti kerbau sedangkan Lawung berarti jantan.

Selain sesajen berupa kepala kerbau dan hasil bumi, para abdi dalem juga membawa sesajen berupa lele sajodho kendhil yakni sebuah wadah sesajen yang digunakan guna menaruh sepasang ikan lele lalu wadah tersebut diisi dengan air sungai tempukan atau tempuran. Dimana, air ini merupakan air yang diambil dari pertemuan dua arus sungai.

Bagi masyarakat Jawa khususnya di Keraton Hadiningrat, air pertemuan dua arus sungai ini adalah air yang memiliki energi yang dapat digunakan sebagai sarana meditasi. Fungsi dari air tempukan ini sebenarnya sama dengan dupa, yakni sama-sama sebagai sarana dalam melakukan ativitas spiritual.

Lebih dari itu, upacara Mahesa Lawung ini sekaligus sebagai wujud syukur masyarakat atas keselamatan dan keberkahan yang telah dilimpahkan oleh Tuhan yang Maha Esa. Upacara adat ini juga digelar untuk menghormati para leluhur yang semasa hidup tinggal di Keraton. Bahkan, selama prosesi juga turut memanjatkan doa keselamatan dan keutuhan NKRI.

Selain sebagai simbol membuang nafsu dan kebodohan, ritual Mahesa Lawung ini juga digelar sebagai bentuk peringatan perpindahan Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat dari wilayah Kartasura di Sukoharjo menuju ke sebuah desa bernama desa Sala yang kini telah berkembang menjadi kota Solo.

Pihak yang Terlibat dalam Ritual Mahesa Lawung

Puluhan bahkan ratusan abdi dalem sangat seragam dengan pakaian yang dikenakan. Para abdi dalem ini mengenakan atasan berupa beskap hitam, bawahan kain jarik berwarna coklat, memakai kalung samir berwarna kuning keemasan, keris di belakang pinggang serta tak lupa memakai blangkon, sedangan para sentana dalem mengenakan beskap berwarna putih.

Selain itu, para abdi dalem dan sentana dalem ini tidak diperkenankan memakai sandal atau alas kaki lainnya. Hal itu dimaksudkan sebagai bentuk penghormatan terhadap tanah hutan yang dianggap sangat sakral ini.

Secara umum, terdapat pihak-pihak khusus yang terlibat langsung selama proses ritual ini. Diantaranya seperti pengageng parentah keraton & parentah keputren. Dimana para pengageng tersebut memiliki tugas masing-masing untuk menyiapkan segala sesuatu yang berhubungan dengan teknis pelaksanaan acara, yakni akomodasi dan sarana pra sarana.

mahesa-lawung
Abdi dalem Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat mengikuti prosesi Upacara Adat Mahesa Lawung di Alas Krendhowahono. /Foto: Reza Fitriyanto

Sedangkan bagian pengageng parentah keputren bertugas untuk menyiapkan ubo rampe atau sesajen. Adapaun sesajen yang disiapkan oleh pengageng parentah keputren antara lain seperti mahesa atau kepala kerbau, bunga matahari, gecok bakar atau entah, sambal goreng urip-urip atau biasanya dikenal dengan samabl goreng dengan tambahan ikan lele yang masih hidup).

Ubo rampe tersebut juga merupakan simbolik dari masyarakat berupa hasil alam dan hasil pertanian, seperti hasil berkebun umbi-umbian, buah-buahan, dupa, nasi dengan pelengkap yakni bermacam-macam lauk, serta tak ketinggalan beberapa jenis bunga juga turut disediakan.

Saat acara berlangsung, ratusan abdi dalem, sentana dalem atau kerabat keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat nampak khusyuk mengamini doa-doa yang dipanjatkan oleh tetua adat atau dalam hal ini ulama keraton. Mereka mengelilingi meja yang berisi uba rampe upacara Wilujengan Mahesa Lawung.

Kini, upacara adat Mahesa Lawung tersebut sedang dalam proses pengembangan sebagai sarana objek pariwisata religi yang turut menyertakan campur tangan dari pihak Dinas Pariwisata Karanganyar. Hal itu tak lain bertujuan untuk melestarikan budaya nenek moyang.

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on linkedin

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

IKUTI KAMI

%d blogger menyukai ini: