Mengenal Ketupat Tauge, Makanan Unik Warga Semarang saat Syawalan

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on linkedin
Ketupat tauge atau ketupat jembut khas Kota Semarang /Foto: cnnindonesia.com

santrikertonyonoTradisi syawalan sebagai bentuk menyambut hari kemenangan Idul Fitri memang kerapkali di gelar oleh hampir seluruh masyarakat di Indonesia. Selain sebagai wujud syukur karena telah menjalankan ibadah puasa Ramadhan selama satu bulan penuh, tradisi syawalan juga digelar sebagai nguri-uri budaya Nusantara yang telah diwariskan oleh nenek moyang.

Karena Indonesia kaya akan suku dan budaya, maka pagelaran tradisi syawalan setiap daerah pun berbeda-beda. Faktor pembentuk tradisi itu misalnya, tentunya tidak sama karena perbedaan secara kultur sosial dan kebudayaan. Seperti halnya tradisi syawalan yang digelar di Sumatera tentu akan jauh berbeda dengan tradisi syawalan yang digelar di tanah Jawa.

Namun, perbedaan itulah yang akhirnya menjadi kekayaan Nusantara. Melestarikan warisan nenek moyang dengan rutin menggelar kegiatan tradisional akan menjadikannya tetap eksis meskipun mendapat gempuran perkembangan teknologi. Dengan kegiatan inipun bisa kembali mengingat jati diri dan asal-usul seseorang sebagai salah satu bagian dari sejarah.

Khususnya di tanah Jawa, yang memiliki masyarakat dengan latar belakang yang berbeda-beda. Perkembangan teknologinya pun lebih cepat, pluralisme serta perpindahan penduduknya cukup signifikan. Tentunya ini menjadi tantangan yang cukup berat bagi para pinisepuh untuk mengajarkan kepada anak dan cucunya tentang adat, tradisi serta kebudayaan Jawa.

Namun, terdapat salah satu tradisi Jawa yang hingga kini masih sangat dilestarikan oleh masyarakatnya. Tradisi itu adalah syawalan dengan sebutan ketupat jembut atau ketupat tauge yang sangat khas di kota Semarang. Mungkin terdengar sedikit saru bagi sebagian orang yang mendengarnya, namun ternyata tradisi ini sudah ada sejak puluhan tahun yang lalu dan selalu di uri-uri oleh warga Semarang.

Secara umum, sebenarnya tradisi syawalan ketupat tauge tak jauh berbeda dengan ketupat-ketupat pada umumnya. Ketupat ini memiliki bentuk yang sama dan dimasak pun dengan cara yang sama. Namun, jika tidak ada yang menjadi pembeda antara ketupat tauge dengan ketupat lainnya, lalu dimana letak spesial ketupat jembut ini?

Penamaan ketupat jembut inipun bukan sembarang, nama itu diambil merujuk pada wujud fisik ketupat itu sendiri. Jika dilihat, ketupat tauge ini memiliki penampakan fisik yang cukup unik, sangat berbeda dengan wujud ketupat yang mudah di temui di pasar. Pasalnya, ketupat jembut ini memiliki tak hanya berisikan beras tetapi juga tauge dan sambal kelapa. Beberapa bahan yang keluar dari celah-celah ketupat ini yang menjadi sumber dari penamaan tersebut.

Dalam praktiknya, para ibu-ibu akan membuat ketupat tauge dengan bahan-bahan yang telah di tentukan sebelumnya. Ketupat ini biasanya akan dibawa ke musholla terdekat untuk didoakan oleh sesepuh desa lalu dibagikan kepada para warga yang hadir. Namun, keunikan ketupat jembut tidak berhenti disitu. Konon, ketupat tauge akan banyak dibagikan ke anak-anak kecil sebagai simbol meneruskan tradisi ke generasi muda.

Namun, ada beberapa wilayah di Semarang yang juga mempunyai keunikaannya sendiri saat membagikan ketupat tauge ini. Dimana, ketupat yang berbahan dasar sayuran dan rempah tersebut akan dibagikan kepada pengurus serta jamaah masjid seusai shalat Shubuh. Umumnya, ada tiga wilayah yang hingga kini masih mejaga eksistensi ketupat jembut diantaranya Jaten, Genuksari dan kawasan Pedurungan Tengah.

Sejarah Panjang Ketupat Jembut

Keberadaan awal munculnya tradisi ketupat tauge sebenarnya masih dalam tanda tanya, pasalnya hingga kini belum ditemukan sumber sejarah atau literatur konkret yang menyebutkan tentang awal tradisi ketupat ini mulai dilakukan oleh masyarakat Semarang. Hal itu disebabkan kurangnya bukti di lapangan atau narasumber yang bisa dimintai kesaksiannya.

Namun, beberapa artikel sejarah banyak yang menyebutkan bahwa tradisi ketupat tauge muncul pertama kalinya sekitar tahun 1950. Kondisi yang belum stabil pasca perang membuat sebagian warga Semarang merasa kesulitan saat ingin merayakan syawalan, hingga akhirnya mereka membuat makanan dengan bahan yang sangat sederhana sebagai wujud keprihatinan.

Belum lagi, saat di tahun-tahun tersebut masih banyak tentara perang yang lalu lalang di wilayah Semarang. Kondisi mencekam setelah perang dunia kedua itu semakin membuat masyarakat tak berkutik. Tak ada bahan makanan yang mewah, perayaan-perayaan meriah, apalagi kegiatan berkumpul bersama dengan saudara dan tetangga sekitar. Bisa dipastikan kegiatan warga saat itu sangat terbatas.

Tradisi ketupat tauge yang dibungkus dengan daun kelapa muda atau juga biasanya menggunakan daun palma ini konon memang sudah berjalan sejak tahun 1950 Masehi. Dimana pada tahun tersebut, tradisi ini melibatkan warga sekitar untuk ikut merayakan kedatangan hari raya Idul Fitri dengan penuh rasa syukur. Warga akan berkumpul di sekitar musholla atau masjid untuk bersama-sama menyantap ketupat jembut meskipun tidak dengan acara yang meriah.

Namun, perjalanan ketupat tauge nyatanya pernah tak berjalan mulus bahkan tak gelar sama sekali. Tepatnya pada tahun 1965, tradisi ketupat jembut di Semarang sempat berhenti total. Hal itu disebabkan banyaknya peperangan serta carut marut di beberapa wilayah di Indonesia. Hilangnya rasa aman di benak warga Semarang khususnya, menjadikan tradisi ketupat jembut tenggelam.

Masa-masa kelam itu itupun tak berlangsung lama, tepat di tahun 1980, tradisi ketupat tauge kembali digelar dengan suasana yang bahkan lebih ramai dan meriah. Kemeriahan itu tidak hanya terjadi saat pembagian ketupat, namun suasana semakin riuh kala suara petasan mulai terdengar sahut bersahutan menambah suka cita tradisi syawalan di Kota Semarang.

Beberapa literatur lainnya juga menyebutkan bahwa sejarah kemunculan ketupat tauge ini dicetuskan oleh Nyai Sutimah dan Kiai Samin yang berasal dari Demak. Dimana, mereka adalah salah satu dari lima keluarga pertama yang menempati daerah kampung Jaten Cilik. Konon, mereka menduduk wilayah tersebut akibat dari serangan sekutu yang tiba-tiba mengepung.

Untuk menghadirkan perayaan yang sederhana, Nyai Sutimah membuat sebuah ketupat yang diisi dengan campuran tauge, beberapa jenis sayur dan sambal. Meskipun makanannya terlihat cukup sederhana, Kiai Samin ingin membagikan makanannya itu kepada warga sekitar, alhasil selepas sholat shubuh ia memukul wajan agar menarik perhatian tetangganya.

Pada zaman dulu, masyarakat Semarang tak main-main dalam membuat ketupat jembut. Tak hanya puluhan, bahkan ribuan ketupat jembut tersaji saat prosesi syawalan berlangsung. Kurang lebih sebanyak 5 ribu buah ketupat jembut yang bisa dibuat, dimana 400 ketupat akan dibagikan kepada beberapa orang dewasa, dan sisanya bakal di perebutkan oleh anak-anak.

Uniknya, ketupat jembut yang telah dipersiapkan oleh anak-anak itu sebelumnya telah dimodifikasi sedemikian rupa hingga bisa disisipi uang dengan berbagai pecahan. Mayoritas pecahan yang dipakai bekisar 500 rupiah hingga 5 ribu rupiah. Inilah yang menjadi daya tarik bagi para generasi muda, ketupat dengan bentuk unik dan isian yang berbeda tentunya menjadi pemikat.

Ketupat Jembut, Tradisi Syawalan yang Digemari Anak-anak di Semarang /Foto: detikFood-Angling Adhitya Purbaya

Kental Akan Makna Kesederhanaan

Makna kesederhanaan yang melekat pada ketupat tauge memang sangat terlihat, terlebih perjalanan sejarah yang telah dilalui oleh ketupat nyentrik ini. Goresan sejarah yang yang menyelimuti ketupat dengan campuran tauge dan sambal kelapa tersebut begitu kentara hingga membuat ketupat ini diwariskan secara turun temurun untuk melindungi keberadaannya.

Meskipun sederhana, nyatanya ketupat ini membawa kota Semarang menjadi satu-satunya kota yang memiliki tradisi ketupat unik yang tak akan ditemui di kota lain. Layaknya sudah menjadi ciri khas dan budaya yang mendarah daging. Ketupat tauge menjadi menu utama bahkan menu andalan bagi warga Semarang saat memasuki bulan Syawal.

Saat itu, masyarakat hidup dengan kondisi penuh keterbatasan apalagi secara ekonomi. Namun, semangat warga Semarang untuk merayakan tradisi Syawalan sama sekali tak surut. Meskipun hanya memiliki bahan baku berupa tauge dan kelapa, maka dibuatlah ketupat jembut dengan tampilan yang sederhana. Secara tersirat, penampilan ketupat ini mengingatkan agar selalu hidup sederhana dan tidak menghambur-hamburkan harta ke arah yang kurang baik.

Sementara, uang pecahan kecil yang diselipkan di ketupat tauge inipun juga bukan tanpa arti. Meskipun hanya pecahan kecil, uang ini ternyata perwujudan dari rasa syukur yang mendalam karena bisa kembali menjumpai bulan Syawal dengan keadaan sehat dan bahagia. Terlebih uang ini akan diterima oleh anak-anak yang tentunya juga akan mendoakan keselamatan dan keberkahan.

Makna mendalam di ketupat tauge ini tak hanya melulu tentang perayaan yang meriah di bulan Syawal, namun juga sebagai ungkapan syukur atas rahmat dan nikmat yang telah diberikan oleh Allah SWT selama satu bulan berpuasa. Sekaligus, menjadi pelengkap ibadah dan mempererat tali silaturahmi dengan orang terdekat. Nguri-uri budaya Semarang ini tentunya harus selalu ada agar mengingatkan kita kepada sang leluhur.

Hingga saat ini, perayaan syawalan dengan ketupat tauge masih sangat dilestarikan oleh warga Semarang. Selain memiliki makna mendalam, ketupat tauge ini menyimpan banyak pesan dan petuah kehidupan. Seperti sudah menjadi tradisi yang melekat dalam darah, setiap syawalan warga Semarang pasti akan membuat ketupat tauge dan dibagikan kepada saudara dan tetangga.

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on linkedin

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

IKUTI KAMI

%d blogger menyukai ini: